<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sebelum Wafat, Peter Kasenda Ditugaskan Presiden Rumuskan Naskah Otentik Hari Lahir Pancasila</title><description>Peter Kasenda dianggap sebagai penulis sekaligus pemikir yang rendah hati</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/09/12/338/1949255/sebelum-wafat-peter-kasenda-ditugaskan-presiden-rumuskan-naskah-otentik-hari-lahir-pancasila</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/09/12/338/1949255/sebelum-wafat-peter-kasenda-ditugaskan-presiden-rumuskan-naskah-otentik-hari-lahir-pancasila"/><item><title>Sebelum Wafat, Peter Kasenda Ditugaskan Presiden Rumuskan Naskah Otentik Hari Lahir Pancasila</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/09/12/338/1949255/sebelum-wafat-peter-kasenda-ditugaskan-presiden-rumuskan-naskah-otentik-hari-lahir-pancasila</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/09/12/338/1949255/sebelum-wafat-peter-kasenda-ditugaskan-presiden-rumuskan-naskah-otentik-hari-lahir-pancasila</guid><pubDate>Rabu 12 September 2018 09:40 WIB</pubDate><dc:creator>Wijayakusuma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/09/12/338/1949255/sebelum-wafat-peter-kasenda-ditugaskan-presiden-rumuskan-naskah-otentik-hari-lahir-pancasila-atM4Pb6Mup.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rumah duka Peter Kasenda (Foto: Wijayakusuma/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/09/12/338/1949255/sebelum-wafat-peter-kasenda-ditugaskan-presiden-rumuskan-naskah-otentik-hari-lahir-pancasila-atM4Pb6Mup.jpg</image><title>Rumah duka Peter Kasenda (Foto: Wijayakusuma/Okezone)</title></images><description>BEKASI - Ucapan belasungkawa masih terus berdatangan dari sejumlah kerabat atas kepergian sejarawan senior, Peter Kasenda (61). Salah satunya Plt Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Hariyono.

Pria bergelar Profesor itu mengenang sosok Peter sebagai penulis sekaligus pemikir yang rendah hati, serta senantiasa tekun terhadap hal yang dibidanginya.

&quot;Beliau sebagai pemikir, penulis, dosen sekaligus mantan aktivis, sikap mesu diri mengharuskannya bertekun dalam kesunyian olah pemikiran,&quot; katanya kepada Okezone.

Hariyono menceritakan, sebelum bergabung dengan tim BPIP (dulunya Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila), Peter telah banyak menorehkan karya-karya tulisannya.

&quot;Sebagai penulis, Pak Peter sangat produktif menghasilkan karya-karyanya. Tulisannya pertama kali dimuat pada harian Prioritas pada Oktober 1986,&quot; ujarnya.

Dosen yang aktif mengajar di Kampus Merah Putih Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Jakarta dan Universitas Bung Karno (UBK) itu, juga menjadi kontributor buku-buku seperti tokoh Indonesia dalam Era Pembangunan (1987). Peter juga dikenal sebagai penulis biografi dan buah pemikiran Soekarno yang cukup menonjol. Banyak pihak mengecap mendiang sebagai pencatat terbaik Marhaenisme dan hidup Soekarno.

&quot;Beberapa hasil tulisannya, seperti Kembali ke Cita-Cita Proklamasi 1945 (2010), Heldy Cinta Terakhir Bung Karno (2011) dan Hari-Hari Terakhir Sukarno,&quot; kata Hariyono.

Tulisan Peter juga beberapa kali berbicara tentang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), diantaranya kisah ketua umum GMNI generasi perdana, John Lumingkewas: Merah Darahku, Putih Tulangku, Pancasila Jiwaku (2010), Soeharto Penerus Ajaran Politik Soekarno (2012), Mereka Bilang Kita Orang Indonesia (2010) dan Kembali ke Cita-Cita Proklamasi 1945 (2011).

&quot;Tulisan Pak Peter masih bisa diakses masyarakat luas di blog pribadi mendiang di peterkasenda@wordpress.com,&quot; ujarnya.



Hariyono menjelaskan, Peter baru setahun terakhir mengemban tugas di BPIP. Peter bersama tim mendapat tugas berat dari Presiden, yakni merumuskan dokumen naskah otentik Hari Lahir Pancasila. Menurut tim kerja, Peter selalu murah hati memberi ruang bagi siapa saja yang menginterupsi penulisan historisnya.

&quot;Para rekan sejawat di BPIP, kampus UNTAG dan UBK serta kerabat lain yang mengenal mendiang, sangat berduka. Rasa kehilangan sahabat tercermin dari perhatian besar dalam mengurus semua ikhwal prosesi penyemayaman, prosesi doa hingga pemakaman,&quot; akunya.

Kini usai sudah tugas intelektual yang tak lelah dilakoni Peter semasa hidup. Meski telah pergi, kenangan akan Peter Kasenda dan karya-karyanya, tetap ada menemani para sahabat dan rekan sejawat. Dan meski memilih tidak berkeluarga, Peter tetap ingin semua orang yang dikasihinya, menjadi pribadi yang tiada lelah untuk gelisah dan terus belajar.

&quot;Pak Peter yang senantiasa bertekun dalam kesunyian olah pemikiran, menghantarkannya kepada Sang Pencipta. Selamat jalan sahabat dan rekan sejawat, Peter Kasenda. Tuhan Allah menantimu dengan penuh suka cita di surga,&quot; tandas Hariyono.


</description><content:encoded>BEKASI - Ucapan belasungkawa masih terus berdatangan dari sejumlah kerabat atas kepergian sejarawan senior, Peter Kasenda (61). Salah satunya Plt Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Hariyono.

Pria bergelar Profesor itu mengenang sosok Peter sebagai penulis sekaligus pemikir yang rendah hati, serta senantiasa tekun terhadap hal yang dibidanginya.

&quot;Beliau sebagai pemikir, penulis, dosen sekaligus mantan aktivis, sikap mesu diri mengharuskannya bertekun dalam kesunyian olah pemikiran,&quot; katanya kepada Okezone.

Hariyono menceritakan, sebelum bergabung dengan tim BPIP (dulunya Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila), Peter telah banyak menorehkan karya-karya tulisannya.

&quot;Sebagai penulis, Pak Peter sangat produktif menghasilkan karya-karyanya. Tulisannya pertama kali dimuat pada harian Prioritas pada Oktober 1986,&quot; ujarnya.

Dosen yang aktif mengajar di Kampus Merah Putih Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Jakarta dan Universitas Bung Karno (UBK) itu, juga menjadi kontributor buku-buku seperti tokoh Indonesia dalam Era Pembangunan (1987). Peter juga dikenal sebagai penulis biografi dan buah pemikiran Soekarno yang cukup menonjol. Banyak pihak mengecap mendiang sebagai pencatat terbaik Marhaenisme dan hidup Soekarno.

&quot;Beberapa hasil tulisannya, seperti Kembali ke Cita-Cita Proklamasi 1945 (2010), Heldy Cinta Terakhir Bung Karno (2011) dan Hari-Hari Terakhir Sukarno,&quot; kata Hariyono.

Tulisan Peter juga beberapa kali berbicara tentang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), diantaranya kisah ketua umum GMNI generasi perdana, John Lumingkewas: Merah Darahku, Putih Tulangku, Pancasila Jiwaku (2010), Soeharto Penerus Ajaran Politik Soekarno (2012), Mereka Bilang Kita Orang Indonesia (2010) dan Kembali ke Cita-Cita Proklamasi 1945 (2011).

&quot;Tulisan Pak Peter masih bisa diakses masyarakat luas di blog pribadi mendiang di peterkasenda@wordpress.com,&quot; ujarnya.



Hariyono menjelaskan, Peter baru setahun terakhir mengemban tugas di BPIP. Peter bersama tim mendapat tugas berat dari Presiden, yakni merumuskan dokumen naskah otentik Hari Lahir Pancasila. Menurut tim kerja, Peter selalu murah hati memberi ruang bagi siapa saja yang menginterupsi penulisan historisnya.

&quot;Para rekan sejawat di BPIP, kampus UNTAG dan UBK serta kerabat lain yang mengenal mendiang, sangat berduka. Rasa kehilangan sahabat tercermin dari perhatian besar dalam mengurus semua ikhwal prosesi penyemayaman, prosesi doa hingga pemakaman,&quot; akunya.

Kini usai sudah tugas intelektual yang tak lelah dilakoni Peter semasa hidup. Meski telah pergi, kenangan akan Peter Kasenda dan karya-karyanya, tetap ada menemani para sahabat dan rekan sejawat. Dan meski memilih tidak berkeluarga, Peter tetap ingin semua orang yang dikasihinya, menjadi pribadi yang tiada lelah untuk gelisah dan terus belajar.

&quot;Pak Peter yang senantiasa bertekun dalam kesunyian olah pemikiran, menghantarkannya kepada Sang Pencipta. Selamat jalan sahabat dan rekan sejawat, Peter Kasenda. Tuhan Allah menantimu dengan penuh suka cita di surga,&quot; tandas Hariyono.


</content:encoded></item></channel></rss>
