<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Seorang Ibu Hamil Korban Kecelakaan Kapal di Johor Dilarikan ke Rumah Sakit</title><description>Seorang ibu hamil yang menjadi korban kecelakaan kapal di Perairan Johor, Malaysia, langsung dibawa ke RS usai tiba di Pelabuhan Batam.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/04/19/340/1888866/seorang-ibu-hamil-korban-kecelakaan-kapal-di-johor-dilarikan-ke-rumah-sakit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/04/19/340/1888866/seorang-ibu-hamil-korban-kecelakaan-kapal-di-johor-dilarikan-ke-rumah-sakit"/><item><title>Seorang Ibu Hamil Korban Kecelakaan Kapal di Johor Dilarikan ke Rumah Sakit</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/04/19/340/1888866/seorang-ibu-hamil-korban-kecelakaan-kapal-di-johor-dilarikan-ke-rumah-sakit</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/04/19/340/1888866/seorang-ibu-hamil-korban-kecelakaan-kapal-di-johor-dilarikan-ke-rumah-sakit</guid><pubDate>Kamis 19 April 2018 16:47 WIB</pubDate><dc:creator>Aini Lestari</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/19/340/1888866/seorang-ibu-hamil-korban-kecelakaan-kapal-di-johor-dilarikan-ke-rumah-sakit-ZyyI6DttgA.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ibu hamil korban kecelakaan kapal di Perairan Johor. (Foto: Aini Lestari/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/19/340/1888866/seorang-ibu-hamil-korban-kecelakaan-kapal-di-johor-dilarikan-ke-rumah-sakit-ZyyI6DttgA.jpg</image><title>Ibu hamil korban kecelakaan kapal di Perairan Johor. (Foto: Aini Lestari/Okezone)</title></images><description>BATAM &amp;ndash; Ella Sari, salah seorang korban kecelakaan kapal tanpa nama yang mengangkut 101 tenaga kerja Indonesia (TKI), di Perairan Batu Putih, Johor, Malaysia, pada Kamis dini hari tadi, langsung dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepulauan Riau sesaat setibanya di Pelabuhan Batu Ampar, Batam. Ia dilarikan ke rumah sakit karena kondisi tubuhnya yang sangat lemas, ditambah sedang hamil muda.

&quot;Kebetulan korban ini tengah hamil dua bulan. Kondisinya sangat lemas, makanya langsung kami infus. Sekarang dibawa ke rumah sakit,&quot; kata Romer, dokter dari Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Batam, Kamis (19/4/2018).

(Baca: Kecelakaan Kapal di Perairan Johor karena Kehabisan Bahan Bakar) 


 

Selain tengah hamil muda, jelas dia, kondisi Ella menurun dikarenakan berada di tengah laut dalam waktu cukup lama. Terpaan angin laut yang kencang dan kurangnya asupan makanan selama kejadian membuat kondisi kesehatan Ella menurun.

&quot;Angin laut kan cukup kencang. Apalagi mereka di tengah laut, cuaca pasti dingin. Kondisinya dia lagi hamil dan kekurangan asupan makanan, makanya kondisinya semakin lemah,&quot; paparnya.

Tidak hanya Ella, terdapat korban lain yang juga tengah hamil yakni Yuni. Ia diketahui sedang hamil empat bulan.

Tubuh Yuni juga tampak sedikit lemas, namun masih stabil, sehingga tidak perlu mendapat penanganan medis lebih serius.

&quot;Kalau Yuni tidak apa-apa, makanya dia ikut bersama yang lainnya ke Ditpolairud,&quot; ujar Dokter Romer.

(Baca: Cerita Korban Kecelakaan Kapal, 6 Jam Terapung di Dinginnya Perairan Johor) 
 

Selain Ella dan Yuni, terdapat 20 perempuan lain dan 4 anak-anak yang menjadi korban kecelakaan kapal di Perairan Johor. Mereka langsung dibawa ke Kantor Ditpolairud Polda Kepri di Sekupang, Batam, untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Dari hasil pemeriksaan sementara diketahui mereka adalah TKI ilegal yang hendak pulang ke kampung halaman melalui Batam. Mereka pulang melalui bantuan tekong TKI dengan jumlah bayaran bervariatif, mulai 1.100 hingga 1.500 ringgit Malaysia. Namun setibanya di Perairan Batu Putih, kapal kehabisan bensin dan para korban sempat mengapung di laut selama enam jam.

</description><content:encoded>BATAM &amp;ndash; Ella Sari, salah seorang korban kecelakaan kapal tanpa nama yang mengangkut 101 tenaga kerja Indonesia (TKI), di Perairan Batu Putih, Johor, Malaysia, pada Kamis dini hari tadi, langsung dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepulauan Riau sesaat setibanya di Pelabuhan Batu Ampar, Batam. Ia dilarikan ke rumah sakit karena kondisi tubuhnya yang sangat lemas, ditambah sedang hamil muda.

&quot;Kebetulan korban ini tengah hamil dua bulan. Kondisinya sangat lemas, makanya langsung kami infus. Sekarang dibawa ke rumah sakit,&quot; kata Romer, dokter dari Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Batam, Kamis (19/4/2018).

(Baca: Kecelakaan Kapal di Perairan Johor karena Kehabisan Bahan Bakar) 


 

Selain tengah hamil muda, jelas dia, kondisi Ella menurun dikarenakan berada di tengah laut dalam waktu cukup lama. Terpaan angin laut yang kencang dan kurangnya asupan makanan selama kejadian membuat kondisi kesehatan Ella menurun.

&quot;Angin laut kan cukup kencang. Apalagi mereka di tengah laut, cuaca pasti dingin. Kondisinya dia lagi hamil dan kekurangan asupan makanan, makanya kondisinya semakin lemah,&quot; paparnya.

Tidak hanya Ella, terdapat korban lain yang juga tengah hamil yakni Yuni. Ia diketahui sedang hamil empat bulan.

Tubuh Yuni juga tampak sedikit lemas, namun masih stabil, sehingga tidak perlu mendapat penanganan medis lebih serius.

&quot;Kalau Yuni tidak apa-apa, makanya dia ikut bersama yang lainnya ke Ditpolairud,&quot; ujar Dokter Romer.

(Baca: Cerita Korban Kecelakaan Kapal, 6 Jam Terapung di Dinginnya Perairan Johor) 
 

Selain Ella dan Yuni, terdapat 20 perempuan lain dan 4 anak-anak yang menjadi korban kecelakaan kapal di Perairan Johor. Mereka langsung dibawa ke Kantor Ditpolairud Polda Kepri di Sekupang, Batam, untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Dari hasil pemeriksaan sementara diketahui mereka adalah TKI ilegal yang hendak pulang ke kampung halaman melalui Batam. Mereka pulang melalui bantuan tekong TKI dengan jumlah bayaran bervariatif, mulai 1.100 hingga 1.500 ringgit Malaysia. Namun setibanya di Perairan Batu Putih, kapal kehabisan bensin dan para korban sempat mengapung di laut selama enam jam.

</content:encoded></item></channel></rss>
