<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Berita Palsu Via WhatsApp Picu Maraknya Aksi Main Hakim di India </title><description>Pesan dan video palsu yang beredar melalui WhatsApp telah menyebabkan kematian lebih dari selusin orang di India.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/06/26/18/1914104/berita-palsu-via-whatsapp-picu-maraknya-aksi-main-hakim-di-india</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/06/26/18/1914104/berita-palsu-via-whatsapp-picu-maraknya-aksi-main-hakim-di-india"/><item><title>Berita Palsu Via WhatsApp Picu Maraknya Aksi Main Hakim di India </title><link>https://news.okezone.com/read/2018/06/26/18/1914104/berita-palsu-via-whatsapp-picu-maraknya-aksi-main-hakim-di-india</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/06/26/18/1914104/berita-palsu-via-whatsapp-picu-maraknya-aksi-main-hakim-di-india</guid><pubDate>Selasa 26 Juni 2018 12:18 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/06/26/18/1914104/berita-palsu-via-whatsapp-picu-maraknya-aksi-main-hakim-di-india-wNDzNh8iSl.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/06/26/18/1914104/berita-palsu-via-whatsapp-picu-maraknya-aksi-main-hakim-di-india-wNDzNh8iSl.jpg</image><title>Foto: Reuters.</title></images><description>MUMBAI &amp;ndash; Pesan WhatsApp yang beredar di beberapa distrik di Negara Bagian Madya Pradesh, India telah mendorong 50 sampai 60 warga sebuah desa untuk memukuli dan menewaskan dua orang tak bersalah pekan lalu. Kedua pria malang tersebut dianiaya setelah dicurigai akan melakukan pembunuhan dan menjual bagian tubuh korban mereka seperti disebutkan dalam pesan palsu yang beredar.
Diwartakan Reuters, Selasa (26/6/2018), inti pesan WhatsApp dalam bahasa Hindi itu mengatakan bahwa ada 500 orang yang menyemar sebagai pengemis berkeliaran di wilayah tersebut agar dapat membunuh orang-orang dan menjual organ tubuh mereka. Pesan itu meminta penerimanya untuk meneruskan kepada teman dan keluarga mereka. Polisi telah mengatakan bahwa pesan itu adalah pesan palsu.
BACA JUGA: India Jadi Negara Pengguna Video Call WhatsApp Terbanyak
Berdasarkan keterangan Jayadevan A, Kepala Polisi Distrik Balaghat, tempat di mana kejadian itu terjadi, polisi telah menemukan tiga pria yang menyebarkan pesan palsu tersebut dan menangkap mereka.
Insiden itu terjadi hanya beberapa pekan setelah pesan WhatsApp palsu lain yang memperingatkan mengenai 400 pelaku perdagangan anak tiba di Kota Bengaluru, selatan India mengakibatkan penganiayaan dan pembunuhan terhadap seorang pekerja konstruksi yang berasal dari negara bagian lain. Pria berusia 26 tahun yang dicurigai sebagai penculik itu diserang saat dia sedang melintas di jalan.

Tahun ini, pesan palsu mengenai penculik anak di WhatsApp telah memicu penganiayaan massal terhadap lebih dari selusin orang di India dengan tiga di antaranya tewas. Sementara pesan palsu mengenai hal serupa di Facebook juga telah menyebabkan penganiayaan dan pembunuhan terhadap dua pria di timur India bulan ini.
India merupakan pasar terbesar WhatsApp dengan 200 juta pengguna.Dengan lebih dari satu miliar pelanggan telepon dengan akses ke data seluler murah, pesan-pesan berita palsu dan video dapat langsung menjadi viral, menjadi masalah tersendiri bagi Facebook sebagai pemilik WhatsApp.
Pesan dan video palsu tersebut menciptakan histeria massal dan meningkatkan ketegangan komunal di masyarakat. Ketegangan itu bisa meningkat antara komunitas mayoritas Hindu dan populasi minoritas Muslim tetapi juga di dalam hierarki kasta Hindu yang kaku di mana kasta Dalit yang berada di tingkat terbawah telah menghadapi serangan karena mencoba meningkatkan posisi mereka di masyarakat.

Data Kementerian Dalam Negeri federal menyebutkan bahwa pada 2017,  sedikitnya 111 orang tewas dan 2.384 luka-luka dalam 822 insiden komunal  di India. Tidak jelas apakah di antara insiden-insiden tersebut ada  yang dipicu oleh pesan-pesan berita palsu.
BACA JUGA: Gadis di India Bunuh Diri Usai Di-bully Lewat WhatsApp
&quot;Sayangnya beberapa orang juga menggunakan WhatsApp untuk menyebarkan  informasi salah yang berbahaya. Kami sedang meningkatkan upaya  pendidikan kami sehingga orang-orang tahu tentang fitur keamanan kami  dan cara mengetahui berita palsu dan hoax,&quot; demikian disampaikan  WhatsApp dalam pernyataannya.
Dua pejabat senior India mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah  telah menghubungi WhatsApp mengenai masalah ini, tetapi mereka tidak  diizinkan untuk mengungkapnya kepada publik. WhatsApp juga menolak untuk  mengungkap kontak yang mungkin mereka lakukan dengan Pemerintah India.
Dengan banyaknya berita palsu yang menyebar melalui media sosial  mungkin akan mendorong pemerintah untuk meminta jejaring sosial lebih  banyak membagi data pengguna mereka agar dapat digunakan polisi dalam  melacak para penyebar hoax. Namun, banyak pihak yang khawatir data  pengguna itu akan digunakan pemerintah untuk akses kepada para aktivis  dan lawan-lawan politik.
</description><content:encoded>MUMBAI &amp;ndash; Pesan WhatsApp yang beredar di beberapa distrik di Negara Bagian Madya Pradesh, India telah mendorong 50 sampai 60 warga sebuah desa untuk memukuli dan menewaskan dua orang tak bersalah pekan lalu. Kedua pria malang tersebut dianiaya setelah dicurigai akan melakukan pembunuhan dan menjual bagian tubuh korban mereka seperti disebutkan dalam pesan palsu yang beredar.
Diwartakan Reuters, Selasa (26/6/2018), inti pesan WhatsApp dalam bahasa Hindi itu mengatakan bahwa ada 500 orang yang menyemar sebagai pengemis berkeliaran di wilayah tersebut agar dapat membunuh orang-orang dan menjual organ tubuh mereka. Pesan itu meminta penerimanya untuk meneruskan kepada teman dan keluarga mereka. Polisi telah mengatakan bahwa pesan itu adalah pesan palsu.
BACA JUGA: India Jadi Negara Pengguna Video Call WhatsApp Terbanyak
Berdasarkan keterangan Jayadevan A, Kepala Polisi Distrik Balaghat, tempat di mana kejadian itu terjadi, polisi telah menemukan tiga pria yang menyebarkan pesan palsu tersebut dan menangkap mereka.
Insiden itu terjadi hanya beberapa pekan setelah pesan WhatsApp palsu lain yang memperingatkan mengenai 400 pelaku perdagangan anak tiba di Kota Bengaluru, selatan India mengakibatkan penganiayaan dan pembunuhan terhadap seorang pekerja konstruksi yang berasal dari negara bagian lain. Pria berusia 26 tahun yang dicurigai sebagai penculik itu diserang saat dia sedang melintas di jalan.

Tahun ini, pesan palsu mengenai penculik anak di WhatsApp telah memicu penganiayaan massal terhadap lebih dari selusin orang di India dengan tiga di antaranya tewas. Sementara pesan palsu mengenai hal serupa di Facebook juga telah menyebabkan penganiayaan dan pembunuhan terhadap dua pria di timur India bulan ini.
India merupakan pasar terbesar WhatsApp dengan 200 juta pengguna.Dengan lebih dari satu miliar pelanggan telepon dengan akses ke data seluler murah, pesan-pesan berita palsu dan video dapat langsung menjadi viral, menjadi masalah tersendiri bagi Facebook sebagai pemilik WhatsApp.
Pesan dan video palsu tersebut menciptakan histeria massal dan meningkatkan ketegangan komunal di masyarakat. Ketegangan itu bisa meningkat antara komunitas mayoritas Hindu dan populasi minoritas Muslim tetapi juga di dalam hierarki kasta Hindu yang kaku di mana kasta Dalit yang berada di tingkat terbawah telah menghadapi serangan karena mencoba meningkatkan posisi mereka di masyarakat.

Data Kementerian Dalam Negeri federal menyebutkan bahwa pada 2017,  sedikitnya 111 orang tewas dan 2.384 luka-luka dalam 822 insiden komunal  di India. Tidak jelas apakah di antara insiden-insiden tersebut ada  yang dipicu oleh pesan-pesan berita palsu.
BACA JUGA: Gadis di India Bunuh Diri Usai Di-bully Lewat WhatsApp
&quot;Sayangnya beberapa orang juga menggunakan WhatsApp untuk menyebarkan  informasi salah yang berbahaya. Kami sedang meningkatkan upaya  pendidikan kami sehingga orang-orang tahu tentang fitur keamanan kami  dan cara mengetahui berita palsu dan hoax,&quot; demikian disampaikan  WhatsApp dalam pernyataannya.
Dua pejabat senior India mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah  telah menghubungi WhatsApp mengenai masalah ini, tetapi mereka tidak  diizinkan untuk mengungkapnya kepada publik. WhatsApp juga menolak untuk  mengungkap kontak yang mungkin mereka lakukan dengan Pemerintah India.
Dengan banyaknya berita palsu yang menyebar melalui media sosial  mungkin akan mendorong pemerintah untuk meminta jejaring sosial lebih  banyak membagi data pengguna mereka agar dapat digunakan polisi dalam  melacak para penyebar hoax. Namun, banyak pihak yang khawatir data  pengguna itu akan digunakan pemerintah untuk akses kepada para aktivis  dan lawan-lawan politik.
</content:encoded></item></channel></rss>
