<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Trump Sebut Surat dari Kim Jong-un Menarik, Meski Belum Membukanya</title><description>Setelah menerima surat itu, Trump mengumumkan rencana pertemuannya dengan Kim Jong-un di Singapura, pada 12 Junia 2018.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/06/02/18/1905712/trump-sebut-surat-dari-kim-jong-un-menarik-meski-belum-membukanya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/06/02/18/1905712/trump-sebut-surat-dari-kim-jong-un-menarik-meski-belum-membukanya"/><item><title>Trump Sebut Surat dari Kim Jong-un Menarik, Meski Belum Membukanya</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/06/02/18/1905712/trump-sebut-surat-dari-kim-jong-un-menarik-meski-belum-membukanya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/06/02/18/1905712/trump-sebut-surat-dari-kim-jong-un-menarik-meski-belum-membukanya</guid><pubDate>Sabtu 02 Juni 2018 16:22 WIB</pubDate><dc:creator>Erha Aprili Ramadhoni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/06/02/18/1905712/trump-sebut-surat-dari-kim-jong-un-menarik-meski-belum-membukanya-tZ4YaOkdsp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Utusan senior Korut, Jenderal Kim Yong-Chol, menyerahkan surat dari pemimpin Korea Utara ke Presiden Trump. (Getty Images)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/06/02/18/1905712/trump-sebut-surat-dari-kim-jong-un-menarik-meski-belum-membukanya-tZ4YaOkdsp.jpg</image><title>Utusan senior Korut, Jenderal Kim Yong-Chol, menyerahkan surat dari pemimpin Korea Utara ke Presiden Trump. (Getty Images)</title></images><description>WASHINGTON &amp;ndash; Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menerima surat yang disebutnya sangat menarik dari utusan senior Korea Utara (Korut), Jenderal Kim Yong-chol, meski belum membukanya. Dengan ukuran &amp;ldquo;raksasa&amp;rdquo;, surat yang dikirim untuk Trump itu tersebut tampak berbeda dibandingkan surat lainnya.
Melansir BBC Indonesia, Sabtu (2/6/2018), setelah menerima surat itu, Donald Trump mengumumkan akan mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin Korut, Kim Jong-un, di Singapura, pada 12 Juni 2018. Rencana pertemuan itu diumumkan setelah Trump menjamu utusan senior Korea Utara di Gedung Putih.
Trump mengatakan, persoalan Perang Korea akan dibahas secara resmi dalam pertemuannya dengan Kim Jong-un di Singapura.
Perang Korea yang berlangsung pada1950-1953 berakhir melalui gencatan senjata, dan bukan dalam perjanjian perdamaian yang bersifat final.
&quot;Kami akan bertemu pada 12 Juni di Singapura. Semuanya berjalan sangat baik,&quot; kata Presiden Trump kepada wartawan di halaman Gedung Putih.
Trump mengingatkan bahwa KTT tersebut kemungkinan tidak mencapai kesepakatan final perihal program nuklir Korut.

&quot;Saya tidak pernah mengatakan persoalan tersebut akan tuntas dalam sekali pertemuan. Saya pikir itu membutuhkan proses, tetapi hubungan yang sedang kami bangun itu sangat positif,&quot; katanya.
Rencana pertemuan Trump dan Kim Jong-un akan menjadi peristiwa bersejarah karena merupakan pertemuan pertama kali antara pemimpin AS dan Korea Utara.
Presiden Trump telah menawarkan bantuan untuk membangun kembali ekonomi Utara apabila negara itu menghapus program senjata nuklirnya.
Adapun Kim Jong-un mengatakan dia berkomitmen untuk melakukan program &quot;denuklirisasi&quot; , walaupun masih belum jelas seperti apa bentuk pelaksanaan teknisnya.
Kunjungan Utusan khusus Korut, Jenderal Kim Yong-chol ke Washington terjadi sehari setelah dia bertemu Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo di New York.
Pompeo menggambarkan pembicaraan mereka tentang program denuklirisasi &quot;substantif&quot;.
&quot;Presiden Trump dan saya percaya bahwa Kim adalah pemimpin yang dapat membuat keputusan seperti itu. Dan beberapa pekan dan bulan ke depan, kami memiliki kesempatan untuk menguji apakah ini benar atau tidak,&quot; katanya.Surat Kim dilaporkan isinya tentang pernyataannya yang berminat  bertemu dengan Trump tetapi tanpa membuat konsesi apapun terkait isu  denuklirisasi, demikian menurut lapororan Wall Street Journal, mengutip  keterangan seorang pejabat yang mendapat penjelasan tentang isi surat  tersebut.
Selain pertemuan di New York, Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara,  Choe Son-hui, juga bertemu dengan Sung Kim, mantan duta besar AS untuk  Korea Selatan, di Panmunjom di perbatasan kedua negara Korea.

Kedua diplomat sebelumnya sudah pernah bertemu saat merundingkan proses penghapusan nuklir.
Sementara di Singapura, tim AS yang dipimpin pejabat Gedung Putih,  Joe Hagin, diperkirakan bertemu Kim Chang-son, kepala staf pemimpin  Korea Utara, untuk membicarakan masalah logistik.
Dan pada waktu yang hampir bersamaan, Menteri Luar Negeri Rusia,  Sergei Lavrov, berada di Pyongyang untuk berunding dengan Kim Jong-un,  yang menjadi pertemuan pertama pemimpin Korut itu dengan pejabat senior  Rusia.
Lavrov menyampaikan undangan bagi Kim untuk mengunjungi Moskow.</description><content:encoded>WASHINGTON &amp;ndash; Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menerima surat yang disebutnya sangat menarik dari utusan senior Korea Utara (Korut), Jenderal Kim Yong-chol, meski belum membukanya. Dengan ukuran &amp;ldquo;raksasa&amp;rdquo;, surat yang dikirim untuk Trump itu tersebut tampak berbeda dibandingkan surat lainnya.
Melansir BBC Indonesia, Sabtu (2/6/2018), setelah menerima surat itu, Donald Trump mengumumkan akan mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin Korut, Kim Jong-un, di Singapura, pada 12 Juni 2018. Rencana pertemuan itu diumumkan setelah Trump menjamu utusan senior Korea Utara di Gedung Putih.
Trump mengatakan, persoalan Perang Korea akan dibahas secara resmi dalam pertemuannya dengan Kim Jong-un di Singapura.
Perang Korea yang berlangsung pada1950-1953 berakhir melalui gencatan senjata, dan bukan dalam perjanjian perdamaian yang bersifat final.
&quot;Kami akan bertemu pada 12 Juni di Singapura. Semuanya berjalan sangat baik,&quot; kata Presiden Trump kepada wartawan di halaman Gedung Putih.
Trump mengingatkan bahwa KTT tersebut kemungkinan tidak mencapai kesepakatan final perihal program nuklir Korut.

&quot;Saya tidak pernah mengatakan persoalan tersebut akan tuntas dalam sekali pertemuan. Saya pikir itu membutuhkan proses, tetapi hubungan yang sedang kami bangun itu sangat positif,&quot; katanya.
Rencana pertemuan Trump dan Kim Jong-un akan menjadi peristiwa bersejarah karena merupakan pertemuan pertama kali antara pemimpin AS dan Korea Utara.
Presiden Trump telah menawarkan bantuan untuk membangun kembali ekonomi Utara apabila negara itu menghapus program senjata nuklirnya.
Adapun Kim Jong-un mengatakan dia berkomitmen untuk melakukan program &quot;denuklirisasi&quot; , walaupun masih belum jelas seperti apa bentuk pelaksanaan teknisnya.
Kunjungan Utusan khusus Korut, Jenderal Kim Yong-chol ke Washington terjadi sehari setelah dia bertemu Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo di New York.
Pompeo menggambarkan pembicaraan mereka tentang program denuklirisasi &quot;substantif&quot;.
&quot;Presiden Trump dan saya percaya bahwa Kim adalah pemimpin yang dapat membuat keputusan seperti itu. Dan beberapa pekan dan bulan ke depan, kami memiliki kesempatan untuk menguji apakah ini benar atau tidak,&quot; katanya.Surat Kim dilaporkan isinya tentang pernyataannya yang berminat  bertemu dengan Trump tetapi tanpa membuat konsesi apapun terkait isu  denuklirisasi, demikian menurut lapororan Wall Street Journal, mengutip  keterangan seorang pejabat yang mendapat penjelasan tentang isi surat  tersebut.
Selain pertemuan di New York, Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara,  Choe Son-hui, juga bertemu dengan Sung Kim, mantan duta besar AS untuk  Korea Selatan, di Panmunjom di perbatasan kedua negara Korea.

Kedua diplomat sebelumnya sudah pernah bertemu saat merundingkan proses penghapusan nuklir.
Sementara di Singapura, tim AS yang dipimpin pejabat Gedung Putih,  Joe Hagin, diperkirakan bertemu Kim Chang-son, kepala staf pemimpin  Korea Utara, untuk membicarakan masalah logistik.
Dan pada waktu yang hampir bersamaan, Menteri Luar Negeri Rusia,  Sergei Lavrov, berada di Pyongyang untuk berunding dengan Kim Jong-un,  yang menjadi pertemuan pertama pemimpin Korut itu dengan pejabat senior  Rusia.
Lavrov menyampaikan undangan bagi Kim untuk mengunjungi Moskow.</content:encoded></item></channel></rss>
