<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengingat Letusan Gunung Krakatau 1883, Akankah Terulang Kembali?</title><description>Akankah letusan Gunung Krakatau terulang kembali?</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/07/15/340/1922692/mengingat-letusan-gunung-krakatau-1883-akankah-terulang-kembali</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/07/15/340/1922692/mengingat-letusan-gunung-krakatau-1883-akankah-terulang-kembali"/><item><title>Mengingat Letusan Gunung Krakatau 1883, Akankah Terulang Kembali?</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/07/15/340/1922692/mengingat-letusan-gunung-krakatau-1883-akankah-terulang-kembali</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/07/15/340/1922692/mengingat-letusan-gunung-krakatau-1883-akankah-terulang-kembali</guid><pubDate>Minggu 15 Juli 2018 22:51 WIB</pubDate><dc:creator>Muhamad Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/07/15/340/1922692/mengingat-letusan-gunung-krakatau-1883-akankah-terulang-kembali-KZyAB1hgzQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gunung Anak Krakatau. (Foto: BNPB)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/07/15/340/1922692/mengingat-letusan-gunung-krakatau-1883-akankah-terulang-kembali-KZyAB1hgzQ.jpg</image><title>Gunung Anak Krakatau. (Foto: BNPB)</title></images><description>JAKARTA - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus meningkat sehingga menimbulkan letusan yang menerus. Hampir setiap hari Gunung Anak Krakatau meletus.
Bahkan pada Sabtu 14 Juli 2018, Gunung Anak Krakatau meletus sebanyak 398 kali dengan amplitudo 24 sampai 58 mm, durasinya antara 20 sampai 279 detik.
Gempa tremornya terjadi terus menerus antara 2 sampai 45 mm, amplitudo dominan 20 mm. Tinggi letusan maksimum 800 meter. Lava pijar terlihat pada malam hari. Suara dentuman yang disertai lontaran abu dan pasir sering menyertai letusan.
Pada Minggu (15/7/2018) Pukul 12.00-18.00 WIB, PVMBG melaporkan bahwa Gunung Anak Krakatau meletus sebanyak 81 kali. Asap kawah bertekanan sedang dengan intensitas sedang berwarna hitam setinggi 500-700 meter dari puncak kawah.
Namun demikian letusan tidak membahayakan penerbangan dan pelayaran. Status tetap Waspada (level II). Hanya di dalam radius 1 km dari puncak kawah yang berbahaya. Di luar radius 1 km kondisinya aman.
Pemantauan aktivitas gunungapi terus dilakukan dari pos pengamatan Gunungapi Krakatau PVMBG di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/06/25/51146/259018_medium.jpg&quot; alt=&quot;Gunung Anak Krakatau Erupsi Setinggi 1.000 Meter Tidak Membahayakan Penerbangan Pesawat Terbang&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, banyak masyarakat yang khawatir letusan Gunung Anak Krakatau akan sedahsyat letusan Gunung Krakatau Tahun 1883. Menurutnya hal itu tidak mungkin terjadi karena kondisinya sangat berbeda. Pada tahun 1883 letusan terjadi bersamaan pada 3 gunung api di komplek Gunung Krakatau yaitu Gunung Danan, Gunung Rakata dan Gunung Perboeatan. Ketiga gunung api ini berdekatan dikenal dengan Gunung Krakatau.
Letusan yang bersamaan dari 3 gunung tersebut sangat dahsyat sehingga menyebabkan sebagian pulau gunung hilang. Pada tahun 1927 muncul gunung api ke permukaan laut yang kemudian dinamakan Gunung Anak Krakatau. Gunung kecil ini terus meletus untuk tumbuh. Rata-rata setiap tahun bertambah tinggi 4-6 meter. Tidak akan terjadi letusan yang besar karena energi yang ada tidak besar. Bahkan beberapa ahli mengatakan perlu minimal 3 abad lagi untuk menghasilkan letusan yang besar dari Gunung Anak Krakatau tetapi tidak akan sedahsyat Tahun 1883. &quot;Jadi tidak perlu dikhawatirkan dengan letusan yang berlangsung sekarang,&quot; kata Sutopo dalam rilis yang diterima Okezone.
Bagaimana letusan Gunung Krakatau 1883? 
Letusan Krakatau 1883&amp;nbsp;terjadi di&amp;nbsp;Hindia Belanda&amp;nbsp;(sekarang&amp;nbsp;Indonesia), yang bermula pada tanggal 26 Agustus 1883 (dengan gejala pada awal Mei) dan berpuncak dengan letusan hebat yang meruntuhkan&amp;nbsp;kaldera.
Pada tanggal 27 Agustus 1883, dua pertiga bagian&amp;nbsp;Krakatau&amp;nbsp;runtuh dalam sebuah letusan berantai, melenyapkan sebagian besar pulau di sekelilingnya.
Aktivitas&amp;nbsp;seismik&amp;nbsp;tetap berlangsung hingga Februari 1884. Letusan ini adalah salah satu letusan&amp;nbsp;gunung apipaling mematikan dan paling merusak dalam sejarah, menimbulkan setidaknya 36.417 korban jiwa akibat letusan dan tsunami yang dihasilkannya. Dampak letusan ini juga bisa dirasakan di seluruh penjuru dunia.Fase Puncak Letusan Gunung Krakatau 
Tanggal 25 Agustus, letusan semakin meningkat. Sekitar pukul  13.00 tanggal 26 Agustus, Krakatau memasuki&amp;nbsp;fase paroksimal. Satu jam  kemudian, para pengamat bisa melihat awan abu hitam dengan ketinggian  27&amp;nbsp;km. Pada saat itu, letusan terjadi terus menerus dan ledakan  terdengar setiap sepuluh menit sekali. Kapal-kapal yang berlayar dalam  jarak 20&amp;nbsp;km dari Krakatau telah dihujani abu tebal, dengan  potongan-potongan batu apung panas berdiameter hampir 10&amp;nbsp;cm mendarat di  dek kapal.&amp;nbsp;Tsunami&amp;nbsp;kecil menghantam pesisir&amp;nbsp;Pulau  Jawa&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;Sumatera&amp;nbsp;hampir 40&amp;nbsp;km jauhnya pada pukul 18.00 dan 19.00.
Pada 27 Agustus, empat letusan besar terjadi pukul 05.30, 06.44,  10.02, dan 10:41 waktu setempat. Pada pukul 5.30, letusan pertama  terjadi di Gunung Perboewatan, yang memicu tsunami menuju&amp;nbsp;Teluk Betung.  Pukul 06.44, Gunung Krakatau meletus lagi di Danan, menimbulkan tsunami  di arah timur dan barat. Letusan besar pada pukul 10.02 terjadi begitu  keras dan terdengar hampir 3.110&amp;nbsp;km jauhnya ke&amp;nbsp;Perth,&amp;nbsp;Australia Barat,  dan&amp;nbsp;Rodrigues&amp;nbsp;di&amp;nbsp;Mauritius&amp;nbsp;(4.800&amp;nbsp;km (3.000&amp;nbsp;mi) jauhnya).
Penduduk di sana mengira bahwa letusan tersebut adalah suara tembakan meriam dari kapal terdekat.
Masing-masing letusan disertai dengan gelombang&amp;nbsp;tsunami, yang  tingginya diyakini mencapai 30 m di beberapa tempat. Wilayah-wilayah  di&amp;nbsp;Selat Sunda&amp;nbsp;dan sejumlah wilayah di pesisir Sumatera turut terkena  dampak&amp;nbsp;aliran piroklastik&amp;nbsp;gunung berapi.
Energi yang dilepaskan dari ledakan diperkirakan setara dengan  200 megaton&amp;nbsp;TNT,&amp;nbsp;kira-kira hampir empat kali lipat lebih kuat dari&amp;nbsp;Tsar  Bomba&amp;nbsp;(senjata termonuklir paling kuat yang pernah diledakkan). Pada  pukul 10.41, tanah longsor yang meruntuhkan setengah  bagian&amp;nbsp;Rakata&amp;nbsp;memicu terjadinya letusan akhir.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/06/25/51146/259019_medium.jpg&quot; alt=&quot;Gunung Anak Krakatau Erupsi Setinggi 1.000 Meter Tidak Membahayakan Penerbangan Pesawat Terbang&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Bagaimana dampaknya? 
Letusan besar terakhir terdengar hingga 3.000 mil jauhnya,  menimbulkan setidaknya 36.417 korban jiwa; 20 juta ton&amp;nbsp;sulfur&amp;nbsp;dilepaskan  ke&amp;nbsp;atmosfer; menyebabkan&amp;nbsp;musim dingin vulkanik&amp;nbsp;(mengurangi suhu di  seluruh dunia dengan rata-rata 1.2&amp;nbsp;&amp;deg;C selama 5 tahun); dan  letusan&amp;nbsp;gunung api&amp;nbsp;paling hebat dalam sejarah .
Pada tengah hari tanggal 27 Agustus 1883, hujan abu panas turun  di Ketimbang (sekarang desa Banding, Kecamatan Rajabasa,&amp;nbsp;Lampung).  Kurang lebih 1.000 orang tewas akibat hujan abu ini di  Rajabasa.&amp;nbsp;Kombinasi&amp;nbsp;aliran piroklastik, abu vulkanik, dan tsunami juga  berdampak besar terhadap wilayah di sekitar Krakatau. Tak satupun yang  selamat dari total 3.000 orang penduduk pulau&amp;nbsp;Sebesi, yang jaraknya  sekitar 13&amp;nbsp;km dari Krakatau. Aliran piroklastik menewaskan kurang lebih  1.000 orang di Ketimbang dan di pesisir Sumatera yang berjarak 40&amp;nbsp;km di  sebelah utara Krakatau.Jumlah korban jiwa yang dicatat oleh pemerintah&amp;nbsp;Hindia Belanda   adalah 36.417, namun beberapa sumber menyatakan bahwa jumlah korban jiwa   melebihi 120.000 jiwa.
Kapal-kapal yang berlayar jauh hingga ke&amp;nbsp;Afrika Selatan&amp;nbsp;juga   melaporkan guncangan tsunami, dan mayat para korban terapung di lautan   berbulan-bulan setelah kejadian. Kota&amp;nbsp;Merak, Banten&amp;nbsp;luluh lantak oleh   tsunami, serta kota-kota di sepanjang pantai utara Sumatera hingga 40&amp;nbsp;km   jauhnya ke daratan.&amp;nbsp;Akibat letusan G. Krakatau, pulau-pulau di   Kepulauan Krakatau hampir seluruhnya menghilang, kecuali tiga pulau di   selatan. Gunung api kerucut Rakata terpisah di sepanjang tebing   vertikal, menyisakan kaldera sedalam 250-meter (820&amp;nbsp;ft). Dari dua pulau   di utara, hanya pulau berbatu bernama Bootsmansrots yang   tersisa;&amp;nbsp;Poolsche Hoedjuga menghilang sepenuhnya.
Setahun setelah letusan, rata-rata suhu global turun 1,2&amp;deg; C. Pola   cuaca tetap tak beraturan selama bertahun-tahun, dan suhu tidak pernah   normal hingga tahun 1888.
Tidak ada catatan sejarah yang mencatat berapa lama dampak yang   ditimbulkan akibat letusan Gunung Krakatau dan dampak ikutannya seperti   tsunami, longsor, wabah penyakit, gagal panen dan lainnya. Begitu juga   jumlah masyarakat yang mengungsi juga tidak ada dalam catatan sejarah.   Kerugian yang ditimbulkan akibat letusan Gunung Krakatau sangat besar.   Belanda memerlukan waktu puluhan tahun untuk kembali membangun dan   memulihkan perkebunan dan pertanian di wilayah Hindia Belanda.&amp;nbsp;
Jadi letusan 1883 akan sulit terulang kembali. Letusan-letusan  yang  terjadi hampir setiap hari dari Gunung Anak Krakatau adalah  fenomena  biasa. Seperti halnya anak dalam fase pertumbuhan, Gunung Anak  Krakatau  juga meletus untuk membesar  dan meninggikan tubuhnya.  Letusan-letusan  yang dihasilkan tidak pernah besar karena energi magma  yang naik ke  permukaan juga tidak besar. Tidak akan menghasilkan tsunami  seperti  halnya 1883.
Jadi masyarakat dihimbau untuk tetap tenang. PVMBG terus memantau   aktivitas vulkanik. Meski ratusan kali meletus per hari status tetap   tidak dinaikkan karena tidak membahayakan.
Yang penting masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius  1  km dari puncak kawah Gunung Anak Krakatau. BNPB, BPBD, dan aparat   pemerintah pasti akan mengambil langkah-langkah penanganan jika   kondisinya membahayakan masyarakat.

</description><content:encoded>JAKARTA - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus meningkat sehingga menimbulkan letusan yang menerus. Hampir setiap hari Gunung Anak Krakatau meletus.
Bahkan pada Sabtu 14 Juli 2018, Gunung Anak Krakatau meletus sebanyak 398 kali dengan amplitudo 24 sampai 58 mm, durasinya antara 20 sampai 279 detik.
Gempa tremornya terjadi terus menerus antara 2 sampai 45 mm, amplitudo dominan 20 mm. Tinggi letusan maksimum 800 meter. Lava pijar terlihat pada malam hari. Suara dentuman yang disertai lontaran abu dan pasir sering menyertai letusan.
Pada Minggu (15/7/2018) Pukul 12.00-18.00 WIB, PVMBG melaporkan bahwa Gunung Anak Krakatau meletus sebanyak 81 kali. Asap kawah bertekanan sedang dengan intensitas sedang berwarna hitam setinggi 500-700 meter dari puncak kawah.
Namun demikian letusan tidak membahayakan penerbangan dan pelayaran. Status tetap Waspada (level II). Hanya di dalam radius 1 km dari puncak kawah yang berbahaya. Di luar radius 1 km kondisinya aman.
Pemantauan aktivitas gunungapi terus dilakukan dari pos pengamatan Gunungapi Krakatau PVMBG di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/06/25/51146/259018_medium.jpg&quot; alt=&quot;Gunung Anak Krakatau Erupsi Setinggi 1.000 Meter Tidak Membahayakan Penerbangan Pesawat Terbang&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, banyak masyarakat yang khawatir letusan Gunung Anak Krakatau akan sedahsyat letusan Gunung Krakatau Tahun 1883. Menurutnya hal itu tidak mungkin terjadi karena kondisinya sangat berbeda. Pada tahun 1883 letusan terjadi bersamaan pada 3 gunung api di komplek Gunung Krakatau yaitu Gunung Danan, Gunung Rakata dan Gunung Perboeatan. Ketiga gunung api ini berdekatan dikenal dengan Gunung Krakatau.
Letusan yang bersamaan dari 3 gunung tersebut sangat dahsyat sehingga menyebabkan sebagian pulau gunung hilang. Pada tahun 1927 muncul gunung api ke permukaan laut yang kemudian dinamakan Gunung Anak Krakatau. Gunung kecil ini terus meletus untuk tumbuh. Rata-rata setiap tahun bertambah tinggi 4-6 meter. Tidak akan terjadi letusan yang besar karena energi yang ada tidak besar. Bahkan beberapa ahli mengatakan perlu minimal 3 abad lagi untuk menghasilkan letusan yang besar dari Gunung Anak Krakatau tetapi tidak akan sedahsyat Tahun 1883. &quot;Jadi tidak perlu dikhawatirkan dengan letusan yang berlangsung sekarang,&quot; kata Sutopo dalam rilis yang diterima Okezone.
Bagaimana letusan Gunung Krakatau 1883? 
Letusan Krakatau 1883&amp;nbsp;terjadi di&amp;nbsp;Hindia Belanda&amp;nbsp;(sekarang&amp;nbsp;Indonesia), yang bermula pada tanggal 26 Agustus 1883 (dengan gejala pada awal Mei) dan berpuncak dengan letusan hebat yang meruntuhkan&amp;nbsp;kaldera.
Pada tanggal 27 Agustus 1883, dua pertiga bagian&amp;nbsp;Krakatau&amp;nbsp;runtuh dalam sebuah letusan berantai, melenyapkan sebagian besar pulau di sekelilingnya.
Aktivitas&amp;nbsp;seismik&amp;nbsp;tetap berlangsung hingga Februari 1884. Letusan ini adalah salah satu letusan&amp;nbsp;gunung apipaling mematikan dan paling merusak dalam sejarah, menimbulkan setidaknya 36.417 korban jiwa akibat letusan dan tsunami yang dihasilkannya. Dampak letusan ini juga bisa dirasakan di seluruh penjuru dunia.Fase Puncak Letusan Gunung Krakatau 
Tanggal 25 Agustus, letusan semakin meningkat. Sekitar pukul  13.00 tanggal 26 Agustus, Krakatau memasuki&amp;nbsp;fase paroksimal. Satu jam  kemudian, para pengamat bisa melihat awan abu hitam dengan ketinggian  27&amp;nbsp;km. Pada saat itu, letusan terjadi terus menerus dan ledakan  terdengar setiap sepuluh menit sekali. Kapal-kapal yang berlayar dalam  jarak 20&amp;nbsp;km dari Krakatau telah dihujani abu tebal, dengan  potongan-potongan batu apung panas berdiameter hampir 10&amp;nbsp;cm mendarat di  dek kapal.&amp;nbsp;Tsunami&amp;nbsp;kecil menghantam pesisir&amp;nbsp;Pulau  Jawa&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;Sumatera&amp;nbsp;hampir 40&amp;nbsp;km jauhnya pada pukul 18.00 dan 19.00.
Pada 27 Agustus, empat letusan besar terjadi pukul 05.30, 06.44,  10.02, dan 10:41 waktu setempat. Pada pukul 5.30, letusan pertama  terjadi di Gunung Perboewatan, yang memicu tsunami menuju&amp;nbsp;Teluk Betung.  Pukul 06.44, Gunung Krakatau meletus lagi di Danan, menimbulkan tsunami  di arah timur dan barat. Letusan besar pada pukul 10.02 terjadi begitu  keras dan terdengar hampir 3.110&amp;nbsp;km jauhnya ke&amp;nbsp;Perth,&amp;nbsp;Australia Barat,  dan&amp;nbsp;Rodrigues&amp;nbsp;di&amp;nbsp;Mauritius&amp;nbsp;(4.800&amp;nbsp;km (3.000&amp;nbsp;mi) jauhnya).
Penduduk di sana mengira bahwa letusan tersebut adalah suara tembakan meriam dari kapal terdekat.
Masing-masing letusan disertai dengan gelombang&amp;nbsp;tsunami, yang  tingginya diyakini mencapai 30 m di beberapa tempat. Wilayah-wilayah  di&amp;nbsp;Selat Sunda&amp;nbsp;dan sejumlah wilayah di pesisir Sumatera turut terkena  dampak&amp;nbsp;aliran piroklastik&amp;nbsp;gunung berapi.
Energi yang dilepaskan dari ledakan diperkirakan setara dengan  200 megaton&amp;nbsp;TNT,&amp;nbsp;kira-kira hampir empat kali lipat lebih kuat dari&amp;nbsp;Tsar  Bomba&amp;nbsp;(senjata termonuklir paling kuat yang pernah diledakkan). Pada  pukul 10.41, tanah longsor yang meruntuhkan setengah  bagian&amp;nbsp;Rakata&amp;nbsp;memicu terjadinya letusan akhir.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/06/25/51146/259019_medium.jpg&quot; alt=&quot;Gunung Anak Krakatau Erupsi Setinggi 1.000 Meter Tidak Membahayakan Penerbangan Pesawat Terbang&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Bagaimana dampaknya? 
Letusan besar terakhir terdengar hingga 3.000 mil jauhnya,  menimbulkan setidaknya 36.417 korban jiwa; 20 juta ton&amp;nbsp;sulfur&amp;nbsp;dilepaskan  ke&amp;nbsp;atmosfer; menyebabkan&amp;nbsp;musim dingin vulkanik&amp;nbsp;(mengurangi suhu di  seluruh dunia dengan rata-rata 1.2&amp;nbsp;&amp;deg;C selama 5 tahun); dan  letusan&amp;nbsp;gunung api&amp;nbsp;paling hebat dalam sejarah .
Pada tengah hari tanggal 27 Agustus 1883, hujan abu panas turun  di Ketimbang (sekarang desa Banding, Kecamatan Rajabasa,&amp;nbsp;Lampung).  Kurang lebih 1.000 orang tewas akibat hujan abu ini di  Rajabasa.&amp;nbsp;Kombinasi&amp;nbsp;aliran piroklastik, abu vulkanik, dan tsunami juga  berdampak besar terhadap wilayah di sekitar Krakatau. Tak satupun yang  selamat dari total 3.000 orang penduduk pulau&amp;nbsp;Sebesi, yang jaraknya  sekitar 13&amp;nbsp;km dari Krakatau. Aliran piroklastik menewaskan kurang lebih  1.000 orang di Ketimbang dan di pesisir Sumatera yang berjarak 40&amp;nbsp;km di  sebelah utara Krakatau.Jumlah korban jiwa yang dicatat oleh pemerintah&amp;nbsp;Hindia Belanda   adalah 36.417, namun beberapa sumber menyatakan bahwa jumlah korban jiwa   melebihi 120.000 jiwa.
Kapal-kapal yang berlayar jauh hingga ke&amp;nbsp;Afrika Selatan&amp;nbsp;juga   melaporkan guncangan tsunami, dan mayat para korban terapung di lautan   berbulan-bulan setelah kejadian. Kota&amp;nbsp;Merak, Banten&amp;nbsp;luluh lantak oleh   tsunami, serta kota-kota di sepanjang pantai utara Sumatera hingga 40&amp;nbsp;km   jauhnya ke daratan.&amp;nbsp;Akibat letusan G. Krakatau, pulau-pulau di   Kepulauan Krakatau hampir seluruhnya menghilang, kecuali tiga pulau di   selatan. Gunung api kerucut Rakata terpisah di sepanjang tebing   vertikal, menyisakan kaldera sedalam 250-meter (820&amp;nbsp;ft). Dari dua pulau   di utara, hanya pulau berbatu bernama Bootsmansrots yang   tersisa;&amp;nbsp;Poolsche Hoedjuga menghilang sepenuhnya.
Setahun setelah letusan, rata-rata suhu global turun 1,2&amp;deg; C. Pola   cuaca tetap tak beraturan selama bertahun-tahun, dan suhu tidak pernah   normal hingga tahun 1888.
Tidak ada catatan sejarah yang mencatat berapa lama dampak yang   ditimbulkan akibat letusan Gunung Krakatau dan dampak ikutannya seperti   tsunami, longsor, wabah penyakit, gagal panen dan lainnya. Begitu juga   jumlah masyarakat yang mengungsi juga tidak ada dalam catatan sejarah.   Kerugian yang ditimbulkan akibat letusan Gunung Krakatau sangat besar.   Belanda memerlukan waktu puluhan tahun untuk kembali membangun dan   memulihkan perkebunan dan pertanian di wilayah Hindia Belanda.&amp;nbsp;
Jadi letusan 1883 akan sulit terulang kembali. Letusan-letusan  yang  terjadi hampir setiap hari dari Gunung Anak Krakatau adalah  fenomena  biasa. Seperti halnya anak dalam fase pertumbuhan, Gunung Anak  Krakatau  juga meletus untuk membesar  dan meninggikan tubuhnya.  Letusan-letusan  yang dihasilkan tidak pernah besar karena energi magma  yang naik ke  permukaan juga tidak besar. Tidak akan menghasilkan tsunami  seperti  halnya 1883.
Jadi masyarakat dihimbau untuk tetap tenang. PVMBG terus memantau   aktivitas vulkanik. Meski ratusan kali meletus per hari status tetap   tidak dinaikkan karena tidak membahayakan.
Yang penting masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius  1  km dari puncak kawah Gunung Anak Krakatau. BNPB, BPBD, dan aparat   pemerintah pasti akan mengambil langkah-langkah penanganan jika   kondisinya membahayakan masyarakat.

</content:encoded></item></channel></rss>
