<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Apa yang Akan Dilakukan Jika Tahu Kapan dan Bagaimana Kita Mati?</title><description>Kilasan kata &quot;mati&quot; selama 42,8 milisekon di layar komputer sudah cukup untuk memengaruhi cara kita bertindak.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/07/07/18/1919201/apa-yang-akan-dilakukan-jika-tahu-kapan-dan-bagaimana-kita-mati</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/07/07/18/1919201/apa-yang-akan-dilakukan-jika-tahu-kapan-dan-bagaimana-kita-mati"/><item><title>Apa yang Akan Dilakukan Jika Tahu Kapan dan Bagaimana Kita Mati?</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/07/07/18/1919201/apa-yang-akan-dilakukan-jika-tahu-kapan-dan-bagaimana-kita-mati</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/07/07/18/1919201/apa-yang-akan-dilakukan-jika-tahu-kapan-dan-bagaimana-kita-mati</guid><pubDate>Sabtu 07 Juli 2018 10:28 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/07/07/18/1919201/apa-yang-akan-dilakukan-jika-kita-tahu-kapan-dan-bagaimana-akan-mati-bfhl1Sawjb.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Pemakaman (foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/07/07/18/1919201/apa-yang-akan-dilakukan-jika-kita-tahu-kapan-dan-bagaimana-akan-mati-bfhl1Sawjb.jpg</image><title>Ilustrasi Pemakaman (foto: Okezone)</title></images><description>MELIHAT kilasan kata &quot;mati&quot; selama 42,8 milisekon di layar komputer sudah cukup untuk memengaruhi cara kita bertindak dan terkadang berfikir untuk menjadi lebih baik.
Anda dan semua orang yang Anda kenal suatu hari nanti akan mati. Menurut beberapa pakar psikologi, kenyataan tak mengenakkan ini terus bercokol di pikiran kita dan pada akhirnya menjadi pendorong semua perbuatan kita, mulai dari beribadah, makan sayuran dan berolahraga, sampai memotivasi kita untuk punya anak, menulis buku, dan mencari teman.
&quot;Seringkali kita menjalani kehidupan sehari-hari tanpa sadar, tanpa berpikir tentang mortalitas kita,&quot; kata Chris Feudtner, seorang dokter anak dan pakar etika di Rumah Sakit Anak Philadelphia dan Universitas Philadelphia.
&quot;Kita bertahan dengan berfokus pada hal-hal yang lebih langsung di hadapan kita,&quot; lanjutnya.
Tapi, apa yang akan terjadi jika ambiguitas seputar akhir hidup kita tak ada lagi? Apa jadinya jika kita tiba-tiba diberi tahu tanggal pasti dan penyebab kematian kita?
Meski ini, mungkin saja tidak mungkin, pengkajian cermat akan skenario hipotetikal ini dapat mengungkap motivasi kita sebagai individu dan masyarakat dan memberi petunjuk tentang cara terbaik untuk menghabiskan waktu kita yang terbatas di Bumi ini.
Pertama-tama, mari tegaskan bahwa apa yang kita ketahui tentang kematian membentuk perilaku kita di dunia.
Pada tahun '80-an, para psikolog mulai tertarik dengan cara kita mengatasi kegelisahan dan rasa takut yang muncul dengan kesadaran bahwa kita sebenarnya tak lebih dari &quot;sepotong daging yang bernafas, buang air, dan berkesadaran, yang bisa mati kapan saja,&quot; seperti dijelaskan Sheldon Solomon, profesor psikologi di Skidmore College, New York.
&amp;nbsp;
Teori manajemen teror, istilah yang diciptakan Solomon dan koleganya untuk temuan mereka, berasumsi bahwa manusia menerima kepercayaan yang dibentuk oleh budaya bahwa dunia punya makna, misalnya, dan hidup kita punya nilai demi menepis teror eksistensial yang bisa membuatnya tak berdaya.
Dalam lebih dari 1.000 eksperimen, para peneliti menemukan bahwa, ketika diingatkan bahwa kita akan mati, kita semakin menggenggam teguh keyakinan kultural kita dan terdorong untuk meningkatkan rasa penghargaan-diri. Kita juga menjadi lebih defensif akan keyakinan kita dan bereaksi dengan permusuhan terhadap apapun yang mengancamnya.
Bahkan sugesti yang sangat halus akan kematian &amp;ndash; kilasan kata &quot;mati&quot; selama 42,8 milisekon di layar komputer, percakapan yang berlangsung di dekat rumah pemakaman &amp;ndash; sudah cukup untuk memicu perubahan perilaku.
Seperti apakah perubahan itu? Ketika diingatkan akan kematian, kita memperlakukan mereka yang serupa dengan kita dalam penampilan, kecenderungan politik, asal geografis, dan kepercayaan agama dengan lebih baik. Sebaliknya, kita menjadi lebih membenci dan bersikap kasar terhadap orang yang tidak memiliki kesamaan tersebut.
Kita menunjukkan komitmen yang lebih dalam kepada pasangan romantik yang memvalidasi cara pandang kita. Dan kita cenderung memilih pemimpin karismatik dan tegas, yang mendorong ketakutan pada orang luar.
Kita juga menjadi lebih nihilistik, minum-minum, merokok, belanja, dan makan berlebihan&amp;mdash;dan kita menjadi kurang peduli pada lingkungan.
Jika semua orang tiba-tiba mengetahui waktu dan cara hidup mereka berakhir, masyarakat dapat &amp;ndash; dan mungkin akan &amp;ndash; menjadi lebih rasis, xenofobik, kejam, gila perang, melukai-diri, dan merusak lingkungan daripada sekarang.
Tapi tidak selalu demikian. Peneliti seperti Solomon pada akhirnya berharap bahwa, dengan menyadari efek negatif yang disebabkan kegelisahan akan kematian, kita dapat mengatasinya.
Bahkan, para ilmuwan telah mencatat beberapa contoh orang-orang yang menentang tren ini.

Biksu Buddha di Korea Selatan, misalnya, tidak menanggapi pengingat kematian dengan cara-cara yang disebutkan tadi.
Para peneliti yang mengkaji gaya berpikir yang disebut &quot;refleksi kematian&quot; juga menemukan bahwa meminta orang-orang untuk memikirkan kematian, tidak hanya secara umum dan abstrak, tapi juga bagaimana tepatnya mereka akan mati dan apa dampak kematian tersebut pada keluarga mereka, menimbulkan reaksi yang sangat berbeda.
Dalam kasus itu, orang menjadi lebih altruistik&amp;mdash;bersedia, misalnya, untuk menyumbangkan darah terlepas dari ada-tidaknya kebutuhan sosial akan itu. Mereka juga lebih terbuka untuk merenungkan peran peristiwa positif maupun negatif dalam membentuk hidup mereka.
Menurut temuan ini, mengetahui tanggal kematian bisa mendorong kita untuk lebih berfokus pada tujuan hidup dan ikatan sosial alih-alih merespon dengan kepicikan.
Ini benar terutama &quot;jika kita mempromosikan strategi yang membantu kita menerima kematian sebagai bagian dari kehidupan, dan mengintegrasikan pengetahuan ini dalam perilaku dan pilihan kita sehari-hari,&quot; kata Eva Jonas, profesor psikologi di Universitas Salzburg,
&quot;Pengetahuan tentang keterbatasan hidup dapat meningkatkan persepsi akan nilai kehidupan dan mengembangkan rasa bahwa 'kita semua menumpang perahu yang sama', mendorong toleransi dan kasih sayang serta mengurangi respon defensif,&quot; Jonas menambahkan.Terlepas dari reaksi masyarakat secara keseluruhan, reaksi kita pada  tingkat individu terhadap pengetahuan akan kematian akan bervariasi,  tergantung pada kepribadian dan perincian peristiwa besar tersebut.
&quot;Semakin neurotik dan gelisah Anda, semakin pikiran Anda dipenuhi  dengan dan tidak dapat berfokus pada perubahan hidup yang bermakna,&quot;  kata Laira Blackie, asisten profesor psikologi di Universitas  Nottingham.
&quot;Tapi di sisi lain, jika Anda diberi tahu bahwa Anda akan mati dengan  tenang pada usia 90 tahun dalam tidur, maka Anda juga tidak akan  termotivasi untuk melakukan sesuatu&amp;mdash;bersikap 'Oh ya sudah.'
&amp;nbsp;
Tapi kapanpun ajal tiba, studi terhadap orang-orang dengan penyakit  mematikan dapat mengungkap respon tipikal terhadap kematian. Orang tua  dalam perawatan paliatif, kata Feudtner, seringkali mengalami dua fase  berpikir.
Pertama, mereka mempertanyakan premis diagnosis: apakah kematian  sudah tak terhindarkan atau masih bisa mereka lawan? Setelah itu, mereka  merenungkan bagaimana cara memanfaatkan waktu yang tersisa  sebaik-baiknya. Kebanyakan orang berakhir di salah satu kategori  tersebut.
Proses yang sama kemungkinan akan terjadi di bawah skenario  hipotetikal tentang tanggal kematian. &quot;Bahkan jika Anda tahu bahwa Anda  memiliki 60 tahun lagi, pada akhirnya harapan hidup itu akan diukur  dalam hitungan beberapa tahun, bulan, dan hari,&quot; kata Feudtner.
&quot;Ketika hitungan jam itu menjadi semakin dekat, saya pikir kita akan melihat orang-orang bergerak ke dua arah tersebut.&quot;
Mereka yang memilih untuk berusaha membatalkan kematian mereka akan  menjadi terobsesi untuk menghindarinya, terutama ketika ajalnya semakin  dekat.
Tapi orang lain mungkin akan melakukan sebaliknya&amp;mdash;berusaha  'mencurangi' kematian yang sudah pasti dengan mengakhiri hidup dengan  cara mereka sendiri. Ini memungkinkan mereka, untuk mengambil kendali  prosesnya.
Jonas dan para koleganya mendapati, misalnya, ketika mereka meminta  sejumlah orang untuk membayangkan bahwa mereka akan menderita kematian  yang perlahan dan menyakitkan karena suatu penyakit, mereka yang diberi  pilihan untuk menemui ajalnya sendiri &amp;ndash; mengakhiri hidup mereka dengan  cara yang mereka pilih &amp;ndash; merasa lebih memegang kendali dan menunjukkan  lebih sedikit bias terkait kegelisahan akan kematian.
Mereka yang memilih menerima kematian mereka juga akan bereaksi  dengan berbagai cara. Sebagian akan terdorong untuk memanfaatkan sisa  waktu mereka sebaik-baiknya. &quot;Saya pikir mengetahui waktu kematian akan  mengeluarkan sisi terbaik kita, memberi kita keleluasaan psikologis  untuk melakukan lebih bagi diri sendiri dan bagi keluarga serta  komunitas kita,&quot; kata Solomon.
Dan memang, ada buktidari studi terhadap korban trauma bahwa perasaan  tentang keterbatasan waktu yang kita punya dapat mendorong pengembangan  diri. Meski sulit untuk mengumpulkan data baseline dari orang-orang  itu, banyak yang menekankan bahwa mereka telah mengalami perubahan yang  mendalam dan positif.
&quot;Mereka mengaku menjadi lebih kuat, lebih spiritual, lebih menghargai  hidup, dan melihat lebih banyak kemungkinan positif,&quot; kata Blackie.  &quot;Mereka menyadari bahwa, 'Wow, hidup ini singkat, saya akan mati suatu  hari nanti, saya harus memanfaatkannya sebaik-baiknya.&quot;
&amp;nbsp;
Tapi tidak semua orang akan menjadi lebih baik. Alih-alih, banyak  orang mungkin akan memilih untuk bersikap masa bodoh dan berhenti  memberikan kontribusi bermakna kepada masyarakat&amp;mdash;bukan semata-mata  karena mereka malas, melainkan karena mereka diliputi rasa kesia-siaan.
Seperti dikatakan Caitlin Doughty, seorang pemilik perusahaan  pemakaman: &quot;Apakah Anda akan menulis kolom ini jika Anda tahu bahwa Anda  akan mati pada Juni tahun depan?&quot; (Jawabannya, mungkin tidak).
Rasa kesia-siaan juga bisa menyebabkan banyak orang menyerah dalam  mengadopsi gaya hidup sehat. Jika kematian telah ditetapkan pada satu  waktu tertentu, apapun yang terjadi, &quot;Saya tidak akan repot-repot makan  makanan organik lagi. Saya akan minum-minum, dan mungkin mencoba obat  terlarang,&quot; kata Doughty.
Tapi kemungkinan besar, kebanyakan orang akan berubah-ubah antara  menjadi sangat termotivasi dan niihilistik, kata Solomon. Tapi di  manapun kita berada dalam spektrum itu, bahkan orang paling tercerahkan  di antara kita &amp;ndash; terutama semakin dekat dengan waktu kematian &amp;ndash; akan  sesekali &quot;gemetar ketakutan&quot;.
&quot;Perubahan selalu membuat stres,&quot; Feudtner setuju. &quot;Di sini kita  bicara tentang perubahan terbesar yang bisa terjadi pada suatu  individu&amp;mdash;dari hidup menjadi tidak hidup.&quot;Agama akan terguncang
Praktis, di belahan dunia manapun kita berada, kehidupan sehari-hari   kita akan berubah secara mendasar akibat pengetahuan tentang kapan dan   bagaimana kita akan mati.
Semakin banyak orang akan mengikuti terapi. Berbagai ritual dan   rutinitas sosial baru akan muncul, dengan tanggal kematian mungkin   dirayakan layaknya ulang tahun.
Dan agama-agama akan terguncang sampai ke akar-akarnya. Sekte-sekte   bisa bermunculan di tengah kekosongan spiritual yang mereka tinggalkan.   &quot;Apakah kita mulai memuja sistem yang memberi tahu kita kapan kita akan   mati?&quot; kata Doughty. &quot;Kepercayaan agama pasti akan terganggu.&quot;
Hubungan asmara juga hampir pasti akan terdampak. Menemukan seseorang   yang waktu kematiannya berdekatan akan menjadi priotitas. &quot;Salah satu   hal yang membuat orang paling takut pada kematian &amp;ndash; seringkali lebih   dari kematian mereka sendiri &amp;ndash; adalah kehilangan orang yang mereka   cintai,&quot; kata Doughty.
Sejalan dengan itu, jika kita bisa mengetahui waktu kematian dari   sampel biologis, beberapa orang tua mungkin akan memutuskan untuk   mengaborsi fetus yang ditakdirkan untuk mati di usia muda demi   menghindari kesedihan akibat kehilangan anak mereka. Orang lain &amp;ndash;   mengetahui bahwa mereka tidak akan hidup lewat usia tertentu &amp;ndash; mungkin   memilih untuk tidak punya anak sama sekali, atau sebaliknya, punya anak   sebanyak mungkin.
&amp;nbsp;
Kita juga memerlukan hukum dan norma baru. Menurut penulis Rose   Eveleth, undang-undang baru akan ditetapkan untuk menjaga kerahasiaan   tanggal kematian seseorang demi mencegah diskriminasi oleh bos atau   penyedia layanan. Di sisi lain, politikus atau tokoh publik, bisa   diwajibkan untuk membagikan tanggal kematian mereka sebelum mencalonkan   diri dalam pemilihan.
Dan meski tidak diwajibkan oleh hukum, beberapa orang akan menato   tanggal kematiannya di lengan mereka, atau mengukirnya di kalung yang   selalu mereka kenakan sehingga &amp;ndash; dalam kecelakaan &amp;ndash; petugas medis akan   tahu apakah perlu membangunkan mereka, kata Eveleth.
Intinya, jika kita mengetahui waktu dan cara kematian kita masing-masing, cara hidup kita akan berubah secara drastis.
&quot;Peradaban manusia benar-benar telah berkembang di antara kematian   dan ide tentang kematian,&quot; kata Doughty. &quot;Saya pikir pengetahuan ini   akan sepenuhnya melemahkan sistem kehidupan kita.&quot;</description><content:encoded>MELIHAT kilasan kata &quot;mati&quot; selama 42,8 milisekon di layar komputer sudah cukup untuk memengaruhi cara kita bertindak dan terkadang berfikir untuk menjadi lebih baik.
Anda dan semua orang yang Anda kenal suatu hari nanti akan mati. Menurut beberapa pakar psikologi, kenyataan tak mengenakkan ini terus bercokol di pikiran kita dan pada akhirnya menjadi pendorong semua perbuatan kita, mulai dari beribadah, makan sayuran dan berolahraga, sampai memotivasi kita untuk punya anak, menulis buku, dan mencari teman.
&quot;Seringkali kita menjalani kehidupan sehari-hari tanpa sadar, tanpa berpikir tentang mortalitas kita,&quot; kata Chris Feudtner, seorang dokter anak dan pakar etika di Rumah Sakit Anak Philadelphia dan Universitas Philadelphia.
&quot;Kita bertahan dengan berfokus pada hal-hal yang lebih langsung di hadapan kita,&quot; lanjutnya.
Tapi, apa yang akan terjadi jika ambiguitas seputar akhir hidup kita tak ada lagi? Apa jadinya jika kita tiba-tiba diberi tahu tanggal pasti dan penyebab kematian kita?
Meski ini, mungkin saja tidak mungkin, pengkajian cermat akan skenario hipotetikal ini dapat mengungkap motivasi kita sebagai individu dan masyarakat dan memberi petunjuk tentang cara terbaik untuk menghabiskan waktu kita yang terbatas di Bumi ini.
Pertama-tama, mari tegaskan bahwa apa yang kita ketahui tentang kematian membentuk perilaku kita di dunia.
Pada tahun '80-an, para psikolog mulai tertarik dengan cara kita mengatasi kegelisahan dan rasa takut yang muncul dengan kesadaran bahwa kita sebenarnya tak lebih dari &quot;sepotong daging yang bernafas, buang air, dan berkesadaran, yang bisa mati kapan saja,&quot; seperti dijelaskan Sheldon Solomon, profesor psikologi di Skidmore College, New York.
&amp;nbsp;
Teori manajemen teror, istilah yang diciptakan Solomon dan koleganya untuk temuan mereka, berasumsi bahwa manusia menerima kepercayaan yang dibentuk oleh budaya bahwa dunia punya makna, misalnya, dan hidup kita punya nilai demi menepis teror eksistensial yang bisa membuatnya tak berdaya.
Dalam lebih dari 1.000 eksperimen, para peneliti menemukan bahwa, ketika diingatkan bahwa kita akan mati, kita semakin menggenggam teguh keyakinan kultural kita dan terdorong untuk meningkatkan rasa penghargaan-diri. Kita juga menjadi lebih defensif akan keyakinan kita dan bereaksi dengan permusuhan terhadap apapun yang mengancamnya.
Bahkan sugesti yang sangat halus akan kematian &amp;ndash; kilasan kata &quot;mati&quot; selama 42,8 milisekon di layar komputer, percakapan yang berlangsung di dekat rumah pemakaman &amp;ndash; sudah cukup untuk memicu perubahan perilaku.
Seperti apakah perubahan itu? Ketika diingatkan akan kematian, kita memperlakukan mereka yang serupa dengan kita dalam penampilan, kecenderungan politik, asal geografis, dan kepercayaan agama dengan lebih baik. Sebaliknya, kita menjadi lebih membenci dan bersikap kasar terhadap orang yang tidak memiliki kesamaan tersebut.
Kita menunjukkan komitmen yang lebih dalam kepada pasangan romantik yang memvalidasi cara pandang kita. Dan kita cenderung memilih pemimpin karismatik dan tegas, yang mendorong ketakutan pada orang luar.
Kita juga menjadi lebih nihilistik, minum-minum, merokok, belanja, dan makan berlebihan&amp;mdash;dan kita menjadi kurang peduli pada lingkungan.
Jika semua orang tiba-tiba mengetahui waktu dan cara hidup mereka berakhir, masyarakat dapat &amp;ndash; dan mungkin akan &amp;ndash; menjadi lebih rasis, xenofobik, kejam, gila perang, melukai-diri, dan merusak lingkungan daripada sekarang.
Tapi tidak selalu demikian. Peneliti seperti Solomon pada akhirnya berharap bahwa, dengan menyadari efek negatif yang disebabkan kegelisahan akan kematian, kita dapat mengatasinya.
Bahkan, para ilmuwan telah mencatat beberapa contoh orang-orang yang menentang tren ini.

Biksu Buddha di Korea Selatan, misalnya, tidak menanggapi pengingat kematian dengan cara-cara yang disebutkan tadi.
Para peneliti yang mengkaji gaya berpikir yang disebut &quot;refleksi kematian&quot; juga menemukan bahwa meminta orang-orang untuk memikirkan kematian, tidak hanya secara umum dan abstrak, tapi juga bagaimana tepatnya mereka akan mati dan apa dampak kematian tersebut pada keluarga mereka, menimbulkan reaksi yang sangat berbeda.
Dalam kasus itu, orang menjadi lebih altruistik&amp;mdash;bersedia, misalnya, untuk menyumbangkan darah terlepas dari ada-tidaknya kebutuhan sosial akan itu. Mereka juga lebih terbuka untuk merenungkan peran peristiwa positif maupun negatif dalam membentuk hidup mereka.
Menurut temuan ini, mengetahui tanggal kematian bisa mendorong kita untuk lebih berfokus pada tujuan hidup dan ikatan sosial alih-alih merespon dengan kepicikan.
Ini benar terutama &quot;jika kita mempromosikan strategi yang membantu kita menerima kematian sebagai bagian dari kehidupan, dan mengintegrasikan pengetahuan ini dalam perilaku dan pilihan kita sehari-hari,&quot; kata Eva Jonas, profesor psikologi di Universitas Salzburg,
&quot;Pengetahuan tentang keterbatasan hidup dapat meningkatkan persepsi akan nilai kehidupan dan mengembangkan rasa bahwa 'kita semua menumpang perahu yang sama', mendorong toleransi dan kasih sayang serta mengurangi respon defensif,&quot; Jonas menambahkan.Terlepas dari reaksi masyarakat secara keseluruhan, reaksi kita pada  tingkat individu terhadap pengetahuan akan kematian akan bervariasi,  tergantung pada kepribadian dan perincian peristiwa besar tersebut.
&quot;Semakin neurotik dan gelisah Anda, semakin pikiran Anda dipenuhi  dengan dan tidak dapat berfokus pada perubahan hidup yang bermakna,&quot;  kata Laira Blackie, asisten profesor psikologi di Universitas  Nottingham.
&quot;Tapi di sisi lain, jika Anda diberi tahu bahwa Anda akan mati dengan  tenang pada usia 90 tahun dalam tidur, maka Anda juga tidak akan  termotivasi untuk melakukan sesuatu&amp;mdash;bersikap 'Oh ya sudah.'
&amp;nbsp;
Tapi kapanpun ajal tiba, studi terhadap orang-orang dengan penyakit  mematikan dapat mengungkap respon tipikal terhadap kematian. Orang tua  dalam perawatan paliatif, kata Feudtner, seringkali mengalami dua fase  berpikir.
Pertama, mereka mempertanyakan premis diagnosis: apakah kematian  sudah tak terhindarkan atau masih bisa mereka lawan? Setelah itu, mereka  merenungkan bagaimana cara memanfaatkan waktu yang tersisa  sebaik-baiknya. Kebanyakan orang berakhir di salah satu kategori  tersebut.
Proses yang sama kemungkinan akan terjadi di bawah skenario  hipotetikal tentang tanggal kematian. &quot;Bahkan jika Anda tahu bahwa Anda  memiliki 60 tahun lagi, pada akhirnya harapan hidup itu akan diukur  dalam hitungan beberapa tahun, bulan, dan hari,&quot; kata Feudtner.
&quot;Ketika hitungan jam itu menjadi semakin dekat, saya pikir kita akan melihat orang-orang bergerak ke dua arah tersebut.&quot;
Mereka yang memilih untuk berusaha membatalkan kematian mereka akan  menjadi terobsesi untuk menghindarinya, terutama ketika ajalnya semakin  dekat.
Tapi orang lain mungkin akan melakukan sebaliknya&amp;mdash;berusaha  'mencurangi' kematian yang sudah pasti dengan mengakhiri hidup dengan  cara mereka sendiri. Ini memungkinkan mereka, untuk mengambil kendali  prosesnya.
Jonas dan para koleganya mendapati, misalnya, ketika mereka meminta  sejumlah orang untuk membayangkan bahwa mereka akan menderita kematian  yang perlahan dan menyakitkan karena suatu penyakit, mereka yang diberi  pilihan untuk menemui ajalnya sendiri &amp;ndash; mengakhiri hidup mereka dengan  cara yang mereka pilih &amp;ndash; merasa lebih memegang kendali dan menunjukkan  lebih sedikit bias terkait kegelisahan akan kematian.
Mereka yang memilih menerima kematian mereka juga akan bereaksi  dengan berbagai cara. Sebagian akan terdorong untuk memanfaatkan sisa  waktu mereka sebaik-baiknya. &quot;Saya pikir mengetahui waktu kematian akan  mengeluarkan sisi terbaik kita, memberi kita keleluasaan psikologis  untuk melakukan lebih bagi diri sendiri dan bagi keluarga serta  komunitas kita,&quot; kata Solomon.
Dan memang, ada buktidari studi terhadap korban trauma bahwa perasaan  tentang keterbatasan waktu yang kita punya dapat mendorong pengembangan  diri. Meski sulit untuk mengumpulkan data baseline dari orang-orang  itu, banyak yang menekankan bahwa mereka telah mengalami perubahan yang  mendalam dan positif.
&quot;Mereka mengaku menjadi lebih kuat, lebih spiritual, lebih menghargai  hidup, dan melihat lebih banyak kemungkinan positif,&quot; kata Blackie.  &quot;Mereka menyadari bahwa, 'Wow, hidup ini singkat, saya akan mati suatu  hari nanti, saya harus memanfaatkannya sebaik-baiknya.&quot;
&amp;nbsp;
Tapi tidak semua orang akan menjadi lebih baik. Alih-alih, banyak  orang mungkin akan memilih untuk bersikap masa bodoh dan berhenti  memberikan kontribusi bermakna kepada masyarakat&amp;mdash;bukan semata-mata  karena mereka malas, melainkan karena mereka diliputi rasa kesia-siaan.
Seperti dikatakan Caitlin Doughty, seorang pemilik perusahaan  pemakaman: &quot;Apakah Anda akan menulis kolom ini jika Anda tahu bahwa Anda  akan mati pada Juni tahun depan?&quot; (Jawabannya, mungkin tidak).
Rasa kesia-siaan juga bisa menyebabkan banyak orang menyerah dalam  mengadopsi gaya hidup sehat. Jika kematian telah ditetapkan pada satu  waktu tertentu, apapun yang terjadi, &quot;Saya tidak akan repot-repot makan  makanan organik lagi. Saya akan minum-minum, dan mungkin mencoba obat  terlarang,&quot; kata Doughty.
Tapi kemungkinan besar, kebanyakan orang akan berubah-ubah antara  menjadi sangat termotivasi dan niihilistik, kata Solomon. Tapi di  manapun kita berada dalam spektrum itu, bahkan orang paling tercerahkan  di antara kita &amp;ndash; terutama semakin dekat dengan waktu kematian &amp;ndash; akan  sesekali &quot;gemetar ketakutan&quot;.
&quot;Perubahan selalu membuat stres,&quot; Feudtner setuju. &quot;Di sini kita  bicara tentang perubahan terbesar yang bisa terjadi pada suatu  individu&amp;mdash;dari hidup menjadi tidak hidup.&quot;Agama akan terguncang
Praktis, di belahan dunia manapun kita berada, kehidupan sehari-hari   kita akan berubah secara mendasar akibat pengetahuan tentang kapan dan   bagaimana kita akan mati.
Semakin banyak orang akan mengikuti terapi. Berbagai ritual dan   rutinitas sosial baru akan muncul, dengan tanggal kematian mungkin   dirayakan layaknya ulang tahun.
Dan agama-agama akan terguncang sampai ke akar-akarnya. Sekte-sekte   bisa bermunculan di tengah kekosongan spiritual yang mereka tinggalkan.   &quot;Apakah kita mulai memuja sistem yang memberi tahu kita kapan kita akan   mati?&quot; kata Doughty. &quot;Kepercayaan agama pasti akan terganggu.&quot;
Hubungan asmara juga hampir pasti akan terdampak. Menemukan seseorang   yang waktu kematiannya berdekatan akan menjadi priotitas. &quot;Salah satu   hal yang membuat orang paling takut pada kematian &amp;ndash; seringkali lebih   dari kematian mereka sendiri &amp;ndash; adalah kehilangan orang yang mereka   cintai,&quot; kata Doughty.
Sejalan dengan itu, jika kita bisa mengetahui waktu kematian dari   sampel biologis, beberapa orang tua mungkin akan memutuskan untuk   mengaborsi fetus yang ditakdirkan untuk mati di usia muda demi   menghindari kesedihan akibat kehilangan anak mereka. Orang lain &amp;ndash;   mengetahui bahwa mereka tidak akan hidup lewat usia tertentu &amp;ndash; mungkin   memilih untuk tidak punya anak sama sekali, atau sebaliknya, punya anak   sebanyak mungkin.
&amp;nbsp;
Kita juga memerlukan hukum dan norma baru. Menurut penulis Rose   Eveleth, undang-undang baru akan ditetapkan untuk menjaga kerahasiaan   tanggal kematian seseorang demi mencegah diskriminasi oleh bos atau   penyedia layanan. Di sisi lain, politikus atau tokoh publik, bisa   diwajibkan untuk membagikan tanggal kematian mereka sebelum mencalonkan   diri dalam pemilihan.
Dan meski tidak diwajibkan oleh hukum, beberapa orang akan menato   tanggal kematiannya di lengan mereka, atau mengukirnya di kalung yang   selalu mereka kenakan sehingga &amp;ndash; dalam kecelakaan &amp;ndash; petugas medis akan   tahu apakah perlu membangunkan mereka, kata Eveleth.
Intinya, jika kita mengetahui waktu dan cara kematian kita masing-masing, cara hidup kita akan berubah secara drastis.
&quot;Peradaban manusia benar-benar telah berkembang di antara kematian   dan ide tentang kematian,&quot; kata Doughty. &quot;Saya pikir pengetahuan ini   akan sepenuhnya melemahkan sistem kehidupan kita.&quot;</content:encoded></item></channel></rss>
