<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Teluk Balikpapan Tercemar Minyak hingga Jadi Lautan Api, Salah Siapa?</title><description>Tercemarnya Teluk Balikpapan hingga menyebabkan 5 orang tewas terpanggang kebakaran menimbulkan polemik, siapa yang bertanggung jawab?</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/04/06/340/1882924/teluk-balikpapan-tercemar-minyak-hingga-jadi-lautan-api-salah-siapa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/04/06/340/1882924/teluk-balikpapan-tercemar-minyak-hingga-jadi-lautan-api-salah-siapa"/><item><title>Teluk Balikpapan Tercemar Minyak hingga Jadi Lautan Api, Salah Siapa?</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/04/06/340/1882924/teluk-balikpapan-tercemar-minyak-hingga-jadi-lautan-api-salah-siapa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/04/06/340/1882924/teluk-balikpapan-tercemar-minyak-hingga-jadi-lautan-api-salah-siapa</guid><pubDate>Jum'at 06 April 2018 09:42 WIB</pubDate><dc:creator>Amir Sarifudin </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/06/340/1882924/teluk-balikpapan-tercemar-minyak-hingga-jadi-lautan-api-salah-siapa-kSLUkpZuV6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kebakaran di Teluk Balikpapan (Foto: Amir/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/06/340/1882924/teluk-balikpapan-tercemar-minyak-hingga-jadi-lautan-api-salah-siapa-kSLUkpZuV6.jpg</image><title>Kebakaran di Teluk Balikpapan (Foto: Amir/Okezone)</title></images><description>BALIKPAPAN - Sabtu, 31 Maret 2018, sekira pukul 02.00 dini hari, warga Balikpapan yang tinggal Kampung Atas Air dan pelabuhan Kampung Baru mencium aroma minyak yang menyengat. Aroma itu tercium bahkan hingga radius 6 kilometer.
Lini masa media sosial pun diramaikan dengan peristiwa bau minyak hingga pukul 6 pagi diketahui rupanya perairan teluk Balikpapan hingga ke pesisirnya dipenuhi minyak. Spekulasi bermunculan mengenai jenis dan asal muasal minyak.

Ada yang mengatakan minyak yang tampak berwarna hitam pekat itu adalah solar yang berasal dari kebocoran kapal. Tapi tak sedikit yang meyakini asal minyak dari pipa bawah laut milik Pertamina.
Hingga akhirnya, sekira pukul 11.00 Wita, muncul titik api yang secara cepat menjadi kobaran di tengah perairan. Kobaran itu terus meluas dan membesar serta menimbulkan asap hitam pekat yang bergulung dan membumbung ke angkasa.
(Baca Juga: Citra Satelit, Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan Merembes hingga ke Selat Makassar)
Kepekatan asap yang dapat terlihat dari segala penjuru kota Balikpapan itu menjadi kehebohan warga. Bahkan ada yang menyebut kawasan teluk seperti arena perang.
&quot;Ngeri, tapi saya penasaran. Dari kejauhan saya lihat seperti perang di lautan. Ketika saya ke Kampung Atas Air dan melihat secara langsung, ternyata minyak yang tumpah terbakar,&quot; kata Indra Wahyudi, warga Muara Rapak.
Ya, teluk Balikpapan seketika menjadi lautan api. Warga pun panik. Mereka khawatir kobaran api itu merambat melalui jalur ceceran minyak dan membakar rumah mereka.

Mereka terus memantau kondisi perairan. Sementara fireboat atau kapal pemadam kebakaran dari pelabuhan Semayang mulai merapat ke 7 lokasi titik api yang besar. Air laut yang dipompa terus disemprotkan.
Kepanikan tak hanya terjadi di daratan. Awak MV Ever Judger yang diawaki 19 ABK asal Tiongkok juga bergegas menyelamatkan diri. Mereka telah memasang pelampung di badan tapi ragu untuk terjun ke laut.
(Baca Juga: Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan Berasal dari Pipa Pertamina yang Putus)
Pasalnya, kapal pengangkut batu bara dan berbendara Panama itu telah dikepung api dan mulai terbakar. Api awalnya merambat dari tali jangkar yang dilego hingga menyambar perahu penyelamat atau sekoci.
Saat kepanikan itu, aksi heroik dilakukan Hairul, seorang motoris speedboat. Bersama 2 rekannya, dia mendekati kapal untuk menyelamatkan ABK MV Ever Judger.Tanpa mempedulikan panas dan bau menyengat, Hairul mengambil jalur  yang aman dari minyak hingga benar-benar dekat kapal berbadan besar itu.  &quot;Lompat, lompat, terjun saja, nggak apa-apa, kita mau menyelamatkanmu.  Jump.. Jump,&quot; teriaknya.
Tak lama berselang, tiba Patroli Keamanan Laut Pangkalan TNI AL  Balikpapan. Menggunakan KRI Lamaru, 19 ABK yang sudah terjun ke lautan  dibawa ke Pos Polisi Sektor Pelabuhan Speed di Kampung Baru.
Para ABK didata dan dimintai keterangan sementara oleh petugas.  Kesehatannya pun juga diperiksa dan satu ABK atas nama Sun Song Bo  mengalami luka bakar dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Usai evakuasi ABK, terdengar lagi kabar bahwa ada pemancing yang  terjebak saat kebakaran. Hairul bersama rekannya bergegas menyalakan  mesin speedboat dan melaju mendekati kobaran api.

Benar saja, dua pemancing telah menjadi jenazah di perairan. Di baju  korban terdapat sisa bekas api. Begitu pula lepuhan luka bakar yang  terdapat di kaki.
Korban itu bernama Imam N (41) dan Gusti Anggoro (27). Wajah kedua korban tampak membiru dan dari mulut mengeluarkan busa.
Laporan kemudian datang lagi, bahwa masih ada 3 pemancing yang  dinyatakan hilang dan seluruhnya baru bisa ditemukan oleh tim SAR  gabungan pada 3 April kemarin.
(Baca Juga: Armada Pembersihan Ditambah, Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan Mulai Berkurang)
Kembali ke 31 Maret 2018, Pukul 02.00 Wita, Pertamina RU V Kalimantan  bersama MOR VI segera menggelar konferensi pers. GM Pertamina RU V,  Togar MP mengatakan bahwa minyak yang tumpah merupakan bahan bakar kapal  berjenis Marine Fuel Oil atau MFO.
&quot;Dua sampel yang diambil dari lokasi berbeda dan berjauhan telah  diperiksa di laboratorium dan hasilnya adalah MFO. Bahan bakar ini tidak  diproduksi oleh Pertamina di Kalimantan,&quot; ucap Togar saat itu.
Dirinya juga membantah bahwa minyak yang tumpah dan terbakar  bersumber dari kebocoran pipa bawah laut penyuplai minyak mentah dari  Lawelawe ke kilang pengolahan. &quot;Kami turunkan pula 7 penyelam dan sampai  saat ini tidak ditemukan pipa bocor,&quot; ujarnya.
Bantahan itu pun terbit di portal berita dan beredar cepat di media  sosial. Warga ada yang percaya meski ada pula yang meragukan kemudian  menjadi bahan pembicaraan di mana saja.Sejak 1 April 2018, aksi bersih-bersih pantai dari tumpahan minyak   mulai dilakukan secara manual. Ratusan personel TNI dan Polri serta dari   Pertamina bahu membahu membersihkan minyak secara manual.
Upaya pembersihan juga dilakukan mahasiswa dan organisasi   kemasyarakatan. Sementara di perairan, minyak dibersihkan menggunakan   oil boom dan kapal skimmer oil. Termasuk menyemprotkan oil dispersant   agar minyak terurai di air.
Kemudian pada 2 April 2018, memanggil OPD terkait dan stakeholder   yang biasa beraktivitas di kawasan pelabuhan dan teluk Balikpapan. Saat   itu ditetapkan bahwa kota Balikpapan dalam kondisi Darurat Lingkungan.
Status itu dikeluarkan karena pencemaran minyak mulai memberi dampak   terhadap lingkungan. Udara yang berbau dan BMKG mengeluarkan peringatan   agar warga tidak memanfaatkan air hujan.

Cemaran minyak juga membuat biota laut seperti ikan dan kepiting   banyak yang mati. Bahkan bangkai seekor lumba-lumba yang terpapar minyak   ditemukan terdampar di pantai Klandasan.
Termasuk gagal ekspornya lebih dari 1 ton kepiting keramba milik   nelayan di muara sungai Kariangau. Sedianya kepiting itu diekspor ke   Shanghai, Hongkong dan Singapura.
&quot;Banyak kepiting yang mati dan tidak bisa diekspor karena berminyak.   Kalau dijual ke pasar pun, kami pasti dikomplain oleh pembeli. Belum   dihitung jumlah kerugian tapi pastinya kami merugi,&quot; ujar Rustam.
Di tengah proses pembersihan laut dan pantai, Direktorat Kriminal    Khusus Polda Kaltim bergerak melakukan penyelidikan. Hasilnya diketahui    bahwa sumber minyak berasal dari pipa baja berdiameter 20 inchi dengan    ketebalan 12 milimeter telah patah.
&quot;Kami temukan adanya pipa milik Pertamina yang patah dan bergeser 100    meter di dasar laut dan penyebabnya masih diinvestigasi,&quot; kata    Kombespol Yustan Alpian, Direskrimsus Polda Kaltim pada Rabu, 4 April    2018.
Penemuan pipa patah itu setelah dilakukan penyelaman oleh tim    Pertamina yang diawasi Polda Kaltim. &quot;Penyelam dibekali alat berupa Site    Sonar Scan dan hasilnya ditemukan pipa patah,&quot; ulangnya.
Meski belum ada penetapan tersangka atas kasus yang menjadi sorotan    nasional dan pemberitaan media internasional, Polda Kaltim menenakan    pasal 99 ayat 1, 2 dan 3 UU 32/2009 tentang PPLH. &quot;Sudah naik ke    penyidikan dan ancaman pidana penjara paling lama 9 tahun,&quot; lanjutnya.Tidak hanya mengenai patahan pipa, jenis minyak yang terbakar dan     juga mencemari lingkungan hingga ke muara sungai Kariangau di kota     Balikpapan dan sungai Nenang di kabupaten Penajam Paser Utara juga     terungkap. Hasilnya bukan MFO melainkan minyak mentah.
&quot;Jenisnya crude oil atau minyak mentah, tapi saya tidak pegang data     mengenai jumlah minyak mentah yang tercecer dari pipa kami yang  patah,&quot;    kata Togar MP, GM Pertamina RU V saat dipanggil Polda Kaltim.
Keputusan bahwa itu adalah minyak mentah setelah pengujian sampel     yang ke 10. &quot;Sampel 1 sampai 9 mendekati MFO dan baru kepada sampel ke     10 kami bisa pastikan adalah minyak mentah,&quot; ungkapnya.
Insiden ini juga menurunkan produksi dari unit primer sebesar 60     persen karena minyak disuplai dari pipa ke tangki pengolahan. Sehingga     Pertamina memaksimalkan pengolahan dari unit sekudner atau dari kapal     tanker ke tangki.
&quot;Kami harus maksimalkan unit sekunder karena pengolahan minyak di RU V     ini untuk menyuplai kawasan tengah dan timur Indonesia,&quot; pungkas    Togar.
Kini, 6 Maret 2018, pantai dan teluk Balikpapan telah mulai bersih     dari minyak. Namun itu tidak lantas menghentikan proses hukum karena     tetap ada pihak yang harus bertanggung jawab.</description><content:encoded>BALIKPAPAN - Sabtu, 31 Maret 2018, sekira pukul 02.00 dini hari, warga Balikpapan yang tinggal Kampung Atas Air dan pelabuhan Kampung Baru mencium aroma minyak yang menyengat. Aroma itu tercium bahkan hingga radius 6 kilometer.
Lini masa media sosial pun diramaikan dengan peristiwa bau minyak hingga pukul 6 pagi diketahui rupanya perairan teluk Balikpapan hingga ke pesisirnya dipenuhi minyak. Spekulasi bermunculan mengenai jenis dan asal muasal minyak.

Ada yang mengatakan minyak yang tampak berwarna hitam pekat itu adalah solar yang berasal dari kebocoran kapal. Tapi tak sedikit yang meyakini asal minyak dari pipa bawah laut milik Pertamina.
Hingga akhirnya, sekira pukul 11.00 Wita, muncul titik api yang secara cepat menjadi kobaran di tengah perairan. Kobaran itu terus meluas dan membesar serta menimbulkan asap hitam pekat yang bergulung dan membumbung ke angkasa.
(Baca Juga: Citra Satelit, Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan Merembes hingga ke Selat Makassar)
Kepekatan asap yang dapat terlihat dari segala penjuru kota Balikpapan itu menjadi kehebohan warga. Bahkan ada yang menyebut kawasan teluk seperti arena perang.
&quot;Ngeri, tapi saya penasaran. Dari kejauhan saya lihat seperti perang di lautan. Ketika saya ke Kampung Atas Air dan melihat secara langsung, ternyata minyak yang tumpah terbakar,&quot; kata Indra Wahyudi, warga Muara Rapak.
Ya, teluk Balikpapan seketika menjadi lautan api. Warga pun panik. Mereka khawatir kobaran api itu merambat melalui jalur ceceran minyak dan membakar rumah mereka.

Mereka terus memantau kondisi perairan. Sementara fireboat atau kapal pemadam kebakaran dari pelabuhan Semayang mulai merapat ke 7 lokasi titik api yang besar. Air laut yang dipompa terus disemprotkan.
Kepanikan tak hanya terjadi di daratan. Awak MV Ever Judger yang diawaki 19 ABK asal Tiongkok juga bergegas menyelamatkan diri. Mereka telah memasang pelampung di badan tapi ragu untuk terjun ke laut.
(Baca Juga: Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan Berasal dari Pipa Pertamina yang Putus)
Pasalnya, kapal pengangkut batu bara dan berbendara Panama itu telah dikepung api dan mulai terbakar. Api awalnya merambat dari tali jangkar yang dilego hingga menyambar perahu penyelamat atau sekoci.
Saat kepanikan itu, aksi heroik dilakukan Hairul, seorang motoris speedboat. Bersama 2 rekannya, dia mendekati kapal untuk menyelamatkan ABK MV Ever Judger.Tanpa mempedulikan panas dan bau menyengat, Hairul mengambil jalur  yang aman dari minyak hingga benar-benar dekat kapal berbadan besar itu.  &quot;Lompat, lompat, terjun saja, nggak apa-apa, kita mau menyelamatkanmu.  Jump.. Jump,&quot; teriaknya.
Tak lama berselang, tiba Patroli Keamanan Laut Pangkalan TNI AL  Balikpapan. Menggunakan KRI Lamaru, 19 ABK yang sudah terjun ke lautan  dibawa ke Pos Polisi Sektor Pelabuhan Speed di Kampung Baru.
Para ABK didata dan dimintai keterangan sementara oleh petugas.  Kesehatannya pun juga diperiksa dan satu ABK atas nama Sun Song Bo  mengalami luka bakar dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Usai evakuasi ABK, terdengar lagi kabar bahwa ada pemancing yang  terjebak saat kebakaran. Hairul bersama rekannya bergegas menyalakan  mesin speedboat dan melaju mendekati kobaran api.

Benar saja, dua pemancing telah menjadi jenazah di perairan. Di baju  korban terdapat sisa bekas api. Begitu pula lepuhan luka bakar yang  terdapat di kaki.
Korban itu bernama Imam N (41) dan Gusti Anggoro (27). Wajah kedua korban tampak membiru dan dari mulut mengeluarkan busa.
Laporan kemudian datang lagi, bahwa masih ada 3 pemancing yang  dinyatakan hilang dan seluruhnya baru bisa ditemukan oleh tim SAR  gabungan pada 3 April kemarin.
(Baca Juga: Armada Pembersihan Ditambah, Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan Mulai Berkurang)
Kembali ke 31 Maret 2018, Pukul 02.00 Wita, Pertamina RU V Kalimantan  bersama MOR VI segera menggelar konferensi pers. GM Pertamina RU V,  Togar MP mengatakan bahwa minyak yang tumpah merupakan bahan bakar kapal  berjenis Marine Fuel Oil atau MFO.
&quot;Dua sampel yang diambil dari lokasi berbeda dan berjauhan telah  diperiksa di laboratorium dan hasilnya adalah MFO. Bahan bakar ini tidak  diproduksi oleh Pertamina di Kalimantan,&quot; ucap Togar saat itu.
Dirinya juga membantah bahwa minyak yang tumpah dan terbakar  bersumber dari kebocoran pipa bawah laut penyuplai minyak mentah dari  Lawelawe ke kilang pengolahan. &quot;Kami turunkan pula 7 penyelam dan sampai  saat ini tidak ditemukan pipa bocor,&quot; ujarnya.
Bantahan itu pun terbit di portal berita dan beredar cepat di media  sosial. Warga ada yang percaya meski ada pula yang meragukan kemudian  menjadi bahan pembicaraan di mana saja.Sejak 1 April 2018, aksi bersih-bersih pantai dari tumpahan minyak   mulai dilakukan secara manual. Ratusan personel TNI dan Polri serta dari   Pertamina bahu membahu membersihkan minyak secara manual.
Upaya pembersihan juga dilakukan mahasiswa dan organisasi   kemasyarakatan. Sementara di perairan, minyak dibersihkan menggunakan   oil boom dan kapal skimmer oil. Termasuk menyemprotkan oil dispersant   agar minyak terurai di air.
Kemudian pada 2 April 2018, memanggil OPD terkait dan stakeholder   yang biasa beraktivitas di kawasan pelabuhan dan teluk Balikpapan. Saat   itu ditetapkan bahwa kota Balikpapan dalam kondisi Darurat Lingkungan.
Status itu dikeluarkan karena pencemaran minyak mulai memberi dampak   terhadap lingkungan. Udara yang berbau dan BMKG mengeluarkan peringatan   agar warga tidak memanfaatkan air hujan.

Cemaran minyak juga membuat biota laut seperti ikan dan kepiting   banyak yang mati. Bahkan bangkai seekor lumba-lumba yang terpapar minyak   ditemukan terdampar di pantai Klandasan.
Termasuk gagal ekspornya lebih dari 1 ton kepiting keramba milik   nelayan di muara sungai Kariangau. Sedianya kepiting itu diekspor ke   Shanghai, Hongkong dan Singapura.
&quot;Banyak kepiting yang mati dan tidak bisa diekspor karena berminyak.   Kalau dijual ke pasar pun, kami pasti dikomplain oleh pembeli. Belum   dihitung jumlah kerugian tapi pastinya kami merugi,&quot; ujar Rustam.
Di tengah proses pembersihan laut dan pantai, Direktorat Kriminal    Khusus Polda Kaltim bergerak melakukan penyelidikan. Hasilnya diketahui    bahwa sumber minyak berasal dari pipa baja berdiameter 20 inchi dengan    ketebalan 12 milimeter telah patah.
&quot;Kami temukan adanya pipa milik Pertamina yang patah dan bergeser 100    meter di dasar laut dan penyebabnya masih diinvestigasi,&quot; kata    Kombespol Yustan Alpian, Direskrimsus Polda Kaltim pada Rabu, 4 April    2018.
Penemuan pipa patah itu setelah dilakukan penyelaman oleh tim    Pertamina yang diawasi Polda Kaltim. &quot;Penyelam dibekali alat berupa Site    Sonar Scan dan hasilnya ditemukan pipa patah,&quot; ulangnya.
Meski belum ada penetapan tersangka atas kasus yang menjadi sorotan    nasional dan pemberitaan media internasional, Polda Kaltim menenakan    pasal 99 ayat 1, 2 dan 3 UU 32/2009 tentang PPLH. &quot;Sudah naik ke    penyidikan dan ancaman pidana penjara paling lama 9 tahun,&quot; lanjutnya.Tidak hanya mengenai patahan pipa, jenis minyak yang terbakar dan     juga mencemari lingkungan hingga ke muara sungai Kariangau di kota     Balikpapan dan sungai Nenang di kabupaten Penajam Paser Utara juga     terungkap. Hasilnya bukan MFO melainkan minyak mentah.
&quot;Jenisnya crude oil atau minyak mentah, tapi saya tidak pegang data     mengenai jumlah minyak mentah yang tercecer dari pipa kami yang  patah,&quot;    kata Togar MP, GM Pertamina RU V saat dipanggil Polda Kaltim.
Keputusan bahwa itu adalah minyak mentah setelah pengujian sampel     yang ke 10. &quot;Sampel 1 sampai 9 mendekati MFO dan baru kepada sampel ke     10 kami bisa pastikan adalah minyak mentah,&quot; ungkapnya.
Insiden ini juga menurunkan produksi dari unit primer sebesar 60     persen karena minyak disuplai dari pipa ke tangki pengolahan. Sehingga     Pertamina memaksimalkan pengolahan dari unit sekudner atau dari kapal     tanker ke tangki.
&quot;Kami harus maksimalkan unit sekunder karena pengolahan minyak di RU V     ini untuk menyuplai kawasan tengah dan timur Indonesia,&quot; pungkas    Togar.
Kini, 6 Maret 2018, pantai dan teluk Balikpapan telah mulai bersih     dari minyak. Namun itu tidak lantas menghentikan proses hukum karena     tetap ada pihak yang harus bertanggung jawab.</content:encoded></item></channel></rss>
