<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Membongkar Suara Generasi Milenial, Penyumbang 35% Suara di Pemilu 2019</title><description>Generasi milenial menjadi salah satu komoditi politik yang paling diincar oleh para praktisi politik di Indonesia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/09/15/605/1951028/membongkar-suara-generasi-milenial-penyumbang-35-suara-di-pemilu-2019</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/09/15/605/1951028/membongkar-suara-generasi-milenial-penyumbang-35-suara-di-pemilu-2019"/><item><title>Membongkar Suara Generasi Milenial, Penyumbang 35% Suara di Pemilu 2019</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/09/15/605/1951028/membongkar-suara-generasi-milenial-penyumbang-35-suara-di-pemilu-2019</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/09/15/605/1951028/membongkar-suara-generasi-milenial-penyumbang-35-suara-di-pemilu-2019</guid><pubDate>Sabtu 15 September 2018 23:29 WIB</pubDate><dc:creator>Harits Tryan Akhmad</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/09/15/605/1951028/membongkar-suara-generasi-milenial-penyumbang-35-suara-di-pemilu-2019-KePS2utR3h.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/09/15/605/1951028/membongkar-suara-generasi-milenial-penyumbang-35-suara-di-pemilu-2019-KePS2utR3h.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>JAKARTA - Generasi milenial menjadi salah satu komoditi politik yang paling diincar oleh para praktisi politik di Indonesia. Suara generasi ini, didapuk menyumbang suara terbanyak dari seluruh segmen pemilih di Indonesia.

Suara pemilih milenial dalam Daftar Pemilih Tetap KPU proporsinya sekitar 34,2 % dari total 152 juta pemilih dan keberadaannya kerap disebut bakal menentukan arah politik bangsa Indonesia ke depan. Sehingga, banyak yang dipasang calon-calon pemimpin dari daerah sampai ke pusat mengambil peran dengan figur muda yang menyesuaikan gaya milenial.

&quot;Walaupun demikian, generasi milenial tidak selalu mendukung calon yang berasal dari generasi mereka akan tetapi ada beberapa faktor terkait kapabilitas dan kecenderungan lebih memilih incumbent yang berprestasi serta tidak peduli berapapun usia calon pemimpin yang harus dipilih,&quot; jelas Ketua Forum Indonesia Muda Cerdas, Asep Ubaidilah, Sabtu (15/9/2018).

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik, prediksi pemilih milenial pada Pilkada 2018 sekitar 35 %. Dalam konteks perilaku pemilih, jelas Asep, kelompok milenial tergolong jenis pemilih rasional (kritis).

&quot;Mayoritas mereka pengguna media sosial dan melek akses informasi,&quot; jelasnya.



Hasil survei CSIS pada Agustus 2017 menyebutkan sebanyak 81,7% milenial pengguna Facebook, 70,3% pengguna whatsapp dan 54,7% pengguna instagram. Akan tetapi berkenaan dengan Pilpres 2019 nanti pola pikir kelompok milenial terkait partisipasi dalam menentukan pilihan dapat saja bisa berubah dan tidak hanya bersikap apatis.

&quot;Kita sangat optimis, sebagai contoh untuk provinsi DKI Jakarta saja sebanyak 44,78% lebih dari sekitar 7,4% juta penduduk DKI yang berkemungkinan memilih ada dalam kategori generasi milenial. Seluruh jumlah penduduk DKI Jakarta saat ini lebih dari 10 juta jiwa dan potensi pemilih mencakup 74% dari jumlah itu. Dibawah jumlah calon pemilih generasi milenial ada sekitar 40,64% yang masuk tipologi generasi X  dan Y atau usia 20-34 tahun dan sisanya adalah calon pemilih generasi Baby Boomers atau kelompok yang lahir dibawah tahun 1964 sebanyak 14,58%,&quot; papar Asep.

Selain itu Asep juga membongkar setidaknya ada tiga kelompok partisipasi politik generasi milenial. Pertama, kelompok apatis, yakni mereka yang alergi terhadap politik bahkan menarik diri dari proses politik yang ada, biasanya kelompok seperti ini kurangnya akses informasi dan terkesan terlalu eksklusif.

Kedua, kelompok spektator yakni mereka yang kurang tertarik dengan politik tetapi terkadang masih kerap menggunakan hak pilihnya. Ketiga, kelompok gladiator yaitu generasi milenial yang sangat aktif di dalam politik seperti aktivis partai, aktivis organisasi dan milenial yang aktif sebagai pekerja kampanye.

&quot;Jika merujuk hal diatas, pemilih milenial memang cenderung masuk pada kelompok apatis. Namun demikian, apatisme pemilih milenial disini bukanlah apatis yang buta dan skeptis pemikiran. Pemilih milenial lebih tepat disebut sebagai kelompok 'Apatis yang kritis'. Mereka lebih suka berpartisipasi dalam bentuk non-konvensional, karena bagi mereka makna partisipasi politik tidak hanya dalam arena pemilu,&quot; papar Asep.

Asep menilai, generasi milenial perlu diajak untuk melihat lebih dalam soal pemilu. Generasi milenial, punya potensi besar untuk terciptanya pemilu yang sejuk dan damai.

&quot;Kami bersama-sama satukan visi dan tekad untuk mensukseskan pemilu 2019 yang aman, damai dan sejuk,&quot; jelas Asep.
</description><content:encoded>JAKARTA - Generasi milenial menjadi salah satu komoditi politik yang paling diincar oleh para praktisi politik di Indonesia. Suara generasi ini, didapuk menyumbang suara terbanyak dari seluruh segmen pemilih di Indonesia.

Suara pemilih milenial dalam Daftar Pemilih Tetap KPU proporsinya sekitar 34,2 % dari total 152 juta pemilih dan keberadaannya kerap disebut bakal menentukan arah politik bangsa Indonesia ke depan. Sehingga, banyak yang dipasang calon-calon pemimpin dari daerah sampai ke pusat mengambil peran dengan figur muda yang menyesuaikan gaya milenial.

&quot;Walaupun demikian, generasi milenial tidak selalu mendukung calon yang berasal dari generasi mereka akan tetapi ada beberapa faktor terkait kapabilitas dan kecenderungan lebih memilih incumbent yang berprestasi serta tidak peduli berapapun usia calon pemimpin yang harus dipilih,&quot; jelas Ketua Forum Indonesia Muda Cerdas, Asep Ubaidilah, Sabtu (15/9/2018).

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik, prediksi pemilih milenial pada Pilkada 2018 sekitar 35 %. Dalam konteks perilaku pemilih, jelas Asep, kelompok milenial tergolong jenis pemilih rasional (kritis).

&quot;Mayoritas mereka pengguna media sosial dan melek akses informasi,&quot; jelasnya.



Hasil survei CSIS pada Agustus 2017 menyebutkan sebanyak 81,7% milenial pengguna Facebook, 70,3% pengguna whatsapp dan 54,7% pengguna instagram. Akan tetapi berkenaan dengan Pilpres 2019 nanti pola pikir kelompok milenial terkait partisipasi dalam menentukan pilihan dapat saja bisa berubah dan tidak hanya bersikap apatis.

&quot;Kita sangat optimis, sebagai contoh untuk provinsi DKI Jakarta saja sebanyak 44,78% lebih dari sekitar 7,4% juta penduduk DKI yang berkemungkinan memilih ada dalam kategori generasi milenial. Seluruh jumlah penduduk DKI Jakarta saat ini lebih dari 10 juta jiwa dan potensi pemilih mencakup 74% dari jumlah itu. Dibawah jumlah calon pemilih generasi milenial ada sekitar 40,64% yang masuk tipologi generasi X  dan Y atau usia 20-34 tahun dan sisanya adalah calon pemilih generasi Baby Boomers atau kelompok yang lahir dibawah tahun 1964 sebanyak 14,58%,&quot; papar Asep.

Selain itu Asep juga membongkar setidaknya ada tiga kelompok partisipasi politik generasi milenial. Pertama, kelompok apatis, yakni mereka yang alergi terhadap politik bahkan menarik diri dari proses politik yang ada, biasanya kelompok seperti ini kurangnya akses informasi dan terkesan terlalu eksklusif.

Kedua, kelompok spektator yakni mereka yang kurang tertarik dengan politik tetapi terkadang masih kerap menggunakan hak pilihnya. Ketiga, kelompok gladiator yaitu generasi milenial yang sangat aktif di dalam politik seperti aktivis partai, aktivis organisasi dan milenial yang aktif sebagai pekerja kampanye.

&quot;Jika merujuk hal diatas, pemilih milenial memang cenderung masuk pada kelompok apatis. Namun demikian, apatisme pemilih milenial disini bukanlah apatis yang buta dan skeptis pemikiran. Pemilih milenial lebih tepat disebut sebagai kelompok 'Apatis yang kritis'. Mereka lebih suka berpartisipasi dalam bentuk non-konvensional, karena bagi mereka makna partisipasi politik tidak hanya dalam arena pemilu,&quot; papar Asep.

Asep menilai, generasi milenial perlu diajak untuk melihat lebih dalam soal pemilu. Generasi milenial, punya potensi besar untuk terciptanya pemilu yang sejuk dan damai.

&quot;Kami bersama-sama satukan visi dan tekad untuk mensukseskan pemilu 2019 yang aman, damai dan sejuk,&quot; jelas Asep.
</content:encoded></item></channel></rss>
