<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pembunuh yang Menjadi Penulis Dan Mengisahkan Kejahatan yang Dilakukannya</title><description>Berikut beberapa kisah pembunuhan yang menjadi inspirasi karya para penulis.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/08/14/18/1936286/pembunuh-yang-menjadi-penulis-dan-mengisahkan-kejahatan-yang-dilakukannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/08/14/18/1936286/pembunuh-yang-menjadi-penulis-dan-mengisahkan-kejahatan-yang-dilakukannya"/><item><title>Pembunuh yang Menjadi Penulis Dan Mengisahkan Kejahatan yang Dilakukannya</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/08/14/18/1936286/pembunuh-yang-menjadi-penulis-dan-mengisahkan-kejahatan-yang-dilakukannya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/08/14/18/1936286/pembunuh-yang-menjadi-penulis-dan-mengisahkan-kejahatan-yang-dilakukannya</guid><pubDate>Selasa 14 Agustus 2018 13:05 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/08/14/18/1936286/pembunuh-yang-menjadi-penulis-dan-mengisahkan-kejahatan-yang-dilakukannya-MvUQrsS7m1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Norman Bates, tokoh dalam film Psycho karya Alfred Hitchcock. (Foto: Universal Picture)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/08/14/18/1936286/pembunuh-yang-menjadi-penulis-dan-mengisahkan-kejahatan-yang-dilakukannya-MvUQrsS7m1.jpg</image><title>Norman Bates, tokoh dalam film Psycho karya Alfred Hitchcock. (Foto: Universal Picture)</title></images><description>SEORANG penulis China dijatuhi hukuman atas empat pembunuhan yang dilakukannya. Dia mengklaim bahwa karya-karyanya terinspirasi oleh apa yang dia lakukan. Kini Hephzibah Anderson melihat kembali kasus-kasus pembunuhan kejam yang pernah muncul dalam berbagai novel.
Saat penulis China Liu Yongbiao dijatuhi hukuman awal tahun ini karena telah menganiaya empat orang hingga tewas di sebuah penginapan pada 1995, pembacanya mungkin tidak terlalu terkejut.
Pada kata pengantar untuk novelnya pada 2010, yang berjudul The Guilty Secret, Liu mengatakan bahwa dia sudah mengerjakan novel lanjutannya, tentang seorang penulis perempuan yang melakukan serangkaian pembunuhan kejam dan bisa lepas dari polisi.
Pada akhirnya, Liu tak pernah menulis buku itu meski dia sudah menemukan judulnya: Penulis Cantik yang Membunuh.
Setelah penangkapannya, dia mengatakan pada stasiun berita TV China, CCTV, bahwa beberapa karyanya memang terinspirasi oleh pikiran-pikirannya akan pembunuhan yang dia lakukan. Salah satu korbannya termasuk cucu si pemilik penginapan yang baru berusia 13 tahun.
Liu bukanlah penulis pertama yang telah melakukan kejahatan kejam dan memasukkannya dalam karya fiksinya.
Pada 1991, penulis Belanda Richard Klinkhamer membunuh istrinya dan kemudian menyerahkan naskah macabre pada agennya yang judul terjemahannya menjadi, 'Rabu, Hari Mencincang', dan mungkin juga cocok untuk diberi sub-judul: Tujuh Cara Membunuh Pasangan Anda.
Kisah nyata kejahatan lainnya juga banyak yang masuk ke dalam fiksi, seperti para novelis dengan imajinasi kuat yang kemudian menghidupkan lagi penceritaan yang tak tergarap baik.
Dari mulai In Cold Blood, karya 'novel non-fiksi' dari Truman Capote yang sampai sekarang masih terkenal, sampai buku populer The Room karya Emma Donoghue dan The Girls karya Emma Cline.
Kejahatan yang mengerikan menjadi lebih kuat lagi saat masuk dalam karya fiksi, dan bisa menyelusup masuk ke tempat-tempat terdalam pada pikiran kita.
Lima kasus kriminal ini menginspirasi karya sastra yang mungkin hanya cocok untuk mereka yang berani.

Black Dahlia
Nama aslinya adalah Elizabeth Short. Usianya baru 22 saat jasadnya yang termutilasi ditemukan di sebuah gudang kosong di Los Angeles pada Januari 1947.
Tubuhnya terpotong di pinggang dan darahnya habis. Seorang ibu muda yang pertama menemukan jasadnya mengira dia sedang melihat sebuah manekin.
Peliputan media yang sensasional kemudian menyebut korban itu sebagai Black Dahlia. Penyelidikan polisi berhasil mengumpulkan 150 tersangka tapi tak ada yang ditahan dan sekitar 500 lebih pengakuan pun dicatat oleh polisi, namun tak ada yang kuat.

Kasus yang sampai sekarang belum terpecahkan ini pun menjadi inspirasi budaya, melahirkan beberapa buku dan film termasuk novel True Confessions karya John Gregory Dunne pada 1977, yang berawal dari kasus kejahatan yang mirip dan kemudian menjadi kisah heroik bagi dua saudara di LA pada 1940an.
Namun salah satu karya yang terkenal adalah thriller James Ellroy pada 1987 berjudul The Black Dahlia.
Di novel tersebut, kasusnya terpecahkan. Dan meski novel tersebut dimulai setahun sebelum Ellroy lahir, kasus tersebut punya makna penting baginya karena didedikasikan untuk ibunya yang dibunuh di LA pada 1958.
The Great Wyrley Outrages
Arthur Conan Doyle menerima banyak surat penggemar pada masanya,  termasuk dari orang-orang yang mengira dia adalah tokoh fiksi  ciptaannya, Sherlock Holmes, dan meminta bantuannya untuk mengungkap  suatu misteri.
Pada dekade pertama abad 20, seorang pengacara bernama George Endalji  dibebaskan dari penjara setelah menjalani tiga tahun hukuman kerja  paksa dari tujuh tahun yang dijatuhkan padanya.
Menurut pengadilan, dia bersalah atas mutilasi kuda-kuda dan hewan  ternak serta teror kejam surat anonim yang ditujukan ke orangtuanya  sendiri.
Endalji berkeras bahwa dia tidak bersalah dan meminta Doyle  membantunya untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Doyle yakin  bahwa warna kulit Endalji &amp;mdash; ayahnya adalah orang India &amp;mdash; berperan, dan  dia bekerja keras untuk melawan apa yang kini dikenal sebagai rasisme  institusional di polisi Staffordshire.
Kasus itu menjadi berita besar yang sensasional dan dikenal dengan Great Wyrley Outrages.
Pada 2005, Julian Barnes menulis fiksi Arthur &amp;amp; George  berdasarkan peristiwa tersebut. Kisah petualangan detektif yang cerdas  ini kemudian masuk dalam daftar pendek Man Booker Prize dan diadaptasi  untuk drama dan film.

Hilangnya Paula Jean Welden
Pada hari pertama Desember 1946, seorang mahasiswi berusia 18 tahun hilang saat berjalan-jalan di Long Trail di Vermont.
Paula Jean Welden adalah anak tertua dari seorang desainer yang  terkenal akan karyanya, pengocok cocktail gaya art deco, dan menjalani  pendidikan tahun kedua di Bennington College.
Welden memutuskan untuk berjalan-jalan di jalur hiking pada sebuah  Minggu sore yang dingin. Gagal meyakinkan teman-temannya untuk  menemaninya, dia pergi sendiri, dan tak membawa tas atau uang.
Saat dia tidak kembali ke kampus, sheriff setempat pun dilibatkan,  dan penyelidikan kasusnya kemudian dikecam karena dianggap tidak  memadai.
Berbagai teori sudah diuji, mulai dari dia jatuh dan mengalami  amnesia sampai bunuh diri dan pembunuhan, namun jasadnya tak pernah  ditemukan. Antara 1945 sampai 1950 ada empat kasus orang hilang lain di  area itu yang tidak bisa dijelaskan.
Misteri itu kemudian membangkitkan imajinasi penulis setempat, Shirley Jackson, yang suaminya mengajar di Bennington.
Novelnya yang mengerikan pada 1951, Hangsman, terinspirasi oleh kasus  hilangnya Welden, dan cerpennya, 'The Missing Girl' juga menyentuh  kasus tersebut.
Dalam sebuah twist yang segar, novel karya Susan Scarf Merrell pada  2014, berjudul Shirley, kembali mengangkat kasus itu dan memunculkan  tersangka baru, Shirley Jackson sendiri.

Jagal Plainfield
Bukan hanya seorang pembunuh, tapi juga pencuri jenazah. Edward   Theodore Gein yang berasal dari Plainfield, Wisconsin ditahan pada 1957.
Dia meninggal dalam kondisi sebagai tahanan di rumah sakit jiwa pada   1984. Namun kejamnya kejahatan yang dia lakukan membuatnya terkenal   bahkan setelah dia meninggal.
Dia mengakui membunuh dua perempuan, dan membongkar kuburan   orang-orang yang baru dimakamkan di pemakaman setempat. Dia berencana   untuk membuat sebuah 'setelan perempuan' yang bisa dipakainya untuk   'menjadi' mendiang ibunya.
Para detektif yang menggeledah rumahnya menemukan berbagai hal   mengerikan lainnya, dari furnitur sampai pakaian yang dibuat dari sisa   jasad manusia.
Dua tahun setelah penahanan Gein, penulis Robert Bloch menerbitkan   thriller berjudul Psycho &amp;mdash; novel yang kemudian pada 1960 menjadi salah   satu film paling terkenal dari Alfred Hitchcock. (Meski Bloch tak tahu   akan kasus Gein saat dia mengawali novelnya, namun saat novelnya   selesai, dia membaca soal kasus tersebut.)
Kejahatan Gein pun membentuk karakter Buffalo Bill di The Silence of the Lambs karya Robert Harris.

Harry Powers, pembunuh perempuan
Pembunuh berantai Harry Powers mencari korbannya, para   perempuan-perempuan kesepian, lewat iklan cari jodoh yang mereka pasang   di koran.
Dia berniat untuk merebut hati mereka dan kemudian merampok uang   mereka. Beberapa korbannya termasuk janda Asta Eicher dan tiga anaknya   di Park Ridge, Illinois.
Setelah saling berbalas korespondensi, Powers membawa Eicher untuk pergi beberapa hari pada akhir Juni 1931.
Dia kembali sendirian dan mengatakan bahwa dia akan membawa anak-anak   ke ibu mereka. Seorang perempuan lain juga hilang saat polisi mulai   menyelidiki hilangnya Eicher dan anak-anaknya pada Agustus.
Di rumah Eicher, surat-surat cinta membawa polisi ke Quiet Dell, West   Virginia, ke sebuah tempat kejadian yang memperlihatkan jejak kaki   berdarah seorang anak.
Mereka juga menemukan surat-surat cinta baru yang menyatakan bahwa Powers siap beraksi lagi.
Dia dijatuhi hukuman gantung pada 1932, tapi sebelumnya dia adalah   salah satu pelaku pembunuhan pertama yang menjadi sensasi di media.   Model tiruan dari pondok penjagalan Powers dijual di jalanan, dan saat   novelis Jayne Anne Phillips menyebut kasus itu di novel debutnya, dia   dikirimi potongan kayu.Pada 2013, dia menerbitkan Quiet Dell, novel yang menegangkan dan diriset secara mendalam akan kasus itu serta peliputannya.
Salah satu karakter baru yang diciptakan untuk novel itu adalah    seorang reporter muda bernama Emily Thornhill, yang kehadirannya    menandai akan era pemberdayaan perempuan yang akan muncul.
Dalam salah satu momen di novel itu, Thornhill memahami apa yang    membuat si pembunuh berantai 'berhasil', &quot;dia berhasil dengan    perempuan-perempuan paruh baya ini, yang sepertinya sudah terlukai oleh    laki-laki atau terampas kekayaannya; mereka ingin perlindungan dan    perhatian&quot;.</description><content:encoded>SEORANG penulis China dijatuhi hukuman atas empat pembunuhan yang dilakukannya. Dia mengklaim bahwa karya-karyanya terinspirasi oleh apa yang dia lakukan. Kini Hephzibah Anderson melihat kembali kasus-kasus pembunuhan kejam yang pernah muncul dalam berbagai novel.
Saat penulis China Liu Yongbiao dijatuhi hukuman awal tahun ini karena telah menganiaya empat orang hingga tewas di sebuah penginapan pada 1995, pembacanya mungkin tidak terlalu terkejut.
Pada kata pengantar untuk novelnya pada 2010, yang berjudul The Guilty Secret, Liu mengatakan bahwa dia sudah mengerjakan novel lanjutannya, tentang seorang penulis perempuan yang melakukan serangkaian pembunuhan kejam dan bisa lepas dari polisi.
Pada akhirnya, Liu tak pernah menulis buku itu meski dia sudah menemukan judulnya: Penulis Cantik yang Membunuh.
Setelah penangkapannya, dia mengatakan pada stasiun berita TV China, CCTV, bahwa beberapa karyanya memang terinspirasi oleh pikiran-pikirannya akan pembunuhan yang dia lakukan. Salah satu korbannya termasuk cucu si pemilik penginapan yang baru berusia 13 tahun.
Liu bukanlah penulis pertama yang telah melakukan kejahatan kejam dan memasukkannya dalam karya fiksinya.
Pada 1991, penulis Belanda Richard Klinkhamer membunuh istrinya dan kemudian menyerahkan naskah macabre pada agennya yang judul terjemahannya menjadi, 'Rabu, Hari Mencincang', dan mungkin juga cocok untuk diberi sub-judul: Tujuh Cara Membunuh Pasangan Anda.
Kisah nyata kejahatan lainnya juga banyak yang masuk ke dalam fiksi, seperti para novelis dengan imajinasi kuat yang kemudian menghidupkan lagi penceritaan yang tak tergarap baik.
Dari mulai In Cold Blood, karya 'novel non-fiksi' dari Truman Capote yang sampai sekarang masih terkenal, sampai buku populer The Room karya Emma Donoghue dan The Girls karya Emma Cline.
Kejahatan yang mengerikan menjadi lebih kuat lagi saat masuk dalam karya fiksi, dan bisa menyelusup masuk ke tempat-tempat terdalam pada pikiran kita.
Lima kasus kriminal ini menginspirasi karya sastra yang mungkin hanya cocok untuk mereka yang berani.

Black Dahlia
Nama aslinya adalah Elizabeth Short. Usianya baru 22 saat jasadnya yang termutilasi ditemukan di sebuah gudang kosong di Los Angeles pada Januari 1947.
Tubuhnya terpotong di pinggang dan darahnya habis. Seorang ibu muda yang pertama menemukan jasadnya mengira dia sedang melihat sebuah manekin.
Peliputan media yang sensasional kemudian menyebut korban itu sebagai Black Dahlia. Penyelidikan polisi berhasil mengumpulkan 150 tersangka tapi tak ada yang ditahan dan sekitar 500 lebih pengakuan pun dicatat oleh polisi, namun tak ada yang kuat.

Kasus yang sampai sekarang belum terpecahkan ini pun menjadi inspirasi budaya, melahirkan beberapa buku dan film termasuk novel True Confessions karya John Gregory Dunne pada 1977, yang berawal dari kasus kejahatan yang mirip dan kemudian menjadi kisah heroik bagi dua saudara di LA pada 1940an.
Namun salah satu karya yang terkenal adalah thriller James Ellroy pada 1987 berjudul The Black Dahlia.
Di novel tersebut, kasusnya terpecahkan. Dan meski novel tersebut dimulai setahun sebelum Ellroy lahir, kasus tersebut punya makna penting baginya karena didedikasikan untuk ibunya yang dibunuh di LA pada 1958.
The Great Wyrley Outrages
Arthur Conan Doyle menerima banyak surat penggemar pada masanya,  termasuk dari orang-orang yang mengira dia adalah tokoh fiksi  ciptaannya, Sherlock Holmes, dan meminta bantuannya untuk mengungkap  suatu misteri.
Pada dekade pertama abad 20, seorang pengacara bernama George Endalji  dibebaskan dari penjara setelah menjalani tiga tahun hukuman kerja  paksa dari tujuh tahun yang dijatuhkan padanya.
Menurut pengadilan, dia bersalah atas mutilasi kuda-kuda dan hewan  ternak serta teror kejam surat anonim yang ditujukan ke orangtuanya  sendiri.
Endalji berkeras bahwa dia tidak bersalah dan meminta Doyle  membantunya untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Doyle yakin  bahwa warna kulit Endalji &amp;mdash; ayahnya adalah orang India &amp;mdash; berperan, dan  dia bekerja keras untuk melawan apa yang kini dikenal sebagai rasisme  institusional di polisi Staffordshire.
Kasus itu menjadi berita besar yang sensasional dan dikenal dengan Great Wyrley Outrages.
Pada 2005, Julian Barnes menulis fiksi Arthur &amp;amp; George  berdasarkan peristiwa tersebut. Kisah petualangan detektif yang cerdas  ini kemudian masuk dalam daftar pendek Man Booker Prize dan diadaptasi  untuk drama dan film.

Hilangnya Paula Jean Welden
Pada hari pertama Desember 1946, seorang mahasiswi berusia 18 tahun hilang saat berjalan-jalan di Long Trail di Vermont.
Paula Jean Welden adalah anak tertua dari seorang desainer yang  terkenal akan karyanya, pengocok cocktail gaya art deco, dan menjalani  pendidikan tahun kedua di Bennington College.
Welden memutuskan untuk berjalan-jalan di jalur hiking pada sebuah  Minggu sore yang dingin. Gagal meyakinkan teman-temannya untuk  menemaninya, dia pergi sendiri, dan tak membawa tas atau uang.
Saat dia tidak kembali ke kampus, sheriff setempat pun dilibatkan,  dan penyelidikan kasusnya kemudian dikecam karena dianggap tidak  memadai.
Berbagai teori sudah diuji, mulai dari dia jatuh dan mengalami  amnesia sampai bunuh diri dan pembunuhan, namun jasadnya tak pernah  ditemukan. Antara 1945 sampai 1950 ada empat kasus orang hilang lain di  area itu yang tidak bisa dijelaskan.
Misteri itu kemudian membangkitkan imajinasi penulis setempat, Shirley Jackson, yang suaminya mengajar di Bennington.
Novelnya yang mengerikan pada 1951, Hangsman, terinspirasi oleh kasus  hilangnya Welden, dan cerpennya, 'The Missing Girl' juga menyentuh  kasus tersebut.
Dalam sebuah twist yang segar, novel karya Susan Scarf Merrell pada  2014, berjudul Shirley, kembali mengangkat kasus itu dan memunculkan  tersangka baru, Shirley Jackson sendiri.

Jagal Plainfield
Bukan hanya seorang pembunuh, tapi juga pencuri jenazah. Edward   Theodore Gein yang berasal dari Plainfield, Wisconsin ditahan pada 1957.
Dia meninggal dalam kondisi sebagai tahanan di rumah sakit jiwa pada   1984. Namun kejamnya kejahatan yang dia lakukan membuatnya terkenal   bahkan setelah dia meninggal.
Dia mengakui membunuh dua perempuan, dan membongkar kuburan   orang-orang yang baru dimakamkan di pemakaman setempat. Dia berencana   untuk membuat sebuah 'setelan perempuan' yang bisa dipakainya untuk   'menjadi' mendiang ibunya.
Para detektif yang menggeledah rumahnya menemukan berbagai hal   mengerikan lainnya, dari furnitur sampai pakaian yang dibuat dari sisa   jasad manusia.
Dua tahun setelah penahanan Gein, penulis Robert Bloch menerbitkan   thriller berjudul Psycho &amp;mdash; novel yang kemudian pada 1960 menjadi salah   satu film paling terkenal dari Alfred Hitchcock. (Meski Bloch tak tahu   akan kasus Gein saat dia mengawali novelnya, namun saat novelnya   selesai, dia membaca soal kasus tersebut.)
Kejahatan Gein pun membentuk karakter Buffalo Bill di The Silence of the Lambs karya Robert Harris.

Harry Powers, pembunuh perempuan
Pembunuh berantai Harry Powers mencari korbannya, para   perempuan-perempuan kesepian, lewat iklan cari jodoh yang mereka pasang   di koran.
Dia berniat untuk merebut hati mereka dan kemudian merampok uang   mereka. Beberapa korbannya termasuk janda Asta Eicher dan tiga anaknya   di Park Ridge, Illinois.
Setelah saling berbalas korespondensi, Powers membawa Eicher untuk pergi beberapa hari pada akhir Juni 1931.
Dia kembali sendirian dan mengatakan bahwa dia akan membawa anak-anak   ke ibu mereka. Seorang perempuan lain juga hilang saat polisi mulai   menyelidiki hilangnya Eicher dan anak-anaknya pada Agustus.
Di rumah Eicher, surat-surat cinta membawa polisi ke Quiet Dell, West   Virginia, ke sebuah tempat kejadian yang memperlihatkan jejak kaki   berdarah seorang anak.
Mereka juga menemukan surat-surat cinta baru yang menyatakan bahwa Powers siap beraksi lagi.
Dia dijatuhi hukuman gantung pada 1932, tapi sebelumnya dia adalah   salah satu pelaku pembunuhan pertama yang menjadi sensasi di media.   Model tiruan dari pondok penjagalan Powers dijual di jalanan, dan saat   novelis Jayne Anne Phillips menyebut kasus itu di novel debutnya, dia   dikirimi potongan kayu.Pada 2013, dia menerbitkan Quiet Dell, novel yang menegangkan dan diriset secara mendalam akan kasus itu serta peliputannya.
Salah satu karakter baru yang diciptakan untuk novel itu adalah    seorang reporter muda bernama Emily Thornhill, yang kehadirannya    menandai akan era pemberdayaan perempuan yang akan muncul.
Dalam salah satu momen di novel itu, Thornhill memahami apa yang    membuat si pembunuh berantai 'berhasil', &quot;dia berhasil dengan    perempuan-perempuan paruh baya ini, yang sepertinya sudah terlukai oleh    laki-laki atau terampas kekayaannya; mereka ingin perlindungan dan    perhatian&quot;.</content:encoded></item></channel></rss>
