<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kesaksian Siswa SMA yang Selamat dari Insiden Tenggelamnya KM Sinar Bangun</title><description>Dengan berjuangan keras, Jamuda berhasil selamat dari insiden kapal tenggelam di Danau Toba.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/06/20/340/1911964/kesaksian-siswa-sma-yang-selamat-dari-insiden-tenggelamnya-km-sinar-bangun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/06/20/340/1911964/kesaksian-siswa-sma-yang-selamat-dari-insiden-tenggelamnya-km-sinar-bangun"/><item><title>Kesaksian Siswa SMA yang Selamat dari Insiden Tenggelamnya KM Sinar Bangun</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/06/20/340/1911964/kesaksian-siswa-sma-yang-selamat-dari-insiden-tenggelamnya-km-sinar-bangun</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/06/20/340/1911964/kesaksian-siswa-sma-yang-selamat-dari-insiden-tenggelamnya-km-sinar-bangun</guid><pubDate>Rabu 20 Juni 2018 16:17 WIB</pubDate><dc:creator>Arie Dwi Satrio</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/06/20/340/1911964/kesaksian-siswa-sma-yang-selamat-dari-insiden-tenggelamnya-km-sinar-bangun-ARkf9sFADm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Proses pencarian korban kapal tenggelam di Danau Toba. (Foto: Antara/Irsan Mulyadi)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/06/20/340/1911964/kesaksian-siswa-sma-yang-selamat-dari-insiden-tenggelamnya-km-sinar-bangun-ARkf9sFADm.jpg</image><title>Proses pencarian korban kapal tenggelam di Danau Toba. (Foto: Antara/Irsan Mulyadi)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Jamuda Sinaga, seorang siswa SMA asal Nagori Togu Domu Nauli, Simalungun, Sumatera Utara, berhasil lolos dalam kecelakaan Kapal Motor (KM) Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba, pada Senin, 18 Juni 2018.
Jamuda berhasil selamat setelah berjuang melawan ombak yang cukup tinggi di Danau Toba, pada hari kejadian. Dia pun masih terlihat trauma setelah kapal yang ditumpanginya diterjang ombak dan akhirnya tenggelam ke dasar perairan Danau Toba.
Dia menceritakan awal mula menumpangi KM Sinar Bangun, kapal tersebut memang sudah kelebihan kapasitas.&amp;lrm; Namun, karena telah lama menunggu di Pelabuhan Simanindo, akhirnya dia memutuskan untuk menyeberang ke Tigaras dengan menggunakan kapal nahas itu.
&quot;Karena mungkin kapal terakhir anak buah kapal KM Sinabung memaksa bahwa masih ada tempat, sepeda motor tiga yang kami bawa, dua telah masuk satu sepeda motor tidak bisa diangkut. Akhirnya, karena dipaksa, sepeda motor lainnya berhasil masuk ke lambung kapal. Kereta (motor) kami akhirnya diangkut,&amp;rdquo; ujarnya dengan terbata-bata, berdasarkan informasi yang dihimpun MNC Media.
Jamuda sempat mengenang kembali sebelum KM Sinar Bangun &amp;lrm;tenggelam ke dasar Danau Toba. Dia berangkat bersama kakak dan adiknya. Nahas, kedua saudaranya itu tidak bisa diselamatkan dan hilang ke dasar Danau Toba.

&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/06/20/50975/258382_medium.jpg&quot; alt=&quot;Basarnas Kembali Cari Korban Kapal Tenggelam di Danau Toba&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Menurutnya, setelah KM Sinar Bangun melepaskan jangkarnya, kapal mulai bergerak dari Pelabuhan Simanindo menuju Pelabuhan Tigaras dengan jarak tempuh sekira 45 menit.
&quot;Setelah jalan, mulai ke tengah, cuaca semakin memburuk. Awan gelap dan angin mulai kencang, ombak semakin tinggi mengempas badan kapal. Tepat di pertengahan antara Simanindo dan Tigaras, kapal mulai oleng terhempas ombak,&quot; serunya.
Setelah itu, sambung Jamuda, kapal mulai &amp;lrm;tidak dapat dikendalikan. Semula, nakhoda sempat mengikuti arus ombak dengan meluruskan kemudi KM Sinar Bangun. Namun sial, kapal terlalu berat alias kelebihan muatan yang berakibat masuknya air danau ke dalam geladak kapal.
&quot;Tingginya ombak mengempas badan kapal berulang kali membuat kapal oleng dan langsung terbalik. Kalau enggak salah ingat, hitungan menit , kapal yang kami tumpangi tenggelam. Karena aku masih sempat menolong ito (kakak) dan adikku naik ke atas kapal yang terbalik,&quot; ungkapnya berkaca-kaca mengingat kejadian tragis yang menimpa keluarganya.
Jamuda sempat menolong kedua saudaranya untuk naik keatas kapal sesaat kapal sudah mulai tenggelam. Namun, ketika seluruh badan kapal mulai tenggelam, Jamuda mencoba menyelamatkan diri dengan keahliannya berenang.
Namun tak disangka, saat sedang menyelamatkan kedua saudaranya untuk  tetap mengapung, kaki Jamuda ditarik oleh penumpang lain. Jamuda pun  kembali tenggelam. Jamuda tetap berusaha untuk kembali mengapung.
Dengan sekuat tenaga, Jamuda menendang penumpang yang menarik kakinya  dari dalam danau. Saat itu, pergulatan sempat terjadi dengan para  penumpang lain. Berkat keahlian renangnya, Jamuda berhasil kembali  muncul ke permukaan.&amp;lrm; &quot;Saat itu ombak masih begitu kencangnya,&quot; jelas  Jamuda.
Dengan napas yang mulai tersengal-sengal, Jamuda masih berkeyakinan  bisa menyelamatkan kedua adiknya. &amp;lrm;Sebelum berhasil naik ke permukaan,  kaki remaja ini sempat terjepit sepeda motor yang ikut tenggelam. Tapi  dia bisa melepaskan kakinya dari motor itu.
&quot;Kakiku terjepit sepeda motor, walau aku panik, akhirnya kakiku yang  terjepit, bisa lepas, dan aku mencari cahaya di atas (permukaan) sekuat  tenaga aku berupaya naik, dan akhirnya aku berhasil,&quot; bebernya.

&quot;Masih kulihat ito ku dan tangan mereka ku pegang supaya bisa  mengapung ku bawa ke badan kapal yang terbalik. Tapi, saat itu kaki ku  tiba-tiba ditarik dari dalam jadinya aku tenggelam lagi. Waktu aku naik,  ito ku sudah ga nampak lagi,&quot; ujarnya terbata-bata dengan dialek  bataknya.
Jamuda kembali terdiam. Dia mengenang kembali kejadian tragis pada  Senin lalu. Remaja itu pun kembali bercerita. Sesaat setelah dua  saudaranya tenggelam&amp;lrm;, dia masih melihat banyak penumpang yang berusaha  mengapung.
&quot;Banyak juga penumpang yang masih berusaha mengapung,&quot; jelasnya.

&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/06/20/50975/258382_medium.jpg&quot; alt=&quot;Basarnas Kembali Cari Korban Kapal Tenggelam di Danau Toba&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Tak berselang lama, bantuan pun datang. Saat itu, kapal pertama yang  memberikan bantuan yakni, KM Sumut I. Kapal itu berupaya mendekati  korban yang masih terapung.
&quot;Saat itu angin dan ombak sangat kencang jadi jarak kami dengan kapal  ferry cukup jauh, setelah dilemparkan pelampung oleh ABK ke dalam  danau, aku berupaya berenang mengejar pelampung itu. Kalau enggak salah  ingat ada tiga orang kami yang berenang, berupaya meraih pelampung yang  berulang kali dilempar oleh ABK,&quot; cerita dia.
&quot;Setelah dapat ku raih pelampung yang dilempar ABK, aku ditarik, naik ke kapal feri,&quot; &amp;lrm;sambungnya.
Setibanya di KM Sumut I, Jamuda mengaku tidak mengetahui kondisi  penumpang lainnya. Pun demikian terhadap kondisi kedua saudaranya yang  sedari awal sama-sama menumpang KM Sinar Bangun.
&quot;Aku enggak tahu nasib mereka. Ito ku aja sampai saat ini ga tau  dimana, apa mereka selamat atau tidak,&quot; tutupnya dengan nada sendu  menahan air mata.
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Jamuda Sinaga, seorang siswa SMA asal Nagori Togu Domu Nauli, Simalungun, Sumatera Utara, berhasil lolos dalam kecelakaan Kapal Motor (KM) Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba, pada Senin, 18 Juni 2018.
Jamuda berhasil selamat setelah berjuang melawan ombak yang cukup tinggi di Danau Toba, pada hari kejadian. Dia pun masih terlihat trauma setelah kapal yang ditumpanginya diterjang ombak dan akhirnya tenggelam ke dasar perairan Danau Toba.
Dia menceritakan awal mula menumpangi KM Sinar Bangun, kapal tersebut memang sudah kelebihan kapasitas.&amp;lrm; Namun, karena telah lama menunggu di Pelabuhan Simanindo, akhirnya dia memutuskan untuk menyeberang ke Tigaras dengan menggunakan kapal nahas itu.
&quot;Karena mungkin kapal terakhir anak buah kapal KM Sinabung memaksa bahwa masih ada tempat, sepeda motor tiga yang kami bawa, dua telah masuk satu sepeda motor tidak bisa diangkut. Akhirnya, karena dipaksa, sepeda motor lainnya berhasil masuk ke lambung kapal. Kereta (motor) kami akhirnya diangkut,&amp;rdquo; ujarnya dengan terbata-bata, berdasarkan informasi yang dihimpun MNC Media.
Jamuda sempat mengenang kembali sebelum KM Sinar Bangun &amp;lrm;tenggelam ke dasar Danau Toba. Dia berangkat bersama kakak dan adiknya. Nahas, kedua saudaranya itu tidak bisa diselamatkan dan hilang ke dasar Danau Toba.

&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/06/20/50975/258382_medium.jpg&quot; alt=&quot;Basarnas Kembali Cari Korban Kapal Tenggelam di Danau Toba&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Menurutnya, setelah KM Sinar Bangun melepaskan jangkarnya, kapal mulai bergerak dari Pelabuhan Simanindo menuju Pelabuhan Tigaras dengan jarak tempuh sekira 45 menit.
&quot;Setelah jalan, mulai ke tengah, cuaca semakin memburuk. Awan gelap dan angin mulai kencang, ombak semakin tinggi mengempas badan kapal. Tepat di pertengahan antara Simanindo dan Tigaras, kapal mulai oleng terhempas ombak,&quot; serunya.
Setelah itu, sambung Jamuda, kapal mulai &amp;lrm;tidak dapat dikendalikan. Semula, nakhoda sempat mengikuti arus ombak dengan meluruskan kemudi KM Sinar Bangun. Namun sial, kapal terlalu berat alias kelebihan muatan yang berakibat masuknya air danau ke dalam geladak kapal.
&quot;Tingginya ombak mengempas badan kapal berulang kali membuat kapal oleng dan langsung terbalik. Kalau enggak salah ingat, hitungan menit , kapal yang kami tumpangi tenggelam. Karena aku masih sempat menolong ito (kakak) dan adikku naik ke atas kapal yang terbalik,&quot; ungkapnya berkaca-kaca mengingat kejadian tragis yang menimpa keluarganya.
Jamuda sempat menolong kedua saudaranya untuk naik keatas kapal sesaat kapal sudah mulai tenggelam. Namun, ketika seluruh badan kapal mulai tenggelam, Jamuda mencoba menyelamatkan diri dengan keahliannya berenang.
Namun tak disangka, saat sedang menyelamatkan kedua saudaranya untuk  tetap mengapung, kaki Jamuda ditarik oleh penumpang lain. Jamuda pun  kembali tenggelam. Jamuda tetap berusaha untuk kembali mengapung.
Dengan sekuat tenaga, Jamuda menendang penumpang yang menarik kakinya  dari dalam danau. Saat itu, pergulatan sempat terjadi dengan para  penumpang lain. Berkat keahlian renangnya, Jamuda berhasil kembali  muncul ke permukaan.&amp;lrm; &quot;Saat itu ombak masih begitu kencangnya,&quot; jelas  Jamuda.
Dengan napas yang mulai tersengal-sengal, Jamuda masih berkeyakinan  bisa menyelamatkan kedua adiknya. &amp;lrm;Sebelum berhasil naik ke permukaan,  kaki remaja ini sempat terjepit sepeda motor yang ikut tenggelam. Tapi  dia bisa melepaskan kakinya dari motor itu.
&quot;Kakiku terjepit sepeda motor, walau aku panik, akhirnya kakiku yang  terjepit, bisa lepas, dan aku mencari cahaya di atas (permukaan) sekuat  tenaga aku berupaya naik, dan akhirnya aku berhasil,&quot; bebernya.

&quot;Masih kulihat ito ku dan tangan mereka ku pegang supaya bisa  mengapung ku bawa ke badan kapal yang terbalik. Tapi, saat itu kaki ku  tiba-tiba ditarik dari dalam jadinya aku tenggelam lagi. Waktu aku naik,  ito ku sudah ga nampak lagi,&quot; ujarnya terbata-bata dengan dialek  bataknya.
Jamuda kembali terdiam. Dia mengenang kembali kejadian tragis pada  Senin lalu. Remaja itu pun kembali bercerita. Sesaat setelah dua  saudaranya tenggelam&amp;lrm;, dia masih melihat banyak penumpang yang berusaha  mengapung.
&quot;Banyak juga penumpang yang masih berusaha mengapung,&quot; jelasnya.

&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/06/20/50975/258382_medium.jpg&quot; alt=&quot;Basarnas Kembali Cari Korban Kapal Tenggelam di Danau Toba&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Tak berselang lama, bantuan pun datang. Saat itu, kapal pertama yang  memberikan bantuan yakni, KM Sumut I. Kapal itu berupaya mendekati  korban yang masih terapung.
&quot;Saat itu angin dan ombak sangat kencang jadi jarak kami dengan kapal  ferry cukup jauh, setelah dilemparkan pelampung oleh ABK ke dalam  danau, aku berupaya berenang mengejar pelampung itu. Kalau enggak salah  ingat ada tiga orang kami yang berenang, berupaya meraih pelampung yang  berulang kali dilempar oleh ABK,&quot; cerita dia.
&quot;Setelah dapat ku raih pelampung yang dilempar ABK, aku ditarik, naik ke kapal feri,&quot; &amp;lrm;sambungnya.
Setibanya di KM Sumut I, Jamuda mengaku tidak mengetahui kondisi  penumpang lainnya. Pun demikian terhadap kondisi kedua saudaranya yang  sedari awal sama-sama menumpang KM Sinar Bangun.
&quot;Aku enggak tahu nasib mereka. Ito ku aja sampai saat ini ga tau  dimana, apa mereka selamat atau tidak,&quot; tutupnya dengan nada sendu  menahan air mata.
</content:encoded></item></channel></rss>
