<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>17 Tahun Tragedi WTC: 4 Perubahan Penting dan Perkembangan Islam di Amerika</title><description>17 tahun telah berlalu. Banyak hal penting dan perubahan yang terjadi di Amerika terkait peristiwa itu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/09/11/18/1948867/17-tahun-tragedi-wtc-4-perubahan-penting-dan-perkembangan-islam-di-amerika</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/09/11/18/1948867/17-tahun-tragedi-wtc-4-perubahan-penting-dan-perkembangan-islam-di-amerika"/><item><title>17 Tahun Tragedi WTC: 4 Perubahan Penting dan Perkembangan Islam di Amerika</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/09/11/18/1948867/17-tahun-tragedi-wtc-4-perubahan-penting-dan-perkembangan-islam-di-amerika</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/09/11/18/1948867/17-tahun-tragedi-wtc-4-perubahan-penting-dan-perkembangan-islam-di-amerika</guid><pubDate>Selasa 11 September 2018 07:23 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi VOA</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/09/11/18/1948867/17-tahun-tragedi-wtc-4-perubahan-penting-dan-perkembangan-islam-di-amerika-hgSUFGXPKj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/09/11/18/1948867/17-tahun-tragedi-wtc-4-perubahan-penting-dan-perkembangan-islam-di-amerika-hgSUFGXPKj.jpg</image><title>Foto: Reuters</title></images><description>AMERIKA SERIKAT - Selasa pagi, 11 September 2001 adalah salah satu hari terkelam dalam sejarah Amerika. Empat pesawat penumpang dibajak teroris untuk ditabrakkan ke sejumlah objek penting di Amerika.

Tiga di antaranya mengenai target: gedung kembar World Trade Center (WTC) di Kota New York dan Pentagon, di Virginia. Satu pesawat lainnya yang disebut menyasar Washington, D.C., namun gagal. Total hampir 3.000 nyawa melayang akibat rangkaian serangan teroris ini.

Kini, 17 tahun telah berlalu. Banyak hal penting dan perubahan yang terjadi di Amerika terkait peristiwa itu. VOA Indonesia merangkum empat di antaranya.

Terjun ke medan perang

&amp;ldquo;Warga Amerika tidak hanya akan menyaksikan satu perlawanan, tetapi rangkaian perlawanan yang tidak pernah kita lihat sebelumnya,&amp;rdquo; kata Bush.

Perang pun digencarkan di Afghanistan untuk mencari Osama bin Laden, pimpinan al-Qaida yang disebut menjadi dalang serangan 11 September.

Anggaran raksasa pun dikeluarkan untuk menjalankan &amp;ldquo;perang&amp;rdquo; ini. Pada tahun pertama &amp;ldquo;War on Terror&amp;rdquo;, Kongres Amerika mengucurkan dana darurat untuk perang sebesar $29,3 miliar atau sekitar Rp430 triliun.



Langkah ini disusul dengan pengiriman tentara Amerika ke Irak pada 21 Maret 2003. Bush menyebut CIA memprediksi ada senjata pemusnah massal di negara tersebut.

Alhasil, anggaran yang dikucurkan untuk perang di Afghanistan dan Irak terus melonjak. Pada penghujung periode kedua Bush di Gedung Putih, program &amp;ldquo;War on Terror&amp;rdquo; telah menghabiskan $1,164 triliun atau sekitar Rp18 ribu triliun.

Sekitar 10 tahun setelah Peristiwa 11 September, di bawah kepemimpinan Presiden Barack Obama, Osama bin Laden yang diburu, bisa ditemukan Pasukan Khusus Angkatan Laut Amerika dalam sebuah operasi di Pakistan, dan terbunuh pada 2 Mei 2011.



Pada Desember 2014, Obama pun mengumumkan penghentian operasi militer di Afghanistan. Namun, munculnya kelompok yang menyebut diri mereka ISIS di Irak dan Suriah, membuat &amp;ldquo;War on Terror&amp;rdquo; terus berlanjut.

Obama total mengucurkan $807 miliar atau sekitar Rp12 ribu triliun pada dua periode kepemimpinannya. Sementara, Trump telah menganggarkan $156 miliar atau sekitar Rp2.300 triliun untuk &amp;ldquo;War on Terror&amp;rdquo;.

Gedung tertinggi dan stasiun subway terbaru

Runtuhnya Menara Kembar World Trade Center (WTC) pada pagi 11  September 2001 bisa jadi adalah momen yang paling banyak diingat orang  terkait Tragedi 11 September.

Sebanyak 2.606 orang di dalam dan sekitar kedua menara yang berdiri  sejak 1973 itu, tewas, berikut total 157 penumpang di dua pesawat yang  menabrak gedung-gedung yang pernah menjadi tertinggi di dunia, dengan  ketinggian 417 meter itu.

Kini gedung baru bernama One World Trade Center telah berdiri dan resmi menjadi pengganti Menara Kembar, sejak 2013 lalu.



Dengan ketinggian 546 meter, gedung yang dirancang David Childs  (orang dibalik desain gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa) ini  menjadi gedung tertinggi di belahan bumi barat, dan gedung tertinggi  keenam di dunia.

Selain itu, pada Sabtu (08/09), stasiun kereta bawah tanah (Subway)  Cortlandt Street di Kota New York, yang tertimbun saat runtuhnya Menara  Kembar WTC, telah selesai direnovasi dan kembali dibuka.

Jalur kereta yang menghubungkan warga dari bagian barat Pulau  Manhattan ke WTC itu dibangun dengan anggaran $181 juta atau sekitar  Rp2,7 triliun.

&amp;ldquo;(Stasiun) Cortlandt WTC ini bukan sekadar stasiun subway baru  belaka. Ini adalah simbol bangkitnya warga New York, untuk memajukan dan  mengembalikan area WTC seperti dulu,&amp;rdquo; kata Kepala MTA (Otoritas  Transportasi Metropolitan) NY, Joseph Lhota dalam sebuah pernyataan  resmi tertulis.

Keamanan penerbangan super ketat

Serangan 11 September membuat Amerika membentuk sebuah departemen   baru di pemerintahan, yaitu Department of Homeland Security (DHS) atau   Departemen Keamanan Dalam Negeri.

Resmi berdiri pada 25 November 2002, DHS memiliki misi yang meliputi   aktivitas anti-tetorisme, keamanan perbatasan, imigrasi dan pengamanan   siber.

Di bawah DHS terdapat sejumlah lembaga, salah satunya adalah   Transportation Security Administration (TSA), yang benar-benar mengubah   dunia penerbangan Amerika.

Dengan adanya TSA, prosedur pemeriksaan penumpang dan barang di   bandara menjadi lebih ketat. Sebelum 11 September 2001, pengecekan   penumpang hanya menggunakan detector logam yang didesain untuk mencegah   pelaku kejahatan membawa pistol ke dalam pesawat.



Setelahnya, dengan TSA: penumpang harus membawa kartu identitas   dengan nama yang sama dengan di tiket, saat pemeriksaan mayoritas calon   penumpang harus melepas sepatu, alat elektronik harus dikeluarkan dari   dalam tas, cairan lebih dari 100 ml dilarang masuk ke kabin pesawat,  dan  lain sebagainya.

Sementara saat terbang, pintu kokpit pesawat harus selalu dalam   keadaan dikunci. Pemberlakuan TSA ini juga membuat harga tiket pesawat   naik. Pasalnya, maskapai yang ikut menanggung operasional TSA,   membebankan sebagian biayanya kepada penumpang.

Perbaikan sistem administrasi kependudukan

Sebanyak total 19 teroris yang membajak empat pesawat pada Serangan    11 September 2001 adalah warga negara asing yang masuk ke Amerika  secara   legal, mayoritas menggunakan visa turis dengan batas waktu 6  bulan.

Namun, terungkap bahwa mereka bisa ikut sekolah penerbangan dan bisa    &amp;lsquo;beraktivitas bebas&amp;rsquo; menyiapkan aksinya, karena menggunakan sejumlah    Surat Izin Mengemudi (SIM) dan kartu identitas.

&amp;ldquo;19 Teroris yang terlibat pada Serangan 11 September, total memiliki    63 SIM atau kartu identitas,&amp;rdquo; ungkap Direktur Laboratorium Keamanan    Internet Carnegie Mellon, Robert Thibadeau, pada 2002 lalu.

Memperbaiki hal itu, Kongres Amerika pun pada tahun 2005 lalu    mengesahkan Undang-undang Real ID Act. Undang-undang ini memperketat    persyaratan kepemilikan SIM dan kartu identitas negara bagian, yang    dipergunakan sebagai &amp;ldquo;tanda pengenal federal&amp;rdquo; untuk bisa masuk ke    pesawat, gedung federal dan pembangkit listrik tenaga nuklir.



Identitas yang dimutakhirkan ini diharapkan bisa menjamin bahwa si    pemegang kartu identitas adalah pemilik sebenarnya. Kartu ini    menggunakan teknologi anti pemalsuan, misalnya menggunakan hologram yang    disebut tidak bisa dipalsukan.

Hingga saat ini baru sekitar 28 Negara Bagian, di antaranya Texas,    Ohio dan Florida yang telah penuh menerapkan Real ID. Dan mulai Oktober    2020 mendatang, seluruh warga Amerika yang akan terbang secara lokal  di   negaranya, harus menyerahkan SIM atau kartu identitas yang sudah    memenuhi kualifikasi Real ID ini, agar bisa masuk ke pesawat.

Jika tidak punya, warga Amerika bisa menggunakan paspor (jenis    identitas yang dinilai aman dan sulit dipalsukan), meskipun untuk    penerbangan lokal.

Perkembangan &amp;lsquo;pesat&amp;rsquo; Islam

Tidak ada data resmi dari pemerintah Amerika terkait jumlah pemeluk     agama Islam, karena dalam sensus kependudukan, agama tidak boleh     dipertanyakan.

Namun, berdasarkan hasil survei lembaga riset nonprofit yang berbasis     di Washington, D.C., Pew Research Center, jumlah pemeluk Islam di     Amerika disebut &amp;ldquo;terus meningkat&amp;rdquo; sejak peristiwa 11 September.

Jika pada 2007 jumlahnya mencapai 2,35 juta jiwa, di 2011 jumlah     pemeluk Islam adalah 2,75 juta orang. Angka ini terus naik menjadi 3,45     juta orang pada 2017.

Lewat situs resmi Pew Research Center, peneliti Besheer Mohamed,     mengakui bahwa jumlah pemeluk agama Islam memang hanya sekitar 1,1% dari     total populasi Amerika. Jumlahnya juga lebih kecil dari pemeluk    Yahudi,  yaitu sekitar 2%.

&amp;ldquo;(Meski begitu), proyeksi kami, jumlah Muslim akan naik pesat     dibandingkan populasi Yahudi. Tahun 2040 jumlah pemeluk Islam akan     menggantikan Yahudi sebagai agama terbesar kedua yang paling banyak     dipeluk setelah Kristen,&amp;rdquo; tutur Besheer.

Pew menjelaskan salah satu alasan meningkatnya jumlah orang muslim di     Amerika, karena perempuan muslim cenderung punya lebih banyak anak     dibandingkan yang bukan. Setiap perempuan muslim rata-rata punya 3,1     anak, dibandingkan 2,3 anak untuk perempuan yang beragama buka Islam.



Peningkatan jumlah warga muslim ini sejalan dengan salah satu jurnal     ilmiah yang dipublikasi International Journal of Environmental  Science    and Development.

Dalam jurnal berjudul &amp;ldquo;Muslim Population in the Americas: 1950 &amp;ndash;2020&amp;rdquo;     yang ditulis Houssain Kettani itu, jumlah pemeluk Islam di Amerika    pada  tahun 2000 disebut sekitar 5 juta jiwa, naik menjadi 7 juta pada    2010  dan diprediksi menyentuh angka 8 juta orang pada 2020.

Namun, proyeksi itu tentu dipertanyakan setelah pemerintahan Presiden     Amerika Donald Trump, menerapkan larangan berkunjung ke Amerika dari     sejumlah negara dengan penduduk mayoritas muslim: Suriah, Iran,  Yaman    dan Libia.

Apalagi berdasarkan riset Pew, jumlah kekerasan terhadap warga Muslim     di Amerika terus meningkat, bahkan dibandingkan setelah Peristiwa 11     September. Jika pada 2001 ada 93 laporan kekerasan terhadap warga     Muslim, tahun 2016 jumlahnya naik menjadi 127 laporan.

</description><content:encoded>AMERIKA SERIKAT - Selasa pagi, 11 September 2001 adalah salah satu hari terkelam dalam sejarah Amerika. Empat pesawat penumpang dibajak teroris untuk ditabrakkan ke sejumlah objek penting di Amerika.

Tiga di antaranya mengenai target: gedung kembar World Trade Center (WTC) di Kota New York dan Pentagon, di Virginia. Satu pesawat lainnya yang disebut menyasar Washington, D.C., namun gagal. Total hampir 3.000 nyawa melayang akibat rangkaian serangan teroris ini.

Kini, 17 tahun telah berlalu. Banyak hal penting dan perubahan yang terjadi di Amerika terkait peristiwa itu. VOA Indonesia merangkum empat di antaranya.

Terjun ke medan perang

&amp;ldquo;Warga Amerika tidak hanya akan menyaksikan satu perlawanan, tetapi rangkaian perlawanan yang tidak pernah kita lihat sebelumnya,&amp;rdquo; kata Bush.

Perang pun digencarkan di Afghanistan untuk mencari Osama bin Laden, pimpinan al-Qaida yang disebut menjadi dalang serangan 11 September.

Anggaran raksasa pun dikeluarkan untuk menjalankan &amp;ldquo;perang&amp;rdquo; ini. Pada tahun pertama &amp;ldquo;War on Terror&amp;rdquo;, Kongres Amerika mengucurkan dana darurat untuk perang sebesar $29,3 miliar atau sekitar Rp430 triliun.



Langkah ini disusul dengan pengiriman tentara Amerika ke Irak pada 21 Maret 2003. Bush menyebut CIA memprediksi ada senjata pemusnah massal di negara tersebut.

Alhasil, anggaran yang dikucurkan untuk perang di Afghanistan dan Irak terus melonjak. Pada penghujung periode kedua Bush di Gedung Putih, program &amp;ldquo;War on Terror&amp;rdquo; telah menghabiskan $1,164 triliun atau sekitar Rp18 ribu triliun.

Sekitar 10 tahun setelah Peristiwa 11 September, di bawah kepemimpinan Presiden Barack Obama, Osama bin Laden yang diburu, bisa ditemukan Pasukan Khusus Angkatan Laut Amerika dalam sebuah operasi di Pakistan, dan terbunuh pada 2 Mei 2011.



Pada Desember 2014, Obama pun mengumumkan penghentian operasi militer di Afghanistan. Namun, munculnya kelompok yang menyebut diri mereka ISIS di Irak dan Suriah, membuat &amp;ldquo;War on Terror&amp;rdquo; terus berlanjut.

Obama total mengucurkan $807 miliar atau sekitar Rp12 ribu triliun pada dua periode kepemimpinannya. Sementara, Trump telah menganggarkan $156 miliar atau sekitar Rp2.300 triliun untuk &amp;ldquo;War on Terror&amp;rdquo;.

Gedung tertinggi dan stasiun subway terbaru

Runtuhnya Menara Kembar World Trade Center (WTC) pada pagi 11  September 2001 bisa jadi adalah momen yang paling banyak diingat orang  terkait Tragedi 11 September.

Sebanyak 2.606 orang di dalam dan sekitar kedua menara yang berdiri  sejak 1973 itu, tewas, berikut total 157 penumpang di dua pesawat yang  menabrak gedung-gedung yang pernah menjadi tertinggi di dunia, dengan  ketinggian 417 meter itu.

Kini gedung baru bernama One World Trade Center telah berdiri dan resmi menjadi pengganti Menara Kembar, sejak 2013 lalu.



Dengan ketinggian 546 meter, gedung yang dirancang David Childs  (orang dibalik desain gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa) ini  menjadi gedung tertinggi di belahan bumi barat, dan gedung tertinggi  keenam di dunia.

Selain itu, pada Sabtu (08/09), stasiun kereta bawah tanah (Subway)  Cortlandt Street di Kota New York, yang tertimbun saat runtuhnya Menara  Kembar WTC, telah selesai direnovasi dan kembali dibuka.

Jalur kereta yang menghubungkan warga dari bagian barat Pulau  Manhattan ke WTC itu dibangun dengan anggaran $181 juta atau sekitar  Rp2,7 triliun.

&amp;ldquo;(Stasiun) Cortlandt WTC ini bukan sekadar stasiun subway baru  belaka. Ini adalah simbol bangkitnya warga New York, untuk memajukan dan  mengembalikan area WTC seperti dulu,&amp;rdquo; kata Kepala MTA (Otoritas  Transportasi Metropolitan) NY, Joseph Lhota dalam sebuah pernyataan  resmi tertulis.

Keamanan penerbangan super ketat

Serangan 11 September membuat Amerika membentuk sebuah departemen   baru di pemerintahan, yaitu Department of Homeland Security (DHS) atau   Departemen Keamanan Dalam Negeri.

Resmi berdiri pada 25 November 2002, DHS memiliki misi yang meliputi   aktivitas anti-tetorisme, keamanan perbatasan, imigrasi dan pengamanan   siber.

Di bawah DHS terdapat sejumlah lembaga, salah satunya adalah   Transportation Security Administration (TSA), yang benar-benar mengubah   dunia penerbangan Amerika.

Dengan adanya TSA, prosedur pemeriksaan penumpang dan barang di   bandara menjadi lebih ketat. Sebelum 11 September 2001, pengecekan   penumpang hanya menggunakan detector logam yang didesain untuk mencegah   pelaku kejahatan membawa pistol ke dalam pesawat.



Setelahnya, dengan TSA: penumpang harus membawa kartu identitas   dengan nama yang sama dengan di tiket, saat pemeriksaan mayoritas calon   penumpang harus melepas sepatu, alat elektronik harus dikeluarkan dari   dalam tas, cairan lebih dari 100 ml dilarang masuk ke kabin pesawat,  dan  lain sebagainya.

Sementara saat terbang, pintu kokpit pesawat harus selalu dalam   keadaan dikunci. Pemberlakuan TSA ini juga membuat harga tiket pesawat   naik. Pasalnya, maskapai yang ikut menanggung operasional TSA,   membebankan sebagian biayanya kepada penumpang.

Perbaikan sistem administrasi kependudukan

Sebanyak total 19 teroris yang membajak empat pesawat pada Serangan    11 September 2001 adalah warga negara asing yang masuk ke Amerika  secara   legal, mayoritas menggunakan visa turis dengan batas waktu 6  bulan.

Namun, terungkap bahwa mereka bisa ikut sekolah penerbangan dan bisa    &amp;lsquo;beraktivitas bebas&amp;rsquo; menyiapkan aksinya, karena menggunakan sejumlah    Surat Izin Mengemudi (SIM) dan kartu identitas.

&amp;ldquo;19 Teroris yang terlibat pada Serangan 11 September, total memiliki    63 SIM atau kartu identitas,&amp;rdquo; ungkap Direktur Laboratorium Keamanan    Internet Carnegie Mellon, Robert Thibadeau, pada 2002 lalu.

Memperbaiki hal itu, Kongres Amerika pun pada tahun 2005 lalu    mengesahkan Undang-undang Real ID Act. Undang-undang ini memperketat    persyaratan kepemilikan SIM dan kartu identitas negara bagian, yang    dipergunakan sebagai &amp;ldquo;tanda pengenal federal&amp;rdquo; untuk bisa masuk ke    pesawat, gedung federal dan pembangkit listrik tenaga nuklir.



Identitas yang dimutakhirkan ini diharapkan bisa menjamin bahwa si    pemegang kartu identitas adalah pemilik sebenarnya. Kartu ini    menggunakan teknologi anti pemalsuan, misalnya menggunakan hologram yang    disebut tidak bisa dipalsukan.

Hingga saat ini baru sekitar 28 Negara Bagian, di antaranya Texas,    Ohio dan Florida yang telah penuh menerapkan Real ID. Dan mulai Oktober    2020 mendatang, seluruh warga Amerika yang akan terbang secara lokal  di   negaranya, harus menyerahkan SIM atau kartu identitas yang sudah    memenuhi kualifikasi Real ID ini, agar bisa masuk ke pesawat.

Jika tidak punya, warga Amerika bisa menggunakan paspor (jenis    identitas yang dinilai aman dan sulit dipalsukan), meskipun untuk    penerbangan lokal.

Perkembangan &amp;lsquo;pesat&amp;rsquo; Islam

Tidak ada data resmi dari pemerintah Amerika terkait jumlah pemeluk     agama Islam, karena dalam sensus kependudukan, agama tidak boleh     dipertanyakan.

Namun, berdasarkan hasil survei lembaga riset nonprofit yang berbasis     di Washington, D.C., Pew Research Center, jumlah pemeluk Islam di     Amerika disebut &amp;ldquo;terus meningkat&amp;rdquo; sejak peristiwa 11 September.

Jika pada 2007 jumlahnya mencapai 2,35 juta jiwa, di 2011 jumlah     pemeluk Islam adalah 2,75 juta orang. Angka ini terus naik menjadi 3,45     juta orang pada 2017.

Lewat situs resmi Pew Research Center, peneliti Besheer Mohamed,     mengakui bahwa jumlah pemeluk agama Islam memang hanya sekitar 1,1% dari     total populasi Amerika. Jumlahnya juga lebih kecil dari pemeluk    Yahudi,  yaitu sekitar 2%.

&amp;ldquo;(Meski begitu), proyeksi kami, jumlah Muslim akan naik pesat     dibandingkan populasi Yahudi. Tahun 2040 jumlah pemeluk Islam akan     menggantikan Yahudi sebagai agama terbesar kedua yang paling banyak     dipeluk setelah Kristen,&amp;rdquo; tutur Besheer.

Pew menjelaskan salah satu alasan meningkatnya jumlah orang muslim di     Amerika, karena perempuan muslim cenderung punya lebih banyak anak     dibandingkan yang bukan. Setiap perempuan muslim rata-rata punya 3,1     anak, dibandingkan 2,3 anak untuk perempuan yang beragama buka Islam.



Peningkatan jumlah warga muslim ini sejalan dengan salah satu jurnal     ilmiah yang dipublikasi International Journal of Environmental  Science    and Development.

Dalam jurnal berjudul &amp;ldquo;Muslim Population in the Americas: 1950 &amp;ndash;2020&amp;rdquo;     yang ditulis Houssain Kettani itu, jumlah pemeluk Islam di Amerika    pada  tahun 2000 disebut sekitar 5 juta jiwa, naik menjadi 7 juta pada    2010  dan diprediksi menyentuh angka 8 juta orang pada 2020.

Namun, proyeksi itu tentu dipertanyakan setelah pemerintahan Presiden     Amerika Donald Trump, menerapkan larangan berkunjung ke Amerika dari     sejumlah negara dengan penduduk mayoritas muslim: Suriah, Iran,  Yaman    dan Libia.

Apalagi berdasarkan riset Pew, jumlah kekerasan terhadap warga Muslim     di Amerika terus meningkat, bahkan dibandingkan setelah Peristiwa 11     September. Jika pada 2001 ada 93 laporan kekerasan terhadap warga     Muslim, tahun 2016 jumlahnya naik menjadi 127 laporan.

</content:encoded></item></channel></rss>
