<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Israel Larang Masuk Turis Indonesia: Lima Hal yang Perlu Anda Ketahui</title><description>Berikut lima hal mengenai pelarangan kunjungan turis Indonesia ke Israel.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/06/01/18/1905323/israel-larang-masuk-turis-indonesia-lima-hal-yang-perlu-anda-ketahui</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/06/01/18/1905323/israel-larang-masuk-turis-indonesia-lima-hal-yang-perlu-anda-ketahui"/><item><title>Israel Larang Masuk Turis Indonesia: Lima Hal yang Perlu Anda Ketahui</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/06/01/18/1905323/israel-larang-masuk-turis-indonesia-lima-hal-yang-perlu-anda-ketahui</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/06/01/18/1905323/israel-larang-masuk-turis-indonesia-lima-hal-yang-perlu-anda-ketahui</guid><pubDate>Jum'at 01 Juni 2018 08:49 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/06/01/18/1905323/israel-larang-masuk-turis-indonesia-lima-hal-yang-perlu-anda-ketahui-BYKqaSpkST.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/06/01/18/1905323/israel-larang-masuk-turis-indonesia-lima-hal-yang-perlu-anda-ketahui-BYKqaSpkST.jpg</image><title>Foto: Reuters.</title></images><description>PEMEGANG paspor Indonesia dilarang Israel untuk berkunjung ke negara di Timur Tengah itu. Apa alasannya? Siapa saja yang akan terkena dampaknya?
Berikut lima hal yang perlu Anda ketahui.
Mengapa dilarang?

Israel melarang seluruh pemegang paspor Indonesia berkunjung ke negara tersebut mulai 9 Juni mendatang, meskipun telah memiliki visa.
Larangan diberlakukan baik bagi mereka yang datang secara individu maupun dalam bentuk rombongan, termasuk yang melakukan wisata rohani.
Keputusan Israel itu merupakan aksi balasan setelah pemerintah Indonesia, pada pertengahan Mei lalu, melarang warga Israel mengunjungi Indonesia.
&quot;Israel telah berupaya mengubah keputusan Indonesia. Namun, langkah yang kami lakukan tampaknya gagal. Hal itu mendorong kami melakukan tindakan balasan,&quot; tutur juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Emmanuel Nahshon, seperti dikutip media pelapor isu-isu Israel-Palestina, Middle East Monitor pada Rabu.
BACA JUGA: Mulai 9 Juni Israel Larang Warga Indonesia Masuki Wilayahnya
Langkah Indonesia yang tidak membolehkan warga Israel memasuki wilayahnya, disebut sebagai bentuk protes atas tewasnya setidaknya 65 warga Palestina oleh tentara Israel, dalam aksi protes di Jalur Gaza, memperingati 70 tahun Nakba, 15 Mei lalu.
Nakba adalah peristiwa ketika hampir satu juta orang Palestina dipaksa mengungsi dan meninggalkan rumah mereka, ketika Israel mendeklarasikan kemerdekaannya.
Ketika ditanya apakah Indonesia sudah mempertimbangkan bahwa keputusan melarang warga Israel memasuki Indonesia akan berdampak pada kebijakan resiprokal, Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, A.M Fachir, lewat pesan tertulis menegaskan, &quot;Semua itu (negara) memiliki kebijakan untuk menentukan langkah-langkahnya terkait pemberian fasilitas visa&quot;.
Lalu, bagaimana sebelumnya?
Indonesia memang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Tidak ada kantor perwakilan atau kedutaan Indonesia di Israel dan sebaliknya.
Namun, bukan berarti tidak ada interaksi apa-apa antara kedua negara.
Interaksi yang paling terasa kental adalah soal kunjungan turis, terutama warga Indonesia, baik Nasrani maupun Muslim, yang berwisata religi ke Israel.
&quot;Karena tidak ada hubungan diplomatik, maka mengajukan aplikasi visanya juga tidak 'normal'. Harus melalui grup, sponsor tertentu dan orang-orang tertentu,&quot; kata Sapri Sale, penyusun kamus Indonesia-Ibrani, yang juga merupakan pengamat isu-isu Israel.

Bagi warga Israel yang hendak berkunjung ke Indonesia, bisa mengajukan visa Indonesia, di Kedutaan Indonesia di negara ketiga seperti Singapura dan Thailand, dengan biaya sekitar USD600 atau Rp8,3 juta.
Sementara, bagi warga Indonesia yang hendak berkunjung ke Israel harus membayar aplikasi senilai USD35 atau Rp485.000.
Pendiri Agindo Tours, yang melayani tur ziarah keagamaan ke Israel, Cecilia Ariesta Patty, menceritakan dia mendaftarkan visa melalui agen lokal di Israel, yang kemudian mendaftarkan nama pemohon visa langsung ke Kementerian Dalam Negeri Israel.
Untuk sekali aplikasi, harus ada minimal lima pendaftar visa.
&quot;Proses selesainya sekitar 30 hari. Keluarnya dalam bentuk paper visa, yaitu sebuah lembaran (yang bisa dikopi) berisi daftar nama dan nomor paspor orang yang diizinkan berkunjung ke Israel. Visanya tidak ditempel di paspor masing-masing orang,&quot; papar Cecilia.
Meskipun menegaskan di setiap turnya para peserta selalu bepergian bersama ke tempat-tempat ziarah keagamaan, pemilik visa 'juga diperbolehkan' mengunjungi tempat lainnya di Israel.
&quot;Misalnya di Israel, ada tempat wisata (nonreligi), yang sangat cantik di perbatasan dekat Lebanon. Kita bisa pergi ke sana. Seperti visa turis, bisa kemana saja, asalkan masih dalam batas waktu yang diziinkan,&quot; tuturnya.Apa kata pemerintah Indonesia?
Pemerintah Indonesia menegaskan &quot;sudah mengetahui&quot; keputusan Israel itu, meski belum mau berkomentar banyak.
&quot;Kita juga harus memaklumi bahwa setiap negara memiliki kebijakan  terkait pemberian fasilitas visa; memberikan atau tidak memberikan. Itu  saja. Tidak lebih dari itu,&quot; tulis Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia,  A.M Fachir, lewat pesan singkatnya, Kamis, (31/05/2018).
BACA JUGA: Wamenlu RI Angkat Bicara Soal Larangan WNI Masuki Israel
Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, menyayangkan langkah yang diambil Israel.
&quot;Karena Yerusalem kota suci beberapa agama... Larangan itu mestinya  tidak terkena pada kota-kota suci yang menjadi milik warga dunia. Karena  setiap penduduk dunia mestinya punya hak yang sama untuk mengunjungi  tempat-tempat suci.
&quot;Sementara banyak umat beragama dari Indonesia yang juga ingin ke Baitul Maqdis,&quot; tegas Lukman.
Dampak bagi tur ziarah Nasrani, Palestina dan Muslim
Setiap tahunnya ada puluhan ribu warga Indonesia yang berkunjung  untuk berwisata ziarah agama, baik Kristen, Katolik, maupun Islam, ke  Israel.
Cecilia Ariesta Patty, lewat Agindo Tours-nya bahkan bisa  menyelenggarakan delapan sampai 12 tur ke Israel setiap tahunnya. Dalam  sekali tur, dia bisa membawa lima sampai ratusan orang.
&quot;Kita sedih ya, karena dampaknya untuk bisnis langsung terasa buat  kita. Baik Nasrani maupun yang Muslim banyak yang ingin ke sana,&quot;  ceritanya.
Setelah keputusan Israel yang melarang kunjungan turis Indonesia  beredar luas, Cecilia pun kelimpungan menjawab pertanyaan para peserta  turnya yang telah mendaftar.
&quot;Kita ada yang berangkat ke Israel, untuk tur Nasrani, 21 Juni nanti.  Sudah dapat visa. Mereka bingung, banyak pertanyaan. Kemarin kerjaan  saya hanya menjawab WhatsApp. Ini kita masih komunikasi terus dengan  pihak (agen) yang di Israel. Kita berharap, larangan ini cuma  sementara.&quot;

Paket tur ziarah ke Israel yang diadakannya, terdiri dari tur untuk umat Nasrani dan tur untuk umat Islam.
Biayanya mencapai USD2.000 sampai USD3.000 (Rp28 juta sampai Rp42 juta) untuk perjalanan selama sekitar 10 hari.
Tur ziarah umat Kristen dan Katolik berfokus di Kota Yerusalem dan  Tiberias, kemudian dilanjutkan ke Jericho di Palestina. Sementara tur  ziarah umat Islam berfokus pada kunjungan ke Masjid Al-Aqsa di  Yerusalem, lalu ke makam Nabi Ibrahim di Kota Hebron, Palestina dan ke  Kota Jericho yang juga berada di Palestina.
&quot;Ini sebenarnya kerugiannya dari segi wisata, tidak hanya bagi  Israel. Palestina juga. Karena ke sana, kita tidak hanya mengunjungi  Israel, tetapi juga Palestina. Ke Palestina tetap pakai visa Israel  karena masuknya dari perbatasan Israel.&quot;
Cecilia berharap agar pemerintah Indonesia memperlunak kebijakan  berkunjung bagi warga Israel, dengan harapan Israel juga kembali  mengizinkan warga Indonesia masuk ke negara di Timur Tengah itu.
&quot;Indonesia kan negara (dengan umat) Muslim terbesar di dunia. Umat  Muslim banyak rindu berziarah ke Yerusalem, ke Masjid Al Aqsa, itu kan  timbal balik.
&quot;Apalagi Indonesia ingin jadi penengah konflik Palestina Israel.  Kalau saling larang begini kan komunikasi terputus. Bagaimana kita mau  jadi penengah? Ini akan merugikan Palestina (juga). Karena turis Muslim  Indonesia yang ke sana ingin mengunjungi Palestina,&quot; tegas Cecilia.Warga dan netizen kecewa
Kekecewaan atas keputusan Israel tersebut, banyak didengungkan di media sosial.
Beberapa netizen, menyesalkan keputusan pemerintah Indonesia, yang menyulut aksi balasan dari Israel.
Sementara, ada pula pengguna media sosial yang curhat harus membatalkan mimpinya untuk berwisata rohani ke Israel.
BACA JUGA: Ditjen Imigrasi: Kabar Indonesia Keluarkan Visa untuk Israel Adalah Hoax
Misalnya Fausta Advent, seorang karyawati asal Surakarta. Dia telah bercita-cita untuk berwisata rohani umat Nasrani ke Israel.
&quot;Kirain itu hoaks. Biasa lah di Instagram biasanya beritanya harus   dicek lagi. Ternyata setelah browsing lagi, ternyata benar. Kaget gak   percaya aja sih,&quot; cerita Advent lewat sambungan telepon.
Advent bercerita, salah satu target hidupnya adalah membawa ibunya berkunjung, berziarah ke Israel.
&quot;Karena memang itu salah satu keinginan beliau. Aku sudah rencana   pergi tahun ini. Sudah banding-bandingkan harga tur. Kalau sekarang kita   dilarang, ya gimana. Ada harapan suatu saat dibuka lagi, tapi kayaknya   mungkin nggak bisa tahun ini.&quot;
Perempuan ini berharap agar Israel kembali mengizinkan warga Indonesia berkunjung ke negara itu.
&quot;Harusnya untuk urusan agama boleh ya. Karena kalau memang tempat   tertentu berkaitan politik atau perang, boleh-boleh saja kita dilarang   ke sana. Tapi kalau ke tempat-tempat agama, itu kan sifatnya universal   ya. Kalau dilarang ya tak adil saja menurut aku,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>PEMEGANG paspor Indonesia dilarang Israel untuk berkunjung ke negara di Timur Tengah itu. Apa alasannya? Siapa saja yang akan terkena dampaknya?
Berikut lima hal yang perlu Anda ketahui.
Mengapa dilarang?

Israel melarang seluruh pemegang paspor Indonesia berkunjung ke negara tersebut mulai 9 Juni mendatang, meskipun telah memiliki visa.
Larangan diberlakukan baik bagi mereka yang datang secara individu maupun dalam bentuk rombongan, termasuk yang melakukan wisata rohani.
Keputusan Israel itu merupakan aksi balasan setelah pemerintah Indonesia, pada pertengahan Mei lalu, melarang warga Israel mengunjungi Indonesia.
&quot;Israel telah berupaya mengubah keputusan Indonesia. Namun, langkah yang kami lakukan tampaknya gagal. Hal itu mendorong kami melakukan tindakan balasan,&quot; tutur juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Emmanuel Nahshon, seperti dikutip media pelapor isu-isu Israel-Palestina, Middle East Monitor pada Rabu.
BACA JUGA: Mulai 9 Juni Israel Larang Warga Indonesia Masuki Wilayahnya
Langkah Indonesia yang tidak membolehkan warga Israel memasuki wilayahnya, disebut sebagai bentuk protes atas tewasnya setidaknya 65 warga Palestina oleh tentara Israel, dalam aksi protes di Jalur Gaza, memperingati 70 tahun Nakba, 15 Mei lalu.
Nakba adalah peristiwa ketika hampir satu juta orang Palestina dipaksa mengungsi dan meninggalkan rumah mereka, ketika Israel mendeklarasikan kemerdekaannya.
Ketika ditanya apakah Indonesia sudah mempertimbangkan bahwa keputusan melarang warga Israel memasuki Indonesia akan berdampak pada kebijakan resiprokal, Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, A.M Fachir, lewat pesan tertulis menegaskan, &quot;Semua itu (negara) memiliki kebijakan untuk menentukan langkah-langkahnya terkait pemberian fasilitas visa&quot;.
Lalu, bagaimana sebelumnya?
Indonesia memang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Tidak ada kantor perwakilan atau kedutaan Indonesia di Israel dan sebaliknya.
Namun, bukan berarti tidak ada interaksi apa-apa antara kedua negara.
Interaksi yang paling terasa kental adalah soal kunjungan turis, terutama warga Indonesia, baik Nasrani maupun Muslim, yang berwisata religi ke Israel.
&quot;Karena tidak ada hubungan diplomatik, maka mengajukan aplikasi visanya juga tidak 'normal'. Harus melalui grup, sponsor tertentu dan orang-orang tertentu,&quot; kata Sapri Sale, penyusun kamus Indonesia-Ibrani, yang juga merupakan pengamat isu-isu Israel.

Bagi warga Israel yang hendak berkunjung ke Indonesia, bisa mengajukan visa Indonesia, di Kedutaan Indonesia di negara ketiga seperti Singapura dan Thailand, dengan biaya sekitar USD600 atau Rp8,3 juta.
Sementara, bagi warga Indonesia yang hendak berkunjung ke Israel harus membayar aplikasi senilai USD35 atau Rp485.000.
Pendiri Agindo Tours, yang melayani tur ziarah keagamaan ke Israel, Cecilia Ariesta Patty, menceritakan dia mendaftarkan visa melalui agen lokal di Israel, yang kemudian mendaftarkan nama pemohon visa langsung ke Kementerian Dalam Negeri Israel.
Untuk sekali aplikasi, harus ada minimal lima pendaftar visa.
&quot;Proses selesainya sekitar 30 hari. Keluarnya dalam bentuk paper visa, yaitu sebuah lembaran (yang bisa dikopi) berisi daftar nama dan nomor paspor orang yang diizinkan berkunjung ke Israel. Visanya tidak ditempel di paspor masing-masing orang,&quot; papar Cecilia.
Meskipun menegaskan di setiap turnya para peserta selalu bepergian bersama ke tempat-tempat ziarah keagamaan, pemilik visa 'juga diperbolehkan' mengunjungi tempat lainnya di Israel.
&quot;Misalnya di Israel, ada tempat wisata (nonreligi), yang sangat cantik di perbatasan dekat Lebanon. Kita bisa pergi ke sana. Seperti visa turis, bisa kemana saja, asalkan masih dalam batas waktu yang diziinkan,&quot; tuturnya.Apa kata pemerintah Indonesia?
Pemerintah Indonesia menegaskan &quot;sudah mengetahui&quot; keputusan Israel itu, meski belum mau berkomentar banyak.
&quot;Kita juga harus memaklumi bahwa setiap negara memiliki kebijakan  terkait pemberian fasilitas visa; memberikan atau tidak memberikan. Itu  saja. Tidak lebih dari itu,&quot; tulis Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia,  A.M Fachir, lewat pesan singkatnya, Kamis, (31/05/2018).
BACA JUGA: Wamenlu RI Angkat Bicara Soal Larangan WNI Masuki Israel
Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, menyayangkan langkah yang diambil Israel.
&quot;Karena Yerusalem kota suci beberapa agama... Larangan itu mestinya  tidak terkena pada kota-kota suci yang menjadi milik warga dunia. Karena  setiap penduduk dunia mestinya punya hak yang sama untuk mengunjungi  tempat-tempat suci.
&quot;Sementara banyak umat beragama dari Indonesia yang juga ingin ke Baitul Maqdis,&quot; tegas Lukman.
Dampak bagi tur ziarah Nasrani, Palestina dan Muslim
Setiap tahunnya ada puluhan ribu warga Indonesia yang berkunjung  untuk berwisata ziarah agama, baik Kristen, Katolik, maupun Islam, ke  Israel.
Cecilia Ariesta Patty, lewat Agindo Tours-nya bahkan bisa  menyelenggarakan delapan sampai 12 tur ke Israel setiap tahunnya. Dalam  sekali tur, dia bisa membawa lima sampai ratusan orang.
&quot;Kita sedih ya, karena dampaknya untuk bisnis langsung terasa buat  kita. Baik Nasrani maupun yang Muslim banyak yang ingin ke sana,&quot;  ceritanya.
Setelah keputusan Israel yang melarang kunjungan turis Indonesia  beredar luas, Cecilia pun kelimpungan menjawab pertanyaan para peserta  turnya yang telah mendaftar.
&quot;Kita ada yang berangkat ke Israel, untuk tur Nasrani, 21 Juni nanti.  Sudah dapat visa. Mereka bingung, banyak pertanyaan. Kemarin kerjaan  saya hanya menjawab WhatsApp. Ini kita masih komunikasi terus dengan  pihak (agen) yang di Israel. Kita berharap, larangan ini cuma  sementara.&quot;

Paket tur ziarah ke Israel yang diadakannya, terdiri dari tur untuk umat Nasrani dan tur untuk umat Islam.
Biayanya mencapai USD2.000 sampai USD3.000 (Rp28 juta sampai Rp42 juta) untuk perjalanan selama sekitar 10 hari.
Tur ziarah umat Kristen dan Katolik berfokus di Kota Yerusalem dan  Tiberias, kemudian dilanjutkan ke Jericho di Palestina. Sementara tur  ziarah umat Islam berfokus pada kunjungan ke Masjid Al-Aqsa di  Yerusalem, lalu ke makam Nabi Ibrahim di Kota Hebron, Palestina dan ke  Kota Jericho yang juga berada di Palestina.
&quot;Ini sebenarnya kerugiannya dari segi wisata, tidak hanya bagi  Israel. Palestina juga. Karena ke sana, kita tidak hanya mengunjungi  Israel, tetapi juga Palestina. Ke Palestina tetap pakai visa Israel  karena masuknya dari perbatasan Israel.&quot;
Cecilia berharap agar pemerintah Indonesia memperlunak kebijakan  berkunjung bagi warga Israel, dengan harapan Israel juga kembali  mengizinkan warga Indonesia masuk ke negara di Timur Tengah itu.
&quot;Indonesia kan negara (dengan umat) Muslim terbesar di dunia. Umat  Muslim banyak rindu berziarah ke Yerusalem, ke Masjid Al Aqsa, itu kan  timbal balik.
&quot;Apalagi Indonesia ingin jadi penengah konflik Palestina Israel.  Kalau saling larang begini kan komunikasi terputus. Bagaimana kita mau  jadi penengah? Ini akan merugikan Palestina (juga). Karena turis Muslim  Indonesia yang ke sana ingin mengunjungi Palestina,&quot; tegas Cecilia.Warga dan netizen kecewa
Kekecewaan atas keputusan Israel tersebut, banyak didengungkan di media sosial.
Beberapa netizen, menyesalkan keputusan pemerintah Indonesia, yang menyulut aksi balasan dari Israel.
Sementara, ada pula pengguna media sosial yang curhat harus membatalkan mimpinya untuk berwisata rohani ke Israel.
BACA JUGA: Ditjen Imigrasi: Kabar Indonesia Keluarkan Visa untuk Israel Adalah Hoax
Misalnya Fausta Advent, seorang karyawati asal Surakarta. Dia telah bercita-cita untuk berwisata rohani umat Nasrani ke Israel.
&quot;Kirain itu hoaks. Biasa lah di Instagram biasanya beritanya harus   dicek lagi. Ternyata setelah browsing lagi, ternyata benar. Kaget gak   percaya aja sih,&quot; cerita Advent lewat sambungan telepon.
Advent bercerita, salah satu target hidupnya adalah membawa ibunya berkunjung, berziarah ke Israel.
&quot;Karena memang itu salah satu keinginan beliau. Aku sudah rencana   pergi tahun ini. Sudah banding-bandingkan harga tur. Kalau sekarang kita   dilarang, ya gimana. Ada harapan suatu saat dibuka lagi, tapi kayaknya   mungkin nggak bisa tahun ini.&quot;
Perempuan ini berharap agar Israel kembali mengizinkan warga Indonesia berkunjung ke negara itu.
&quot;Harusnya untuk urusan agama boleh ya. Karena kalau memang tempat   tertentu berkaitan politik atau perang, boleh-boleh saja kita dilarang   ke sana. Tapi kalau ke tempat-tempat agama, itu kan sifatnya universal   ya. Kalau dilarang ya tak adil saja menurut aku,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
