<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mochtar Ngabalin soal 'Kutu Loncat' dan Tugasnya 'Membisiki Presiden'</title><description>Mochtar Ngabalin menjawab sejumlah pertanyaan tentang statusnya yang kini sebagai staf ahli di KSP.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/06/15/337/1910666/mochtar-ngabalin-soal-kutu-loncat-dan-tugasnya-membisiki-presiden</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/06/15/337/1910666/mochtar-ngabalin-soal-kutu-loncat-dan-tugasnya-membisiki-presiden"/><item><title>Mochtar Ngabalin soal 'Kutu Loncat' dan Tugasnya 'Membisiki Presiden'</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/06/15/337/1910666/mochtar-ngabalin-soal-kutu-loncat-dan-tugasnya-membisiki-presiden</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/06/15/337/1910666/mochtar-ngabalin-soal-kutu-loncat-dan-tugasnya-membisiki-presiden</guid><pubDate>Jum'at 15 Juni 2018 20:01 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/06/15/337/1910666/mochtar-ngabalin-soal-kutu-loncat-dan-tugasnya-membisiki-presiden-wXIK9vSyoC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: BBC Indonesia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/06/15/337/1910666/mochtar-ngabalin-soal-kutu-loncat-dan-tugasnya-membisiki-presiden-wXIK9vSyoC.jpg</image><title>(Foto: BBC Indonesia)</title></images><description>DIWARNAI kontroversi karena masa lalunya yang anti-Jokowi, politikus Ali Mochtar Ngabalin mengakui peran barunya sebagai 'orang dekat' Jokowi dapat mendekatkan umat Islam dengan Istana Kepresidenan.
Sempat dicap sebagai 'kutu loncat', Ali Mochtar Ngabalin mengaku kesediaannya mengiyakan ajakan Presiden Jokowi sebagai staf ahli bidang komunikasi di Kantor staf kepresidenan (KSP) adalah pilihan politik.
&quot;Ini politik,&quot; tukas politikus Partai Golkar, kelahiran 1968, dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia di Jakarta, Rabu (6/7).
Empat tahun silam, saat pilpres, pria yang selalu tampil bersurban ini bergabung dalam barisan pendukung capres Prabowo Subianto. Ali Mochtar mengklaim tidak ada yang salah dengan pilihan politiknya, apalagi menurutnya partai-partai pendukung Prabowo Subianto-yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih-membubarkan diri setelah kalah dalam Pilpres 2014 lalu.
&quot;Perkembangan politik di Indonesia sangat amat dinamis,&quot; katanya, dengan mencontohkan sikap partainya, Partai Golkar, yang kemudian mendukung pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.
&quot;Sebagai kader kita mengikuti fatsun politik yang diambil oleh Partai Golkar,&quot; tambah Ali Mochtar yang pernah berlabuh di Partai Bulan Bintang sebelum loncat ke Partai Golkar.

Sejumlah analis menyebutkan pria bersurban ini dipilih oleh Jokowi sebagai staf ahli bidang komunikasi politik di Kantor Staf Kepresidenan, karena kedekatannya dengan kelompok Islam politik.
Walau menepis tuduhan yang menyebut pemerintahan Jokowi alergi terhadap kelompok Islam politik, Ali Mochtar tak memungkiri bahwa perannya saat ini dapat 'mendekatkan' umat Islam dengan pemerintah.
&quot;Hari ini saya bisa berbisik kepada presiden,&quot; ungkapnya.
Apa komentar Ngabalin atas tuduhan 'kutu loncat' yang diarahkan kepadanya? Bagaimana hubungannya dengan Prabowo Subianto setelah dia 'membelot' mendukung Joko Widodo? Mengapa dia mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo memiliki &quot;kualitas keimanan dan ibadah yang dahsyat&quot;?
Berikut petikan wawancara khusus Heyder Affan dan Oki Budhi dengan Ali Mochtar Ngabalin untuk rubrik Bincang BBC News Indonesia:
Apa yang bisa Anda katakan ketika sebagian orang menganggap Anda sebagai'kutu loncat', karena dulu Anda mendukung kubu Prabowo Subianto dan sekarang masuk Kantor Staf Presiden? 
Ketika orang berbicara kepentingan bangsa, negara dan masa depan rakyat Indonesia, dan umat di negeri ini, maka sehebat apapun Anda dengan sebuah ideologi besar yang Anda bawa, maka keinginan dan cita-cita itu harus segera dikuburkan.
Mungkin orang boleh bilang, bahwa saya kemarin bersama-sama dengan mas Bowo (Prabowo Subianto) di Koalisi Merah Putih.
Tapi seiring dengan keputusan Mahkamah Konstitusi yang bersifat final, yang menetapkan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden, maka dengan perkembangan dinamika politik di parlemen dan politik secara umum di Indonesia, seiring sejalan, makin hari Koalisi Merah Putih (partai-partai pendukung calon presiden Prabowo Subianto dalam Pilpres 2014) makin tidak solid, kemudian bubar.

Kemudian ada partai (dari Koalisi Merah Putih) yang memilih mendukung pemerintah. Karena itu, komitmen-komitmen terhadap koalisi itu -seperti yang terjadi di negara demokrasi- mulai terpecah.
Harus Anda ketahui, perkembangan politik di Indonesia sangat amat dinamis. Sebagai kader Partai Golkar, saya kira, banyak orang yang memiliki pemikiran sama dengan saya, bahwa fatsun politik itu merujuk kepada keputusan partai.
Ke mana partai memiliki pandangan dalam langkah-langkah politik eksternal dan internal, maka pada saat itulah sebagai kader kita mengikuti fatsun politik yang diambil oleh Partai Golkar.
Itulah sebabnya, kenapa hari ini saya harus berada, bersama-sama dengan jajaran pemerintah, berada di dalam pemerintahan, untuk membackup (mendukung) pemerintah atas capaian-capaian kerja yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, yang saya menyaksikan, dan saya tahu, itu hampir tidak terdengar kerja-kerja dan sukses mereka kepada publik.
Dengan latar belakang dan pengalaman sedikit ilmu yang saya miliki, saya kira, menurut ketentuan ajaran agama, menjadi wajib untuk saya harus berada bersama-sama dengan pemerintah untuk menyampaikan kepada rakyat Indonesia bahwa apa yang telah dilakukan, apa yang dipikirkan, apa yang hendak dilakukan oleh pemerintah, itu menjadi sesuatu yang wajib hukumnya bagi saya.
Sebagian pendukung Jokowi menyambut keputusan Anda bergabung dalam Kantor staf Kepresidenan (KSP)...
Ya, Alhamdulillah.
Tapi ada pula yang mengkritik karena Anda dianggap kutu loncat dan mereka mempertanyakan kredibilitas Anda? 
Saya sudah bertemu (mereka) dalam beberapa forum. Dan saya sampaikan kepada kawan-kawan, bahwa Anda boleh merasa 'marah' kepada saya, it's OK. No problem. Ini politik.
Saya harus bilang kepada mereka 'hari saya lakukan sesuatu, tidak mustahil besok Anda akan melakukan hal yang sama'. Tapi ingat, dalam tujuan dan pikiran yang sama, yaitu untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia.
Jadi, apa yang salah dengan langkah saya. Apa yang membuat kalian marah dengan saya.
Tidak lama setelah nama Anda disebut masuk sebagai staf ahli bidang komunikasi politik, Anda langsung melakukan semacam counter terhadap narasi-narasi yang Anda anggap sebagai fitnah terhadap Presiden Joko Widodo, dan bahkan Anda menyebut nama Amien Rais. Apakah tugas-tugas seperti itu yang akan Anda lakukan?

Saya bertugas di bagian komunikasi politik. Jadi selain membuat analisa tentang sejumlah kebijakan politik, kemudian bagaimana membangun narasi politik dan komunikasi politik.
Tentu saja, saya ditugaskan bersama kawan-kawan yang lain lagi. Saya ditunjuk oleh bapak Presiden untuk dan atas nama pemerintah, untuk menyampaikan kepada publik tentang hasil capaian-capaian pemerintah.
Karena itulah ketika saya mendengar sejumlah pernyataan-pernyataan dari siapa saja, yang tidak sesuai dengan fakta dan data, maka sebagai orang yang diamanahkan untuk melakukan kerja-kerja komunikasi-komunikasi politik itu, saya ingin mengatakan bahwa harus meluruskan, dan sekaligus menyampaikan pesan-pesan itu.
Karena, kalau melakukan kritik terhadap pemangku kekuasaan negara itu tanpa data dan fakta, itu adalah fitnah, itu bisa membuat penyesatan.
Jadi sebagai pejabat publik yang diangkat dari proses politik, apa yang salah kalau saya menyampaikan counter atau meluruskan, atau meminta fakta dan data.
Kembali lagi ke soal pemilihan Anda menjadi staf ahli KSP. Sebagian analis mengatakan pilihan jatuh kepada Anda karena latar belakang Anda dianggap sebagai simbol dari kelompok Islam. Apakah Anda tidak membantah kalau ada yang menilai Anda dipilih untuk menunjukkan bahwa pemerintah tidak memusuhi kelompok-kelompok Islam?
Tidak. Itu tidak benar. Karena pak Jusuf Kalla (Wakil Presiden) sendiri adalah simbol keberadaan umat (Islam) yang luar biasa. Pak Jusuf Kalla itu dari Pelajar Islam Indonesia (PII).
Pak Jusuf Kalla itu tokoh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pak Jusuf Kalla itu ibunya dari Muhammadiyah, Aisyiyah, dan ayahnya dari Nahdlatul Ulama (NU). Kurang apa Pak Jusuf Kalla. Bagaimana mungkin pemerintah anti kepada Islam. Saya tidak percaya. Ini adalah data yang bulshit, bohong, sesat dan menyesatkan.
Kalau saya, memang saya ini punya latar belakang yang panjang. Selain saya dari Pelajar Islam Indonesia (PII), saya dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Dan hari ini, saya menjadi ketua umum Badan Koordinasi mubalig seluruh Indonesia (Bakomubin).Bakomubin, yang saya pimpin, jadi media pertemuan antara pemangku  kuasa negara (umarah), ulama dan umat. Selama ini kita dari mimbar ke  mimbar, berteriak, mengontrol, kemudian membicarakan mengenai  kepentingan umat dan negara, tapi dia terbentur sampai dinding-dinding  masjid dan halaman masjid.
Kalau hari ini saya bisa bisik kepada presiden. Ketika Profesor  Doktor Dawam Rahardjo meninggal dunia, pagi-pagi saya datang ke Istana,  kemudian saya minta izin 'bapak, kalau bapak berkenan, dan ada waktu,  saya merasa bapak layak untuk bisa melayat beliau'.
Banyak lagi agenda keumatan yang saya kira selama ini tidak  sampai atau selama ini tidak ada yang bisa menjelaskan dengan baik  kepada beliau, atau selama ini hanya dihadiri oleh wakil presiden,  beliau bisa hadiri.
Dengan lebih tegas, berarti kehadiran Anda bisa dikatakan  untuk menjembatani antara apa yang disebut umat Islam dengan pemerintah  atau Presiden? 
Yang lebih tepat, menjadi penyambung lidah umat. Paling tidak  penyambung lidah mubalig. Saya meneruskan pesan-pesan umat kepada  presiden.
Kalau berangkat dari pernyataan Anda bahwa selama ini suara  umat Islam terbentur dinding masjid, dan Anda berusaha memerankan  tanggungjawab itu, berarti memang benar ada anggapan bahwa pemerintah  kurang dekat dengan kelompok Islam? 
Tidak, tapi kalau pemerintah itu anti umat Islam, itu pasti tidak benar. Itu narasi yang menyesatkan. Karena...
Anda mengatakan seperti itu karena Anda saat ini menjadi staf ahli Presiden? 
Oh, tidak. Sejak awal saya mempunyai pandangan seperti itu.  Dan, kalau orang bicara tentang umat, memang Jokowi itu umat nabi siapa?  Dia umat nabi Muhammad SAW. Dia bersyahadat sama dengan kita. Beliau  ruku' dan sujud, berpuasa. Kualitas keimanannya dan ibadahnya, tidak  kalah dahsyat daripada kita-kita.
Karena itu saya selalu mengatakan ketika kita menggunakan idiom  umat itu, maka tidak boleh ada orang yang melahirkan kebencian,  permusuhan dan adu domba terkait pemerintah.
Pemimpin, pemerintah itu tidak boleh dibenci. Enggak boleh  dimusuhi. Sebaliknya pemerintah itu tidak boleh memusuhi rakyatnya. Dan  hari ini seperti ditunjukkan oleh Presiden Joko Widodo adalah bagaimana  mendatangi umat.
Karena itu, pemerintah harus diajak bicara. Kalau dia tidak bisa  mendatangi rakyat dan umat, maka umat berbondong-bondong, Boleh pilih  beberapa orang untuk representasinya, datang dan bicara dengan presiden.
Tetapi kalau dari luar, kemudian difitnah, kemudian dia dihujat, dicaci maki, dia dibully, beliau 'kan manusia biasa.
Saya, Alhamdullilah, diamanahkan sebagai orang di sekitar beliau,  ada di sekitar istana, hari-hari, saya bisa mendengarkan dan merasakan  apa yang beliau sampaikan kepada publik.
Jadi, jika dikatakan pemerintah tidak memusuhi umat Islam, menurut Anda, siapa yang membuat dan menggulirkan isu itu?
Saya kira kita tidak bisa membendung kemajuan media sosial hari ini.

Orang membuat berita viral di mana-mana, dengan mengaitkan  data-data yang akurasinya lemah, tidak ada bukti-bukti autentik,  kemudian menuduh presiden dengan komunis, dan lain-lain, mengangkat  sejumlah orang yang mereka menyebutkan tidak memiliki keberpihakan  kepada Islam.
Saya kira kalau bangsa dan umat ini masih terus membicarakan  mengenai persoalan-persoalan yang terkesan mengotak-ngotakkan, membuat  kotak-kotak, yang memisahkan antara umat yang satu dengan yang lain,  bangsa ini tidak akan maju.
Sementara bangsa ini besar, layak dan dibesarkan, karena banyak  saudara-saudara kita dari Katolik, Protestan, Hindhu, Buddha dan  Konghucu, suku bangsa yang luar biasa banyaknya. Kekuataan itulah yang  menjadi pengayaan bangsa Indonesia.
Apakah kubu oposisi yang melontarkan isu tersebut untuk memelihara sekaligus mendapat suara dari kelompok Islam? 
Hebat! Anda paten sudah punya bayangan seperti itu. Bagus! Karena menuju 2019, segala macam orang bisa melakukan cara.
Dari #gantipresiden di acara car free day. Bayangkan orang buka    puasa dengan takjil sticker ganti presiden 2019. Ini sekarang mudik    lagi, dengan #mudikgantipresiden2019. Mungkin nanti bikin lagi tarawih    #gantipresiden, seterusnya dan seterusnya.
Sabar dong, sabar. Memang ada batas waktu di mana orang mendaftar    jadi calon presiden, sampai batas mana orang boleh kampanye, dan dari    batas mana orang mulai boleh berteriak. Kalau ini, rakyat atau umat    sudah mengetahuinya.
Kita umat mayoritas di republik ini. Bisa bapak bayangkan ada  orang   buka puasa, takjilnya ditempelin dengan sticker  #gantipresiden2019.  Apa  ini? Bangsa ini kan dibangun dengan tata krama  yang luar biasa.
Orang Jawa menyebutkan toto kromo. Kita menyebutkan ahlakul karimah yang bagus. Sabar. Kenapa mau berkuasa kok kebelet banget.
Kalau ada yang mengatakan upaya itu dilakukan karena Islam  tidak   bisa dipisahkan dengan politik, dalam rangka untuk mengkritik    pemerintah. Bukankah itu wajar saja? 
Ya, saya setuju, Islam, politik dan negara tidak bisa  dipisahkan   antara satu dengan yang lain. Tapi Anda harus jujur, Anda  tidak boleh   fitnah. Anda tidak boleh menyebarkan berita-berita bohong,    berita-berita dengan penuh kebencian.
Siapapun Anda, yang mau berdiri dan mau jadi calon presiden, atau    tim manapun, silakan saja. Tapi Anda tidak boleh membuat fitnah di    kalangan umat dan rakyat Indonesia.Anda yang pernah bergabung dengan tim sukses capres Prabowo   Subianto, apakah Anda mengakui kalau isu seperti itu sengaja diembuskan   atau dibesarkan untuk menyudutkan lawan politik? 
Kalau dulu ada saya dan beberapa kawan-kawan, kita bisa  melakukan  dengan langkah-langkah dan kerja-kerja untuk menghentikan  permusuhan,  hentikan kebencian, hentikan menyebarkan fitrnah dan  cara-cara bohong.  Saya tidak tahu kalau sekarang. karena banyak anak  muda yang paham  tentang IT dan medsos.
Tapi saya mau bilang, bahwa cara-cara kerja ini, saya mengerti,  saya  tahu. Bukan berarti kami tidak tahu, bukan berarti kami tidak bisa.   Kami bisa. Tapi kami orang-orang yang memiliki peradaban, punya agama,   punya pengetahuan, punya sistem nilai.
Saya kira tidak boleh melakukan hal-hal yang bisa meninggalkan   legacy yang buruk, meninggalkan kesan-kesan yang tidak benar, memberikan   pendidikan yang buruk bagi generasi kita dalam tata cara menyampaikan   aspirasi dan memberikan sokongan kepada siapa yang kita calonkan.
Cara-cara yang penuh fitnah dan kebohongan, data-data palsu,   data-data tentang menyudutkan yang satu dan mengangkat yang lain, itu   data-data yang penuh kebencian. Itu tidak boleh terjadi di negeri ini.

Setelah Anda dipilih sebagai staf ahli komunikasi politik di   Kantor staf kepresidenan, apakah Anda menempatkan diri Anda dalam kubu   oposisi yang dulu Anda dukung? 
Ah, saya berkali-kali datang buka puasa dengan mereka. Saya   berkali-kali duduk baik-baik dan berbicara dengan mereka. Saya   bertelepon, saya bertemu mas Bowo (Prabowo Subianto)...
Apa yang Anda katakan kepada Prabowo Subianto? 
'Apa kabar, mas?' 'Sehat?' 'Sehat'. 'Gimana Li?' 'Baik'.  Boleh tanya  (ke Prabowo Subianto), boleh interviu. Saya ketemu dalam  forum-forum  yang juga bermartabat. Dengan kawan-kawan semua, tidak ada  masalah.  Karena yang mereka pikirkan adalah masa depan bangsa dan  Indonesia.
Saya berpikir tentang masa depan bangsa dan Indonesia. Mereka   mempersiapkan calon presiden yang mungkin mereka anggap baik untuk   kepentingan masa depan bangsa, dan saya pun mengatakan: Presiden Jokowi   telah melaksanakan banyak, banyak, banyak agenda penting.
Infrastruktur itu adalah mimpi rakyat Indonesia berpuluh-puluh  tahun  yang baru terlaksana pada periode presiden Joko Widodo. Dan itu  saya  cerita pada mereka.
Usai memberikan jawaban pertanyaan ini, Ali Mochtar Ngabalin mengemukan pernyataan sebagai berikut:
Bung Heyder Affan, Anda ingat baik-baik, dan catat dengan   sejujur-jujurnya. Saya datang ke istana bukan pakai surat, bukan saya   datang dengan mengajukan permohonan. No way! Saya ditelpon oleh Presiden   Joko Widodo.
Presiden langsung menelpon Anda? 
Saya ditelpon. Saya bicara dengan Menteri Sekretaris Negara, saya diundang ke istana...
Apa yang dinyatakan Presiden dalam telpon itu? 
Ya, saya diminta untuk 'tolong bantu saya Pak Ngabalin'.  Kepala  negara yang minta, bung Heyder! Tentu dia butuh orang mungkin  untuk  mengkomunikasikan, menyampaikan capaian-capaian hasil pekerjaannya   kepada publik, kepada umat dan lain-lain.
Dan Anda ingat baik-baik, beliau menelpon saat puasa tahun lalu   (2017). Saya beberapa kali ketemu dulu, berbicara dulu. Nanti pada tahun   1439 Hijriyah (2018 Masehi), baru saya terima. Bukan ujuk-ujuk seperti   orang tidak punya apa-apa, kemudian langsung datang. Saya tidak  seperti  itu.
Kalau beliau-beliau mensearching siapa Ali Mochtar Ngabalin,  latar  belakangnya, keluarganya, semuanya. Saya pun juga meminta  pertolongan  kepada Allah, berdiskusi dengan teman-teman di Badan  Koordinasi Mubalig  seluruh Indonesia, dengan keluarga, dengan sahabat,  dengan semua.
Saya mesti bertanya. Kalau suatu waktu saya begini, 'emang ente   mimpi?' Oh, enggak. Saya sudah begini, saya sudah membangun komunikasi.   Siapa tahu saya sewaktu-waktu saya diminta, saya sudah bicarakan dengan   antum, saya sudah bicarakan dengan antum.
Tahun lalu yang menelpon Anda, juga Presiden Joko Widodo secara langsung? 
Ya, beliau telepon saya.
Dan mengapa Anda membutuhkan sekitar satu tahun untuk mengiyakan permintaan presiden? 
Sebagai orang beragama, sebagai orang Islam, sebagai orang  beriman,  saya harus meminta petunjuk dari Allah. Saya harus  beristiharah. Saya  harus berkomunikasi dengan banyak orang yang saya  rasa dekat. Dengan  komunitas yang saya pimpin, badan koordinasi mubalig  seluruh Indonesia.  Tiga kali mereka memutuskan 'pergilah wahai  saudaraku'.
Tentu Anda berkomunikasi dengan Partai Golkar juga? 
Saya bicara dengan Partai Golkar. Saya bicara dengan pimpinan  partai  Golkar. Saya ngomong dengan pak Novanto (eks Ketum Partai  Golkar, kini  narapidana kasus korupsi e-KTP). Presiden meminta pandangan  Pak  Novanto, Presiden meminta keterangan Sekjen partai Golkar (waktu  itu)  Idrus Marham.
Bukan ujuk-ujuk. Bukan seperti orang yang kaget dengan mimpi dengan sebuah kekuasaan, kemudian datang.
Di depan bapak Presiden, saya bilang: 'Nyawa saya pertaruhkan  kepada  bapak sepanjang kebenaran dan kejujuran yang bapak laksanakan'.  Anda  boleh tanya, boleh interviu beliau, tentang pernyataan saya  tersebut.Di depan beliau saya ngomong. Wallahi (atas nama Tuhan)! Saya  tidak   bercanda. Bung, ini Ali Muchtar, saya tidak main-main dengan  urusan   kehidupan, karena saya percaya selesaikan urusanmu, dan  sempurnakan   urusanmua dengan Allah SWT. Duniamu nanti Allah yang urus.  Saya tidak   pernah ragu tentang kebenaran yang saya ambil. Itulah,  makanya saya   tidak pernah bimbang.
Semua orang boleh membully saya, tapi saya punya komunikasi  dengan   Tuhan, dengan Allah SWT. Saya tahu langkah saya ini sebuah  langkah yang   saya tidak pernah ragu.
Anda identik dengan surban yang selalu Anda kenakan di hadapan umum. Sejak kapan Anda mengenakannya? 
Sudah lama. Topi ini menjadi gambaran dari orang tua saya,  bahwa dia   punya harapan agar saya bisa menjadi ulama, menjadi seorang  mubalig,   karena ketika saya keluar dari Fakfak, Papua Barat, kami dari  keluarga   bangsawan. Kami dari keluarga punya nilai spiritual yang  tinggi.
Saya dibesarkan dalam kultur yang penuh hukum adat dan hukum  Islam   di Papua Barat dan di Pulau Key, Maluku Tenggara. Dan kami berasal  dari   latar belakang keluarga yang jauh dari Seririt, Singaraja, dari   Seram,  dari Maluku, dari Buton, Sulawesi, Makasar, Bugis. Seluruh orang    melekat darahnya pada saya.
Mengapa harus mengenakan surban. Bukankah untuk menjadi ulama tidak harus bersurban? 
Oh, ulama itu yang dinilai seberapa jauh ketajaman ilmunya,  akhlak   dan moralnya. Dan kedua, seberapa jauh mereka bisa melakukan    sosialisasi, menyebarkan pengetahuan yang mereka miliki.
Banyak orang menggunakan surban, jambang, jenggot, cukur kumis,  tapi   kalau tidak bisa menampakkan dirinya sebagai orang yang    mempertanggungjawabkan keilmuannya, ilmunya dipakai untuk membohongi    orang, ilmunya dipakai untuk menghalalkan segala cara, itu namanya ulama    sesat dan menyesatkan umat.
Ada yang disebut ulama su', ulama yang memakai segala atribut    keilmuannya untuk kepentingan dunia. Insya Allah, saya tidak masuk dalam    wilayah itu.
Dan ketika Anda mendapatkan gelar Doktor di sebuah perguruan tinggi, Anda bersedia membuka surban? 
Saya membuka itu agar mereka melihat apakah kepala saya itu  botak   atau tidak. Dan saya tunjukkan kepada mereka, ini kepala saya (Ali    Mochtar kemudian melepaskan surbannya dan menunjukkan rambutnya),    rambut saya masih bagus.
Kalau saya buka, dan semua orang histeris, ternyata saya ganteng 'kan... ha, ha, ha.</description><content:encoded>DIWARNAI kontroversi karena masa lalunya yang anti-Jokowi, politikus Ali Mochtar Ngabalin mengakui peran barunya sebagai 'orang dekat' Jokowi dapat mendekatkan umat Islam dengan Istana Kepresidenan.
Sempat dicap sebagai 'kutu loncat', Ali Mochtar Ngabalin mengaku kesediaannya mengiyakan ajakan Presiden Jokowi sebagai staf ahli bidang komunikasi di Kantor staf kepresidenan (KSP) adalah pilihan politik.
&quot;Ini politik,&quot; tukas politikus Partai Golkar, kelahiran 1968, dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia di Jakarta, Rabu (6/7).
Empat tahun silam, saat pilpres, pria yang selalu tampil bersurban ini bergabung dalam barisan pendukung capres Prabowo Subianto. Ali Mochtar mengklaim tidak ada yang salah dengan pilihan politiknya, apalagi menurutnya partai-partai pendukung Prabowo Subianto-yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih-membubarkan diri setelah kalah dalam Pilpres 2014 lalu.
&quot;Perkembangan politik di Indonesia sangat amat dinamis,&quot; katanya, dengan mencontohkan sikap partainya, Partai Golkar, yang kemudian mendukung pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.
&quot;Sebagai kader kita mengikuti fatsun politik yang diambil oleh Partai Golkar,&quot; tambah Ali Mochtar yang pernah berlabuh di Partai Bulan Bintang sebelum loncat ke Partai Golkar.

Sejumlah analis menyebutkan pria bersurban ini dipilih oleh Jokowi sebagai staf ahli bidang komunikasi politik di Kantor Staf Kepresidenan, karena kedekatannya dengan kelompok Islam politik.
Walau menepis tuduhan yang menyebut pemerintahan Jokowi alergi terhadap kelompok Islam politik, Ali Mochtar tak memungkiri bahwa perannya saat ini dapat 'mendekatkan' umat Islam dengan pemerintah.
&quot;Hari ini saya bisa berbisik kepada presiden,&quot; ungkapnya.
Apa komentar Ngabalin atas tuduhan 'kutu loncat' yang diarahkan kepadanya? Bagaimana hubungannya dengan Prabowo Subianto setelah dia 'membelot' mendukung Joko Widodo? Mengapa dia mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo memiliki &quot;kualitas keimanan dan ibadah yang dahsyat&quot;?
Berikut petikan wawancara khusus Heyder Affan dan Oki Budhi dengan Ali Mochtar Ngabalin untuk rubrik Bincang BBC News Indonesia:
Apa yang bisa Anda katakan ketika sebagian orang menganggap Anda sebagai'kutu loncat', karena dulu Anda mendukung kubu Prabowo Subianto dan sekarang masuk Kantor Staf Presiden? 
Ketika orang berbicara kepentingan bangsa, negara dan masa depan rakyat Indonesia, dan umat di negeri ini, maka sehebat apapun Anda dengan sebuah ideologi besar yang Anda bawa, maka keinginan dan cita-cita itu harus segera dikuburkan.
Mungkin orang boleh bilang, bahwa saya kemarin bersama-sama dengan mas Bowo (Prabowo Subianto) di Koalisi Merah Putih.
Tapi seiring dengan keputusan Mahkamah Konstitusi yang bersifat final, yang menetapkan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden, maka dengan perkembangan dinamika politik di parlemen dan politik secara umum di Indonesia, seiring sejalan, makin hari Koalisi Merah Putih (partai-partai pendukung calon presiden Prabowo Subianto dalam Pilpres 2014) makin tidak solid, kemudian bubar.

Kemudian ada partai (dari Koalisi Merah Putih) yang memilih mendukung pemerintah. Karena itu, komitmen-komitmen terhadap koalisi itu -seperti yang terjadi di negara demokrasi- mulai terpecah.
Harus Anda ketahui, perkembangan politik di Indonesia sangat amat dinamis. Sebagai kader Partai Golkar, saya kira, banyak orang yang memiliki pemikiran sama dengan saya, bahwa fatsun politik itu merujuk kepada keputusan partai.
Ke mana partai memiliki pandangan dalam langkah-langkah politik eksternal dan internal, maka pada saat itulah sebagai kader kita mengikuti fatsun politik yang diambil oleh Partai Golkar.
Itulah sebabnya, kenapa hari ini saya harus berada, bersama-sama dengan jajaran pemerintah, berada di dalam pemerintahan, untuk membackup (mendukung) pemerintah atas capaian-capaian kerja yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, yang saya menyaksikan, dan saya tahu, itu hampir tidak terdengar kerja-kerja dan sukses mereka kepada publik.
Dengan latar belakang dan pengalaman sedikit ilmu yang saya miliki, saya kira, menurut ketentuan ajaran agama, menjadi wajib untuk saya harus berada bersama-sama dengan pemerintah untuk menyampaikan kepada rakyat Indonesia bahwa apa yang telah dilakukan, apa yang dipikirkan, apa yang hendak dilakukan oleh pemerintah, itu menjadi sesuatu yang wajib hukumnya bagi saya.
Sebagian pendukung Jokowi menyambut keputusan Anda bergabung dalam Kantor staf Kepresidenan (KSP)...
Ya, Alhamdulillah.
Tapi ada pula yang mengkritik karena Anda dianggap kutu loncat dan mereka mempertanyakan kredibilitas Anda? 
Saya sudah bertemu (mereka) dalam beberapa forum. Dan saya sampaikan kepada kawan-kawan, bahwa Anda boleh merasa 'marah' kepada saya, it's OK. No problem. Ini politik.
Saya harus bilang kepada mereka 'hari saya lakukan sesuatu, tidak mustahil besok Anda akan melakukan hal yang sama'. Tapi ingat, dalam tujuan dan pikiran yang sama, yaitu untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia.
Jadi, apa yang salah dengan langkah saya. Apa yang membuat kalian marah dengan saya.
Tidak lama setelah nama Anda disebut masuk sebagai staf ahli bidang komunikasi politik, Anda langsung melakukan semacam counter terhadap narasi-narasi yang Anda anggap sebagai fitnah terhadap Presiden Joko Widodo, dan bahkan Anda menyebut nama Amien Rais. Apakah tugas-tugas seperti itu yang akan Anda lakukan?

Saya bertugas di bagian komunikasi politik. Jadi selain membuat analisa tentang sejumlah kebijakan politik, kemudian bagaimana membangun narasi politik dan komunikasi politik.
Tentu saja, saya ditugaskan bersama kawan-kawan yang lain lagi. Saya ditunjuk oleh bapak Presiden untuk dan atas nama pemerintah, untuk menyampaikan kepada publik tentang hasil capaian-capaian pemerintah.
Karena itulah ketika saya mendengar sejumlah pernyataan-pernyataan dari siapa saja, yang tidak sesuai dengan fakta dan data, maka sebagai orang yang diamanahkan untuk melakukan kerja-kerja komunikasi-komunikasi politik itu, saya ingin mengatakan bahwa harus meluruskan, dan sekaligus menyampaikan pesan-pesan itu.
Karena, kalau melakukan kritik terhadap pemangku kekuasaan negara itu tanpa data dan fakta, itu adalah fitnah, itu bisa membuat penyesatan.
Jadi sebagai pejabat publik yang diangkat dari proses politik, apa yang salah kalau saya menyampaikan counter atau meluruskan, atau meminta fakta dan data.
Kembali lagi ke soal pemilihan Anda menjadi staf ahli KSP. Sebagian analis mengatakan pilihan jatuh kepada Anda karena latar belakang Anda dianggap sebagai simbol dari kelompok Islam. Apakah Anda tidak membantah kalau ada yang menilai Anda dipilih untuk menunjukkan bahwa pemerintah tidak memusuhi kelompok-kelompok Islam?
Tidak. Itu tidak benar. Karena pak Jusuf Kalla (Wakil Presiden) sendiri adalah simbol keberadaan umat (Islam) yang luar biasa. Pak Jusuf Kalla itu dari Pelajar Islam Indonesia (PII).
Pak Jusuf Kalla itu tokoh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pak Jusuf Kalla itu ibunya dari Muhammadiyah, Aisyiyah, dan ayahnya dari Nahdlatul Ulama (NU). Kurang apa Pak Jusuf Kalla. Bagaimana mungkin pemerintah anti kepada Islam. Saya tidak percaya. Ini adalah data yang bulshit, bohong, sesat dan menyesatkan.
Kalau saya, memang saya ini punya latar belakang yang panjang. Selain saya dari Pelajar Islam Indonesia (PII), saya dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Dan hari ini, saya menjadi ketua umum Badan Koordinasi mubalig seluruh Indonesia (Bakomubin).Bakomubin, yang saya pimpin, jadi media pertemuan antara pemangku  kuasa negara (umarah), ulama dan umat. Selama ini kita dari mimbar ke  mimbar, berteriak, mengontrol, kemudian membicarakan mengenai  kepentingan umat dan negara, tapi dia terbentur sampai dinding-dinding  masjid dan halaman masjid.
Kalau hari ini saya bisa bisik kepada presiden. Ketika Profesor  Doktor Dawam Rahardjo meninggal dunia, pagi-pagi saya datang ke Istana,  kemudian saya minta izin 'bapak, kalau bapak berkenan, dan ada waktu,  saya merasa bapak layak untuk bisa melayat beliau'.
Banyak lagi agenda keumatan yang saya kira selama ini tidak  sampai atau selama ini tidak ada yang bisa menjelaskan dengan baik  kepada beliau, atau selama ini hanya dihadiri oleh wakil presiden,  beliau bisa hadiri.
Dengan lebih tegas, berarti kehadiran Anda bisa dikatakan  untuk menjembatani antara apa yang disebut umat Islam dengan pemerintah  atau Presiden? 
Yang lebih tepat, menjadi penyambung lidah umat. Paling tidak  penyambung lidah mubalig. Saya meneruskan pesan-pesan umat kepada  presiden.
Kalau berangkat dari pernyataan Anda bahwa selama ini suara  umat Islam terbentur dinding masjid, dan Anda berusaha memerankan  tanggungjawab itu, berarti memang benar ada anggapan bahwa pemerintah  kurang dekat dengan kelompok Islam? 
Tidak, tapi kalau pemerintah itu anti umat Islam, itu pasti tidak benar. Itu narasi yang menyesatkan. Karena...
Anda mengatakan seperti itu karena Anda saat ini menjadi staf ahli Presiden? 
Oh, tidak. Sejak awal saya mempunyai pandangan seperti itu.  Dan, kalau orang bicara tentang umat, memang Jokowi itu umat nabi siapa?  Dia umat nabi Muhammad SAW. Dia bersyahadat sama dengan kita. Beliau  ruku' dan sujud, berpuasa. Kualitas keimanannya dan ibadahnya, tidak  kalah dahsyat daripada kita-kita.
Karena itu saya selalu mengatakan ketika kita menggunakan idiom  umat itu, maka tidak boleh ada orang yang melahirkan kebencian,  permusuhan dan adu domba terkait pemerintah.
Pemimpin, pemerintah itu tidak boleh dibenci. Enggak boleh  dimusuhi. Sebaliknya pemerintah itu tidak boleh memusuhi rakyatnya. Dan  hari ini seperti ditunjukkan oleh Presiden Joko Widodo adalah bagaimana  mendatangi umat.
Karena itu, pemerintah harus diajak bicara. Kalau dia tidak bisa  mendatangi rakyat dan umat, maka umat berbondong-bondong, Boleh pilih  beberapa orang untuk representasinya, datang dan bicara dengan presiden.
Tetapi kalau dari luar, kemudian difitnah, kemudian dia dihujat, dicaci maki, dia dibully, beliau 'kan manusia biasa.
Saya, Alhamdullilah, diamanahkan sebagai orang di sekitar beliau,  ada di sekitar istana, hari-hari, saya bisa mendengarkan dan merasakan  apa yang beliau sampaikan kepada publik.
Jadi, jika dikatakan pemerintah tidak memusuhi umat Islam, menurut Anda, siapa yang membuat dan menggulirkan isu itu?
Saya kira kita tidak bisa membendung kemajuan media sosial hari ini.

Orang membuat berita viral di mana-mana, dengan mengaitkan  data-data yang akurasinya lemah, tidak ada bukti-bukti autentik,  kemudian menuduh presiden dengan komunis, dan lain-lain, mengangkat  sejumlah orang yang mereka menyebutkan tidak memiliki keberpihakan  kepada Islam.
Saya kira kalau bangsa dan umat ini masih terus membicarakan  mengenai persoalan-persoalan yang terkesan mengotak-ngotakkan, membuat  kotak-kotak, yang memisahkan antara umat yang satu dengan yang lain,  bangsa ini tidak akan maju.
Sementara bangsa ini besar, layak dan dibesarkan, karena banyak  saudara-saudara kita dari Katolik, Protestan, Hindhu, Buddha dan  Konghucu, suku bangsa yang luar biasa banyaknya. Kekuataan itulah yang  menjadi pengayaan bangsa Indonesia.
Apakah kubu oposisi yang melontarkan isu tersebut untuk memelihara sekaligus mendapat suara dari kelompok Islam? 
Hebat! Anda paten sudah punya bayangan seperti itu. Bagus! Karena menuju 2019, segala macam orang bisa melakukan cara.
Dari #gantipresiden di acara car free day. Bayangkan orang buka    puasa dengan takjil sticker ganti presiden 2019. Ini sekarang mudik    lagi, dengan #mudikgantipresiden2019. Mungkin nanti bikin lagi tarawih    #gantipresiden, seterusnya dan seterusnya.
Sabar dong, sabar. Memang ada batas waktu di mana orang mendaftar    jadi calon presiden, sampai batas mana orang boleh kampanye, dan dari    batas mana orang mulai boleh berteriak. Kalau ini, rakyat atau umat    sudah mengetahuinya.
Kita umat mayoritas di republik ini. Bisa bapak bayangkan ada  orang   buka puasa, takjilnya ditempelin dengan sticker  #gantipresiden2019.  Apa  ini? Bangsa ini kan dibangun dengan tata krama  yang luar biasa.
Orang Jawa menyebutkan toto kromo. Kita menyebutkan ahlakul karimah yang bagus. Sabar. Kenapa mau berkuasa kok kebelet banget.
Kalau ada yang mengatakan upaya itu dilakukan karena Islam  tidak   bisa dipisahkan dengan politik, dalam rangka untuk mengkritik    pemerintah. Bukankah itu wajar saja? 
Ya, saya setuju, Islam, politik dan negara tidak bisa  dipisahkan   antara satu dengan yang lain. Tapi Anda harus jujur, Anda  tidak boleh   fitnah. Anda tidak boleh menyebarkan berita-berita bohong,    berita-berita dengan penuh kebencian.
Siapapun Anda, yang mau berdiri dan mau jadi calon presiden, atau    tim manapun, silakan saja. Tapi Anda tidak boleh membuat fitnah di    kalangan umat dan rakyat Indonesia.Anda yang pernah bergabung dengan tim sukses capres Prabowo   Subianto, apakah Anda mengakui kalau isu seperti itu sengaja diembuskan   atau dibesarkan untuk menyudutkan lawan politik? 
Kalau dulu ada saya dan beberapa kawan-kawan, kita bisa  melakukan  dengan langkah-langkah dan kerja-kerja untuk menghentikan  permusuhan,  hentikan kebencian, hentikan menyebarkan fitrnah dan  cara-cara bohong.  Saya tidak tahu kalau sekarang. karena banyak anak  muda yang paham  tentang IT dan medsos.
Tapi saya mau bilang, bahwa cara-cara kerja ini, saya mengerti,  saya  tahu. Bukan berarti kami tidak tahu, bukan berarti kami tidak bisa.   Kami bisa. Tapi kami orang-orang yang memiliki peradaban, punya agama,   punya pengetahuan, punya sistem nilai.
Saya kira tidak boleh melakukan hal-hal yang bisa meninggalkan   legacy yang buruk, meninggalkan kesan-kesan yang tidak benar, memberikan   pendidikan yang buruk bagi generasi kita dalam tata cara menyampaikan   aspirasi dan memberikan sokongan kepada siapa yang kita calonkan.
Cara-cara yang penuh fitnah dan kebohongan, data-data palsu,   data-data tentang menyudutkan yang satu dan mengangkat yang lain, itu   data-data yang penuh kebencian. Itu tidak boleh terjadi di negeri ini.

Setelah Anda dipilih sebagai staf ahli komunikasi politik di   Kantor staf kepresidenan, apakah Anda menempatkan diri Anda dalam kubu   oposisi yang dulu Anda dukung? 
Ah, saya berkali-kali datang buka puasa dengan mereka. Saya   berkali-kali duduk baik-baik dan berbicara dengan mereka. Saya   bertelepon, saya bertemu mas Bowo (Prabowo Subianto)...
Apa yang Anda katakan kepada Prabowo Subianto? 
'Apa kabar, mas?' 'Sehat?' 'Sehat'. 'Gimana Li?' 'Baik'.  Boleh tanya  (ke Prabowo Subianto), boleh interviu. Saya ketemu dalam  forum-forum  yang juga bermartabat. Dengan kawan-kawan semua, tidak ada  masalah.  Karena yang mereka pikirkan adalah masa depan bangsa dan  Indonesia.
Saya berpikir tentang masa depan bangsa dan Indonesia. Mereka   mempersiapkan calon presiden yang mungkin mereka anggap baik untuk   kepentingan masa depan bangsa, dan saya pun mengatakan: Presiden Jokowi   telah melaksanakan banyak, banyak, banyak agenda penting.
Infrastruktur itu adalah mimpi rakyat Indonesia berpuluh-puluh  tahun  yang baru terlaksana pada periode presiden Joko Widodo. Dan itu  saya  cerita pada mereka.
Usai memberikan jawaban pertanyaan ini, Ali Mochtar Ngabalin mengemukan pernyataan sebagai berikut:
Bung Heyder Affan, Anda ingat baik-baik, dan catat dengan   sejujur-jujurnya. Saya datang ke istana bukan pakai surat, bukan saya   datang dengan mengajukan permohonan. No way! Saya ditelpon oleh Presiden   Joko Widodo.
Presiden langsung menelpon Anda? 
Saya ditelpon. Saya bicara dengan Menteri Sekretaris Negara, saya diundang ke istana...
Apa yang dinyatakan Presiden dalam telpon itu? 
Ya, saya diminta untuk 'tolong bantu saya Pak Ngabalin'.  Kepala  negara yang minta, bung Heyder! Tentu dia butuh orang mungkin  untuk  mengkomunikasikan, menyampaikan capaian-capaian hasil pekerjaannya   kepada publik, kepada umat dan lain-lain.
Dan Anda ingat baik-baik, beliau menelpon saat puasa tahun lalu   (2017). Saya beberapa kali ketemu dulu, berbicara dulu. Nanti pada tahun   1439 Hijriyah (2018 Masehi), baru saya terima. Bukan ujuk-ujuk seperti   orang tidak punya apa-apa, kemudian langsung datang. Saya tidak  seperti  itu.
Kalau beliau-beliau mensearching siapa Ali Mochtar Ngabalin,  latar  belakangnya, keluarganya, semuanya. Saya pun juga meminta  pertolongan  kepada Allah, berdiskusi dengan teman-teman di Badan  Koordinasi Mubalig  seluruh Indonesia, dengan keluarga, dengan sahabat,  dengan semua.
Saya mesti bertanya. Kalau suatu waktu saya begini, 'emang ente   mimpi?' Oh, enggak. Saya sudah begini, saya sudah membangun komunikasi.   Siapa tahu saya sewaktu-waktu saya diminta, saya sudah bicarakan dengan   antum, saya sudah bicarakan dengan antum.
Tahun lalu yang menelpon Anda, juga Presiden Joko Widodo secara langsung? 
Ya, beliau telepon saya.
Dan mengapa Anda membutuhkan sekitar satu tahun untuk mengiyakan permintaan presiden? 
Sebagai orang beragama, sebagai orang Islam, sebagai orang  beriman,  saya harus meminta petunjuk dari Allah. Saya harus  beristiharah. Saya  harus berkomunikasi dengan banyak orang yang saya  rasa dekat. Dengan  komunitas yang saya pimpin, badan koordinasi mubalig  seluruh Indonesia.  Tiga kali mereka memutuskan 'pergilah wahai  saudaraku'.
Tentu Anda berkomunikasi dengan Partai Golkar juga? 
Saya bicara dengan Partai Golkar. Saya bicara dengan pimpinan  partai  Golkar. Saya ngomong dengan pak Novanto (eks Ketum Partai  Golkar, kini  narapidana kasus korupsi e-KTP). Presiden meminta pandangan  Pak  Novanto, Presiden meminta keterangan Sekjen partai Golkar (waktu  itu)  Idrus Marham.
Bukan ujuk-ujuk. Bukan seperti orang yang kaget dengan mimpi dengan sebuah kekuasaan, kemudian datang.
Di depan bapak Presiden, saya bilang: 'Nyawa saya pertaruhkan  kepada  bapak sepanjang kebenaran dan kejujuran yang bapak laksanakan'.  Anda  boleh tanya, boleh interviu beliau, tentang pernyataan saya  tersebut.Di depan beliau saya ngomong. Wallahi (atas nama Tuhan)! Saya  tidak   bercanda. Bung, ini Ali Muchtar, saya tidak main-main dengan  urusan   kehidupan, karena saya percaya selesaikan urusanmu, dan  sempurnakan   urusanmua dengan Allah SWT. Duniamu nanti Allah yang urus.  Saya tidak   pernah ragu tentang kebenaran yang saya ambil. Itulah,  makanya saya   tidak pernah bimbang.
Semua orang boleh membully saya, tapi saya punya komunikasi  dengan   Tuhan, dengan Allah SWT. Saya tahu langkah saya ini sebuah  langkah yang   saya tidak pernah ragu.
Anda identik dengan surban yang selalu Anda kenakan di hadapan umum. Sejak kapan Anda mengenakannya? 
Sudah lama. Topi ini menjadi gambaran dari orang tua saya,  bahwa dia   punya harapan agar saya bisa menjadi ulama, menjadi seorang  mubalig,   karena ketika saya keluar dari Fakfak, Papua Barat, kami dari  keluarga   bangsawan. Kami dari keluarga punya nilai spiritual yang  tinggi.
Saya dibesarkan dalam kultur yang penuh hukum adat dan hukum  Islam   di Papua Barat dan di Pulau Key, Maluku Tenggara. Dan kami berasal  dari   latar belakang keluarga yang jauh dari Seririt, Singaraja, dari   Seram,  dari Maluku, dari Buton, Sulawesi, Makasar, Bugis. Seluruh orang    melekat darahnya pada saya.
Mengapa harus mengenakan surban. Bukankah untuk menjadi ulama tidak harus bersurban? 
Oh, ulama itu yang dinilai seberapa jauh ketajaman ilmunya,  akhlak   dan moralnya. Dan kedua, seberapa jauh mereka bisa melakukan    sosialisasi, menyebarkan pengetahuan yang mereka miliki.
Banyak orang menggunakan surban, jambang, jenggot, cukur kumis,  tapi   kalau tidak bisa menampakkan dirinya sebagai orang yang    mempertanggungjawabkan keilmuannya, ilmunya dipakai untuk membohongi    orang, ilmunya dipakai untuk menghalalkan segala cara, itu namanya ulama    sesat dan menyesatkan umat.
Ada yang disebut ulama su', ulama yang memakai segala atribut    keilmuannya untuk kepentingan dunia. Insya Allah, saya tidak masuk dalam    wilayah itu.
Dan ketika Anda mendapatkan gelar Doktor di sebuah perguruan tinggi, Anda bersedia membuka surban? 
Saya membuka itu agar mereka melihat apakah kepala saya itu  botak   atau tidak. Dan saya tunjukkan kepada mereka, ini kepala saya (Ali    Mochtar kemudian melepaskan surbannya dan menunjukkan rambutnya),    rambut saya masih bagus.
Kalau saya buka, dan semua orang histeris, ternyata saya ganteng 'kan... ha, ha, ha.</content:encoded></item></channel></rss>
