<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Komunikasi Masih Sulit, Banyak Warga Khawatirkan Nasib Keluarganya di Palu dan Donggala</title><description>Banyak warga yang khawatirkan nasib keluarganya di Palu dan Donggala.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/09/30/340/1957584/komunikasi-masih-sulit-banyak-warga-khawatirkan-nasib-keluarganya-di-palu-dan-donggala</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/09/30/340/1957584/komunikasi-masih-sulit-banyak-warga-khawatirkan-nasib-keluarganya-di-palu-dan-donggala"/><item><title>Komunikasi Masih Sulit, Banyak Warga Khawatirkan Nasib Keluarganya di Palu dan Donggala</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/09/30/340/1957584/komunikasi-masih-sulit-banyak-warga-khawatirkan-nasib-keluarganya-di-palu-dan-donggala</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/09/30/340/1957584/komunikasi-masih-sulit-banyak-warga-khawatirkan-nasib-keluarganya-di-palu-dan-donggala</guid><pubDate>Minggu 30 September 2018 10:05 WIB</pubDate><dc:creator>Qur'anul Hidayat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/09/30/340/1957584/komunikasi-masih-sulit-banyak-warga-khawatirkan-nasib-keluarganya-di-palu-dan-donggala-38Nxx8yQcG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: AFP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/09/30/340/1957584/komunikasi-masih-sulit-banyak-warga-khawatirkan-nasib-keluarganya-di-palu-dan-donggala-38Nxx8yQcG.jpg</image><title>(Foto: AFP)</title></images><description>JAKARTA - Gempa 7,4 skala Richter (SR) di Palu dan Donggala yang mengakibatkan tsunami telah menelan banyak korban. Informasi terbaru dari BNPB menyebutkan 420 tewas akibat bencana alam dahsyat ini. Data sementara itu diperkirakan akan bertambah, mengingat akses ke Donggala yang terputus.
Gempa dan tsunami ini membuat banyak orang yang keluarganya berada di Palu dan Donggala khawatir. Mereka pun sulit untuk berkomunikasi ke daerah terdampak bencana karena jaringan yang belum stabil.
Salah satunya adalah Carorilus Nadya Ari Cundoko (Cicuk) yang mencari informasi keluarganya di Palu. Identitasnya adalah Bonifasius Nadya Aribowo (Hakim Tipikor PT Palu) beralamat di belakang Kantor Kelurahan Petobo Palu Selatan.

Selanjutnya adalah istri Bonifasius yakni Catharina Friertrika Prima Dewi (Ika) dan anak mereka Lukas Adhyatma  Primawibawa (siswa SMPN 1 Palu). Bagi yang mengetahui keberadaan ketiganya, bisa menghubungi Cicuk di nomor 0815710803487
Selain itu seperti diberitakan Antara, seorang karyawan PT Sampoerna Cabang Palu asal Ambon, Patricia Tuhumury/Kailola (30) hingga saat ini belum ditemukan.
Keluarga Patricia di Ambon, Novy Pinontoan mengatakan, telah diberitahu manajemen perusahaan bahwa kemenakannya itu belum ditemukan.
(Baca juga: Pascagempa, Ratusan Warga Makassar Mengantre Naik Pesawat Hercules ke Palu)
&quot;Kami sedih mendengar pemberitahuan tersebut, apalagi suaminya, Tito Kailola (30) juga belum ditemukan,&quot; ujarnya.
Tragisnya, anak mereka, Sasya (7) berdasarkan konfirmasi perusahaan yang mengirimkan fotonya melalui WhatApp (WA) untuk memastikan identitasnya teryata telah ditemukan meninggal dunia.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/09/29/53372/269364_medium.jpg&quot; alt=&quot;Gempa 7,7 SR, Mako Ditlantas Polda Sulteng Ambruk&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Novy mengutip penjelasan manajemen perusahaan mengatakan, saat gempa, Patricia sedang bekerja di kantornya.
Sedangkan suaminya, Tito setelah menjemput Sasya yang saat ini siswa kelas dua SD bermaksud mengecek Patricia di kantor karena khawatir guncangan gempa.
&quot;Kemungkinan saat Tito dan Sasya tiba di kantor Patricia dilanda tsunami karena lokasinya berada di Pantai Palu,&quot; ujarnya.
Keluarga Patricia di Ambon sangat bersedih karena dia bersama Tito dan Sasya baru kembali ke Palu pada 24 September 2018. Mereka berada di Ambon untuk menghadiri pemakaman ayah Patricia pada 22 September 2018.
&quot;Kami mendoakan agar Patricia dan Tito bisa ditemukan dalam kondisi apapun,&quot; tandas Novy.
</description><content:encoded>JAKARTA - Gempa 7,4 skala Richter (SR) di Palu dan Donggala yang mengakibatkan tsunami telah menelan banyak korban. Informasi terbaru dari BNPB menyebutkan 420 tewas akibat bencana alam dahsyat ini. Data sementara itu diperkirakan akan bertambah, mengingat akses ke Donggala yang terputus.
Gempa dan tsunami ini membuat banyak orang yang keluarganya berada di Palu dan Donggala khawatir. Mereka pun sulit untuk berkomunikasi ke daerah terdampak bencana karena jaringan yang belum stabil.
Salah satunya adalah Carorilus Nadya Ari Cundoko (Cicuk) yang mencari informasi keluarganya di Palu. Identitasnya adalah Bonifasius Nadya Aribowo (Hakim Tipikor PT Palu) beralamat di belakang Kantor Kelurahan Petobo Palu Selatan.

Selanjutnya adalah istri Bonifasius yakni Catharina Friertrika Prima Dewi (Ika) dan anak mereka Lukas Adhyatma  Primawibawa (siswa SMPN 1 Palu). Bagi yang mengetahui keberadaan ketiganya, bisa menghubungi Cicuk di nomor 0815710803487
Selain itu seperti diberitakan Antara, seorang karyawan PT Sampoerna Cabang Palu asal Ambon, Patricia Tuhumury/Kailola (30) hingga saat ini belum ditemukan.
Keluarga Patricia di Ambon, Novy Pinontoan mengatakan, telah diberitahu manajemen perusahaan bahwa kemenakannya itu belum ditemukan.
(Baca juga: Pascagempa, Ratusan Warga Makassar Mengantre Naik Pesawat Hercules ke Palu)
&quot;Kami sedih mendengar pemberitahuan tersebut, apalagi suaminya, Tito Kailola (30) juga belum ditemukan,&quot; ujarnya.
Tragisnya, anak mereka, Sasya (7) berdasarkan konfirmasi perusahaan yang mengirimkan fotonya melalui WhatApp (WA) untuk memastikan identitasnya teryata telah ditemukan meninggal dunia.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/09/29/53372/269364_medium.jpg&quot; alt=&quot;Gempa 7,7 SR, Mako Ditlantas Polda Sulteng Ambruk&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Novy mengutip penjelasan manajemen perusahaan mengatakan, saat gempa, Patricia sedang bekerja di kantornya.
Sedangkan suaminya, Tito setelah menjemput Sasya yang saat ini siswa kelas dua SD bermaksud mengecek Patricia di kantor karena khawatir guncangan gempa.
&quot;Kemungkinan saat Tito dan Sasya tiba di kantor Patricia dilanda tsunami karena lokasinya berada di Pantai Palu,&quot; ujarnya.
Keluarga Patricia di Ambon sangat bersedih karena dia bersama Tito dan Sasya baru kembali ke Palu pada 24 September 2018. Mereka berada di Ambon untuk menghadiri pemakaman ayah Patricia pada 22 September 2018.
&quot;Kami mendoakan agar Patricia dan Tito bisa ditemukan dalam kondisi apapun,&quot; tandas Novy.
</content:encoded></item></channel></rss>
