<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Negara Kecil yang Berambisi Memimpin Penjelajahan Antariksa</title><description>Luksemburg menjadi salah satu negara tujuan invesstasi luar angkasa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/07/26/18/1927809/negara-kecil-yang-berambisi-memimpin-penjelajahan-antariksa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/07/26/18/1927809/negara-kecil-yang-berambisi-memimpin-penjelajahan-antariksa"/><item><title>Negara Kecil yang Berambisi Memimpin Penjelajahan Antariksa</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/07/26/18/1927809/negara-kecil-yang-berambisi-memimpin-penjelajahan-antariksa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/07/26/18/1927809/negara-kecil-yang-berambisi-memimpin-penjelajahan-antariksa</guid><pubDate>Kamis 26 Juli 2018 18:11 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/07/26/18/1927809/negara-kecil-yang-berambisi-memimpin-penjelajahan-antariksa-EP3Pbt2ERl.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sejumlah perusahaan tambang antariksa membuka cabang di Luksemburg. (Foto: Getty)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/07/26/18/1927809/negara-kecil-yang-berambisi-memimpin-penjelajahan-antariksa-EP3Pbt2ERl.jpg</image><title>Sejumlah perusahaan tambang antariksa membuka cabang di Luksemburg. (Foto: Getty)</title></images><description>SEIRING perlombaan angkasa baru dimulai, banyak perusahaan teknologi besar mengusung Mars sebagai calon tempat tinggal manusia di luar Bumi. Tapi mereka mungkin menatap terlalu jauh.
Peluang terbaik kita untuk membangun kehidupan di luar Bumi terletak lebih dekat, jalur yang mungkin akan dirintis oleh perusahaan-perusahaan lain yang tidak begitu terkenal.
Membangun koloni di Bulan akan &quot;menjadi cetak biru bagi Mars&quot;, kata saintis Nasa.
Orang-orang yang akan mendirikan permukiman lunar ini kemungkinan besar merupakan pegawai perusahaan tambang swasta kecil, bukan raksasa teknologi.
Banyak dari perusahaan semacam ini terhubung dengan sebuah negara kecil di Uni Eropa bernama Luksemburg.
Hebatnya, Nasa percaya bahwa koloni di Bulan dapat didirikan dalam empat tahun ke depan.
Takeshi Hakamada adalah salah satu dari orang-orang yang berusaha untuk kembali menjejakkan kaki manusia di Bulan.
Tapi kali ini tujuannya lebih komersil: mencari sumber daya mineral dan gas yang menguntungkan, sekaligus air yang dapat menunjang kehidupan.
Hakamada adalah CEO ispace, perusahaan swasta yang bergerak di bidang eksplorasi ruang angkasa. Perusahaan ini berbasis di Tokyo, dan membuka cabang di Luksemburg.
Ispace berencana untuk sampai ke orbit Bulan pada 2020, kemudian mencoba pendaratan halus di permukaannya pada 2021.
&quot;Dua misi pertama kami akan berfungsi sebagai demonstrasi teknologi yang kami miliki. Dari sana, kami akan mulai mendirikan jasa transportasi frekuensi-tinggi untuk membawa muatan pelanggan ke Bulan,&quot; kata Hakamada.
&quot;Jika kita menemukan sumber air di Bulan, kita dapat mengembangkan industri sumber daya yang benar-benar baru di ruang angkasa,&quot; tambah Hakamada.
Penemuan sumber air beku akan menjadi momen yang monumental bagi spesies kita, karena temuan itu akan memungkinkan manusia untuk tinggal di luar Bumi dalam periode yang lebih lama.
Hakamada tidak sendirian dalam ambisinya. Saat ini terdapat sepuluh perusahaan tambang-ruang angkasa (termasuk ispace) berdomisili di Luksemburg sejak negara itu mengesahkan undang-undang sumber daya antariksa pada Februari 2016.
Program ini disokong dengan dana senilai USD223 juta (sekitar Rp3 triliun).
Untuk bisnis antariksa ini, Bulan adalah satu dari dua target utama yang dipertimbangkan. Para pengusaha juga mengincar asteroid di dekat Bumi untuk menambang sumber daya logam.
Di antara Bulan dan kira-kira 16.000 asteroid di dekat Bumi, sumber daya yang tersedia bisa jadi cukup kaya untuk menghasilkan megatriliuner pertama di dunia, menurut beberapa pengamat&amp;mdash;termasuk astrofisikawan Neil deGrasse Tyson.
Perlombaan antariksa modern semakin sengit setelah Luksemburg mengesahkan undang-undangnya pada 2016.
Ini menjadikan Luksemburg negara kedua di dunia setelah AS yang menyediakan kerangka legal komprehensif untuk eksploitasi sumber daya di luar Bumi.
&quot;Sejak Februari 2016, kami telah berinteraksi dengan hampir 200 perusahaan yang menghubungi kami,&quot; kata Paul Zenners, perwakilan menteri ekonomi Luksemburg, yang menjalankan prakarsa pemerintah SpaceResources.lu.


Kerangka antariksa Luksemburg memiliki perbedaan penting dari  kerangka AS. AS mengharuskan perusahaan memiliki lebih dari 50% ekuitas  yang disokong pemerintah, sedangkan Luksemburg tidak mengajukan syarat  seperti itu.
Negara Eropa yang kecil itu, yang disebut sebagai negara terkaya di  dunia oleh IMF berdasarkan PDB per kapitanya, telah dituduh sebagai  surga pajak. Luksemburg memang menawarkan serangkaian insentif dan  manfaat pajak, termasuk pajak yang sangat rendah untuk repatriasi  kapital.
Keikutsertaan Luksemburg dalam perlombaan antariksa pada 2016 menarik  perusahaan-perusahaan terbesar AS di bidangnya, antara lain Deep Space  Industries dan Planetary Resources, perusahaan AS yang disokong taipan  Sir Richard Branson dan pendiri Google Larry Page.
Planetary Resources, salah satu pemain lama dalam industri antariksa,  menjual saham senilai $28 juta (hampir Rp406 miliar) kepada Luksemburg.

Jumlah ekuitas tepatnya tidak pernah diungkap, namun pimpinan  perusahaan tesebut mengakui bahwa Luksemburg adalah salah satu investor  terbesarnya.
Undang-Undang Sumber Daya Antariksa Luksemburg membuka gerbang bagi  investasi. Menteri ekonomi kini mengatakan bahwa industri antariksa  menyumbang 1,8% pada PDB negara, rasio terbesar di antara negara-negara  Uni Eropa.
Namun kendati nilai investasi yang besar, pertambangan antariksa adalah industri yang juga menyoroti celah hukum yang ambigu.
&quot;Tidak jelas apakah hukum antariksa internasional mengizinkan suatu  negara untuk memberikan hak properti pada sumber daya alam yang  ditambang di ruang angkasa,&quot; menurut studi Allen dan Overy, firma hukum  yang berbasis di Luksemburg.
Setelah AS mengesahkan undang-undang pertambangan ruang angkasa   pertama di dunia pada 2015, Rusia termasuk negara yang mengajukan   keberatan.
Untuk memahami ambiguitas hukum antariksa, kita perlu kembali ke   Traktat Luar Angkasa (Outer Space Treaty, OST) yang diteken pada 1967.
Perjanjian dari zaman Perang Dingin itu melarang kepemilikan suatu   negara akan benda langit. Intinya, ruang angkasa dianggap sebagai milik   bersama, seperti halnya Antartika.

Perkembangan militer di ruang angkasa sangat dibatasi oleh OST, yang ditandatangani oleh 105 negara.
Demi mewujudkan ambisi Presiden Donald Trump untuk mendirikan   &quot;Pasukan Angkasa Luar&quot;, AS mungkin harus menarik diri dari OST, langkah   yang akan semakin mengucilkan negara tersebut.
Tapi OST tampaknya tidak menyinggung kepemilikan sumber daya, kealpaan yang didefinisikan oleh AS dan Luksemburg.
Dan negara lain mungkin akan melakukannya juga; Uni Emirat Arab   baru-baru ini meneken kesepakatan untuk belajar dari siasat hukum   Luksemburg.
&quot;Undang-undang Luksemburg tentang eksplorasi dan pemanfaatan sumber   daya antariksa membahas kealpaan ini dan memberinya kejelasan di level   nasional, sebagai langkah pertama untuk mengizinkan aktivitas terkait   sumber daya antariksa,&quot; kata Zenners.
&quot;Undang-undang Luksemburg tidak memiliki tujuan, maksud, atau efek   membuka jalan bagi kepemilikan negara akan benda-benda langit dalam   bentuk apapun. Hanya kepemilikan sumber daya antariksa yang dibahas   dalam kerangka hukum, yang juga memerinci aturan untuk otorisasi dan   pengawasan misi.&quot;
Sebagai negara kecil, Luksemburg mungkin lebih gampang untuk memimpin 'demam emas' baru untuk sumber daya di ruang angkasa.
&quot;Di samping Amerika Serikat, Luksemburg telah terbukti sebagai negara   yang berpikir ke depan, dan kesuksesan mereka akan memungkinkan   perusahaan swasta untuk melakukan misi antariksa,&quot; kata Bill Miller, CEO   Deep Space Industries, yang membuka kantor pusatnya untuk wilayah  Eropa  di Luksemburg.
Perdebatannya mungkin tidak akan memanas dalam waktu dekat karena   perusahaan tambang antariksa biasanya terlalu ambisius dalam mengumumkan   rencana peluncurannya.
Tapi jika keuntungan dari usaha ini mulai mengalir suatu hari nanti,   mungkin kita bisa bertaruh kalau Luksemburg akan terlibat di situ.</description><content:encoded>SEIRING perlombaan angkasa baru dimulai, banyak perusahaan teknologi besar mengusung Mars sebagai calon tempat tinggal manusia di luar Bumi. Tapi mereka mungkin menatap terlalu jauh.
Peluang terbaik kita untuk membangun kehidupan di luar Bumi terletak lebih dekat, jalur yang mungkin akan dirintis oleh perusahaan-perusahaan lain yang tidak begitu terkenal.
Membangun koloni di Bulan akan &quot;menjadi cetak biru bagi Mars&quot;, kata saintis Nasa.
Orang-orang yang akan mendirikan permukiman lunar ini kemungkinan besar merupakan pegawai perusahaan tambang swasta kecil, bukan raksasa teknologi.
Banyak dari perusahaan semacam ini terhubung dengan sebuah negara kecil di Uni Eropa bernama Luksemburg.
Hebatnya, Nasa percaya bahwa koloni di Bulan dapat didirikan dalam empat tahun ke depan.
Takeshi Hakamada adalah salah satu dari orang-orang yang berusaha untuk kembali menjejakkan kaki manusia di Bulan.
Tapi kali ini tujuannya lebih komersil: mencari sumber daya mineral dan gas yang menguntungkan, sekaligus air yang dapat menunjang kehidupan.
Hakamada adalah CEO ispace, perusahaan swasta yang bergerak di bidang eksplorasi ruang angkasa. Perusahaan ini berbasis di Tokyo, dan membuka cabang di Luksemburg.
Ispace berencana untuk sampai ke orbit Bulan pada 2020, kemudian mencoba pendaratan halus di permukaannya pada 2021.
&quot;Dua misi pertama kami akan berfungsi sebagai demonstrasi teknologi yang kami miliki. Dari sana, kami akan mulai mendirikan jasa transportasi frekuensi-tinggi untuk membawa muatan pelanggan ke Bulan,&quot; kata Hakamada.
&quot;Jika kita menemukan sumber air di Bulan, kita dapat mengembangkan industri sumber daya yang benar-benar baru di ruang angkasa,&quot; tambah Hakamada.
Penemuan sumber air beku akan menjadi momen yang monumental bagi spesies kita, karena temuan itu akan memungkinkan manusia untuk tinggal di luar Bumi dalam periode yang lebih lama.
Hakamada tidak sendirian dalam ambisinya. Saat ini terdapat sepuluh perusahaan tambang-ruang angkasa (termasuk ispace) berdomisili di Luksemburg sejak negara itu mengesahkan undang-undang sumber daya antariksa pada Februari 2016.
Program ini disokong dengan dana senilai USD223 juta (sekitar Rp3 triliun).
Untuk bisnis antariksa ini, Bulan adalah satu dari dua target utama yang dipertimbangkan. Para pengusaha juga mengincar asteroid di dekat Bumi untuk menambang sumber daya logam.
Di antara Bulan dan kira-kira 16.000 asteroid di dekat Bumi, sumber daya yang tersedia bisa jadi cukup kaya untuk menghasilkan megatriliuner pertama di dunia, menurut beberapa pengamat&amp;mdash;termasuk astrofisikawan Neil deGrasse Tyson.
Perlombaan antariksa modern semakin sengit setelah Luksemburg mengesahkan undang-undangnya pada 2016.
Ini menjadikan Luksemburg negara kedua di dunia setelah AS yang menyediakan kerangka legal komprehensif untuk eksploitasi sumber daya di luar Bumi.
&quot;Sejak Februari 2016, kami telah berinteraksi dengan hampir 200 perusahaan yang menghubungi kami,&quot; kata Paul Zenners, perwakilan menteri ekonomi Luksemburg, yang menjalankan prakarsa pemerintah SpaceResources.lu.


Kerangka antariksa Luksemburg memiliki perbedaan penting dari  kerangka AS. AS mengharuskan perusahaan memiliki lebih dari 50% ekuitas  yang disokong pemerintah, sedangkan Luksemburg tidak mengajukan syarat  seperti itu.
Negara Eropa yang kecil itu, yang disebut sebagai negara terkaya di  dunia oleh IMF berdasarkan PDB per kapitanya, telah dituduh sebagai  surga pajak. Luksemburg memang menawarkan serangkaian insentif dan  manfaat pajak, termasuk pajak yang sangat rendah untuk repatriasi  kapital.
Keikutsertaan Luksemburg dalam perlombaan antariksa pada 2016 menarik  perusahaan-perusahaan terbesar AS di bidangnya, antara lain Deep Space  Industries dan Planetary Resources, perusahaan AS yang disokong taipan  Sir Richard Branson dan pendiri Google Larry Page.
Planetary Resources, salah satu pemain lama dalam industri antariksa,  menjual saham senilai $28 juta (hampir Rp406 miliar) kepada Luksemburg.

Jumlah ekuitas tepatnya tidak pernah diungkap, namun pimpinan  perusahaan tesebut mengakui bahwa Luksemburg adalah salah satu investor  terbesarnya.
Undang-Undang Sumber Daya Antariksa Luksemburg membuka gerbang bagi  investasi. Menteri ekonomi kini mengatakan bahwa industri antariksa  menyumbang 1,8% pada PDB negara, rasio terbesar di antara negara-negara  Uni Eropa.
Namun kendati nilai investasi yang besar, pertambangan antariksa adalah industri yang juga menyoroti celah hukum yang ambigu.
&quot;Tidak jelas apakah hukum antariksa internasional mengizinkan suatu  negara untuk memberikan hak properti pada sumber daya alam yang  ditambang di ruang angkasa,&quot; menurut studi Allen dan Overy, firma hukum  yang berbasis di Luksemburg.
Setelah AS mengesahkan undang-undang pertambangan ruang angkasa   pertama di dunia pada 2015, Rusia termasuk negara yang mengajukan   keberatan.
Untuk memahami ambiguitas hukum antariksa, kita perlu kembali ke   Traktat Luar Angkasa (Outer Space Treaty, OST) yang diteken pada 1967.
Perjanjian dari zaman Perang Dingin itu melarang kepemilikan suatu   negara akan benda langit. Intinya, ruang angkasa dianggap sebagai milik   bersama, seperti halnya Antartika.

Perkembangan militer di ruang angkasa sangat dibatasi oleh OST, yang ditandatangani oleh 105 negara.
Demi mewujudkan ambisi Presiden Donald Trump untuk mendirikan   &quot;Pasukan Angkasa Luar&quot;, AS mungkin harus menarik diri dari OST, langkah   yang akan semakin mengucilkan negara tersebut.
Tapi OST tampaknya tidak menyinggung kepemilikan sumber daya, kealpaan yang didefinisikan oleh AS dan Luksemburg.
Dan negara lain mungkin akan melakukannya juga; Uni Emirat Arab   baru-baru ini meneken kesepakatan untuk belajar dari siasat hukum   Luksemburg.
&quot;Undang-undang Luksemburg tentang eksplorasi dan pemanfaatan sumber   daya antariksa membahas kealpaan ini dan memberinya kejelasan di level   nasional, sebagai langkah pertama untuk mengizinkan aktivitas terkait   sumber daya antariksa,&quot; kata Zenners.
&quot;Undang-undang Luksemburg tidak memiliki tujuan, maksud, atau efek   membuka jalan bagi kepemilikan negara akan benda-benda langit dalam   bentuk apapun. Hanya kepemilikan sumber daya antariksa yang dibahas   dalam kerangka hukum, yang juga memerinci aturan untuk otorisasi dan   pengawasan misi.&quot;
Sebagai negara kecil, Luksemburg mungkin lebih gampang untuk memimpin 'demam emas' baru untuk sumber daya di ruang angkasa.
&quot;Di samping Amerika Serikat, Luksemburg telah terbukti sebagai negara   yang berpikir ke depan, dan kesuksesan mereka akan memungkinkan   perusahaan swasta untuk melakukan misi antariksa,&quot; kata Bill Miller, CEO   Deep Space Industries, yang membuka kantor pusatnya untuk wilayah  Eropa  di Luksemburg.
Perdebatannya mungkin tidak akan memanas dalam waktu dekat karena   perusahaan tambang antariksa biasanya terlalu ambisius dalam mengumumkan   rencana peluncurannya.
Tapi jika keuntungan dari usaha ini mulai mengalir suatu hari nanti,   mungkin kita bisa bertaruh kalau Luksemburg akan terlibat di situ.</content:encoded></item></channel></rss>
