<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pemulung Bergelar Doktor Filsafat, Sebuah Kisah dari Adik Pramoedya Ananta Toer</title><description>Doktor filsafat lulusan Plekhanov Institute Moskow Rusia sekaligus adik dari satrawan Pramoedya Ananta Toer, menjadi pemulung sampah</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/05/29/337/1903997/pemulung-bergelar-doktor-filsafat-sebuah-kisah-dari-adik-pramoedya-ananta-toer</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/05/29/337/1903997/pemulung-bergelar-doktor-filsafat-sebuah-kisah-dari-adik-pramoedya-ananta-toer"/><item><title>Pemulung Bergelar Doktor Filsafat, Sebuah Kisah dari Adik Pramoedya Ananta Toer</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/05/29/337/1903997/pemulung-bergelar-doktor-filsafat-sebuah-kisah-dari-adik-pramoedya-ananta-toer</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/05/29/337/1903997/pemulung-bergelar-doktor-filsafat-sebuah-kisah-dari-adik-pramoedya-ananta-toer</guid><pubDate>Selasa 29 Mei 2018 06:16 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Budi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/05/29/337/1903997/pemulung-bergelar-doktor-filsafat-sebuah-kisah-dari-adik-pramoedya-ananta-toer-lEXH2Gmuce.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Soesilo Toer (Foto: Dokumen Pribadi Keluarga Toer)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/05/29/337/1903997/pemulung-bergelar-doktor-filsafat-sebuah-kisah-dari-adik-pramoedya-ananta-toer-lEXH2Gmuce.jpg</image><title>Soesilo Toer (Foto: Dokumen Pribadi Keluarga Toer)</title></images><description>BLORA - Seorang doktor filsafat lulusan Plekhanov Institute Moskow Rusia sekaligus adik dari satrawan Pramoedya Ananta Toer, rela menjadi pemulung sampah di Blora Jawa Tengah. Setiap malam, pria berusia 81 tahun itu, mengais bak sampah untuk mendapatkan barang-barang yang masih bisa dijual untuk mendapatkan rupiah.
Pria yang tak lagi muda itu bernama Soesilo Toer. Raut wajahnya dipenuhi kumis dan jenggot yang telah memutih. Begitu pula dengan sebagian besar rambutnya juga telah beruban. Meski begitu, suaranya masih terdengar nyaring dengan nada suara tegas ketika berbincang dengan Okezone selama 40 menit.
Dia tak langsung menjawab saat diminta komentar tentang kesehariannya yang dianggap tak lumrah, bagi orang bergelar akademik tertinggi. Dengan bahasa yang lugas, Soesilo memilih lebih dulu menjelaskan latar belakang pendidikannya di negara berpaham komunis.

&quot;Saya dulu lulus doktor filsafat pada 1971. Dulu itu saya berangkat dan dibiayai oleh Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan zaman Soekarno tahun 1962,&quot; tutur Soes, panggilan akrabnya, ketika mengawali wawancara, Senin (28/5/2018).
Menurutnya, saat berangkat memenuhi tugas belajar itu, terikat perjanjian wajib bekerja kepada pemerintah selama 10 tahun, selepas tamat kuliah. Namun, pergolakan politik kala itu berubah setelah Orde Lama tumbang digantikan Orde Baru.
&quot;Setelah tamat, kewajiban saya adalah bekerja kepada pemerintah selama 10 tahun. Jadi begitu saya selesai, rencana langsung pulang untuk mendaftar. Tapi oleh Kedutaan Indonesia di Moskow, saya disuruh wajib lapor dulu enggak boleh langsung pulang. Jadi saya wajib lapor selama dua tahun,&quot; terangnya.
Kala itu, Soes termasuk orang yang masuk dalam daftar tahanan politik (tapol), sehingga ketika tiba di Tanah Air langsung dibawa ke penjara. &quot;Saya pulang ke Indonesia pada 1973, langsung dijemput (petugas berwajib) di lapangan terbang, masuk bui enam tahun, dan baru bebas pada 1978. Jadi saya ditahan selama enam tahun,&quot; kenangnya.
Dia juga mengingat tentang perjanjian bekerja kepada pemerintah setelah menyelesaikan studinya. Meski masih menyimpan dokumen perjanjian itu, namun semuanya pupus, bahkan ijazah yang diperoleh juga tak mendapat pengakuan.

&quot;Ijazah tidak diakui (pemerintah). Anggap saja selama enam tahun ditahan itu sudah kerja sama pemerintah. Jadi sebenarnya masih ada utang empat tahun, seperti perjanjiannnya. Semua dokumen masih ada lengkap. Habis itu tidak ada teguran apapun dari pemerintah sampai hari ini, tapi enggak apa-apa saya ikhlas,&quot; lugasnya sembari tertawa.
Setelah menjalani masa hukuman, Soes banyak hidup di jalanan. Dia bekerja serabutan di luar kompetensinya sebagai doktor filsafat. Tanpa canggung dia berjualan pakaian dalam secara berkeliling. Meski dengan penghasilan tak menentu, profesi itu tetap dilakoninya.
&quot;Kalau enggak cinta Tanah Air, saya enggak pulang. Karena secara hukum, saya ini kan Warga Negara Belanda. Kenapa? karena Belanda mengakui Indonesia itu pada 1949, sedangkan saya lahir 1937. Jadi waktu itu banyak yang nawari saya ke Belanda, untuk bekerja di perpustakaan Amsterdam. Saya kan juga anggota Amnesty International,&quot; bebernya.Perjuangannya berdagang akhirnya berbuah manis setelah beralih ke  komoditas buku dan alat tulis. Soes kemudian menawarkan ke  sekolah-sekolah di Jakarta hingga mendapatkan keuntungan berlipat ganda.
&quot;Pernah saat itu, sekira dalam sehari saya untung Rp1 juta. Kemudian  saya beli tanah di Bekasi dan bangun rumah di sana. Tak lama, beli tanah  di Bogor, daerah Gunung Sindur, seluas 1.000 meter persegi. Kemudian  seperti sudah terencana rumah saya di Bekasi digusur, hingga harus  pindah ke Blora pada 2004,&quot; jelas Soes.
Meski kepindahannya ke Blora terjadi pada 2004, namun sebelumnya Soes  sudah bolak-balik untuk memperbaiki rumahnya yang berada di Jalan  Sumbawa 40 Jetis Blora.
&quot;Sebelumnya pada 2003, dapur di rumah dua kali roboh, lalu saya  disuruh betulkan oleh Pram (Pramoedya Ananta Toer). Dia mengatakan, kalau  rumah itu rusak, maka penghuninya juga rusak. Pram kan malu dengan  omongannya sendiri, maka saya disuruh membetulkan. Dapur itu sekarang  menjadi homestay (rumah sewa). Terus untuk rumah itu, saya jadikan perpustakaan  ketika Pram meninggal dengan nama Pataba atau Pramoedya Ananta Toer Anak  Semua Bangsa,&quot; ceritanya bersemangat.

Sesuai perkiraan, perpustakaan itu pun menjadi tempat rujukan para  penggemar sastra dari seantero dunia. Banyak mahasiswa, penulis buku,  maupun peneliti dari luar negeri datang ke perpustakaan itu mencari  beragam referensi sastra. &quot;Sudah empat benua yang datang ke sini, hanya  Afrika yang belum. Tadi baru saja ada mahasiswa doktor dari Norwegia,  dia sudah tiga hari menginap, dan pulang hari ini. Yang dari Amerika,  Perancis, Jerman, Bulgaria, sudah semua termasuk negara-negara Asia,&quot;  bebernya.Soes masih bersemangat menceritakan kesehariannya yang banyak   berkecimpung dengan buku-buku dan mendampingi mahasiswa dari berbagai   negara. Namun, di sela kesibukannya itu, dia memiliki kebiasaan ketika   malam yang sebagian besar orang menganggap tak lazim. Memulung sampah.
&quot;Saya menyebutnya rektor, mengorek-orek yang kotor,&quot; katanya singkat.
Soes tak langsung menjawab pertanyaan tentang alasannya berkeliling   kota untuk memulung sampah. Bapak satu anak itu justru menceritakan   tentang sosok Socrates, filsuf Yunani. &quot;Socrates ini dihukum mati karena   dianggap memengaruhi generasi muda, seperti Pram,&quot; jelasnya.
Soes melanjutkan ceritanya, hukuman mati terhadap Socrates membuat   istri dan ketiga anaknya terpukul. Sebelum dieksekusi, Socrates   menenangkan keluarganya dan memberi beberapa nasihat. &quot;Socrates   menenangkan mereka dan berkata, 'Kenalilah dirimu karena kematian itu   kenikmatan abadi',&quot; ucapnya.

Kata-kata Socrates itu pun menjadi sumber inspirasi bagi Soes.   &quot;Ajaran Socrates saya balik, menjadi 'Kenalilah diriku. Buat saya jadi   pemulung adalah kenikmatan abadi'. Sebab kenikmatan dunia setiap orang   itu berbeda, kita ini manusia tunggal di dunia. Tidak ada duanya.   Makanya kenalilah dirimu sendiri dan kenalilah diriku sendiri,&quot; katanya.
Kebiasaannya menjadi pemulung itu akhirnya diketahui publik. Banyak   yang mencibir karena pekerjaan pemulung masih dianggap hina, apalagi   bagi seorang dengan gelar pendidikan sangat tinggi.
&quot;Jadi saya mendapatkan kenikmatan dari pemulung, itu hak saya. Itu   nikmat. Banyak orang yang protes lulusan luar negeri jadi pemulung,&quot;   tukasnya.
&quot;Kalau dipikir begini. Saya nemu rongsokan, saya ambil, taruh di rumah.   Lalu ada orang datang untuk membeli, kalau (keuntungannya) lebih, saya belikan ayam.   Ayam saya ternakkan berkembang biak, jadi saya menciptakan nilai lebih.   Bahkan sekarang sudah ada empat tetangga yang pesen bibit ayam dari   saya. Dari situ sudah ada yang berhasil menjual seharga Rp500 ribu. Jadi   pemulungan ini di samping berguna bagi diri saya menjadi kenikmatan,   juga mencarikan pekerjaan orang lain. Apa itu hina?&quot; terangnya memberi   alasan.
Soes menyatakan, pilihannya menjadi pemulung sangat berbeda dengan   anggapan kebanyakan orang. Dia memiliki cara pandang tersendiri tentang   suatu aktivitas yang dilakoninya setiap malam, yakni berkutat pada   barang-barang sisa dan tumpukan sampah.
&quot;Saya memberi lapangan pekerjaan orang lain. Jangan dikira pemulung itu orang buangan, saya merasa terhormat,&quot; tegasnya.Sebagai orang yang telah makan asam garam, manis, hingga pahitnya    kehidupan, mengantarkan Soes pada sosok dengan prinsip sangat kuat.    Baginya, selagi nyawa masih di kandung badan pantang merepotkan orang    lain, meski telah memasuki usia senja.
&quot;Saya juga punya prinsip, hakikat hidup. Bahwa setiap orang jika    punya inisiatif tertentu untuk hidup dengan tenaganya sendiri, memelihara    diri sendiri, keluarga, dan generasi penerus. Manusia yang sadar harus    menciptakan nilai lebih. Saya ini termasuk orang nihilis, pesimis,  tapi   bukan nihilis yang dikenal sekarang. Dalam arti buat diri saya   sendiri.  Kalau saya sudah tidak punya fungsi, tidak bisa menghasilkan   apapun,  saya enggak punya fungsi, maka saya siap mati. Saya harus   punya fungsi,  sampai umur 81 saat ini,&quot; bebernya.
&quot;Pemulung itu hanya kenikmatan abadi. Itu bukan sumber utama    (pencaharian), saya kan punya penerbitan, Pataba (perpustakaan) bersama    anak saya. Tiap hari ada uang masuk, bisa jual ayam, jual kambing,    serba aneka lah. Kemudian uang ganti rugi dari Bekasi waktu dibongkar itu    juga masih ada, itu semua cukup buat makan,&quot; jelasnya menandaskan. (kha)</description><content:encoded>BLORA - Seorang doktor filsafat lulusan Plekhanov Institute Moskow Rusia sekaligus adik dari satrawan Pramoedya Ananta Toer, rela menjadi pemulung sampah di Blora Jawa Tengah. Setiap malam, pria berusia 81 tahun itu, mengais bak sampah untuk mendapatkan barang-barang yang masih bisa dijual untuk mendapatkan rupiah.
Pria yang tak lagi muda itu bernama Soesilo Toer. Raut wajahnya dipenuhi kumis dan jenggot yang telah memutih. Begitu pula dengan sebagian besar rambutnya juga telah beruban. Meski begitu, suaranya masih terdengar nyaring dengan nada suara tegas ketika berbincang dengan Okezone selama 40 menit.
Dia tak langsung menjawab saat diminta komentar tentang kesehariannya yang dianggap tak lumrah, bagi orang bergelar akademik tertinggi. Dengan bahasa yang lugas, Soesilo memilih lebih dulu menjelaskan latar belakang pendidikannya di negara berpaham komunis.

&quot;Saya dulu lulus doktor filsafat pada 1971. Dulu itu saya berangkat dan dibiayai oleh Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan zaman Soekarno tahun 1962,&quot; tutur Soes, panggilan akrabnya, ketika mengawali wawancara, Senin (28/5/2018).
Menurutnya, saat berangkat memenuhi tugas belajar itu, terikat perjanjian wajib bekerja kepada pemerintah selama 10 tahun, selepas tamat kuliah. Namun, pergolakan politik kala itu berubah setelah Orde Lama tumbang digantikan Orde Baru.
&quot;Setelah tamat, kewajiban saya adalah bekerja kepada pemerintah selama 10 tahun. Jadi begitu saya selesai, rencana langsung pulang untuk mendaftar. Tapi oleh Kedutaan Indonesia di Moskow, saya disuruh wajib lapor dulu enggak boleh langsung pulang. Jadi saya wajib lapor selama dua tahun,&quot; terangnya.
Kala itu, Soes termasuk orang yang masuk dalam daftar tahanan politik (tapol), sehingga ketika tiba di Tanah Air langsung dibawa ke penjara. &quot;Saya pulang ke Indonesia pada 1973, langsung dijemput (petugas berwajib) di lapangan terbang, masuk bui enam tahun, dan baru bebas pada 1978. Jadi saya ditahan selama enam tahun,&quot; kenangnya.
Dia juga mengingat tentang perjanjian bekerja kepada pemerintah setelah menyelesaikan studinya. Meski masih menyimpan dokumen perjanjian itu, namun semuanya pupus, bahkan ijazah yang diperoleh juga tak mendapat pengakuan.

&quot;Ijazah tidak diakui (pemerintah). Anggap saja selama enam tahun ditahan itu sudah kerja sama pemerintah. Jadi sebenarnya masih ada utang empat tahun, seperti perjanjiannnya. Semua dokumen masih ada lengkap. Habis itu tidak ada teguran apapun dari pemerintah sampai hari ini, tapi enggak apa-apa saya ikhlas,&quot; lugasnya sembari tertawa.
Setelah menjalani masa hukuman, Soes banyak hidup di jalanan. Dia bekerja serabutan di luar kompetensinya sebagai doktor filsafat. Tanpa canggung dia berjualan pakaian dalam secara berkeliling. Meski dengan penghasilan tak menentu, profesi itu tetap dilakoninya.
&quot;Kalau enggak cinta Tanah Air, saya enggak pulang. Karena secara hukum, saya ini kan Warga Negara Belanda. Kenapa? karena Belanda mengakui Indonesia itu pada 1949, sedangkan saya lahir 1937. Jadi waktu itu banyak yang nawari saya ke Belanda, untuk bekerja di perpustakaan Amsterdam. Saya kan juga anggota Amnesty International,&quot; bebernya.Perjuangannya berdagang akhirnya berbuah manis setelah beralih ke  komoditas buku dan alat tulis. Soes kemudian menawarkan ke  sekolah-sekolah di Jakarta hingga mendapatkan keuntungan berlipat ganda.
&quot;Pernah saat itu, sekira dalam sehari saya untung Rp1 juta. Kemudian  saya beli tanah di Bekasi dan bangun rumah di sana. Tak lama, beli tanah  di Bogor, daerah Gunung Sindur, seluas 1.000 meter persegi. Kemudian  seperti sudah terencana rumah saya di Bekasi digusur, hingga harus  pindah ke Blora pada 2004,&quot; jelas Soes.
Meski kepindahannya ke Blora terjadi pada 2004, namun sebelumnya Soes  sudah bolak-balik untuk memperbaiki rumahnya yang berada di Jalan  Sumbawa 40 Jetis Blora.
&quot;Sebelumnya pada 2003, dapur di rumah dua kali roboh, lalu saya  disuruh betulkan oleh Pram (Pramoedya Ananta Toer). Dia mengatakan, kalau  rumah itu rusak, maka penghuninya juga rusak. Pram kan malu dengan  omongannya sendiri, maka saya disuruh membetulkan. Dapur itu sekarang  menjadi homestay (rumah sewa). Terus untuk rumah itu, saya jadikan perpustakaan  ketika Pram meninggal dengan nama Pataba atau Pramoedya Ananta Toer Anak  Semua Bangsa,&quot; ceritanya bersemangat.

Sesuai perkiraan, perpustakaan itu pun menjadi tempat rujukan para  penggemar sastra dari seantero dunia. Banyak mahasiswa, penulis buku,  maupun peneliti dari luar negeri datang ke perpustakaan itu mencari  beragam referensi sastra. &quot;Sudah empat benua yang datang ke sini, hanya  Afrika yang belum. Tadi baru saja ada mahasiswa doktor dari Norwegia,  dia sudah tiga hari menginap, dan pulang hari ini. Yang dari Amerika,  Perancis, Jerman, Bulgaria, sudah semua termasuk negara-negara Asia,&quot;  bebernya.Soes masih bersemangat menceritakan kesehariannya yang banyak   berkecimpung dengan buku-buku dan mendampingi mahasiswa dari berbagai   negara. Namun, di sela kesibukannya itu, dia memiliki kebiasaan ketika   malam yang sebagian besar orang menganggap tak lazim. Memulung sampah.
&quot;Saya menyebutnya rektor, mengorek-orek yang kotor,&quot; katanya singkat.
Soes tak langsung menjawab pertanyaan tentang alasannya berkeliling   kota untuk memulung sampah. Bapak satu anak itu justru menceritakan   tentang sosok Socrates, filsuf Yunani. &quot;Socrates ini dihukum mati karena   dianggap memengaruhi generasi muda, seperti Pram,&quot; jelasnya.
Soes melanjutkan ceritanya, hukuman mati terhadap Socrates membuat   istri dan ketiga anaknya terpukul. Sebelum dieksekusi, Socrates   menenangkan keluarganya dan memberi beberapa nasihat. &quot;Socrates   menenangkan mereka dan berkata, 'Kenalilah dirimu karena kematian itu   kenikmatan abadi',&quot; ucapnya.

Kata-kata Socrates itu pun menjadi sumber inspirasi bagi Soes.   &quot;Ajaran Socrates saya balik, menjadi 'Kenalilah diriku. Buat saya jadi   pemulung adalah kenikmatan abadi'. Sebab kenikmatan dunia setiap orang   itu berbeda, kita ini manusia tunggal di dunia. Tidak ada duanya.   Makanya kenalilah dirimu sendiri dan kenalilah diriku sendiri,&quot; katanya.
Kebiasaannya menjadi pemulung itu akhirnya diketahui publik. Banyak   yang mencibir karena pekerjaan pemulung masih dianggap hina, apalagi   bagi seorang dengan gelar pendidikan sangat tinggi.
&quot;Jadi saya mendapatkan kenikmatan dari pemulung, itu hak saya. Itu   nikmat. Banyak orang yang protes lulusan luar negeri jadi pemulung,&quot;   tukasnya.
&quot;Kalau dipikir begini. Saya nemu rongsokan, saya ambil, taruh di rumah.   Lalu ada orang datang untuk membeli, kalau (keuntungannya) lebih, saya belikan ayam.   Ayam saya ternakkan berkembang biak, jadi saya menciptakan nilai lebih.   Bahkan sekarang sudah ada empat tetangga yang pesen bibit ayam dari   saya. Dari situ sudah ada yang berhasil menjual seharga Rp500 ribu. Jadi   pemulungan ini di samping berguna bagi diri saya menjadi kenikmatan,   juga mencarikan pekerjaan orang lain. Apa itu hina?&quot; terangnya memberi   alasan.
Soes menyatakan, pilihannya menjadi pemulung sangat berbeda dengan   anggapan kebanyakan orang. Dia memiliki cara pandang tersendiri tentang   suatu aktivitas yang dilakoninya setiap malam, yakni berkutat pada   barang-barang sisa dan tumpukan sampah.
&quot;Saya memberi lapangan pekerjaan orang lain. Jangan dikira pemulung itu orang buangan, saya merasa terhormat,&quot; tegasnya.Sebagai orang yang telah makan asam garam, manis, hingga pahitnya    kehidupan, mengantarkan Soes pada sosok dengan prinsip sangat kuat.    Baginya, selagi nyawa masih di kandung badan pantang merepotkan orang    lain, meski telah memasuki usia senja.
&quot;Saya juga punya prinsip, hakikat hidup. Bahwa setiap orang jika    punya inisiatif tertentu untuk hidup dengan tenaganya sendiri, memelihara    diri sendiri, keluarga, dan generasi penerus. Manusia yang sadar harus    menciptakan nilai lebih. Saya ini termasuk orang nihilis, pesimis,  tapi   bukan nihilis yang dikenal sekarang. Dalam arti buat diri saya   sendiri.  Kalau saya sudah tidak punya fungsi, tidak bisa menghasilkan   apapun,  saya enggak punya fungsi, maka saya siap mati. Saya harus   punya fungsi,  sampai umur 81 saat ini,&quot; bebernya.
&quot;Pemulung itu hanya kenikmatan abadi. Itu bukan sumber utama    (pencaharian), saya kan punya penerbitan, Pataba (perpustakaan) bersama    anak saya. Tiap hari ada uang masuk, bisa jual ayam, jual kambing,    serba aneka lah. Kemudian uang ganti rugi dari Bekasi waktu dibongkar itu    juga masih ada, itu semua cukup buat makan,&quot; jelasnya menandaskan. (kha)</content:encoded></item></channel></rss>
