<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kahyangan, Tempat Sakral yang &quot;Benci&quot; Warna Hijau di Wonogiri</title><description>Kahyangan, nama itu tak lagi asing bagi warga Solo Raya. Terutama bagi warga yang tengah laku spiritual.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/07/07/512/1919208/kahyangan-tempat-sakral-yang-benci-warna-hijau-di-wonogiri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/07/07/512/1919208/kahyangan-tempat-sakral-yang-benci-warna-hijau-di-wonogiri"/><item><title>Kahyangan, Tempat Sakral yang &quot;Benci&quot; Warna Hijau di Wonogiri</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/07/07/512/1919208/kahyangan-tempat-sakral-yang-benci-warna-hijau-di-wonogiri</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/07/07/512/1919208/kahyangan-tempat-sakral-yang-benci-warna-hijau-di-wonogiri</guid><pubDate>Sabtu 07 Juli 2018 12:04 WIB</pubDate><dc:creator>Bramantyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/07/07/512/1919208/kahyangan-tempat-sakral-yang-benci-warna-hijau-di-wonogiri-AlZ4uurW6u.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kahyangan di Wonogiri ramai saat malam Selasa dan Jumat Kliwon (Foto: Dokumentasi Bramantyo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/07/07/512/1919208/kahyangan-tempat-sakral-yang-benci-warna-hijau-di-wonogiri-AlZ4uurW6u.jpg</image><title>Kahyangan di Wonogiri ramai saat malam Selasa dan Jumat Kliwon (Foto: Dokumentasi Bramantyo)</title></images><description>WONOGIRI - Kahyangan, nama itu tak lagi asing bagi warga Solo Raya. Terutama bagi warga yang tengah laku spiritual. Pasalnya, lokasi yang ada di wilayah Kabupaten Wonogiri ini, tepatnya di Desa Dlepih Kecamatan Tirotomoyo atau berjarak 50 KM dari pusat kota Wonogiri, tak lepas dari kisah Danang Sutowijaya (kelak bergelar Panembahan Senopati, pendiri kerajaan Mataram) bergelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah. Yang kala itu sedang berupaya mencari wahyu raja yang saat itu masih berada di berada di tangan sang ayah bernama Ki Ageng Pemanahan.

Untuk menuju ke Kahyangan, sebenarnya tidaklah sulit. Sebab, akses jalan menuju lokasi sangatlah mulus. Terik matahari begitu menyengat saat Okezone tiba di Desa Dlepih. Khayangan sendiri terletak di kawasan pegunungan Tirtomoyo yang dikelilingi hutan hijau, lembah jurang yang sangat curam serta air terjun alami yang mengalir di sela babatuan pegunungan. Sehingga, untuk menuju kelokasi itu, harus ditempuh dengan berjalan kaki.



Setelah bertanya pada warga sekitar, Okezone pun ditunjukan lokasi yang dituju. Hanya saja, sebelum melangkahkan kaki, salah satu warga bertanya pada okezone. &quot;Mas, boten mbeto klambi hijau kan (mas, tidak membawa baju warna hijaukan),&quot; tanya warga Dlepih yang mengaku bernama Sarif.

Mendengar pertanyaan itu Okezone pun balik bertanya, &quot;Memangnya kenapa pak kalau bawa baju warna hijau?&quot;

&quot;Itu pantangannya mas. Kalau mau kesana tidak boleh pakai warna hijau. Biarpun pakaian itu ditaruh di dalam tas. Kalau dilanggar, kamu sendiri yang celaka,&quot; jawab Sarif.

&quot;Oh begitu ya pak, saya tidak bawa baju warna hijau,&quot; jelas Okezone sambil membuka tas punggung yang okezone kenakan.

Setelah melihat isi tas, warga itupun mempersilahkan untuk meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Nama Kahyangan tak lepas dari Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram. Kala itu, Panembahan Senopati yang masih bernama Danang Sutowijoto berhasil membunuh Haryo penangsang.



Atas jasanya menang melawan Haryo Panangsang, akhirnya Danang Sutowijoyo mendapatkan hadiah dari Sultan Pajang kala itu yakni Sultan Hadiwijaya berupa tanah perdikan di Mentaok (Kotagede).

Saat itu Ki Ageng Pemanahan (ayah Panembahan Senopati) kala itu menjabat sebagai penguasa di tanah Mentaok masih dibawah kekuasaaan Sultan Pajang, yakni Hadiwijaya. Meski begitu Danang Sutowijoyo tetap bersikukuh menuju hutan Kahyangan menjalani laku bertapa mencari kebenaran wahyu keprabon. Hingga dalam perjalanannya,sampailah di sebuah desa terpecil (Dlepih) arah Selatan Wonogiri.

Di lokasi inilah, masyarakat sekitar mempercayai bila Panembahan Senopati, sebelum mendirikan tahta dinasti Mataram Islam di tanah Jawa, bertemu dengan penguasa Laut Kidul, Kanjeng Ratu Kidul. Dilokasi yang kini diberi nama Kahyangan itulah, Panembahan Senopati akhirnya mendapatkan wahyu keprabon untuk mendirikan kerajaan Mataram Islam di tlatah (tanah) Jawa.



Selain itu, saat Danang Sutowijoyo bertemu dengan penguasa laut selatan, Kanjeng Ratu Kidul itulah terjadi 'perjanjian gaib' antara keduanya. Dimana dalam perjanjian gaib itu ditegaskan semua raja Mataram di tanah Jawa, harus menjadi suami Kanjeng Ratu Kidul.

Mitos tersebut hingga saat ini masih dipercaya khususnya oleh masyarakat di Jawa. Disakralkan, tempat ini kerap dimanfaatkan orang untuk meditasi dan ngalab berkah pada malam Selasa Kliwon juga Jumat Kliwon. Terlebih di malam menjelang pergantian tahun Jawa (bulan Suro). Banyak pendatang dari luar daerah, terutama dari daerah Yogyakarta dan Surakarta, bertirakatan di sana. Termasuk menjelang pencalegan inipun banyak warga masyarakat yang ingin duduk di kursi Wakil Rakyat pun berbondong-bondong datang ke lokasi tersebut.

Perjalanan okezone pun akhirnya berhenti dirumah Wakino (70) yang  dipercayai sebagai juru kunci Kahyangan. Awalnya, Wakino menduga Okezone  sama seperti warga lainnya yang datang ke lokasi yang paling  disakralkan di tanah jawa ini untuk ngalap berkah.

Setelah diutarakan maksud dan tujuan kedatangan, Wakino akhirnya  memahami. Keterangan dari sang juru kunci, Kahyangan sebagai lokasi yang  terkenal angker. Masyarakat sekitar maupun para spiritual yang datang  ke lokasi tersebut tidak boleh berbuat sembarangan.



Hati dan pikiran harus bersih dari niat kotor atau jahat. Ada  beberapa tingkatan yang harus dilewati jika akan memasuki lokasi di  Kahyangan. Diantaranya harus melewati makam seorang abdi dalem bernama  Nyai Huju. Konon Nyai Huju merupakan satu abdi dalem Panembahan Senopati  yang setia menemani Panembahan Senopati saat bertapa di Kahyangan.

&quot;Petilasan di Kahyangan sarat dengan cerita mitos ghaib terkait  dengan  sejarah Danang Sutowijoyo (nama kecilnya) sebelum akhirnya  bergelar Panembahan Senopati,&quot; ujar Wakino.

Menurutnya ada beberapa wilayah di Kahyangan yang juga memiliki  lokasi keramat. Salah satunya adalah Sela Bethek. Sela Bethek itu sebuah  batu berukuran sangat besar yang dipagari dengan anyaman dari bambu  (bethek). Dipercaya sebagai lokasi awal saat Panembahan Senopati  melakukan ritual semedi sesampainya di Kahyangan.



Batu Selo Bethek sendiri ucap juru kunci, dipercaya penduduk sekitar  sebagai punden penunggu Kahyangan yang ditunggui oleh Nyai Huju, abdi  setia Panembahan Senopati. Sepanjang hari, tugas abdi dalem ini mencari  daun Huju. Oleh karena itu lantas abdi dalem setia Danang Sutowijoyo ini  mendapatkan julukan Nyai Huju. Hingga akhirnya dipercaya untuk merawat  dan menjaga Kahyangan, setelah Panembahan Senopati naik tahta menjadi  raja di Kotagede.

&quot;Nyai Huju dipanggil Panembahan Senopati (usai jadi raja) dan  memberinya perintah agar tetap menjaga Kahyangan sepanjang hidupnya,  bahkan sampai mati sekalipun Roh Nyai Huju dipercaya masih berada di  Selo bethek, dan  masih tetap menjaga Kahyangan,&quot; tuturnya.

Di Kahyangan, ungkap Wakino, ada sebuah batu yang menjadi tempat  palenggahan (duduk) Panembahan Senopati. Petilasan itu berupa batu  berbentuk seperti payung. Dan akhirnya tempat itupun diberi nama Selo  payung (batu Payung).

&quot;Inilah salah satu lokasi tujuan para spiritual melakukan doa  penyuwunan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dimana dulu Selo Payung juga  digunakan Panembahan Senopati melakukan tafakur dan berzikir,&quot; jelasnya.



Waktu yang dipilih oleh pelaku spiritual ini untuk melakukan semedi  (menyepi mendekatkan diri pada Yang Kuasa) yang datang dari berbagai  wilayah ini biasanya setiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon.

Namun terkadang di luar dua hari tersebut banyak pengunjung yang  datang dan bermeditasi  di bawah Selo Payung. Bahkan di malam menjelang  pergantian tahun Jawa (bulan Suro), banyak pendatang dari luar daerah,  terutama dari daerah Yogyakarta dan Surakarta, bertirakatan di sana.

Selain Sela Payung, ada petilasan lain yang semuanya serba batu.   Diantaranya  petilasan Selo Gapit atau Penangkep berupa dua buah batu   besar yang pada bagian atasnya saling bersentuhan mirip gapura.   Masyarakat juga mempercayai jika berada di Kahyangan Dlepih tidak boleh   mengenakan pakaian warna hijau pupus dan kain bermotif parangklitik.

Konon Kahyangan juga dijaga oleh Nyai Widiononggo, senopati jin yang   berasal dari segoro kidul. Keberadaannya,atas perintah Kanjeng Ratu   Kidul yang ketika itu jengkar (pergi) dari Kahyangan Dlepih, setelah   memberi petunjuk kepada Panembahan Senopati.



&quot;Sedangkan jin Nyai Widiononggo (pengikut Ratu Kidul) memperoleh   tempat di Selo Payung untuk tempat bersemayam, dan menjaga kedung   pesiraman beserta seluruh petilasan yang pernah dipergunakan junjunganya   memadu kasih dengan kekasihnya (Panembahan Senopati),&quot; ucap Wakino  yang  lebih dari satu abad menjadi juru kunci.

Setelah Petilasan Selo Payung, masih terdapat beberapa petilasan lagi   di Kahyangan yang sangat dikeramatkan sekaligus dianggap paling wingit   yaitu Batu Gilang. Lokasinya jauh di dalam hutan dan harus  menyeberangi  sungai yang sangat deras airnya yang mengalir di bawah  Batu Gilang.

Keberadaan Batu Gilang yang berada di lereng pegunungan ini menjadi   tempat sholat Panembahan Senopati berada di bawah sebuah pohon besar di   pinggir sebuah jurang dan disampingnya terdapat dua buah air terjun  yang  berasal dari atas puncak Kahyangan. Pertemuan dua air terjun  menjadi  satu aliran air ini menurut cerita juru kunci Kahyangan pernah  di  pergunakan oleh Kanjeng Ratu Kidul sebagai tempat untuk Pesiraman  atau  mandi.



&quot;Sumber mata air yang berasal dari dua buah aliran air terjun yang   mengalir ke bawah menjadi tempat keduanya siram (mandi). Hingga dikenal   dengan nama kedung pesiraman,&quot; lanjutnya.

Selain batu gilang, batu gowok yang berada tak jauh dari batu gilang   juga pernah dipergunakan oleh Panembahan Senopati bersemedi ketika   menerima wahyu keprabon menjadi raja di tanah Jawa. Konon keangkeran   batu gilang dan pesiraman tak lepas dari sabda Kanjeng Ratu Kidul dan   Panembahan Senopati ketika tasbih yang dikenakan oleh Panembahan   Senopati putus dan terlepas dari lehernya saat keduanya tengah memadu   kasih di pesiraman.

&quot;Dan di batu tasbih inilah biasanya menjadi tujuan utama para pelaku   ritual melakukan tapa brata dan  kungkum di pesiraman,&quot; pungkas Wakino.

</description><content:encoded>WONOGIRI - Kahyangan, nama itu tak lagi asing bagi warga Solo Raya. Terutama bagi warga yang tengah laku spiritual. Pasalnya, lokasi yang ada di wilayah Kabupaten Wonogiri ini, tepatnya di Desa Dlepih Kecamatan Tirotomoyo atau berjarak 50 KM dari pusat kota Wonogiri, tak lepas dari kisah Danang Sutowijaya (kelak bergelar Panembahan Senopati, pendiri kerajaan Mataram) bergelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah. Yang kala itu sedang berupaya mencari wahyu raja yang saat itu masih berada di berada di tangan sang ayah bernama Ki Ageng Pemanahan.

Untuk menuju ke Kahyangan, sebenarnya tidaklah sulit. Sebab, akses jalan menuju lokasi sangatlah mulus. Terik matahari begitu menyengat saat Okezone tiba di Desa Dlepih. Khayangan sendiri terletak di kawasan pegunungan Tirtomoyo yang dikelilingi hutan hijau, lembah jurang yang sangat curam serta air terjun alami yang mengalir di sela babatuan pegunungan. Sehingga, untuk menuju kelokasi itu, harus ditempuh dengan berjalan kaki.



Setelah bertanya pada warga sekitar, Okezone pun ditunjukan lokasi yang dituju. Hanya saja, sebelum melangkahkan kaki, salah satu warga bertanya pada okezone. &quot;Mas, boten mbeto klambi hijau kan (mas, tidak membawa baju warna hijaukan),&quot; tanya warga Dlepih yang mengaku bernama Sarif.

Mendengar pertanyaan itu Okezone pun balik bertanya, &quot;Memangnya kenapa pak kalau bawa baju warna hijau?&quot;

&quot;Itu pantangannya mas. Kalau mau kesana tidak boleh pakai warna hijau. Biarpun pakaian itu ditaruh di dalam tas. Kalau dilanggar, kamu sendiri yang celaka,&quot; jawab Sarif.

&quot;Oh begitu ya pak, saya tidak bawa baju warna hijau,&quot; jelas Okezone sambil membuka tas punggung yang okezone kenakan.

Setelah melihat isi tas, warga itupun mempersilahkan untuk meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Nama Kahyangan tak lepas dari Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram. Kala itu, Panembahan Senopati yang masih bernama Danang Sutowijoto berhasil membunuh Haryo penangsang.



Atas jasanya menang melawan Haryo Panangsang, akhirnya Danang Sutowijoyo mendapatkan hadiah dari Sultan Pajang kala itu yakni Sultan Hadiwijaya berupa tanah perdikan di Mentaok (Kotagede).

Saat itu Ki Ageng Pemanahan (ayah Panembahan Senopati) kala itu menjabat sebagai penguasa di tanah Mentaok masih dibawah kekuasaaan Sultan Pajang, yakni Hadiwijaya. Meski begitu Danang Sutowijoyo tetap bersikukuh menuju hutan Kahyangan menjalani laku bertapa mencari kebenaran wahyu keprabon. Hingga dalam perjalanannya,sampailah di sebuah desa terpecil (Dlepih) arah Selatan Wonogiri.

Di lokasi inilah, masyarakat sekitar mempercayai bila Panembahan Senopati, sebelum mendirikan tahta dinasti Mataram Islam di tanah Jawa, bertemu dengan penguasa Laut Kidul, Kanjeng Ratu Kidul. Dilokasi yang kini diberi nama Kahyangan itulah, Panembahan Senopati akhirnya mendapatkan wahyu keprabon untuk mendirikan kerajaan Mataram Islam di tlatah (tanah) Jawa.



Selain itu, saat Danang Sutowijoyo bertemu dengan penguasa laut selatan, Kanjeng Ratu Kidul itulah terjadi 'perjanjian gaib' antara keduanya. Dimana dalam perjanjian gaib itu ditegaskan semua raja Mataram di tanah Jawa, harus menjadi suami Kanjeng Ratu Kidul.

Mitos tersebut hingga saat ini masih dipercaya khususnya oleh masyarakat di Jawa. Disakralkan, tempat ini kerap dimanfaatkan orang untuk meditasi dan ngalab berkah pada malam Selasa Kliwon juga Jumat Kliwon. Terlebih di malam menjelang pergantian tahun Jawa (bulan Suro). Banyak pendatang dari luar daerah, terutama dari daerah Yogyakarta dan Surakarta, bertirakatan di sana. Termasuk menjelang pencalegan inipun banyak warga masyarakat yang ingin duduk di kursi Wakil Rakyat pun berbondong-bondong datang ke lokasi tersebut.

Perjalanan okezone pun akhirnya berhenti dirumah Wakino (70) yang  dipercayai sebagai juru kunci Kahyangan. Awalnya, Wakino menduga Okezone  sama seperti warga lainnya yang datang ke lokasi yang paling  disakralkan di tanah jawa ini untuk ngalap berkah.

Setelah diutarakan maksud dan tujuan kedatangan, Wakino akhirnya  memahami. Keterangan dari sang juru kunci, Kahyangan sebagai lokasi yang  terkenal angker. Masyarakat sekitar maupun para spiritual yang datang  ke lokasi tersebut tidak boleh berbuat sembarangan.



Hati dan pikiran harus bersih dari niat kotor atau jahat. Ada  beberapa tingkatan yang harus dilewati jika akan memasuki lokasi di  Kahyangan. Diantaranya harus melewati makam seorang abdi dalem bernama  Nyai Huju. Konon Nyai Huju merupakan satu abdi dalem Panembahan Senopati  yang setia menemani Panembahan Senopati saat bertapa di Kahyangan.

&quot;Petilasan di Kahyangan sarat dengan cerita mitos ghaib terkait  dengan  sejarah Danang Sutowijoyo (nama kecilnya) sebelum akhirnya  bergelar Panembahan Senopati,&quot; ujar Wakino.

Menurutnya ada beberapa wilayah di Kahyangan yang juga memiliki  lokasi keramat. Salah satunya adalah Sela Bethek. Sela Bethek itu sebuah  batu berukuran sangat besar yang dipagari dengan anyaman dari bambu  (bethek). Dipercaya sebagai lokasi awal saat Panembahan Senopati  melakukan ritual semedi sesampainya di Kahyangan.



Batu Selo Bethek sendiri ucap juru kunci, dipercaya penduduk sekitar  sebagai punden penunggu Kahyangan yang ditunggui oleh Nyai Huju, abdi  setia Panembahan Senopati. Sepanjang hari, tugas abdi dalem ini mencari  daun Huju. Oleh karena itu lantas abdi dalem setia Danang Sutowijoyo ini  mendapatkan julukan Nyai Huju. Hingga akhirnya dipercaya untuk merawat  dan menjaga Kahyangan, setelah Panembahan Senopati naik tahta menjadi  raja di Kotagede.

&quot;Nyai Huju dipanggil Panembahan Senopati (usai jadi raja) dan  memberinya perintah agar tetap menjaga Kahyangan sepanjang hidupnya,  bahkan sampai mati sekalipun Roh Nyai Huju dipercaya masih berada di  Selo bethek, dan  masih tetap menjaga Kahyangan,&quot; tuturnya.

Di Kahyangan, ungkap Wakino, ada sebuah batu yang menjadi tempat  palenggahan (duduk) Panembahan Senopati. Petilasan itu berupa batu  berbentuk seperti payung. Dan akhirnya tempat itupun diberi nama Selo  payung (batu Payung).

&quot;Inilah salah satu lokasi tujuan para spiritual melakukan doa  penyuwunan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dimana dulu Selo Payung juga  digunakan Panembahan Senopati melakukan tafakur dan berzikir,&quot; jelasnya.



Waktu yang dipilih oleh pelaku spiritual ini untuk melakukan semedi  (menyepi mendekatkan diri pada Yang Kuasa) yang datang dari berbagai  wilayah ini biasanya setiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon.

Namun terkadang di luar dua hari tersebut banyak pengunjung yang  datang dan bermeditasi  di bawah Selo Payung. Bahkan di malam menjelang  pergantian tahun Jawa (bulan Suro), banyak pendatang dari luar daerah,  terutama dari daerah Yogyakarta dan Surakarta, bertirakatan di sana.

Selain Sela Payung, ada petilasan lain yang semuanya serba batu.   Diantaranya  petilasan Selo Gapit atau Penangkep berupa dua buah batu   besar yang pada bagian atasnya saling bersentuhan mirip gapura.   Masyarakat juga mempercayai jika berada di Kahyangan Dlepih tidak boleh   mengenakan pakaian warna hijau pupus dan kain bermotif parangklitik.

Konon Kahyangan juga dijaga oleh Nyai Widiononggo, senopati jin yang   berasal dari segoro kidul. Keberadaannya,atas perintah Kanjeng Ratu   Kidul yang ketika itu jengkar (pergi) dari Kahyangan Dlepih, setelah   memberi petunjuk kepada Panembahan Senopati.



&quot;Sedangkan jin Nyai Widiononggo (pengikut Ratu Kidul) memperoleh   tempat di Selo Payung untuk tempat bersemayam, dan menjaga kedung   pesiraman beserta seluruh petilasan yang pernah dipergunakan junjunganya   memadu kasih dengan kekasihnya (Panembahan Senopati),&quot; ucap Wakino  yang  lebih dari satu abad menjadi juru kunci.

Setelah Petilasan Selo Payung, masih terdapat beberapa petilasan lagi   di Kahyangan yang sangat dikeramatkan sekaligus dianggap paling wingit   yaitu Batu Gilang. Lokasinya jauh di dalam hutan dan harus  menyeberangi  sungai yang sangat deras airnya yang mengalir di bawah  Batu Gilang.

Keberadaan Batu Gilang yang berada di lereng pegunungan ini menjadi   tempat sholat Panembahan Senopati berada di bawah sebuah pohon besar di   pinggir sebuah jurang dan disampingnya terdapat dua buah air terjun  yang  berasal dari atas puncak Kahyangan. Pertemuan dua air terjun  menjadi  satu aliran air ini menurut cerita juru kunci Kahyangan pernah  di  pergunakan oleh Kanjeng Ratu Kidul sebagai tempat untuk Pesiraman  atau  mandi.



&quot;Sumber mata air yang berasal dari dua buah aliran air terjun yang   mengalir ke bawah menjadi tempat keduanya siram (mandi). Hingga dikenal   dengan nama kedung pesiraman,&quot; lanjutnya.

Selain batu gilang, batu gowok yang berada tak jauh dari batu gilang   juga pernah dipergunakan oleh Panembahan Senopati bersemedi ketika   menerima wahyu keprabon menjadi raja di tanah Jawa. Konon keangkeran   batu gilang dan pesiraman tak lepas dari sabda Kanjeng Ratu Kidul dan   Panembahan Senopati ketika tasbih yang dikenakan oleh Panembahan   Senopati putus dan terlepas dari lehernya saat keduanya tengah memadu   kasih di pesiraman.

&quot;Dan di batu tasbih inilah biasanya menjadi tujuan utama para pelaku   ritual melakukan tapa brata dan  kungkum di pesiraman,&quot; pungkas Wakino.

</content:encoded></item></channel></rss>
