<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>PM Australia Akui Hubungan dengan China Memburuk </title><description>Turnbull mengakui bahwa ada tensi dalam hubungan kedua negara terkait pengenalan produk perundang-undangan yang baru di Negeri Kanguru.&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/04/12/18/1885688/pm-australia-akui-hubungan-dengan-china-memburuk</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/04/12/18/1885688/pm-australia-akui-hubungan-dengan-china-memburuk"/><item><title>PM Australia Akui Hubungan dengan China Memburuk </title><link>https://news.okezone.com/read/2018/04/12/18/1885688/pm-australia-akui-hubungan-dengan-china-memburuk</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/04/12/18/1885688/pm-australia-akui-hubungan-dengan-china-memburuk</guid><pubDate>Kamis 12 April 2018 15:04 WIB</pubDate><dc:creator>Wikanto Arungbudoyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/12/18/1885688/pm-australia-akui-hubungan-dengan-china-memburuk-9Y6xFHi6Ko.JPG" expression="full" type="image/jpeg">PM Australia Malcolm Turnbull bersama dengan Presiden China Xi Jinping (Foto: Wang Zhao/Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/12/18/1885688/pm-australia-akui-hubungan-dengan-china-memburuk-9Y6xFHi6Ko.JPG</image><title>PM Australia Malcolm Turnbull bersama dengan Presiden China Xi Jinping (Foto: Wang Zhao/Reuters)</title></images><description>SYDNEY &amp;ndash; Perdana Menteri (PM) Australia, Malcolm Turnbull, mengakui perundang-undangan dengan tujuan untuk mencegah intervensi asing dalam politik telah membuat hubungan negaranya dengan China sedikit renggang. Pernyataan itu dikeluarkan setelah visa beberapa pejabat ditolak oleh China.
Hubungan antara Canberra dengan Beijing sedikit panas dalam satu tahun terakhir, terutama setelah Australia khawatir dengan peningkatan pengaruh China. Negeri Kanguru lantas menerbitkan undang-undang yang melarang donasi politik dari luar negeri.
&amp;ldquo;Jelas ada semacam tensi dalam hubungan (kedua negara) terkait pengenalan undang-undang mengenai intervensi asing tetapi saya yakin kesalahpahaman akan segera diselesaikan,&amp;rdquo; ujar Malcolm Turnbull dalam wawancara dengan sebuah stasiun radio, mengutip dari Reuters, Kamis (12/4/2018).
Media Australian Financial Review melaporkan, China pekan ini menolak pengajuan visa sejumlah pejabat pemerintahan Australia yang hendak menghadiri pameran perdagangan. Belum diketahui dengan pasti alasan dibalik penolakan visa tersebut oleh China.
BACA JUGA: Australia Tidak Khawatir China Ingin Bangun Pangkalan Militer di Vanuatu
Pada akhir Desember 2017, Turnbull menyebut adanya laporan yang mengganggu mengenai pengaruh China di Australia. Ia juga mengingatkan bahwa ada &amp;lsquo;kekuatan-kekuatan asing&amp;rsquo; yang melakukan upaya-upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya dan semakin canggih untuk mempengaruhi proses politik.
China diketahui sebagai salah satu mitra dagang terbesar Australia. Pada 2017, pembelian produk barang dan jasa dari Australia oleh China mencapai USD70 miliar (setara Rp963 triliun). Di sisi lain, Australia juga memiliki hubungan erat dengan Amerika Serikat (AS) sehingga relasi dengan China sulit untuk lebih erat.
Akan tetapi, Australia tidak segan-segan mengkritik aktivitas China di Pasifik dan Laut China Selatan. Menteri Pembangunan Internasional Australia, Concetta Fierravanti-Wells, pernah menuduh China mendanai &amp;lsquo;jalan buntu&amp;rsquo; dan &amp;lsquo;bangunan tidak berguna&amp;rsquo; di Pasifik. Beberapa hari lalu Australia juga mengkhawatirkan adanya rencana pembangunan pangkalan militer China di Vanuatu.</description><content:encoded>SYDNEY &amp;ndash; Perdana Menteri (PM) Australia, Malcolm Turnbull, mengakui perundang-undangan dengan tujuan untuk mencegah intervensi asing dalam politik telah membuat hubungan negaranya dengan China sedikit renggang. Pernyataan itu dikeluarkan setelah visa beberapa pejabat ditolak oleh China.
Hubungan antara Canberra dengan Beijing sedikit panas dalam satu tahun terakhir, terutama setelah Australia khawatir dengan peningkatan pengaruh China. Negeri Kanguru lantas menerbitkan undang-undang yang melarang donasi politik dari luar negeri.
&amp;ldquo;Jelas ada semacam tensi dalam hubungan (kedua negara) terkait pengenalan undang-undang mengenai intervensi asing tetapi saya yakin kesalahpahaman akan segera diselesaikan,&amp;rdquo; ujar Malcolm Turnbull dalam wawancara dengan sebuah stasiun radio, mengutip dari Reuters, Kamis (12/4/2018).
Media Australian Financial Review melaporkan, China pekan ini menolak pengajuan visa sejumlah pejabat pemerintahan Australia yang hendak menghadiri pameran perdagangan. Belum diketahui dengan pasti alasan dibalik penolakan visa tersebut oleh China.
BACA JUGA: Australia Tidak Khawatir China Ingin Bangun Pangkalan Militer di Vanuatu
Pada akhir Desember 2017, Turnbull menyebut adanya laporan yang mengganggu mengenai pengaruh China di Australia. Ia juga mengingatkan bahwa ada &amp;lsquo;kekuatan-kekuatan asing&amp;rsquo; yang melakukan upaya-upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya dan semakin canggih untuk mempengaruhi proses politik.
China diketahui sebagai salah satu mitra dagang terbesar Australia. Pada 2017, pembelian produk barang dan jasa dari Australia oleh China mencapai USD70 miliar (setara Rp963 triliun). Di sisi lain, Australia juga memiliki hubungan erat dengan Amerika Serikat (AS) sehingga relasi dengan China sulit untuk lebih erat.
Akan tetapi, Australia tidak segan-segan mengkritik aktivitas China di Pasifik dan Laut China Selatan. Menteri Pembangunan Internasional Australia, Concetta Fierravanti-Wells, pernah menuduh China mendanai &amp;lsquo;jalan buntu&amp;rsquo; dan &amp;lsquo;bangunan tidak berguna&amp;rsquo; di Pasifik. Beberapa hari lalu Australia juga mengkhawatirkan adanya rencana pembangunan pangkalan militer China di Vanuatu.</content:encoded></item></channel></rss>
