<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Putra Mahkota Keturunan Sultan Hasanuddin Meninggal Dunia   </title><description>Siapa yang tidak mengenal Sultan Hasanuddin, yang terkenal dengan sebutan Ayam Jantan dari Timur.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/06/11/340/1909020/putra-mahkota-keturunan-sultan-hasanuddin-meninggal-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/06/11/340/1909020/putra-mahkota-keturunan-sultan-hasanuddin-meninggal-dunia"/><item><title> Putra Mahkota Keturunan Sultan Hasanuddin Meninggal Dunia   </title><link>https://news.okezone.com/read/2018/06/11/340/1909020/putra-mahkota-keturunan-sultan-hasanuddin-meninggal-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/06/11/340/1909020/putra-mahkota-keturunan-sultan-hasanuddin-meninggal-dunia</guid><pubDate>Senin 11 Juni 2018 02:29 WIB</pubDate><dc:creator>Prayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/06/11/340/1909020/putra-mahkota-keturunan-sultan-hasanuddin-meninggal-dunia-Um4rVIwoob.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto Istimewa</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/06/11/340/1909020/putra-mahkota-keturunan-sultan-hasanuddin-meninggal-dunia-Um4rVIwoob.jpg</image><title>Foto Istimewa</title></images><description>
MAKASSAR - Siapa yang tidak mengenal Sultan Hasanuddin, yang terkenal dengan sebutan Ayam Jantan dari Timur. Salah seorang tokoh pahlawan nasional Indonesia yang begitu gagahnya mengusir penjajah kala itu. Sore tadi, sekira pukul 16.00 WITA, Minggu, 10 Juni 2018, salah seorang garis keturunan nya atau yang lebih dikenal dengan Raja Gowa ke 37, Andi Maddusila Patta Nyonri Karaeng Katangka bergelar Sultan Alauddin II meninggal dunia.

Meninggalnya putra mahkota kerajaan Gowa sendiri dikabarkan jatuh sakit. Hal ini dibeberkan langsung oleh juru bicara kerajaan Andi Baso sesaat setelah dikonfirmasi Okezone. Menurutnya, berpulangnya sang raja sendiri dikarenakan tengah menderita sakit. Dikabarkan, almarhum menutup usianya dengan umur 78 tahun dengan meninggalkan empat orang anak. Yakni Andi Ivan A. Idjo, Andi Mirasari A. Idjo, Andi Ichsan A. Idjo dan Andi Maulina A. Idjo.

&quot;Iya sore tadi almarhum menghembuskan nafas terakhir nya. Beliau meninggalkan empat orang anak dan masih merupakan garis keturunan raja yang sah dari pahlawan kita (Sultan Hasanuddin),&quot; singkat Andi Baso sesaat dikonfirmasi.


Diketahui dalam silsilah perjalanan karir keturunan Sultan Hasanuddin tersebut. Andi Maddusila dinobatkan sebagai Raja Gowa oleh Sekretaris Jenderal Forum Keraton se Nusantara, Gunarso G. Kusumodiningrat pada Senin, 17 Januari 2011 lalu.
&amp;nbsp;
Prosesi penobatan gelar raja tersebut diselenggarakan tepat di perumahan Megasari Jalan Jipang Raya, Makassar. Acara ini disaksikan sekitar 300 orang dan dihadiri keturunan raja-raja dari berbagai daerah.

Di antaranya Bate Salapang Takalar, Tallo, serta Bate Salapang Gowa seperti Tombolo, Lakiung, Parang-parang, dan Akangje'ne. Maddusila resmi sebagai Raja Gowa ke-37 dengan gelar Andi Maddusila Patta Nyonri Karaeng Katangka bergelar Sultan Alauddin II

Doa dan Dukungan Terus Mengalir untuk Sang Raja

Lembaga pemerhati adat yang mayoritasnya digalakkan oleh mahasiswa ini juga turut andil dalam mengucapkan bela sungkawa. Kelompok yang mengatasnamakan Persatuan Mahasiswa Tau Sianakkang (PMTS) Makassar tersebut mengungkapkan, akan peran dan perjuangan putra mahkota Gowa tersebut dalam melestarikan adat dan budaya.

Reno selaku ketua PMTS Makassar menegaskan, akan perjuangan almarhum dalam melestarikan adat sejatinya menjadikan tugas tersendiri bagi kami selaku kelompok muda yang seyogyanya berada digarda terdepan dalam proses dan perjuangan menjaga adat istiadat budaya Makassar.

&quot;Ada tugas tersendiri yang harus kami lanjutkan selaku generasi muda. Kami merasa bangga memiliki pitra daerah seperti beliau (Andi Maddusila). Almarhum merupakan figur dari Makassar yang seharusnya menjadi pahlawan budaya,&quot; tambah Reno.

Begitu pula dengan Calon gubernur Ichsan Yasin Limpo yang juga merupakan putra Gowa juga turut serta untuk mengajak warga setempat untuk mendoakan Maddusila Idjo. Dirinya kemudian kembali memberikan pembelajaran politik yang sangat berharga buat masyarakat Sulsel, terutama untuk para generasi muda.

Kandidat Gubernur Sulsel ini, secara khusus ikut memanjatkan doa, sekaligus belasungkawa atas meninggalnya Andi Maddusila Idjo yang dikenal &quot;rival abadi&quot; IYL di Gowa.

Duka cita Ichsan disampaikan di depan ribuan warga sebelum memulai Kampanye terbatasnya di Dapil V Makassar (Mamajang, Mariso, Tamalate).

&quot;Sebelum saya menyampaikan orasi politik, saya mengajak kita semua untuk bersama mengirimkan Al-Fatiha buat almarhum Bapak Andi Maddusila Idjo,&quot; kata Ichsan di depan warga.

Kepada keluarga yang ditinggalkan, bisa tabah dan mengiklaskan kepergian almarhum, sembari berdoa bersama semoga Andi Maddusila bisa mendapat tempat yang layak disisi-Nya.

Maddusila Idjo yang juga adalah Raja Gowa ke 37 ini menghembuskan nafas terakhirnya di salah satu rumah sakit di Makassar.

Maddusila dan IYL di beberapa momentum politik selalu berlawanan. Saat IYL maju dua kali di Pilkada Gowa, salah satu rivalnya adalah Maddusila. Begitu pun di Pilkada 2015, Maddusila berlawanan dengan putra Ichsan, Adnan Purichta Ichsan.

Bukan hanya itu, di Pilgub Sulsel, Maddusila kembali memilih mendukung kandidat yang menjadi rival Ichsan Yasin Limpo. Meski sering berlawanan, tapi untuk urusan kemanusiaan, Ichsan Yasin Limpo selalu berusaha memisahkan. Untuk itu, ketika IYL mendapat kabar Maddusila menjnggal, belasungkawa dan rasa duka cita terpanjat dari mulutnya.

</description><content:encoded>
MAKASSAR - Siapa yang tidak mengenal Sultan Hasanuddin, yang terkenal dengan sebutan Ayam Jantan dari Timur. Salah seorang tokoh pahlawan nasional Indonesia yang begitu gagahnya mengusir penjajah kala itu. Sore tadi, sekira pukul 16.00 WITA, Minggu, 10 Juni 2018, salah seorang garis keturunan nya atau yang lebih dikenal dengan Raja Gowa ke 37, Andi Maddusila Patta Nyonri Karaeng Katangka bergelar Sultan Alauddin II meninggal dunia.

Meninggalnya putra mahkota kerajaan Gowa sendiri dikabarkan jatuh sakit. Hal ini dibeberkan langsung oleh juru bicara kerajaan Andi Baso sesaat setelah dikonfirmasi Okezone. Menurutnya, berpulangnya sang raja sendiri dikarenakan tengah menderita sakit. Dikabarkan, almarhum menutup usianya dengan umur 78 tahun dengan meninggalkan empat orang anak. Yakni Andi Ivan A. Idjo, Andi Mirasari A. Idjo, Andi Ichsan A. Idjo dan Andi Maulina A. Idjo.

&quot;Iya sore tadi almarhum menghembuskan nafas terakhir nya. Beliau meninggalkan empat orang anak dan masih merupakan garis keturunan raja yang sah dari pahlawan kita (Sultan Hasanuddin),&quot; singkat Andi Baso sesaat dikonfirmasi.


Diketahui dalam silsilah perjalanan karir keturunan Sultan Hasanuddin tersebut. Andi Maddusila dinobatkan sebagai Raja Gowa oleh Sekretaris Jenderal Forum Keraton se Nusantara, Gunarso G. Kusumodiningrat pada Senin, 17 Januari 2011 lalu.
&amp;nbsp;
Prosesi penobatan gelar raja tersebut diselenggarakan tepat di perumahan Megasari Jalan Jipang Raya, Makassar. Acara ini disaksikan sekitar 300 orang dan dihadiri keturunan raja-raja dari berbagai daerah.

Di antaranya Bate Salapang Takalar, Tallo, serta Bate Salapang Gowa seperti Tombolo, Lakiung, Parang-parang, dan Akangje'ne. Maddusila resmi sebagai Raja Gowa ke-37 dengan gelar Andi Maddusila Patta Nyonri Karaeng Katangka bergelar Sultan Alauddin II

Doa dan Dukungan Terus Mengalir untuk Sang Raja

Lembaga pemerhati adat yang mayoritasnya digalakkan oleh mahasiswa ini juga turut andil dalam mengucapkan bela sungkawa. Kelompok yang mengatasnamakan Persatuan Mahasiswa Tau Sianakkang (PMTS) Makassar tersebut mengungkapkan, akan peran dan perjuangan putra mahkota Gowa tersebut dalam melestarikan adat dan budaya.

Reno selaku ketua PMTS Makassar menegaskan, akan perjuangan almarhum dalam melestarikan adat sejatinya menjadikan tugas tersendiri bagi kami selaku kelompok muda yang seyogyanya berada digarda terdepan dalam proses dan perjuangan menjaga adat istiadat budaya Makassar.

&quot;Ada tugas tersendiri yang harus kami lanjutkan selaku generasi muda. Kami merasa bangga memiliki pitra daerah seperti beliau (Andi Maddusila). Almarhum merupakan figur dari Makassar yang seharusnya menjadi pahlawan budaya,&quot; tambah Reno.

Begitu pula dengan Calon gubernur Ichsan Yasin Limpo yang juga merupakan putra Gowa juga turut serta untuk mengajak warga setempat untuk mendoakan Maddusila Idjo. Dirinya kemudian kembali memberikan pembelajaran politik yang sangat berharga buat masyarakat Sulsel, terutama untuk para generasi muda.

Kandidat Gubernur Sulsel ini, secara khusus ikut memanjatkan doa, sekaligus belasungkawa atas meninggalnya Andi Maddusila Idjo yang dikenal &quot;rival abadi&quot; IYL di Gowa.

Duka cita Ichsan disampaikan di depan ribuan warga sebelum memulai Kampanye terbatasnya di Dapil V Makassar (Mamajang, Mariso, Tamalate).

&quot;Sebelum saya menyampaikan orasi politik, saya mengajak kita semua untuk bersama mengirimkan Al-Fatiha buat almarhum Bapak Andi Maddusila Idjo,&quot; kata Ichsan di depan warga.

Kepada keluarga yang ditinggalkan, bisa tabah dan mengiklaskan kepergian almarhum, sembari berdoa bersama semoga Andi Maddusila bisa mendapat tempat yang layak disisi-Nya.

Maddusila Idjo yang juga adalah Raja Gowa ke 37 ini menghembuskan nafas terakhirnya di salah satu rumah sakit di Makassar.

Maddusila dan IYL di beberapa momentum politik selalu berlawanan. Saat IYL maju dua kali di Pilkada Gowa, salah satu rivalnya adalah Maddusila. Begitu pun di Pilkada 2015, Maddusila berlawanan dengan putra Ichsan, Adnan Purichta Ichsan.

Bukan hanya itu, di Pilgub Sulsel, Maddusila kembali memilih mendukung kandidat yang menjadi rival Ichsan Yasin Limpo. Meski sering berlawanan, tapi untuk urusan kemanusiaan, Ichsan Yasin Limpo selalu berusaha memisahkan. Untuk itu, ketika IYL mendapat kabar Maddusila menjnggal, belasungkawa dan rasa duka cita terpanjat dari mulutnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
