<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Persahabatan Pendeta dan Ustad Bawa Mantan Tentara Anak Ambon Jadi Duta Perdamaian</title><description>Keduanya bersahabat dan berupaya menjadi &quot;panutan&quot; untuk ikut merajut rasa saling percaya komunitas Kristen dan Muslim.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/05/05/340/1894773/kisah-persahabatan-pendeta-dan-ustad-bawa-mantan-tentara-anak-ambon-jadi-duta-perdamaian</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/05/05/340/1894773/kisah-persahabatan-pendeta-dan-ustad-bawa-mantan-tentara-anak-ambon-jadi-duta-perdamaian"/><item><title>Kisah Persahabatan Pendeta dan Ustad Bawa Mantan Tentara Anak Ambon Jadi Duta Perdamaian</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/05/05/340/1894773/kisah-persahabatan-pendeta-dan-ustad-bawa-mantan-tentara-anak-ambon-jadi-duta-perdamaian</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/05/05/340/1894773/kisah-persahabatan-pendeta-dan-ustad-bawa-mantan-tentara-anak-ambon-jadi-duta-perdamaian</guid><pubDate>Sabtu 05 Mei 2018 11:19 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/05/05/340/1894773/kisah-persahabatan-pendeta-dan-ustad-bawa-mantan-tentara-anak-ambon-jadi-duta-perdamaian-qF5CRsgnzB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ronald Regang (kiri) dan Iskandar Slamet ikut di garis depan medan tempur sejak 10 tahun dan 13 tahun (Foto: BBC)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/05/05/340/1894773/kisah-persahabatan-pendeta-dan-ustad-bawa-mantan-tentara-anak-ambon-jadi-duta-perdamaian-qF5CRsgnzB.jpg</image><title>Ronald Regang (kiri) dan Iskandar Slamet ikut di garis depan medan tempur sejak 10 tahun dan 13 tahun (Foto: BBC)</title></images><description>PENDETA Jacky Manuputty masih dihantui oleh langkahnya memberkati para kombatan saat konflik berdarah bergolak di Ambon hampir 20 tahun lalu.
&quot;Saya tak pernah membawa senjata namun doa saya dan berkat saya lebih dahsyat dibandingkan senjata. Dengan memberkati, mereka (para kombatan) percaya bahwa inilah perang suci,&quot; kata Pendeta Jacky pada satu hari Minggu setelah memimpin kebaktian di Gereja Silo, salah satu gereja tertua di Ambon.
Konflik paling berdarah di Indonesia dengan korban lebih dari 5.000 orang meninggal, membuat banyak orang &quot;tak punya waktu untuk rasional, dan hanya dapat bertahan, bunuh atau dibunuh,&quot; kata Jacky.
&quot;Saya terlibat dalam konflik untuk memotivasi Kristen mempertahankan hidup dan milik mereka,&quot; tambahnya.
Sejak konflik pecah pada Januari 1999, Pendeta Jacky sempat mengalami masa terombang-ambing: membela komunitasnya atau melihat konflik sebagai bencana kemanusiaan.
Undangan Sinode Gereja Presbyterian di New York City, beberapa bulan setelah kerusuhan pecah, yang seolah &quot;memanggang sekujur tubuhnya&quot; saat itu.
Saat datang ke Amerika Serikat pada April 1999, ia hanya bercerita tentang korban Kristen, pernyataan yang mengundang pertanyaan &quot;Mengapa Anda hanya bercerita tentang orang Kristen yang menjadi korban di Maluku? Staf kami baru kembali dari Indonesia dan menginformasikan bahwa banyak muslim juga menjadi korban.&quot;
Pertanyaan pihak gereja yang membuatnya &quot;malu, gelagapan dan tertunduk dalam diam&quot; ini, menjadi salah satu awal perjalanannya melihat konflik sebagai bencana bagi masyarakat Maluku secara keseluruhan dan bukan konflik agama.
Salah satu titik awal baginya untuk menjalin komunikasi dengan pihak muslim dan ikut mengupayakan perdamaian.
&quot;Namun pada saat itu saya tak bisa mempublikasikan perdamaian karena ketika orang mabuk akan perang, bisa bahaya. Kami kerja di bawah tanah,&quot; ceritanya lagi.
Perjalanan panjang ini yang membawanya bertemu dengan para pemuka Muslim, salah seorang di antaranya Ustad Abidin Wakano.
Perjalanan ini juga yang membawa keduanya bersahabat dan berupaya menjadi &quot;panutan&quot; untuk ikut merajut rasa saling percaya komunitas Kristen dan Muslim yang saat itu mencapai titik saling benci dan dendam yang begitu tinggi.
Mereka yang terseret dalam bara kebencian, dendam dengan saling menyerang dan saling membunuh ini termasuk banyak kombatan anak yang ikut berada di garis depan perang selama bertahun-tahun.
Sejumlah di antara mereka termasuk Ronald Regang yang menjadi pemimpin komandan pasukan anak Kristen dan Iskandar Slameth, yang tergabung dalam Pasukan Jihad. Ronald berusia 10 tahun saat mulai masuk medan tempur dan Iskandar 13 tahun.
Setelah konflik mulai mereda, menyusul perjanjian Malino pada 2002, mereka mengalami trauma mendalam atas pengalaman mereka.
Orang mengatakan kami penyebab Ambon rusuh
Di tengah masyarakat yang terpecah saat itu, mereka justru dituduh sebagai bagian dari &quot;penyebab kerusuhan.&quot;
&amp;ldquo;Dulu kita dianggap sebagai pahlawan karena kita maju ke medan  pertempuran di garis depan, nyawa taruhan kita, dulu kita dianggap  sebagai Tuhan kedua dalam medan pertempuran&amp;hellip; setelah konflik memang kita  dikucilkan,&quot; cerita Ronald.
&quot;Kalau tak ada kita saat itu, apakah kalian masih ada? Tidak ada  daerah Kristen yang bisa bertahan berapa belas tahun atau daerah Muslim  yang bisa bertahan. Saya tak tahu kenapa orang berpikir seperti itu &amp;hellip;  Memang sakit hati,&quot; tambahnya.
Sementara Iskandar lari ke narkoba untuk mengatasi rasa &quot;stres&quot;nya.
&quot;Jadi bandar, jadi pemakai, kehidupan malam,&quot; kata Iskandar.


Ronald dan Iskandar mengatakan keduanya bersahabat setelah saling mengungkap pengalaman dan perasaan pada pertemuan tahun 2006.&amp;nbsp; (BBC)

Sejak perjanjian Damai Malino 2002, gejolak masih terjadi beberapa kali dan suasana masih begitu rentan.
Kedua mantan kombatan anak dan bekas musuh ini bertemu dalam salah  satu acara lintas damai yang melibatkan Lembaga Antar Iman Maluku, wadah  yang diorganisir Pendeta Jacky dan Ustad Abidin.
Jacky mengatakan, &quot;Saat masuk ke Young Ambassador for Peace, staf  Lembaga Antar Iman Maluku, bertemu dengan mantan fighters (pejuang),  jihadis mini, mereka sempat tegang tapi selalu ada pengaman dari mereka  yang telah membangun relasi sebagai sahabat Muslim dan Kristen.&quot;
Dalam pertemuan ini, para mantan tentara anak mengungkap pengalaman dan perasaan masing-masing.
&quot;Saya tulis saya paling benci sama orang Kristen, karena kakak saya  hancur kakinya, sepupu saya mati. Lalu saya bakar semua (tulisan itu),&quot;  cerita Iskandar mengenang pertemuan dengan mantan petempur Kristen pada  2006.
Sementara Ronald mengatakan, &quot;Saat itu tak ada kemarahan, tapi merasa  bersalah. Saya minta maaf kepada orang Muslim yang pernah saya bunuh,  saya minta maaf untuk semua orang Muslim dan saya katakan bukan saya  saja yang membunuh, tapi semua orang saat itu membunuh, prinsipnya  adalah bila tak membunuh akan dibunuh.&quot;
&quot;Kita tak tahu apa yang kita perbuat saat itu, dan seandainya kalau kita tahu pun, kita tak akan lakukan,&quot; kata Ronald.
Pendeta Jacky mengatakan saling bertemu antara mantan tentara anak  Muslim dan Kristen ini merupakan salah satu langkah awal untuk  memulihkan trauma dan sekaligus membangkitkan rasa saling percaya antara  dua komunitas yang terpecah.
Mereka juga diajak keluar Ambon, ke Yogyakarta, Jakarta dan juga  Filipina, dalam berbagai kegiatan untuk menceritakan pengalaman sebagai  bekas kombatan anak.


&quot;Dia (Ronald) dihormati sebagai fighters (pejuang) di dalam konflik,   ketika konflik selesai, masyarakat umumnya menyingkirkan mereka. Dan   menganggap mereka sebagai orang-orang bermasalah di masyarakat. Mereka   dikucilkan,&quot; kata Pendeta Jacky.
Melalui perjumpaan secara intensif ini, kata Ustad Abidin, &quot;Mereka   saling memahami bahwa mereka menjadi korban&amp;hellip; anak-anak seusia mereka   yang juga mengalami korban yang sama, kakek, nenek, saudara, sahabat   yang meninggal atau bahkan kampung halaman yang dibakar. Dari situ   mereka berjumpa dan ternyata mereka menyadari mereka memiliki nasib yang   sama.&quot;
Proses untuk kembali merajut saling percaya ini dilanjutkan dengan   saling berkunjung ke wilayah masing-masing, perjalanan melintas batas   tempat tinggal yang sangat berat dilakukan saat itu sekalipun konflik   mulai mereda.
&quot;Mereka bisa tinggal di rumah laskar jihad (misalnya), dari situ   anggapan bahwa yang berjenggot jahat ternyata tidak,&quot; kata Abidin yang   saat ini menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia, Maluku.
&quot;Orang seperti Ronald, dia bertemu seorang ustad&amp;hellip; yang sebelumnya dia   anggap identik dengan teroris dan pertemuan ini merubah prospektif   terhadap orang yang semula dianggap jahat,&quot; tambahnya.
Persahabatan dan saling percaya yang ditunjukkan ustad dan pendeta   ini menjadi salah satu kunci bagi para mantan tentara anak untuk kembali   membangkitkan rasa percaya.
&quot;Saat mereka kembali ke komunitas masing-masing, mereka dikelilingi   oleh orang yang masih memendam kebencian satu sama lain, karena itu kami   mulai mengajak mereka untuk saling mengunjungi,&quot; kata Pendeta Jacky   yang saat ini menjadi asisten Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan   Kerjasama Antariman dan Antarperadaban.
&quot;Dia (Ronald) melihat saya dan Ustad Abidin menjadi sahabat dan   keluarga, dan itu merubah citra dia tentang Muslim. Kami pertemukan dia   dengan teman-teman Muslim. Dia membandingkan dengan apa yang dia pahami   sebelummya. Rasa percaya mulai tumbuh. Kami libatkan dia dalam   lingkungan yang lebih luas.&quot;
&quot;Dia percaya Ustad Abidin sebagai panutan (untuk percaya Muslim) dan   saya menggaransi (kepercayaan itu). Dari Ustad Abidin dia bangun rasa   percaya,&quot; tambahnya.
Masyarakat Maluku dan Ambon pada khususnya saat ini masih tinggal terkotak-kotak. Ada wilayah Kristen dan ada wilayah Muslim.
Segregasi sudah terjadi sejak zaman kolonial Belanda yang memang   menempatkan masyarakat sedemikian rupa dalam kebijakan memecah belah.   Namun konflik menjadikan pemisahan menjadi &quot;permanen.'
Saat ini, Pendeta Jacky menempatkan kerentanan konflik pada angka enam, dalam skala satu sampai sembilan.
&quot;Masih rentan karena memakan waktu lama untuk menyembuhkan trauma,&quot; katanya.
&quot;Masih ada 40% sampai 50% kemungkinan (konflik), kita harus perkuat    terus lewat provokasi perdamaian, perbanyak teman-teman muda. Mereka    jadi amunisi hidup ketika konflik terjadi,&quot; kata Jacky.
Sama-sama dimanfaatkan oleh orang lain
Tetapi dalam masyarakat pada umumnya, tambah Jacky, &quot;Tumbuh kesadaran    kolektif bahwa kita sama-sama hancur, sama-sama rugi dan sama-sama    dimanfaatkan oleh orang lain untuk memperoleh keuntungan.&quot;
&quot;Namun trauma masa lalu masih belum tuntas, belum selesai. Orang    hanya menjaga agar jangan sampai terjadi. Orang belum sampai pada proses    penyembuhan secara kolektif. Orang masih mengingkari atas apa yang    terjadi di masa lalu. Belum ada penyembuhan kolektif.&quot;
Dari ratusan mantan kombatan anak yang terlibat dalam konflik Maluku,    diperkirakan hanya sekitar 50 yang mengalami proses pemulihan dan    menjadi &quot;duta damai&quot; melalui gerakan yang dinamakan Provokator    Perdamaian.
Banyak lainnya yang terlibat dalam dunia keras, preman atau menjadi penagih hutang di kota-kota besar.
Bagi Ronald dan Iskandar dan sejumlah kecil mantan kombatan muda    lainnya, penghargaan terhadap apa yang mereka lakukan saat ini juga    menjadi faktor kunci.
&quot;Apa yang Ronald peroleh adalah respect (dihargai)) dalam level yang    sama tapi sebagai pekerja perdamaian. Ini reward (penghargaan), dia    dihargai, dihormati dicintai, dan dia beri kesempatan untuk dapat    bekerja bagi perdamaian,&quot; kata Jacky.
Berbagai aktivitas bersama yang mereka lakukan termasuk bengkel seni, baca puisi, tari, hip hop dan pecinta alam.
Di lapangan, selain beragam aktivitas ini, Ronald dan Iskandar dan    teman-teman mereka juga sibuk mencegah tersebarnya ujaran dan isu    kebencian lewat media sosial untuk menjaga kebersamaan masyarakat yang    pernah terluka parah akibat kerusuhan paling berdarah di Indonesia ini.</description><content:encoded>PENDETA Jacky Manuputty masih dihantui oleh langkahnya memberkati para kombatan saat konflik berdarah bergolak di Ambon hampir 20 tahun lalu.
&quot;Saya tak pernah membawa senjata namun doa saya dan berkat saya lebih dahsyat dibandingkan senjata. Dengan memberkati, mereka (para kombatan) percaya bahwa inilah perang suci,&quot; kata Pendeta Jacky pada satu hari Minggu setelah memimpin kebaktian di Gereja Silo, salah satu gereja tertua di Ambon.
Konflik paling berdarah di Indonesia dengan korban lebih dari 5.000 orang meninggal, membuat banyak orang &quot;tak punya waktu untuk rasional, dan hanya dapat bertahan, bunuh atau dibunuh,&quot; kata Jacky.
&quot;Saya terlibat dalam konflik untuk memotivasi Kristen mempertahankan hidup dan milik mereka,&quot; tambahnya.
Sejak konflik pecah pada Januari 1999, Pendeta Jacky sempat mengalami masa terombang-ambing: membela komunitasnya atau melihat konflik sebagai bencana kemanusiaan.
Undangan Sinode Gereja Presbyterian di New York City, beberapa bulan setelah kerusuhan pecah, yang seolah &quot;memanggang sekujur tubuhnya&quot; saat itu.
Saat datang ke Amerika Serikat pada April 1999, ia hanya bercerita tentang korban Kristen, pernyataan yang mengundang pertanyaan &quot;Mengapa Anda hanya bercerita tentang orang Kristen yang menjadi korban di Maluku? Staf kami baru kembali dari Indonesia dan menginformasikan bahwa banyak muslim juga menjadi korban.&quot;
Pertanyaan pihak gereja yang membuatnya &quot;malu, gelagapan dan tertunduk dalam diam&quot; ini, menjadi salah satu awal perjalanannya melihat konflik sebagai bencana bagi masyarakat Maluku secara keseluruhan dan bukan konflik agama.
Salah satu titik awal baginya untuk menjalin komunikasi dengan pihak muslim dan ikut mengupayakan perdamaian.
&quot;Namun pada saat itu saya tak bisa mempublikasikan perdamaian karena ketika orang mabuk akan perang, bisa bahaya. Kami kerja di bawah tanah,&quot; ceritanya lagi.
Perjalanan panjang ini yang membawanya bertemu dengan para pemuka Muslim, salah seorang di antaranya Ustad Abidin Wakano.
Perjalanan ini juga yang membawa keduanya bersahabat dan berupaya menjadi &quot;panutan&quot; untuk ikut merajut rasa saling percaya komunitas Kristen dan Muslim yang saat itu mencapai titik saling benci dan dendam yang begitu tinggi.
Mereka yang terseret dalam bara kebencian, dendam dengan saling menyerang dan saling membunuh ini termasuk banyak kombatan anak yang ikut berada di garis depan perang selama bertahun-tahun.
Sejumlah di antara mereka termasuk Ronald Regang yang menjadi pemimpin komandan pasukan anak Kristen dan Iskandar Slameth, yang tergabung dalam Pasukan Jihad. Ronald berusia 10 tahun saat mulai masuk medan tempur dan Iskandar 13 tahun.
Setelah konflik mulai mereda, menyusul perjanjian Malino pada 2002, mereka mengalami trauma mendalam atas pengalaman mereka.
Orang mengatakan kami penyebab Ambon rusuh
Di tengah masyarakat yang terpecah saat itu, mereka justru dituduh sebagai bagian dari &quot;penyebab kerusuhan.&quot;
&amp;ldquo;Dulu kita dianggap sebagai pahlawan karena kita maju ke medan  pertempuran di garis depan, nyawa taruhan kita, dulu kita dianggap  sebagai Tuhan kedua dalam medan pertempuran&amp;hellip; setelah konflik memang kita  dikucilkan,&quot; cerita Ronald.
&quot;Kalau tak ada kita saat itu, apakah kalian masih ada? Tidak ada  daerah Kristen yang bisa bertahan berapa belas tahun atau daerah Muslim  yang bisa bertahan. Saya tak tahu kenapa orang berpikir seperti itu &amp;hellip;  Memang sakit hati,&quot; tambahnya.
Sementara Iskandar lari ke narkoba untuk mengatasi rasa &quot;stres&quot;nya.
&quot;Jadi bandar, jadi pemakai, kehidupan malam,&quot; kata Iskandar.


Ronald dan Iskandar mengatakan keduanya bersahabat setelah saling mengungkap pengalaman dan perasaan pada pertemuan tahun 2006.&amp;nbsp; (BBC)

Sejak perjanjian Damai Malino 2002, gejolak masih terjadi beberapa kali dan suasana masih begitu rentan.
Kedua mantan kombatan anak dan bekas musuh ini bertemu dalam salah  satu acara lintas damai yang melibatkan Lembaga Antar Iman Maluku, wadah  yang diorganisir Pendeta Jacky dan Ustad Abidin.
Jacky mengatakan, &quot;Saat masuk ke Young Ambassador for Peace, staf  Lembaga Antar Iman Maluku, bertemu dengan mantan fighters (pejuang),  jihadis mini, mereka sempat tegang tapi selalu ada pengaman dari mereka  yang telah membangun relasi sebagai sahabat Muslim dan Kristen.&quot;
Dalam pertemuan ini, para mantan tentara anak mengungkap pengalaman dan perasaan masing-masing.
&quot;Saya tulis saya paling benci sama orang Kristen, karena kakak saya  hancur kakinya, sepupu saya mati. Lalu saya bakar semua (tulisan itu),&quot;  cerita Iskandar mengenang pertemuan dengan mantan petempur Kristen pada  2006.
Sementara Ronald mengatakan, &quot;Saat itu tak ada kemarahan, tapi merasa  bersalah. Saya minta maaf kepada orang Muslim yang pernah saya bunuh,  saya minta maaf untuk semua orang Muslim dan saya katakan bukan saya  saja yang membunuh, tapi semua orang saat itu membunuh, prinsipnya  adalah bila tak membunuh akan dibunuh.&quot;
&quot;Kita tak tahu apa yang kita perbuat saat itu, dan seandainya kalau kita tahu pun, kita tak akan lakukan,&quot; kata Ronald.
Pendeta Jacky mengatakan saling bertemu antara mantan tentara anak  Muslim dan Kristen ini merupakan salah satu langkah awal untuk  memulihkan trauma dan sekaligus membangkitkan rasa saling percaya antara  dua komunitas yang terpecah.
Mereka juga diajak keluar Ambon, ke Yogyakarta, Jakarta dan juga  Filipina, dalam berbagai kegiatan untuk menceritakan pengalaman sebagai  bekas kombatan anak.


&quot;Dia (Ronald) dihormati sebagai fighters (pejuang) di dalam konflik,   ketika konflik selesai, masyarakat umumnya menyingkirkan mereka. Dan   menganggap mereka sebagai orang-orang bermasalah di masyarakat. Mereka   dikucilkan,&quot; kata Pendeta Jacky.
Melalui perjumpaan secara intensif ini, kata Ustad Abidin, &quot;Mereka   saling memahami bahwa mereka menjadi korban&amp;hellip; anak-anak seusia mereka   yang juga mengalami korban yang sama, kakek, nenek, saudara, sahabat   yang meninggal atau bahkan kampung halaman yang dibakar. Dari situ   mereka berjumpa dan ternyata mereka menyadari mereka memiliki nasib yang   sama.&quot;
Proses untuk kembali merajut saling percaya ini dilanjutkan dengan   saling berkunjung ke wilayah masing-masing, perjalanan melintas batas   tempat tinggal yang sangat berat dilakukan saat itu sekalipun konflik   mulai mereda.
&quot;Mereka bisa tinggal di rumah laskar jihad (misalnya), dari situ   anggapan bahwa yang berjenggot jahat ternyata tidak,&quot; kata Abidin yang   saat ini menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia, Maluku.
&quot;Orang seperti Ronald, dia bertemu seorang ustad&amp;hellip; yang sebelumnya dia   anggap identik dengan teroris dan pertemuan ini merubah prospektif   terhadap orang yang semula dianggap jahat,&quot; tambahnya.
Persahabatan dan saling percaya yang ditunjukkan ustad dan pendeta   ini menjadi salah satu kunci bagi para mantan tentara anak untuk kembali   membangkitkan rasa percaya.
&quot;Saat mereka kembali ke komunitas masing-masing, mereka dikelilingi   oleh orang yang masih memendam kebencian satu sama lain, karena itu kami   mulai mengajak mereka untuk saling mengunjungi,&quot; kata Pendeta Jacky   yang saat ini menjadi asisten Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan   Kerjasama Antariman dan Antarperadaban.
&quot;Dia (Ronald) melihat saya dan Ustad Abidin menjadi sahabat dan   keluarga, dan itu merubah citra dia tentang Muslim. Kami pertemukan dia   dengan teman-teman Muslim. Dia membandingkan dengan apa yang dia pahami   sebelummya. Rasa percaya mulai tumbuh. Kami libatkan dia dalam   lingkungan yang lebih luas.&quot;
&quot;Dia percaya Ustad Abidin sebagai panutan (untuk percaya Muslim) dan   saya menggaransi (kepercayaan itu). Dari Ustad Abidin dia bangun rasa   percaya,&quot; tambahnya.
Masyarakat Maluku dan Ambon pada khususnya saat ini masih tinggal terkotak-kotak. Ada wilayah Kristen dan ada wilayah Muslim.
Segregasi sudah terjadi sejak zaman kolonial Belanda yang memang   menempatkan masyarakat sedemikian rupa dalam kebijakan memecah belah.   Namun konflik menjadikan pemisahan menjadi &quot;permanen.'
Saat ini, Pendeta Jacky menempatkan kerentanan konflik pada angka enam, dalam skala satu sampai sembilan.
&quot;Masih rentan karena memakan waktu lama untuk menyembuhkan trauma,&quot; katanya.
&quot;Masih ada 40% sampai 50% kemungkinan (konflik), kita harus perkuat    terus lewat provokasi perdamaian, perbanyak teman-teman muda. Mereka    jadi amunisi hidup ketika konflik terjadi,&quot; kata Jacky.
Sama-sama dimanfaatkan oleh orang lain
Tetapi dalam masyarakat pada umumnya, tambah Jacky, &quot;Tumbuh kesadaran    kolektif bahwa kita sama-sama hancur, sama-sama rugi dan sama-sama    dimanfaatkan oleh orang lain untuk memperoleh keuntungan.&quot;
&quot;Namun trauma masa lalu masih belum tuntas, belum selesai. Orang    hanya menjaga agar jangan sampai terjadi. Orang belum sampai pada proses    penyembuhan secara kolektif. Orang masih mengingkari atas apa yang    terjadi di masa lalu. Belum ada penyembuhan kolektif.&quot;
Dari ratusan mantan kombatan anak yang terlibat dalam konflik Maluku,    diperkirakan hanya sekitar 50 yang mengalami proses pemulihan dan    menjadi &quot;duta damai&quot; melalui gerakan yang dinamakan Provokator    Perdamaian.
Banyak lainnya yang terlibat dalam dunia keras, preman atau menjadi penagih hutang di kota-kota besar.
Bagi Ronald dan Iskandar dan sejumlah kecil mantan kombatan muda    lainnya, penghargaan terhadap apa yang mereka lakukan saat ini juga    menjadi faktor kunci.
&quot;Apa yang Ronald peroleh adalah respect (dihargai)) dalam level yang    sama tapi sebagai pekerja perdamaian. Ini reward (penghargaan), dia    dihargai, dihormati dicintai, dan dia beri kesempatan untuk dapat    bekerja bagi perdamaian,&quot; kata Jacky.
Berbagai aktivitas bersama yang mereka lakukan termasuk bengkel seni, baca puisi, tari, hip hop dan pecinta alam.
Di lapangan, selain beragam aktivitas ini, Ronald dan Iskandar dan    teman-teman mereka juga sibuk mencegah tersebarnya ujaran dan isu    kebencian lewat media sosial untuk menjaga kebersamaan masyarakat yang    pernah terluka parah akibat kerusuhan paling berdarah di Indonesia ini.</content:encoded></item></channel></rss>
