<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tato Tradisional Mentawai Melawan Pesatnya Zaman</title><description>Hampir seluruh bagian tubuh Aman Telepon yang berasal dari Buttui Desa Madobag, Siberut Selatan memiliki tato khas Mentawai.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/05/06/340/1895003/tato-tradisional-mentawai-melawan-pesatnya-zaman</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/05/06/340/1895003/tato-tradisional-mentawai-melawan-pesatnya-zaman"/><item><title>Tato Tradisional Mentawai Melawan Pesatnya Zaman</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/05/06/340/1895003/tato-tradisional-mentawai-melawan-pesatnya-zaman</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/05/06/340/1895003/tato-tradisional-mentawai-melawan-pesatnya-zaman</guid><pubDate>Minggu 06 Mei 2018 14:15 WIB</pubDate><dc:creator>Rus Akbar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/05/06/340/1895003/tato-tradisional-mentawai-melawan-pesatnya-zaman-K4RZzKrHBs.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Proses Pembuatan Tato Tradisional Khas Mentawai (foto: Rus Akbar/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/05/06/340/1895003/tato-tradisional-mentawai-melawan-pesatnya-zaman-K4RZzKrHBs.jpg</image><title>Proses Pembuatan Tato Tradisional Khas Mentawai (foto: Rus Akbar/Okezone)</title></images><description>PADANG - Hampir seluruh bagian tubuh Aman Telepon yang berasal dari Buttui Desa Madobag, Siberut Selatan memiliki tato khas Mentawai ditambah dengan pakaian khas Mentawai kabit (cawat) dan ikat kepala luat menambah keindahan sebuah tato atau titi&amp;rsquo; disandingkan dengan membawah panah Mentawai.

Bagi warga Mentawai yang mendiami Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat yang terletak di Samudera Hindia Kota Padang ini, memiliki tradisi merajah tubuh khususnya yang berada di Pulau Siberut di luar Pulau Sipora dan Sikakap. Terutama yang berada di pedalam pulau Siberut seperti Madobag, Simatalu hampir laki-laki dan perempuan yang berusia di atas 60 tahun setiap tubuh mereka tato dengan motif garis lurus, lengkung, silang dan garis lainya.
&amp;nbsp;
Tato bagi orang Mentawai dinamakan dengan titi&amp;rsquo;, nama itu diberikan karena cara membuat tato itu awalnya dengan membuat titik-titik berulang kali sehingga membentuk sebuah garis yang indah. Meski saat ini

Tato yang menghiasi bagian tubuh masyarakat Mentawai memiliki makna dan simbol pada kehidupan dan aktivitas mereka sehari-hari. Misalkan tato matahari yang dibuat di bahu itu menyimbolkan soal kehidupan terang dan malam.

Bagi Aman Telepon, tato yang sudah menjadi abadi ditubuhnya ada makna seperti tato di dadanya merupakan gambar busur panah (rourou) garis warna hitam melengkung dari bahu kanan sampai kiri dan dan dari garis melengkung itu ada lagi gari menurun ke pusar itu adalah anak panah.

&quot;Kakai sai Mantawoi, anai galajetmai masigaba iba, bule ibara nane iba murorou (kami memiliki kebiasaan mencari lauk pauk dengan cara berburu, berburu dengan memakai panah) panah yang kami pakai itu mata panahnya sudah beracun, kalau tidak ada racun buruannya tidak akan mati,&amp;rdquo; tutur Aman Telepon.

Nah biasanya kalau pemburu ulung itu akan menambah tatonya jenis binatang yang diburuhnya, seperti kalau dia mendapatkan simigi (babi hutan) maka dibagian dadanya akan ditato sesuai dengan jumlahnya, kalau satu yang dapat makan satu juga ditato, begitu juga kalau dapat bilou (monyet) dan sibeu tubu (rusa) bagian dadanya dan bagian perutnya akan ditato simbol binatang hasil buruannya.

&amp;ldquo;Semakin banyak tato binatang di tubuhnya semakin orang menyeganinya,&amp;rdquo; ujarnya.
Tato dada laki-laki dan perempuan tidak sama, memang ada tato  perempuan di dada tapi simbolnya adalah subba (tangguk) biasanya kaum  perempuan Mentawai pergi paliggara (menangguk ikan di sungai).

Kalau tato itu di lengan ada beberapa gari berbentuk duri rotan, kata  Aman Telepon, itu gambar duri rotan, bagi masyarakat rotan merupakan  tumbuhan penting dalam kehidupannya, mereka bisa membuat oorek  (keranjang), roiget (long ayam), bahkan sebelum ada paku rotan biasanya  dipakai untuk mengikat tonggak-tonggak rumah.

&amp;ldquo;Kalau itu tidak ada sebab mereka tidak bisa melakukan itu,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;
Di bagian punggung tangan ada motif seperti mata pancing bermata dua  dan bermata satu. &amp;ldquo;Itu simbol pancing memiliki arti untuk mendapatkan  ikan-ikan masyarakat Mentawai itu memancing ke sungai dan ke laut,  kemudian arti lain pancing itu menyimbolkan orang Mentawai sangat ulet  bekerja dan selalu berhasil makanya itu runcing sebagai symbol  berhasil,&amp;rdquo; ujarnya.

Motif tato punggung telapak tangan laki-laki dan perempuan ini sama  tidak ada membedakannya yang membedakan cara mereka bekerja namun tujuan  yang dicapainya sama. &amp;ldquo;Kalau tato diwajah itu adalah simbol teggle  (parang), garisnya dari pipi bawa melengkung kearah telinga. Namun  perempuan tidak ada,&amp;rdquo; tutur Aman Telepon.

Kemudian di bagian paha dinamakan motif balagau, motif ini hanya  dipakai kaum laki-laki balagau merupakan simbol lantai rumah adat  Mentawai. Balagau adalah batang ruyung yang sudah dibelah-belah untuk  membuat lantai. &amp;ldquo;Ini hanya bisa dilakukan kaum laki-laki bahwa dia sudah  matang dan sudah bisa membuat rumah, bagi kaum perempuan itu tidak  dilakukan makanya tidak ada,&amp;rdquo; katanya.

Kemudian motif di punggung berupa garis tegak dari belakang kepala  sampai pinggul dan ada garis melintang di dari bahu belakan kiri ke  kanan. &amp;ldquo;Motif ini adalah motif serepak (cadik), ini merupakan symbol  penyeimbang dalam kehidupan selalu arif dan bijaksana dalam memberikan  keputusan,&amp;rdquo; tutur Aman Lauklauk.

Untuk merajah tubuh, Aman mengaku menyiapkan beberapa bahan, pertama  adalah lakkuk (tempurung kelapa), lalu tempurung itu diletakan di atas  perapian bagian dalamnya menghadap api hingga menghitam dan menghasilkan  jelaga.

Lalu bahan selanjutnya adalah tebu yang diperas airnya masuk ke dalam  tempurung yang sudah memiliki jelaga kemudian diaduk-aduk air tebu  tersebut dengan jelaga hingga kental, itulah tintanya untuk menato  tubuh.

Peralatan berikutnya adalah kayu sepanjang 30 sentimeter dengan  posisi ujungnya melengkung ke atas, kemudian bagian lekukan itu  ditancapkan peniti sebagai jarum, lalu kayu lurus atau batang ruyung  yang sudah dihaluskan sebesar ibu jari dewasa sebagai pengetok tongkat  jarum.

&amp;ldquo;Siboiki ara titi&amp;rsquo; sikebbukat (dulu nenek moyang ditato) jarum itu  bukan dari peniti tapi dari duri batang muntei (sejenis batang jeruk  bali), tapi karena perkembanganya sudah ada jarum maka itulah yang  dipakai, sebab kalau dengan duri ukurannya lebih besar dan tidak tahan  lama,&amp;rdquo; ungkap Aman Telepon.

Jika ingin mentato orang Mentawai itu harus menyembeli satu ekor babi  pada sekali mentato. Mentato juga tidak langsung semuanya karena itu  sangat beresiko dan bisa sakit.

Bagi masyarakat Mentawai memiliki waktu jeda sebulan, atau sampai  bagian yang ditato tersebut betul-betul sembuh dan sudah dinilai bagus,  jika belum maka akan diulangi menato dan kembali memotong babi untuk  pesta.

&amp;ldquo;Jadi setiap mentato tubuh kita selalu memotong babi, seperti saya  lakukan jadi setiap bagian tubuh saya selalu ada punen (pesta) memotong  babi, tidak hanya itu saja upah sipatiti&amp;rsquo; juga diberikan berupa bagian  tubuh babi yang sudah dimasak dalam okbuk (lembang bambu) babi, kemudian  satu batang durian atau kelapa sebagai oleh-oleh dibawa pulang, tak  malabbei masititi&amp;rsquo; (tidak mudah mentato),&amp;rdquo; ujarnya.

Sebelum merajah tubuh terlebih dahulu mengambil lidi dan sudah  dioleskan jelaga campur air tebu, kemudian menempelkan ke kulit, itu  untuk sebagai pemandu tato. Lalu jarum dan kayu yang sudah ada ujung  jarum dicelupkan ke dalam tempurung yang sudah ada jelaga bercampur air  tebu. &amp;ldquo;Maka kita mulai mentato tubuh,&amp;rdquo; cetus Aman.

Aman Lauklauk ayahnya Aman Telepon, anak muda di Mentawai sudah tidak  lagi merajah tubuhnya dengan tato Mentawai, menurutnya ini disebabkan  saat masuknya agama di Mentawai pemerintah dan aparat keamanan  memusnahkan seluruh atribut kebudayaan Mentawai karena dianggap itu  jelek dan primitif.

&amp;ldquo;Dulu kami dilarang mentato tubuh karena tidak boleh oleh pemerintah kami dianggap primitive,&amp;rdquo; terangnya.

Setelah adanya pemaksaan memeluk agama tersebut banyak anak muda  tidak lagi mentato badan. Selain itu saat ini sudah modern generasi  memiliki sekolah tidak ada waktu untuk merajah tubuh. Tak hanya saja  merajah tubuh itu sakit dan butuh biaya yang mahal.
Sementara dalam laporan hasil penelitian mendiang Ady Rosa berjudul   &amp;lsquo;Fungsi dan Makna Tato Mentawai&amp;rsquo; (2000) menyimpulkan, ada tiga fungsi   tato bagi orang Mentawai. Pertama, sebagai tanda kenal wilayah dan   kesukuan yang tergambar lewat tato utama. Ini semacam kartu tanda   penduduk (KTP).

Kedua, sebagai status sosial dan profesi. Motif yang digambarkan tato   ini menjelaskan apa profesi si pemakai, misalnya sikerei (tabib dan   dukun), pemburu binatang, atau orang awam. Ketiga, sebagai hiasan tubuh   atau keindahan. Ini tergambar lewat mutu dan kekuatan ekspresi si   pembuat tato (disebut &amp;lsquo;sipatiti&amp;rsquo;) melalui gambar-gambar yang indah.

Menurt Ady, ada sekitar 160 motif tato yang ada di Siberut.   Masing-masing berbeda satu sama lain. Setiap orang Mentawai, baik   laki-laki maupun perempuan bisa memakai belasan tato di sekujur   tubuhnya. Di Pulau Siberut saja setiap daerah selalu berbeda motif-motif   tato.

Literatur soal tato Mentawai yang ditelusuri Okezone, secara garis   besar ada tujuh motif di dada kaum laki-laki dan perempuan yaitu motif   Silak Oinan (Siberut Selatan), Muntei (Siberut Selatan), Madobag   (Siberut Selatan), Saibi Samukop (Siberut Tengah), Taileleu (Siberut   Barat Daya), Sagulubbe (Siberut Barat Daya) dan Saumanuk (Siberut Barat   Daya).

Peradaban, generasi muda Mentawai saat ini tidak lagi merajah   tubuhnya apalagi ada trauma yang dialami oleh masyarakat Mentawai di era   tahun 1970 sampai 1980 dimana pemerintah dan tokoh agama di Indonesia   ikut memusnahkan atribut budaya Mentawai termasuk tatonya. Masyarakat   pada saat itu dilarang merajah tubuhnya hingga berlahan-lahan meninggal   tradisi seperti ditambah lagi perkembangan pendidikan saat ini  anak-anak  tidak lagi merajah tubuh.

Leniwati Sandora (30) guru salah satu SMP di Sotboyak, Kecamatan   Siberut Utara yang merupakan warga setempat menuturkan di tempat dia   tinggal saat ini yang memiliki tato Mentawai tinggal empat orang itupun   sudah tidak lengkap lagi tidak lagi seluruh tubuh mereka yang ditato.   &amp;ldquo;Di tempat saya ini tinggal empat orang laki-laki yang memiliki tato   Mentawai rata-rata mereka sudah lanjut usia, sedangkan yang mudah-mudah   disini tidak ada lagi,&amp;rdquo; tuturnya pada Okezone.

Sementara Esmat Wandra Sakulok (30) pemuda asal Desa Saibi, Kecamatan   Siberut Tengah salah satu pemuda yang telah mengecap pendidikan   perguruan tinggi ini mencoba kembali merajah tubuhnya dengan tato   Mentawai . Menurutnya ada beberapa alasan sehingga kembali merajah   tubuhnya meski tidak begitu lengkap tapi bagian dada dan kakinya   ditatonya. &amp;ldquo;Tato Mentawai bagian dari sejarah keberadaan dan hidup orang   Mentawai, saat ini hanya tinggal para tetua yang memiliki tato di  tubuh  mereka.

&amp;ldquo;Saya suka seni tato. Daripada menggunakan tato modern lebih baik   saya gunakan tato Mentawai, sebagai bentuk saya menghargai sejarah   Mentawai ikut melestarikan secara realistis di dalam hidupku. Ikut   mempertahankan keberadaan dan eksistensi kebudayaan Mentawai sepanjang   hidupku, dan mengambil peran tetap meneruskan paham kebudayaan kita   sebagai orang Mentawai,&amp;rdquo; terangnya.

Dia merajah tubuhnya saat berusia 22 tahun, menurutnya rata-rata   orang Mentawai itu merajah tubuh pada usia masuk remaja sekitar usia 14   sampai 18 tahun baik laki-laki maupun perempuan sebagai bertanda masa   akil baliknya. &amp;ldquo;Meski satu pulau Tato Mentawai itu juga berbeda-beda   tidak sama motif dan artinya,&amp;rdquo; pungkasnya.
</description><content:encoded>PADANG - Hampir seluruh bagian tubuh Aman Telepon yang berasal dari Buttui Desa Madobag, Siberut Selatan memiliki tato khas Mentawai ditambah dengan pakaian khas Mentawai kabit (cawat) dan ikat kepala luat menambah keindahan sebuah tato atau titi&amp;rsquo; disandingkan dengan membawah panah Mentawai.

Bagi warga Mentawai yang mendiami Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat yang terletak di Samudera Hindia Kota Padang ini, memiliki tradisi merajah tubuh khususnya yang berada di Pulau Siberut di luar Pulau Sipora dan Sikakap. Terutama yang berada di pedalam pulau Siberut seperti Madobag, Simatalu hampir laki-laki dan perempuan yang berusia di atas 60 tahun setiap tubuh mereka tato dengan motif garis lurus, lengkung, silang dan garis lainya.
&amp;nbsp;
Tato bagi orang Mentawai dinamakan dengan titi&amp;rsquo;, nama itu diberikan karena cara membuat tato itu awalnya dengan membuat titik-titik berulang kali sehingga membentuk sebuah garis yang indah. Meski saat ini

Tato yang menghiasi bagian tubuh masyarakat Mentawai memiliki makna dan simbol pada kehidupan dan aktivitas mereka sehari-hari. Misalkan tato matahari yang dibuat di bahu itu menyimbolkan soal kehidupan terang dan malam.

Bagi Aman Telepon, tato yang sudah menjadi abadi ditubuhnya ada makna seperti tato di dadanya merupakan gambar busur panah (rourou) garis warna hitam melengkung dari bahu kanan sampai kiri dan dan dari garis melengkung itu ada lagi gari menurun ke pusar itu adalah anak panah.

&quot;Kakai sai Mantawoi, anai galajetmai masigaba iba, bule ibara nane iba murorou (kami memiliki kebiasaan mencari lauk pauk dengan cara berburu, berburu dengan memakai panah) panah yang kami pakai itu mata panahnya sudah beracun, kalau tidak ada racun buruannya tidak akan mati,&amp;rdquo; tutur Aman Telepon.

Nah biasanya kalau pemburu ulung itu akan menambah tatonya jenis binatang yang diburuhnya, seperti kalau dia mendapatkan simigi (babi hutan) maka dibagian dadanya akan ditato sesuai dengan jumlahnya, kalau satu yang dapat makan satu juga ditato, begitu juga kalau dapat bilou (monyet) dan sibeu tubu (rusa) bagian dadanya dan bagian perutnya akan ditato simbol binatang hasil buruannya.

&amp;ldquo;Semakin banyak tato binatang di tubuhnya semakin orang menyeganinya,&amp;rdquo; ujarnya.
Tato dada laki-laki dan perempuan tidak sama, memang ada tato  perempuan di dada tapi simbolnya adalah subba (tangguk) biasanya kaum  perempuan Mentawai pergi paliggara (menangguk ikan di sungai).

Kalau tato itu di lengan ada beberapa gari berbentuk duri rotan, kata  Aman Telepon, itu gambar duri rotan, bagi masyarakat rotan merupakan  tumbuhan penting dalam kehidupannya, mereka bisa membuat oorek  (keranjang), roiget (long ayam), bahkan sebelum ada paku rotan biasanya  dipakai untuk mengikat tonggak-tonggak rumah.

&amp;ldquo;Kalau itu tidak ada sebab mereka tidak bisa melakukan itu,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;
Di bagian punggung tangan ada motif seperti mata pancing bermata dua  dan bermata satu. &amp;ldquo;Itu simbol pancing memiliki arti untuk mendapatkan  ikan-ikan masyarakat Mentawai itu memancing ke sungai dan ke laut,  kemudian arti lain pancing itu menyimbolkan orang Mentawai sangat ulet  bekerja dan selalu berhasil makanya itu runcing sebagai symbol  berhasil,&amp;rdquo; ujarnya.

Motif tato punggung telapak tangan laki-laki dan perempuan ini sama  tidak ada membedakannya yang membedakan cara mereka bekerja namun tujuan  yang dicapainya sama. &amp;ldquo;Kalau tato diwajah itu adalah simbol teggle  (parang), garisnya dari pipi bawa melengkung kearah telinga. Namun  perempuan tidak ada,&amp;rdquo; tutur Aman Telepon.

Kemudian di bagian paha dinamakan motif balagau, motif ini hanya  dipakai kaum laki-laki balagau merupakan simbol lantai rumah adat  Mentawai. Balagau adalah batang ruyung yang sudah dibelah-belah untuk  membuat lantai. &amp;ldquo;Ini hanya bisa dilakukan kaum laki-laki bahwa dia sudah  matang dan sudah bisa membuat rumah, bagi kaum perempuan itu tidak  dilakukan makanya tidak ada,&amp;rdquo; katanya.

Kemudian motif di punggung berupa garis tegak dari belakang kepala  sampai pinggul dan ada garis melintang di dari bahu belakan kiri ke  kanan. &amp;ldquo;Motif ini adalah motif serepak (cadik), ini merupakan symbol  penyeimbang dalam kehidupan selalu arif dan bijaksana dalam memberikan  keputusan,&amp;rdquo; tutur Aman Lauklauk.

Untuk merajah tubuh, Aman mengaku menyiapkan beberapa bahan, pertama  adalah lakkuk (tempurung kelapa), lalu tempurung itu diletakan di atas  perapian bagian dalamnya menghadap api hingga menghitam dan menghasilkan  jelaga.

Lalu bahan selanjutnya adalah tebu yang diperas airnya masuk ke dalam  tempurung yang sudah memiliki jelaga kemudian diaduk-aduk air tebu  tersebut dengan jelaga hingga kental, itulah tintanya untuk menato  tubuh.

Peralatan berikutnya adalah kayu sepanjang 30 sentimeter dengan  posisi ujungnya melengkung ke atas, kemudian bagian lekukan itu  ditancapkan peniti sebagai jarum, lalu kayu lurus atau batang ruyung  yang sudah dihaluskan sebesar ibu jari dewasa sebagai pengetok tongkat  jarum.

&amp;ldquo;Siboiki ara titi&amp;rsquo; sikebbukat (dulu nenek moyang ditato) jarum itu  bukan dari peniti tapi dari duri batang muntei (sejenis batang jeruk  bali), tapi karena perkembanganya sudah ada jarum maka itulah yang  dipakai, sebab kalau dengan duri ukurannya lebih besar dan tidak tahan  lama,&amp;rdquo; ungkap Aman Telepon.

Jika ingin mentato orang Mentawai itu harus menyembeli satu ekor babi  pada sekali mentato. Mentato juga tidak langsung semuanya karena itu  sangat beresiko dan bisa sakit.

Bagi masyarakat Mentawai memiliki waktu jeda sebulan, atau sampai  bagian yang ditato tersebut betul-betul sembuh dan sudah dinilai bagus,  jika belum maka akan diulangi menato dan kembali memotong babi untuk  pesta.

&amp;ldquo;Jadi setiap mentato tubuh kita selalu memotong babi, seperti saya  lakukan jadi setiap bagian tubuh saya selalu ada punen (pesta) memotong  babi, tidak hanya itu saja upah sipatiti&amp;rsquo; juga diberikan berupa bagian  tubuh babi yang sudah dimasak dalam okbuk (lembang bambu) babi, kemudian  satu batang durian atau kelapa sebagai oleh-oleh dibawa pulang, tak  malabbei masititi&amp;rsquo; (tidak mudah mentato),&amp;rdquo; ujarnya.

Sebelum merajah tubuh terlebih dahulu mengambil lidi dan sudah  dioleskan jelaga campur air tebu, kemudian menempelkan ke kulit, itu  untuk sebagai pemandu tato. Lalu jarum dan kayu yang sudah ada ujung  jarum dicelupkan ke dalam tempurung yang sudah ada jelaga bercampur air  tebu. &amp;ldquo;Maka kita mulai mentato tubuh,&amp;rdquo; cetus Aman.

Aman Lauklauk ayahnya Aman Telepon, anak muda di Mentawai sudah tidak  lagi merajah tubuhnya dengan tato Mentawai, menurutnya ini disebabkan  saat masuknya agama di Mentawai pemerintah dan aparat keamanan  memusnahkan seluruh atribut kebudayaan Mentawai karena dianggap itu  jelek dan primitif.

&amp;ldquo;Dulu kami dilarang mentato tubuh karena tidak boleh oleh pemerintah kami dianggap primitive,&amp;rdquo; terangnya.

Setelah adanya pemaksaan memeluk agama tersebut banyak anak muda  tidak lagi mentato badan. Selain itu saat ini sudah modern generasi  memiliki sekolah tidak ada waktu untuk merajah tubuh. Tak hanya saja  merajah tubuh itu sakit dan butuh biaya yang mahal.
Sementara dalam laporan hasil penelitian mendiang Ady Rosa berjudul   &amp;lsquo;Fungsi dan Makna Tato Mentawai&amp;rsquo; (2000) menyimpulkan, ada tiga fungsi   tato bagi orang Mentawai. Pertama, sebagai tanda kenal wilayah dan   kesukuan yang tergambar lewat tato utama. Ini semacam kartu tanda   penduduk (KTP).

Kedua, sebagai status sosial dan profesi. Motif yang digambarkan tato   ini menjelaskan apa profesi si pemakai, misalnya sikerei (tabib dan   dukun), pemburu binatang, atau orang awam. Ketiga, sebagai hiasan tubuh   atau keindahan. Ini tergambar lewat mutu dan kekuatan ekspresi si   pembuat tato (disebut &amp;lsquo;sipatiti&amp;rsquo;) melalui gambar-gambar yang indah.

Menurt Ady, ada sekitar 160 motif tato yang ada di Siberut.   Masing-masing berbeda satu sama lain. Setiap orang Mentawai, baik   laki-laki maupun perempuan bisa memakai belasan tato di sekujur   tubuhnya. Di Pulau Siberut saja setiap daerah selalu berbeda motif-motif   tato.

Literatur soal tato Mentawai yang ditelusuri Okezone, secara garis   besar ada tujuh motif di dada kaum laki-laki dan perempuan yaitu motif   Silak Oinan (Siberut Selatan), Muntei (Siberut Selatan), Madobag   (Siberut Selatan), Saibi Samukop (Siberut Tengah), Taileleu (Siberut   Barat Daya), Sagulubbe (Siberut Barat Daya) dan Saumanuk (Siberut Barat   Daya).

Peradaban, generasi muda Mentawai saat ini tidak lagi merajah   tubuhnya apalagi ada trauma yang dialami oleh masyarakat Mentawai di era   tahun 1970 sampai 1980 dimana pemerintah dan tokoh agama di Indonesia   ikut memusnahkan atribut budaya Mentawai termasuk tatonya. Masyarakat   pada saat itu dilarang merajah tubuhnya hingga berlahan-lahan meninggal   tradisi seperti ditambah lagi perkembangan pendidikan saat ini  anak-anak  tidak lagi merajah tubuh.

Leniwati Sandora (30) guru salah satu SMP di Sotboyak, Kecamatan   Siberut Utara yang merupakan warga setempat menuturkan di tempat dia   tinggal saat ini yang memiliki tato Mentawai tinggal empat orang itupun   sudah tidak lengkap lagi tidak lagi seluruh tubuh mereka yang ditato.   &amp;ldquo;Di tempat saya ini tinggal empat orang laki-laki yang memiliki tato   Mentawai rata-rata mereka sudah lanjut usia, sedangkan yang mudah-mudah   disini tidak ada lagi,&amp;rdquo; tuturnya pada Okezone.

Sementara Esmat Wandra Sakulok (30) pemuda asal Desa Saibi, Kecamatan   Siberut Tengah salah satu pemuda yang telah mengecap pendidikan   perguruan tinggi ini mencoba kembali merajah tubuhnya dengan tato   Mentawai . Menurutnya ada beberapa alasan sehingga kembali merajah   tubuhnya meski tidak begitu lengkap tapi bagian dada dan kakinya   ditatonya. &amp;ldquo;Tato Mentawai bagian dari sejarah keberadaan dan hidup orang   Mentawai, saat ini hanya tinggal para tetua yang memiliki tato di  tubuh  mereka.

&amp;ldquo;Saya suka seni tato. Daripada menggunakan tato modern lebih baik   saya gunakan tato Mentawai, sebagai bentuk saya menghargai sejarah   Mentawai ikut melestarikan secara realistis di dalam hidupku. Ikut   mempertahankan keberadaan dan eksistensi kebudayaan Mentawai sepanjang   hidupku, dan mengambil peran tetap meneruskan paham kebudayaan kita   sebagai orang Mentawai,&amp;rdquo; terangnya.

Dia merajah tubuhnya saat berusia 22 tahun, menurutnya rata-rata   orang Mentawai itu merajah tubuh pada usia masuk remaja sekitar usia 14   sampai 18 tahun baik laki-laki maupun perempuan sebagai bertanda masa   akil baliknya. &amp;ldquo;Meski satu pulau Tato Mentawai itu juga berbeda-beda   tidak sama motif dan artinya,&amp;rdquo; pungkasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
