<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Ondel-Ondel: Dari Mengusir Makhluk Halus hingga Jadi Pengamen Jalanan </title><description></description><link>https://news.okezone.com/read/2018/09/01/337/1944432/kisah-ondel-ondel-dari-mengusir-makhluk-halus-hingga-jadi-pengamen-jalanan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/09/01/337/1944432/kisah-ondel-ondel-dari-mengusir-makhluk-halus-hingga-jadi-pengamen-jalanan"/><item><title>Kisah Ondel-Ondel: Dari Mengusir Makhluk Halus hingga Jadi Pengamen Jalanan </title><link>https://news.okezone.com/read/2018/09/01/337/1944432/kisah-ondel-ondel-dari-mengusir-makhluk-halus-hingga-jadi-pengamen-jalanan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/09/01/337/1944432/kisah-ondel-ondel-dari-mengusir-makhluk-halus-hingga-jadi-pengamen-jalanan</guid><pubDate>Sabtu 01 September 2018 10:05 WIB</pubDate><dc:creator>Badriyanto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/08/31/337/1944432/kisah-ondel-ondel-dari-mengusir-makhluk-halus-hingga-jadi-pengamen-jalanan-QlsTD4pDhy.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ondel-ondel. (Foto: Badriyanto/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/08/31/337/1944432/kisah-ondel-ondel-dari-mengusir-makhluk-halus-hingga-jadi-pengamen-jalanan-QlsTD4pDhy.jpg</image><title>Ondel-ondel. (Foto: Badriyanto/Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Ondel-ondel merupakan ikon DKI Jakarta, yang memiliki sejarah panjang. Konon, ondel-ondel sudah ada sejak abad 16. Saat itu, ondel-ondel mulanya dikenal sebagai boneka raksasa yang diarak warga dari kampung ke kampung untuk mengusir roh jahat.
Pada masa itu, Budayawan Betawi, Ahmad Suaip mengatakan, tidak bisa sembarang orang mengarak ondel-ondel. Ia menjelaskan, orang yang ingin mengarak ondel-ondel itu harus menjalani proses ritual dengan menyambangi makam kramat.
&quot;Ondel-ondelnya dan orang-orangnya mengunjungi makam kramat untuk ritual khusus. Setelah keluar dari makam kramat orang-orang tidak mau deketin tuh ondel-ondel. Ketika didekati risiko bisa kena gepakan dan itu bisa memar dan berdarah. Ondel-ondel sendiri tidak bisa disalahkan,&quot; kata Suaip saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.
Sebelum bersolek, wajah ondel-ondel tampak seram dan menakutkan, dengan memiliki taring dan matanya melotot. Wajahnya berwarna merah bagi ondel-ondel yang laki-laki, sedangkan yang perempuan berwarna putih. Keduanya dibalut kain warna mentereng seperti warna hijau terang dipadu dengan merah muda atau yang lainnya.



&quot;Warna baju ondel-ondel itu syaratnya simpel, warnanya yang nabrak, mentereng, mencolok dan yang norak. Biar sama orang yang menunggu ketika dia mau lewat warna norak dan menabrak. Jadi, sudah kelihatan dari masih jauh,&quot; kata pria yang biasa disapa Davi Kemayoran itu.
&amp;nbsp;
 
Perubahan Nama Ondel-Ondel
Sebelum dikenal dengan nama ondel-ondel seperti sekarang ini, boneka yang kerap ditampilkan berpasangan ini disebut boneka raksasa atau barongan pada 1900. Barongan saat itu merupakan boneka dengan wajah menyeramkan dipadu rambut yang terbuat dari ijuk.
Namun, nama Barongan perlahan berganti lagi menjadi ondel-ondel sejak almarhum Benyamin merilis lagu barunya yang berjudul &amp;ldquo;Ondel-Ondel di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Lagu itu perlahan mengubah kebiasaan masyarakat menyebut boneka raksasa atau barongan menjadi ondel-ondel sampai saat ini.

Ondel-Ondel Mulai Berubah Wajah
Sebagai boneka yang digunakan untuk mengusir roh halus, ondel-ondel zaman dulu memiliki wajah seram, seperti yang telah disebut di atas. Kini, dengan perubahan kegunaan boneka raksasa itu, tampilannya pun berubah.
Ondel-ondel yang dulunya berwajah seram dan menakutkan, kini sudah bersolek menjadi lebih ramah. Dahulu, anak-anak kecil lari ketakutan ketika melihat ondel-ondel yang diarak ke kampunya. Namun, berbeda dengan masa kini. Malah banyak anak-anak kecil yang berlari menyambangi ondel-ondel, yang wajah dan tampilannya tidak menakutkan seperti dahulu.
Perubahan wajah ondel-ondel yang awalnya seram menjadi lebih bersahabat itu diprakarsai Ali Sadikin, saat menjabat Gubernur DKI Jakarta.
Kegunaan ondel-ondel yang dahulu untuk mengusir roh jahat di  kampung-kampung warga kini juga bergeser. Sebagai ikon DKI Jakarta,  ondel-ondel kini banyak ditempatkan di dekat pintu sebagai penyambut  tamu, baik untuk acara resmi maupun pesta dengan unsur Betawi.  Selain  itu, ondel-ondel yang berukuran kecil kini juga digunakan sebagai  pernak-pernik.
&quot;Sebenarnya perubahan wajah itu agak lama, sedikit demi sedikit  diperhalus, di eranya Gubernur Ali Sadikin yang menginginkan wajah  Ondel-Ondel diperhalus dan tidak menyeramkan mungkin biar lebih akrab  dengan masyarakat, khususnya anak-anak. Walaupun era itu juga masih saja  ada yang menyeramkan,&quot; kata pria yang akrab disapa Davi Kemayoran itu.

Dulu Sakral, Kini Jadi Pengamen Jalanan
Setelah mengalami perubahan nama dan tampilan, ondel-ondel mulai  akrab dengan masyarakat khususnya anak kecil. Meski kegunaan ondel-ondel  yang sebelumnya untuk mengusir roh jahat mulai menghilang, tapi  keberadaan boneka raksasa itu tetap eksis. Masih banyak komunitas  sanggar Betawi yang melestarikan ondel-ondel.
Meski begitu, keberadaan sanggar yang menggeluti ondel-ondel kurang  diapresiasi oleh masyarakat maupun pemerintah, sehingga mereka harus  mandiri untuk menghidupi komunitasnya. Mereka mencari panggung  alternatif dengan mengarak ondel-ondel ke jalanan.



&quot;Mereka-mereka yang punya grup, semua sanggar jadi tidak punya  aktivitas untuk bermain sehingga meraka mencoba mengamen. Itu dimulai  dari Jakarta Timur. Awalnya mencoba dan hasilnya lumayan. Terus kan teman-temannya melihat, kemudian ikut-ikutan ngamen ke jalanan,&quot; jelas  Davi Kemayoran.

Ondel-ondel yang kini banyak digunakan sebagai sarana warga untuk  mengamen dan menjadi tontonan dianggap merendahkan budaya Betawi.  Padahal, sebelumnya ondel-ondel dianggap sebagai boneka sakral yang tak  bisa digunakan oleh sembarang orang. Terlebih, tak semua pengarak  ondel-ondel paham dengan keluhuran dan nilai-nilai ikon Ibu Kota  tersebut.
&quot;Kalau buat saya sendiri sih enggak setuju ondel-ondel dibuat ngamen.  Dan yang mengarak sekarang bukan bener-bener seorang seniman. Dia hanya  semata-mata mengarak untuk mendapat uang. Karena menjatuhkan derajat  ondel-ondel itu sendiri, sehingga menjadi murahan,&quot; tuturnya.
Namun, Davi tidak sepenuhnya menyalahkan masyarakat yang mencari  nafkah melalui ondel-ondel. Ia meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI  Jakarta membuat ruang agar ondel-ondel kembali kepada asalnya sebagai  salah satu kebudayaan Betawi.
&quot;Untuk pemerintah diharapkan bisa menyediakan tempat-tempat di  keramaian wisata yang ada di Jakarta. Meraka seharusnya diberikan  panggung. Anak-anak yang ngamen itu dilatih untuk mempunyai skil agar  tidak mengandalkan mata pencaharian dengan ondel-ondel,&quot; pungkasnya.

</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Ondel-ondel merupakan ikon DKI Jakarta, yang memiliki sejarah panjang. Konon, ondel-ondel sudah ada sejak abad 16. Saat itu, ondel-ondel mulanya dikenal sebagai boneka raksasa yang diarak warga dari kampung ke kampung untuk mengusir roh jahat.
Pada masa itu, Budayawan Betawi, Ahmad Suaip mengatakan, tidak bisa sembarang orang mengarak ondel-ondel. Ia menjelaskan, orang yang ingin mengarak ondel-ondel itu harus menjalani proses ritual dengan menyambangi makam kramat.
&quot;Ondel-ondelnya dan orang-orangnya mengunjungi makam kramat untuk ritual khusus. Setelah keluar dari makam kramat orang-orang tidak mau deketin tuh ondel-ondel. Ketika didekati risiko bisa kena gepakan dan itu bisa memar dan berdarah. Ondel-ondel sendiri tidak bisa disalahkan,&quot; kata Suaip saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.
Sebelum bersolek, wajah ondel-ondel tampak seram dan menakutkan, dengan memiliki taring dan matanya melotot. Wajahnya berwarna merah bagi ondel-ondel yang laki-laki, sedangkan yang perempuan berwarna putih. Keduanya dibalut kain warna mentereng seperti warna hijau terang dipadu dengan merah muda atau yang lainnya.



&quot;Warna baju ondel-ondel itu syaratnya simpel, warnanya yang nabrak, mentereng, mencolok dan yang norak. Biar sama orang yang menunggu ketika dia mau lewat warna norak dan menabrak. Jadi, sudah kelihatan dari masih jauh,&quot; kata pria yang biasa disapa Davi Kemayoran itu.
&amp;nbsp;
 
Perubahan Nama Ondel-Ondel
Sebelum dikenal dengan nama ondel-ondel seperti sekarang ini, boneka yang kerap ditampilkan berpasangan ini disebut boneka raksasa atau barongan pada 1900. Barongan saat itu merupakan boneka dengan wajah menyeramkan dipadu rambut yang terbuat dari ijuk.
Namun, nama Barongan perlahan berganti lagi menjadi ondel-ondel sejak almarhum Benyamin merilis lagu barunya yang berjudul &amp;ldquo;Ondel-Ondel di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Lagu itu perlahan mengubah kebiasaan masyarakat menyebut boneka raksasa atau barongan menjadi ondel-ondel sampai saat ini.

Ondel-Ondel Mulai Berubah Wajah
Sebagai boneka yang digunakan untuk mengusir roh halus, ondel-ondel zaman dulu memiliki wajah seram, seperti yang telah disebut di atas. Kini, dengan perubahan kegunaan boneka raksasa itu, tampilannya pun berubah.
Ondel-ondel yang dulunya berwajah seram dan menakutkan, kini sudah bersolek menjadi lebih ramah. Dahulu, anak-anak kecil lari ketakutan ketika melihat ondel-ondel yang diarak ke kampunya. Namun, berbeda dengan masa kini. Malah banyak anak-anak kecil yang berlari menyambangi ondel-ondel, yang wajah dan tampilannya tidak menakutkan seperti dahulu.
Perubahan wajah ondel-ondel yang awalnya seram menjadi lebih bersahabat itu diprakarsai Ali Sadikin, saat menjabat Gubernur DKI Jakarta.
Kegunaan ondel-ondel yang dahulu untuk mengusir roh jahat di  kampung-kampung warga kini juga bergeser. Sebagai ikon DKI Jakarta,  ondel-ondel kini banyak ditempatkan di dekat pintu sebagai penyambut  tamu, baik untuk acara resmi maupun pesta dengan unsur Betawi.  Selain  itu, ondel-ondel yang berukuran kecil kini juga digunakan sebagai  pernak-pernik.
&quot;Sebenarnya perubahan wajah itu agak lama, sedikit demi sedikit  diperhalus, di eranya Gubernur Ali Sadikin yang menginginkan wajah  Ondel-Ondel diperhalus dan tidak menyeramkan mungkin biar lebih akrab  dengan masyarakat, khususnya anak-anak. Walaupun era itu juga masih saja  ada yang menyeramkan,&quot; kata pria yang akrab disapa Davi Kemayoran itu.

Dulu Sakral, Kini Jadi Pengamen Jalanan
Setelah mengalami perubahan nama dan tampilan, ondel-ondel mulai  akrab dengan masyarakat khususnya anak kecil. Meski kegunaan ondel-ondel  yang sebelumnya untuk mengusir roh jahat mulai menghilang, tapi  keberadaan boneka raksasa itu tetap eksis. Masih banyak komunitas  sanggar Betawi yang melestarikan ondel-ondel.
Meski begitu, keberadaan sanggar yang menggeluti ondel-ondel kurang  diapresiasi oleh masyarakat maupun pemerintah, sehingga mereka harus  mandiri untuk menghidupi komunitasnya. Mereka mencari panggung  alternatif dengan mengarak ondel-ondel ke jalanan.



&quot;Mereka-mereka yang punya grup, semua sanggar jadi tidak punya  aktivitas untuk bermain sehingga meraka mencoba mengamen. Itu dimulai  dari Jakarta Timur. Awalnya mencoba dan hasilnya lumayan. Terus kan teman-temannya melihat, kemudian ikut-ikutan ngamen ke jalanan,&quot; jelas  Davi Kemayoran.

Ondel-ondel yang kini banyak digunakan sebagai sarana warga untuk  mengamen dan menjadi tontonan dianggap merendahkan budaya Betawi.  Padahal, sebelumnya ondel-ondel dianggap sebagai boneka sakral yang tak  bisa digunakan oleh sembarang orang. Terlebih, tak semua pengarak  ondel-ondel paham dengan keluhuran dan nilai-nilai ikon Ibu Kota  tersebut.
&quot;Kalau buat saya sendiri sih enggak setuju ondel-ondel dibuat ngamen.  Dan yang mengarak sekarang bukan bener-bener seorang seniman. Dia hanya  semata-mata mengarak untuk mendapat uang. Karena menjatuhkan derajat  ondel-ondel itu sendiri, sehingga menjadi murahan,&quot; tuturnya.
Namun, Davi tidak sepenuhnya menyalahkan masyarakat yang mencari  nafkah melalui ondel-ondel. Ia meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI  Jakarta membuat ruang agar ondel-ondel kembali kepada asalnya sebagai  salah satu kebudayaan Betawi.
&quot;Untuk pemerintah diharapkan bisa menyediakan tempat-tempat di  keramaian wisata yang ada di Jakarta. Meraka seharusnya diberikan  panggung. Anak-anak yang ngamen itu dilatih untuk mempunyai skil agar  tidak mengandalkan mata pencaharian dengan ondel-ondel,&quot; pungkasnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
