<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Peminum Miras Oplosan adalah Korban Kesenjangan</title><description>Warga kelas bawah yang tidak mampu membeli minuman beralkohol yang dijual secara legal, beralih ke miras oplosan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/04/09/338/1883916/peminum-miras-oplosan-adalah-korban-kesenjangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/04/09/338/1883916/peminum-miras-oplosan-adalah-korban-kesenjangan"/><item><title>Peminum Miras Oplosan adalah Korban Kesenjangan</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/04/09/338/1883916/peminum-miras-oplosan-adalah-korban-kesenjangan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/04/09/338/1883916/peminum-miras-oplosan-adalah-korban-kesenjangan</guid><pubDate>Senin 09 April 2018 06:45 WIB</pubDate><dc:creator>Muhamad Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/09/338/1883916/peminum-miras-oplosan-adalah-korban-kesenjangan-w1v25eYKJY.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Miras oplosan yang diamankan Polres Bekasi. Foto Okezone/Djamhari</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/09/338/1883916/peminum-miras-oplosan-adalah-korban-kesenjangan-w1v25eYKJY.jpeg</image><title>Miras oplosan yang diamankan Polres Bekasi. Foto Okezone/Djamhari</title></images><description>
JAKARTA &amp;ndash; Puluhan nyawa melayang menenggak minuman keras (miras) oplosan. Kepolisian daerah Polda Metro Jaya, mengungkap korban tewas akibat meneguk miras olposan sudah mencapai 31 orang. Korban merupakan warga, Jakarta, Depok dan Bekasi. Terbaru, 12 dari 27 warga Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tewas setelah meminum miras oplosan.
Sosiolog dari Universitas Infonesia, Daisy Indira menilai, jatuhnya banyak korban akibat menenggak miras oplosan, salah satunya akibat adanya kesenjangan kesejahteraan.
Daisy beranggapan bahwa warga kelas bawah yang tidak mampu membeli minuman beralkohol yang dijual secara legal, beralih ke miras oplosan.
&quot;Kasus ini jangan hanya dilihat adanya korban tapi kasus ini harus menjadi waspada bagi kita termasuk pemerintah dan stackholder lain bahwa ada kesenjangan yang begitu jauh sebenernya antara yang the have (si kaya-red) and the have not (si miskin-red) yang masing-masing mengembangkan budayanya masing-masing,&quot; kata Daisy saat dihubungi Okezone, Minggu (8/4/2018).
BACA: 5 Pesta Miras Oplosan Berujung Maut, Nomor 3 Paling Tragis
BACA: Pelaku di Jakarta Selatan Sudah 2 Tahun Jual Miras Oplosan
Miras oplosan, lanjut Daisy, menjadi medium alternatif bagi masyarakat kelas tertentu untuk menyelesaikan permasalahan, tekanan hidup dan kesenangan.
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/12/14/45483/235164_medium.jpg&quot; alt=&quot;Polisi Musnahkan Ribuan Botol Miras Jelang Perayaan Natal&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
&quot;Kelas dan komunitas tertentu yang mengkonsumsi miras ini tentunya menjadi korban, itu yang harusnya kita lihat adalah ada persoalan lain yang lebih mengakar,&quot; tuturnya.
&quot;Persoalan itu ada pada pendidikan bagaimana kita harus bisa memastikan informasi akan bahaya zat-zat tertentu untuk tubu itu sampai kesemua lapisan masyarakat baik lewat institusi pendidikan maupun komunitas dan lingkungan harus sadar akan hal itu,&quot; paparnya.

Oleh karenanya, Daisy berharap pemerintah mampu menekan angka pengangguran dan meningkatkan mutu pendidikan, agar masyarakat lebih memahami bahaya miras oplosan.
&quot;Jangan sampai jumlah pengangguran tinggi atau pendidikan yang rendah jadi itu dua hal itu berkaitan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat kita,&quot; tukasnya.
</description><content:encoded>
JAKARTA &amp;ndash; Puluhan nyawa melayang menenggak minuman keras (miras) oplosan. Kepolisian daerah Polda Metro Jaya, mengungkap korban tewas akibat meneguk miras olposan sudah mencapai 31 orang. Korban merupakan warga, Jakarta, Depok dan Bekasi. Terbaru, 12 dari 27 warga Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tewas setelah meminum miras oplosan.
Sosiolog dari Universitas Infonesia, Daisy Indira menilai, jatuhnya banyak korban akibat menenggak miras oplosan, salah satunya akibat adanya kesenjangan kesejahteraan.
Daisy beranggapan bahwa warga kelas bawah yang tidak mampu membeli minuman beralkohol yang dijual secara legal, beralih ke miras oplosan.
&quot;Kasus ini jangan hanya dilihat adanya korban tapi kasus ini harus menjadi waspada bagi kita termasuk pemerintah dan stackholder lain bahwa ada kesenjangan yang begitu jauh sebenernya antara yang the have (si kaya-red) and the have not (si miskin-red) yang masing-masing mengembangkan budayanya masing-masing,&quot; kata Daisy saat dihubungi Okezone, Minggu (8/4/2018).
BACA: 5 Pesta Miras Oplosan Berujung Maut, Nomor 3 Paling Tragis
BACA: Pelaku di Jakarta Selatan Sudah 2 Tahun Jual Miras Oplosan
Miras oplosan, lanjut Daisy, menjadi medium alternatif bagi masyarakat kelas tertentu untuk menyelesaikan permasalahan, tekanan hidup dan kesenangan.
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/12/14/45483/235164_medium.jpg&quot; alt=&quot;Polisi Musnahkan Ribuan Botol Miras Jelang Perayaan Natal&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
&quot;Kelas dan komunitas tertentu yang mengkonsumsi miras ini tentunya menjadi korban, itu yang harusnya kita lihat adalah ada persoalan lain yang lebih mengakar,&quot; tuturnya.
&quot;Persoalan itu ada pada pendidikan bagaimana kita harus bisa memastikan informasi akan bahaya zat-zat tertentu untuk tubu itu sampai kesemua lapisan masyarakat baik lewat institusi pendidikan maupun komunitas dan lingkungan harus sadar akan hal itu,&quot; paparnya.

Oleh karenanya, Daisy berharap pemerintah mampu menekan angka pengangguran dan meningkatkan mutu pendidikan, agar masyarakat lebih memahami bahaya miras oplosan.
&quot;Jangan sampai jumlah pengangguran tinggi atau pendidikan yang rendah jadi itu dua hal itu berkaitan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat kita,&quot; tukasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
