<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hindari Perpecahan Pencalonan Wapres, Golkar Diminta Gelar Rapimnas</title><description>Partai pendukung Joko Widodo (Jokowi) mulai terang-terangan mendukung dan mendorong figur-figur yang dinilai layak mendampingi Jokowi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/05/27/337/1903438/hindari-perpecahan-pencalonan-wapres-golkar-diminta-gelar-rapimnas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/05/27/337/1903438/hindari-perpecahan-pencalonan-wapres-golkar-diminta-gelar-rapimnas"/><item><title>Hindari Perpecahan Pencalonan Wapres, Golkar Diminta Gelar Rapimnas</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/05/27/337/1903438/hindari-perpecahan-pencalonan-wapres-golkar-diminta-gelar-rapimnas</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/05/27/337/1903438/hindari-perpecahan-pencalonan-wapres-golkar-diminta-gelar-rapimnas</guid><pubDate>Minggu 27 Mei 2018 21:38 WIB</pubDate><dc:creator>Harits Tryan Akhmad</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/05/27/337/1903438/hindari-perpecahan-pencalonan-wapres-golkar-diminta-gelar-rapimnas-3DT2WDTEEx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartanto (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/05/27/337/1903438/hindari-perpecahan-pencalonan-wapres-golkar-diminta-gelar-rapimnas-3DT2WDTEEx.jpg</image><title>Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartanto (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Perhelatan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 seperti perlombaan menjadi cawapres. Setidaknya itu lah analogi yang paling cocok dalam menggambarkan situasi politik dalam beberapa waktu ke belakang.

Partai pendukung Joko Widodo (Jokowi) mulai terang-terangan mendukung dan mendorong figur-figur yang dinilai layak mendampingi Jokowi. Salah satunya adalah Partai Golongan Karya. Potensi perpecahan dalam partai politik dalam proses pencalonan wakil presiden yang diusung untuk mendampingi Jokowi cukup besar. Untuk menghindari konflik dan friksi serta perpecahan, maka mekanisme internal partai harus digunakan untuk memutuskan siapa saja yang akan dicalonkan.

&amp;ldquo;Saya mengamati, persaingan untuk mendapatkan posisi Wapres Jokowi sangat tinggi, sementara  sinyal dari Jokowi akan memilih siapa belum jelas. Karena itu secara internal partai harus melakukan proses yang transparan dan demokratis. Kalau di Golkar, saya usulkan digelar Rapat Pimpinan Nasional,&amp;rdquo; ujar anggota Dewan Kehormatan DPP Partai Golkar, Anwar Arifin ketika berbicara dalam diskusi  bertema &amp;ldquo;Koalisi Elite Vs Kader: Pencapresan dan Ancaman Perpecahan Parpol&amp;rdquo; di Gado-Gado Boplo, Jalan Geja Theresia, Menteng, Minggu (27/5/2018).



Anwar Arifin menegaskan, tidak sulit bagi Golkar untuk segera menggelar Rapimnas dan mendengarkan suara-suara DPD I dan II guna menjaring siapa saja yang layak dan pantas untuk menjadi Cawapres.

Lebih lanjut Anwar Arifin menyatakan, tujuan Rapimnas adalah untuk menjaga soliditas partai. Karena belum ada sinyal yang jelas dari Jokowi, maka Rapimnas bis aputuskan 3-5 nama, baik figur muda maupun senior.

&amp;ldquo;Kalau saat ini Ketua umum Airlangga digadang gadang sebagai Cawapres boleh saja, itu masih bersifat pribadi. Tapi dalam pencalonan wakil presiden kan bukan urusan pribadi. Ini urusan partai danmenyangkut masa depan partai. Jadi prosesnya harus demokratis dan terbuka. Maka Rapimnas adalah yang terbaik, sehingga suara-suara yang berbeda bisa disatukan dan jika sudha diputuskan, semua harus patuh,&amp;rdquo; papar Anwar Arifin yang beberpa periode menjadi anggota DPR RI.

Diskusi juga  menampilkan narasumber Direktur Organisasi Kesejahteraan Rakyat (Orkestra) Poempida Hidayatullah, Ketua DPP PSI Tsamara Amany, Direktur LIMA, Ray Rangkuti, dan Direktur Eksekutif Lembaga Suirvei Indepeneden Nusantara (LSIN) Yassin Muhammad selaku pelaksana diskusi.



Direktur Orkestra, Poempida Hidayatullah  setuju dengan Anwar Arifin agar Golkar melaksanakan proses dan mekanisme di internal secara demokratis. Karena ituforum yang transparan dan demokratsi adalag Rapimnas dengan agenda khusus membahas pencalonan wakil presiden.

&amp;ldquo;Airlangga selaku ketuaumum Golkar harus melakukan komunikasi dengan pengurus DPD I dan II dan kemudian membahas pencalonan. Jika calon ynag terpilih lewat Rapimnas, maka yang bersangkutan mendapat legitimasi partai. Mengenai jumlahnya berapa calon yang diusulkan, terserah Rapimnas yang memutuskan,&amp;rdquo; ujar Poempida.

Sementara itu Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tsmara Amany juga setuju partai harus melakukan proses demokrasi  di internal agar calon yang terpilih punya legitimasi kuat. &amp;ldquo;Kalo PSI karena tidak mencalonkan wapres dan mendukung Jokowi, maka mendukung fgur yang muncul melalui ajang voting.

&amp;ldquo;Saya seuju jika partai pengusung Jokowi melakukan semacam proses dari bawah hingga tinggakt DPP pusat ini untuk mengurngi friksi dan juga perpecahan di dalam,&amp;rdquo; katanya
Ancaman Perpecahan Parpol

Direktur Eksekutif Lembaga Suirvei Indepeneden Nusantara (LSIN)  Yassin Muhammad dalam paparannya mengatakan. Deklarasi rekomendasi  Capres, dukungan partai politik pada kontestasi Pilpres 2019 telah  mengerucut pada nama petahana, Presiden Jokowi dan bukan Jokowi. Disebut  non Jokowi karena partai politik yang belum secara resmi  mendeklarasikan calon presiden belum memiliki nama tunggal untuk diusung  sebagai calon presiden atau paket capres-cawapresnya.

Dalam fatsun politik, tentu saja keputusan rekomendasi Parpol  terhadap dukungan Capres melalui Rapimnas, Mukernas, Rakernas semestinya  merupakan sebuah keputusan yang mengikat terhadap seluruh elemen Parpol  meliput pengurus, kader atau bahkan hingga sampai di level simpatisan.

Keputusan rekomendasi dukungan Capres adalah sah sebagai mekanisme  parpol, konsekwensinya akan mengikat sikap politik dan/atau pilihan  politik yang tunggal, atau solid, atau utuh kepada semua elemen Parpol.  Karenanya, akan menjadi fenomena aneh jika ada dinamika &quot;beda pilihan&quot;  antara keputusan parpol dengan pengurusnya, kadernya atau mungkin  simpatisan.



Perbedaan beda pilihan ini sekaligus menimbulkan dampak berupa  perseteruan antara koalisi elit vs koalisi kader Parpol. Lantas  pertanyaan besarnya, apakah dukungan atau sikap resmi parpol saat ini  terhadap Calon Presiden Jokowi atau yang bukan Presiden Jokowi adalah  sikap final kader, simpatisan atau pemilih pada Pilpres 2019? Jika  jawabannya tidak, maka ancaman perpecahan jelas nyata di tubuh Parpol.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah akan muncul, baik dalam skala  terang-terangan atau di bawah tangan, adanya perpindahan dukungan (dalam  bahasa yang lebih ekstrim bisa disebut sebagai &amp;ldquo;pengkhianatan&amp;rdquo;) antara  keputusan partai dengan pergerakan kader di bawahnya? Jika perpindahan  dukungan terjadi maka bisa dipastikan gaduh politik akibat rekomendasi  Capres pada Pilpres 2019 kembali terulang sebagaimana 2014 terjadi pada  Partai Golkar dan PPP.</description><content:encoded>JAKARTA - Perhelatan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 seperti perlombaan menjadi cawapres. Setidaknya itu lah analogi yang paling cocok dalam menggambarkan situasi politik dalam beberapa waktu ke belakang.

Partai pendukung Joko Widodo (Jokowi) mulai terang-terangan mendukung dan mendorong figur-figur yang dinilai layak mendampingi Jokowi. Salah satunya adalah Partai Golongan Karya. Potensi perpecahan dalam partai politik dalam proses pencalonan wakil presiden yang diusung untuk mendampingi Jokowi cukup besar. Untuk menghindari konflik dan friksi serta perpecahan, maka mekanisme internal partai harus digunakan untuk memutuskan siapa saja yang akan dicalonkan.

&amp;ldquo;Saya mengamati, persaingan untuk mendapatkan posisi Wapres Jokowi sangat tinggi, sementara  sinyal dari Jokowi akan memilih siapa belum jelas. Karena itu secara internal partai harus melakukan proses yang transparan dan demokratis. Kalau di Golkar, saya usulkan digelar Rapat Pimpinan Nasional,&amp;rdquo; ujar anggota Dewan Kehormatan DPP Partai Golkar, Anwar Arifin ketika berbicara dalam diskusi  bertema &amp;ldquo;Koalisi Elite Vs Kader: Pencapresan dan Ancaman Perpecahan Parpol&amp;rdquo; di Gado-Gado Boplo, Jalan Geja Theresia, Menteng, Minggu (27/5/2018).



Anwar Arifin menegaskan, tidak sulit bagi Golkar untuk segera menggelar Rapimnas dan mendengarkan suara-suara DPD I dan II guna menjaring siapa saja yang layak dan pantas untuk menjadi Cawapres.

Lebih lanjut Anwar Arifin menyatakan, tujuan Rapimnas adalah untuk menjaga soliditas partai. Karena belum ada sinyal yang jelas dari Jokowi, maka Rapimnas bis aputuskan 3-5 nama, baik figur muda maupun senior.

&amp;ldquo;Kalau saat ini Ketua umum Airlangga digadang gadang sebagai Cawapres boleh saja, itu masih bersifat pribadi. Tapi dalam pencalonan wakil presiden kan bukan urusan pribadi. Ini urusan partai danmenyangkut masa depan partai. Jadi prosesnya harus demokratis dan terbuka. Maka Rapimnas adalah yang terbaik, sehingga suara-suara yang berbeda bisa disatukan dan jika sudha diputuskan, semua harus patuh,&amp;rdquo; papar Anwar Arifin yang beberpa periode menjadi anggota DPR RI.

Diskusi juga  menampilkan narasumber Direktur Organisasi Kesejahteraan Rakyat (Orkestra) Poempida Hidayatullah, Ketua DPP PSI Tsamara Amany, Direktur LIMA, Ray Rangkuti, dan Direktur Eksekutif Lembaga Suirvei Indepeneden Nusantara (LSIN) Yassin Muhammad selaku pelaksana diskusi.



Direktur Orkestra, Poempida Hidayatullah  setuju dengan Anwar Arifin agar Golkar melaksanakan proses dan mekanisme di internal secara demokratis. Karena ituforum yang transparan dan demokratsi adalag Rapimnas dengan agenda khusus membahas pencalonan wakil presiden.

&amp;ldquo;Airlangga selaku ketuaumum Golkar harus melakukan komunikasi dengan pengurus DPD I dan II dan kemudian membahas pencalonan. Jika calon ynag terpilih lewat Rapimnas, maka yang bersangkutan mendapat legitimasi partai. Mengenai jumlahnya berapa calon yang diusulkan, terserah Rapimnas yang memutuskan,&amp;rdquo; ujar Poempida.

Sementara itu Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tsmara Amany juga setuju partai harus melakukan proses demokrasi  di internal agar calon yang terpilih punya legitimasi kuat. &amp;ldquo;Kalo PSI karena tidak mencalonkan wapres dan mendukung Jokowi, maka mendukung fgur yang muncul melalui ajang voting.

&amp;ldquo;Saya seuju jika partai pengusung Jokowi melakukan semacam proses dari bawah hingga tinggakt DPP pusat ini untuk mengurngi friksi dan juga perpecahan di dalam,&amp;rdquo; katanya
Ancaman Perpecahan Parpol

Direktur Eksekutif Lembaga Suirvei Indepeneden Nusantara (LSIN)  Yassin Muhammad dalam paparannya mengatakan. Deklarasi rekomendasi  Capres, dukungan partai politik pada kontestasi Pilpres 2019 telah  mengerucut pada nama petahana, Presiden Jokowi dan bukan Jokowi. Disebut  non Jokowi karena partai politik yang belum secara resmi  mendeklarasikan calon presiden belum memiliki nama tunggal untuk diusung  sebagai calon presiden atau paket capres-cawapresnya.

Dalam fatsun politik, tentu saja keputusan rekomendasi Parpol  terhadap dukungan Capres melalui Rapimnas, Mukernas, Rakernas semestinya  merupakan sebuah keputusan yang mengikat terhadap seluruh elemen Parpol  meliput pengurus, kader atau bahkan hingga sampai di level simpatisan.

Keputusan rekomendasi dukungan Capres adalah sah sebagai mekanisme  parpol, konsekwensinya akan mengikat sikap politik dan/atau pilihan  politik yang tunggal, atau solid, atau utuh kepada semua elemen Parpol.  Karenanya, akan menjadi fenomena aneh jika ada dinamika &quot;beda pilihan&quot;  antara keputusan parpol dengan pengurusnya, kadernya atau mungkin  simpatisan.



Perbedaan beda pilihan ini sekaligus menimbulkan dampak berupa  perseteruan antara koalisi elit vs koalisi kader Parpol. Lantas  pertanyaan besarnya, apakah dukungan atau sikap resmi parpol saat ini  terhadap Calon Presiden Jokowi atau yang bukan Presiden Jokowi adalah  sikap final kader, simpatisan atau pemilih pada Pilpres 2019? Jika  jawabannya tidak, maka ancaman perpecahan jelas nyata di tubuh Parpol.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah akan muncul, baik dalam skala  terang-terangan atau di bawah tangan, adanya perpindahan dukungan (dalam  bahasa yang lebih ekstrim bisa disebut sebagai &amp;ldquo;pengkhianatan&amp;rdquo;) antara  keputusan partai dengan pergerakan kader di bawahnya? Jika perpindahan  dukungan terjadi maka bisa dipastikan gaduh politik akibat rekomendasi  Capres pada Pilpres 2019 kembali terulang sebagaimana 2014 terjadi pada  Partai Golkar dan PPP.</content:encoded></item></channel></rss>
