<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mobil-mobilan Kayu yang Bertahan di Tengah Gempuran Modernisasi</title><description>Mobil-mobilan dari kayu pernah berjaya di era 90 hingga 2000-an. Tapi kini mulai meredup. Bagaimana kisahnya?</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/05/05/337/1894490/mobil-mobilan-kayu-yang-bertahan-di-tengah-gempuran-modernisasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/05/05/337/1894490/mobil-mobilan-kayu-yang-bertahan-di-tengah-gempuran-modernisasi"/><item><title>Mobil-mobilan Kayu yang Bertahan di Tengah Gempuran Modernisasi</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/05/05/337/1894490/mobil-mobilan-kayu-yang-bertahan-di-tengah-gempuran-modernisasi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/05/05/337/1894490/mobil-mobilan-kayu-yang-bertahan-di-tengah-gempuran-modernisasi</guid><pubDate>Sabtu 05 Mei 2018 09:05 WIB</pubDate><dc:creator>Arie Dwi Satrio</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/05/04/337/1894490/mobil-mobilan-kayu-yang-bertahan-di-tengah-gempuran-modernisasi-nFngFTstmH.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Mobil-mobilan dari kayu di kios samping Jalan Raya Pasar Minggu, Kalibata, Jakarta Selatan (Arie DS/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/05/04/337/1894490/mobil-mobilan-kayu-yang-bertahan-di-tengah-gempuran-modernisasi-nFngFTstmH.jpeg</image><title>Mobil-mobilan dari kayu di kios samping Jalan Raya Pasar Minggu, Kalibata, Jakarta Selatan (Arie DS/Okezone)</title></images><description>ANEKA replika mobil berwarna-warni terpajang di kios sisi barat Taman Makam Pahlawan (TMP), Jalan Raya Pasar Minggu, Kalibata, Jakarta Selatan. Marsa'ad alias Umar (76), sang pengrajin mobil-mobilan itu, duduk di sela tumpukan mainan buatannya menanti pembeli. Kendaraan terus berseliweran di jalan depan kiosnya.
Kios yang menjajakkan berbagai jenis mainan berbahan dasar kayu itu sudah ada sejak 1997. Umar mengakui jika akhir-akhir ini, mainan tersebut peminatnya mulai menurun, dibanding era 90 hingga 2000-an saat mainan kayu masih berjaya.
&amp;ldquo;Kadang sehari&amp;lrm; bisa laku 20 sampai 30, kadang cuma lima, tapi ya ada saja,&quot; tutur Umar saat ditemui Okezone, tengah pekan ini. Dulu saat masih berjaya, Umar malah kewalahan menerima orderan.
Ada dua kios yang menjajakan mainan kayu milik Umar di dekat TMP. Miniatur mobil, pikap, bus Metromini, mobil boks, bajaj, truk tanki, kontainer, bus Transjakarta  hingga kereta api terpajang di situ. Ada juga kursi goyang berbentuk seperti kuda. Mainan itu terbuat dari kayu lalu dicat menyerupai bentuk aslinya.
Mainan kayu sangat populer di era 90-an hingga awal 2000-an. Selain mobil-mobilan, ada yoyo, gasing, gimbot dan monopoli yang digandrungi anak-anak kala itu. Belum lagi permainan tradisional yang berbeda-beda di daerah.

Tapi sekarang mulai terkikis dengan maraknya mainan modern yang serba praktis. Mainan-mainan impor dengan harga miring menguasai pasar. Belum lagi gadget dan games online yang mudah sekali diakses semua usia.
Namun, Umar yakin mainan buatannya tetap laku meski pembelinya tak seramai dulu. Setidaknya masih ada orangtua yang ingin membeli mainan kayu untuk anak-anaknya.
Sebut saja Yudi, warga Cidodol, Jakarta Selatan. Ia tak mau keponakannya kecanduan games online dan gadget yang membuat si anak pasif. Yudi ingin sang ponaannya bisa menikmati mainan kayu seperti anak-anak di masa kecilnya dulu. Maka, Yudi pun membeli truk mainan buatan Umar untuk keponakannya.
&quot;Ini beliin mainan untuk keponakan, karena kepengen melestarikan saja. Sekarang kan udah cenderung ke gadget, ngasah motorik anak, nanti nih (truk-trukan) ditarik-tarik keluar, jadi biar enggak diam dirumah aja, karena kan anak sekarang kalau udah main gadget dipanggil saja enggak mau dengar,&quot; paparnya.
Fiddy, warga Pancoran, Jakarta Selatan juga pernah membeli mainan truk di kios Umar untuk anaknya yang masih balita. Harganya Rp150 ribu. Fiddy ingin anaknya bisa bermain dengan mainan kayu agar lebih aktif dan bisa sekaligus belajar dengan alam. &amp;ldquo;Mainan kayu ini lebih edukatif,&amp;rdquo; katanya.

Marsa'ad alias Umar (Arie/Okezone)
Selain untuk mainan anak-anak, mobil-mobilan dari kayu juga kerap dijadikan barang koleksi atau pajangan di rumah-rumah, kantor maupun kafe-kafe. Misalnya Arbi. Warga Pasar Minggu itu punya hobi mengoleksi mainan unik.
Arbi membeli replika bajaj oranye di kios Umar. &amp;ldquo;Saya beli untuk koleksi saja, soalnya bajaj aslinya kan udah enggak ada di Jakarta, padahal ini salah satu ikon asli Jakarta,&quot; ujarnya.
Bagi Arbi harga mahal tak masalah. &amp;ldquo;Kalau ngomong seni, jangan bicara soal harga.&quot;Sukma, adik Umar yang menjaga kios mobil mainan sekarang menuturkan bahwa beberapa waktu lalu ada seorang pria membawa anaknya ke kios tersebut untuk membeli mobil-mobilan.
Kepada Sukma, sang pria itu bercerita bahwa belasan tahun lalu dia pernah dibelikan mobil-mobilan buatan Umar di kios tersebut. &amp;ldquo;Makanya dia bawa anaknya, dia beli lagi untuk anaknya, sekalian nostalgia,&amp;rdquo; tutur Sukma mengutip cerita dari pembelinya.
Mainan dari kayu memang memiliki nilai seni yang tinggi. Pembuatannya butuh ketelitian dan kreativitas. Mulai dari mengukir, memasang hingga mengecat, tak bisa sembarang.
Umar bercerita awalnya dia membuat mobil-mobilan dari kayu hanya sekadar iseng. Kisahnya bermula setelah dirinya diberhentikan dari perusahaan produksi tinta tempatnya bekerja. Umar tak putus asa.
Dia lalu membuat kincir angin dari kayu, di sela mengurus tanah di samping Taman Makam Pahlawan Kalibata. Mainan kincir angin itu kemudian dipajang di pinggir Jalan Raya Pasar Minggu. Ternyata ada yang tertarik dan membelinya.

&quot;Saya iseng-iseng buat kincir angin, nah ditaruh saja di sini. Dulu Jalan (Raya Pasar Minggu) ini masih jalan tanah, belum aspal, akhirnya lama-lama banyak orang pesan,&quot; tutur Umar.
Dari kincir angin, Umar lalu membuat mobil-mobilan dan permintaannya terus meningkat terutama sejak 97 hingga era 2000-an. Selain mobil-mobilan, Umar juga membuat kursi goyang berbentuk kuda. Semuanya dari kayu.
Sekali waktu Umar ikut pameran kreasi anak negeri, mempromosikan hasil kreativitasnya. Setelah itu, banyak orderan datang, bukan saja dari dalam, tapi juga luar negeri. Ada turis asal Belanda memesan 300 miniatur bajaj dari kayu ke Umar.
Usaha Umar terus berkembang bahkan membuka cabang hingga ke Kalideres, Serang, Depok, Bekasi hingga Bogor. Dia menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya dari bisnisnya tersebut. Tapi sekarang seiring minimnya permintaan, usahanya mulai meredup. Kiosnya hanya tersisa dua di Kalibata.

Umar mengecek bahan mainan buatannya (Arie/Okezone)
Mobil-mobilan dari kayu diakui bisa menjadi lahan ekonomi bagi masyarakat. Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan DKI Jakarta berencana mengembangkan industri kecil tersebut.
&quot;Nanti saya data, saya cariin enterpreneur muda yang bisa bantu ngelatih untuk diupgrade,&quot; kata Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan DKI Jakarta. &quot;Saya cariin volunteer yang mau bantu. orang kaya gitu, enggak dibayar.&quot;
Menurutnya Pemprov DKI akan mendorong pengrajin mobil-mobilan dari kayu agar membuat mainan yang kekinian juga sehingga disukai anak zaman sekarang. &amp;ldquo;Sekarang kan truk-truk, bisa saja nanti mobil ferrari yang dia bikin. Kekinian,&quot; terangnya. (sal)</description><content:encoded>ANEKA replika mobil berwarna-warni terpajang di kios sisi barat Taman Makam Pahlawan (TMP), Jalan Raya Pasar Minggu, Kalibata, Jakarta Selatan. Marsa'ad alias Umar (76), sang pengrajin mobil-mobilan itu, duduk di sela tumpukan mainan buatannya menanti pembeli. Kendaraan terus berseliweran di jalan depan kiosnya.
Kios yang menjajakkan berbagai jenis mainan berbahan dasar kayu itu sudah ada sejak 1997. Umar mengakui jika akhir-akhir ini, mainan tersebut peminatnya mulai menurun, dibanding era 90 hingga 2000-an saat mainan kayu masih berjaya.
&amp;ldquo;Kadang sehari&amp;lrm; bisa laku 20 sampai 30, kadang cuma lima, tapi ya ada saja,&quot; tutur Umar saat ditemui Okezone, tengah pekan ini. Dulu saat masih berjaya, Umar malah kewalahan menerima orderan.
Ada dua kios yang menjajakan mainan kayu milik Umar di dekat TMP. Miniatur mobil, pikap, bus Metromini, mobil boks, bajaj, truk tanki, kontainer, bus Transjakarta  hingga kereta api terpajang di situ. Ada juga kursi goyang berbentuk seperti kuda. Mainan itu terbuat dari kayu lalu dicat menyerupai bentuk aslinya.
Mainan kayu sangat populer di era 90-an hingga awal 2000-an. Selain mobil-mobilan, ada yoyo, gasing, gimbot dan monopoli yang digandrungi anak-anak kala itu. Belum lagi permainan tradisional yang berbeda-beda di daerah.

Tapi sekarang mulai terkikis dengan maraknya mainan modern yang serba praktis. Mainan-mainan impor dengan harga miring menguasai pasar. Belum lagi gadget dan games online yang mudah sekali diakses semua usia.
Namun, Umar yakin mainan buatannya tetap laku meski pembelinya tak seramai dulu. Setidaknya masih ada orangtua yang ingin membeli mainan kayu untuk anak-anaknya.
Sebut saja Yudi, warga Cidodol, Jakarta Selatan. Ia tak mau keponakannya kecanduan games online dan gadget yang membuat si anak pasif. Yudi ingin sang ponaannya bisa menikmati mainan kayu seperti anak-anak di masa kecilnya dulu. Maka, Yudi pun membeli truk mainan buatan Umar untuk keponakannya.
&quot;Ini beliin mainan untuk keponakan, karena kepengen melestarikan saja. Sekarang kan udah cenderung ke gadget, ngasah motorik anak, nanti nih (truk-trukan) ditarik-tarik keluar, jadi biar enggak diam dirumah aja, karena kan anak sekarang kalau udah main gadget dipanggil saja enggak mau dengar,&quot; paparnya.
Fiddy, warga Pancoran, Jakarta Selatan juga pernah membeli mainan truk di kios Umar untuk anaknya yang masih balita. Harganya Rp150 ribu. Fiddy ingin anaknya bisa bermain dengan mainan kayu agar lebih aktif dan bisa sekaligus belajar dengan alam. &amp;ldquo;Mainan kayu ini lebih edukatif,&amp;rdquo; katanya.

Marsa'ad alias Umar (Arie/Okezone)
Selain untuk mainan anak-anak, mobil-mobilan dari kayu juga kerap dijadikan barang koleksi atau pajangan di rumah-rumah, kantor maupun kafe-kafe. Misalnya Arbi. Warga Pasar Minggu itu punya hobi mengoleksi mainan unik.
Arbi membeli replika bajaj oranye di kios Umar. &amp;ldquo;Saya beli untuk koleksi saja, soalnya bajaj aslinya kan udah enggak ada di Jakarta, padahal ini salah satu ikon asli Jakarta,&quot; ujarnya.
Bagi Arbi harga mahal tak masalah. &amp;ldquo;Kalau ngomong seni, jangan bicara soal harga.&quot;Sukma, adik Umar yang menjaga kios mobil mainan sekarang menuturkan bahwa beberapa waktu lalu ada seorang pria membawa anaknya ke kios tersebut untuk membeli mobil-mobilan.
Kepada Sukma, sang pria itu bercerita bahwa belasan tahun lalu dia pernah dibelikan mobil-mobilan buatan Umar di kios tersebut. &amp;ldquo;Makanya dia bawa anaknya, dia beli lagi untuk anaknya, sekalian nostalgia,&amp;rdquo; tutur Sukma mengutip cerita dari pembelinya.
Mainan dari kayu memang memiliki nilai seni yang tinggi. Pembuatannya butuh ketelitian dan kreativitas. Mulai dari mengukir, memasang hingga mengecat, tak bisa sembarang.
Umar bercerita awalnya dia membuat mobil-mobilan dari kayu hanya sekadar iseng. Kisahnya bermula setelah dirinya diberhentikan dari perusahaan produksi tinta tempatnya bekerja. Umar tak putus asa.
Dia lalu membuat kincir angin dari kayu, di sela mengurus tanah di samping Taman Makam Pahlawan Kalibata. Mainan kincir angin itu kemudian dipajang di pinggir Jalan Raya Pasar Minggu. Ternyata ada yang tertarik dan membelinya.

&quot;Saya iseng-iseng buat kincir angin, nah ditaruh saja di sini. Dulu Jalan (Raya Pasar Minggu) ini masih jalan tanah, belum aspal, akhirnya lama-lama banyak orang pesan,&quot; tutur Umar.
Dari kincir angin, Umar lalu membuat mobil-mobilan dan permintaannya terus meningkat terutama sejak 97 hingga era 2000-an. Selain mobil-mobilan, Umar juga membuat kursi goyang berbentuk kuda. Semuanya dari kayu.
Sekali waktu Umar ikut pameran kreasi anak negeri, mempromosikan hasil kreativitasnya. Setelah itu, banyak orderan datang, bukan saja dari dalam, tapi juga luar negeri. Ada turis asal Belanda memesan 300 miniatur bajaj dari kayu ke Umar.
Usaha Umar terus berkembang bahkan membuka cabang hingga ke Kalideres, Serang, Depok, Bekasi hingga Bogor. Dia menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya dari bisnisnya tersebut. Tapi sekarang seiring minimnya permintaan, usahanya mulai meredup. Kiosnya hanya tersisa dua di Kalibata.

Umar mengecek bahan mainan buatannya (Arie/Okezone)
Mobil-mobilan dari kayu diakui bisa menjadi lahan ekonomi bagi masyarakat. Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan DKI Jakarta berencana mengembangkan industri kecil tersebut.
&quot;Nanti saya data, saya cariin enterpreneur muda yang bisa bantu ngelatih untuk diupgrade,&quot; kata Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan DKI Jakarta. &quot;Saya cariin volunteer yang mau bantu. orang kaya gitu, enggak dibayar.&quot;
Menurutnya Pemprov DKI akan mendorong pengrajin mobil-mobilan dari kayu agar membuat mainan yang kekinian juga sehingga disukai anak zaman sekarang. &amp;ldquo;Sekarang kan truk-truk, bisa saja nanti mobil ferrari yang dia bikin. Kekinian,&quot; terangnya. (sal)</content:encoded></item></channel></rss>
