<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita 18 Jam Pemulihan Navigasi Penerbangan Pasca-Gempa Sulteng</title><description>Pemulihan ini termasuk cepat, pukul 11.00 paginya Hercules sudah bisa mendarat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/10/10/337/1961975/cerita-18-jam-pemulihan-navigasi-penerbangan-pasca-gempa-sulteng</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/10/10/337/1961975/cerita-18-jam-pemulihan-navigasi-penerbangan-pasca-gempa-sulteng"/><item><title>Cerita 18 Jam Pemulihan Navigasi Penerbangan Pasca-Gempa Sulteng</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/10/10/337/1961975/cerita-18-jam-pemulihan-navigasi-penerbangan-pasca-gempa-sulteng</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/10/10/337/1961975/cerita-18-jam-pemulihan-navigasi-penerbangan-pasca-gempa-sulteng</guid><pubDate>Rabu 10 Oktober 2018 11:17 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/10/10/337/1961975/cerita-18-jam-pemulihan-navigasi-penerbangan-pasca-gempa-sulteng-WrPLpaXYqL.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/10/10/337/1961975/cerita-18-jam-pemulihan-navigasi-penerbangan-pasca-gempa-sulteng-WrPLpaXYqL.jpg</image><title></title></images><description>JAKARTA - Gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter yang mengguncang Kota Palu dan sekitarnya lebih dari sepekan lalu masih menyisakan pilu. Namun, kepingan-kepingan harapan yang turut terguncang gempa disusul sapuan tsunami itu mulai dikumpulkan kembali karena kehidupan harus berlanjut dan tidak boleh terhenti.

Kini kegiatan penerbangan sudah mendekati normal, meski masih menggunakan terminal sementara dan landasan pacu yang terbatas.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, terhitung 11.215 pergerakan penumpang di Bandara Mutiara SIS Al Jufri sejak 30 September hingga 8 Oktober 2018. Di balik itu semua, terdapat upaya keras yang terus dilakukan untuk mempercepat pemulihan seperti kondisi sedia kala, baik oleh regulator maupun operator penerbangan. Pasalnya, peran moda transportasi udara sangat vital karena dinilai yang paling cepat dalam mendistribusikan bantuan kemanusiaan, baik orang maupun barang.

Salah satu hal krusial yang harus dipulihkan dengan cepat saat itu adalah sistem navigasi penerbangan, karena pesawat tidak bisa beroperasi tanpa adanya instruksi dari pengatur lalu lintas (ATC).

Sementara, menara ATC Bandara Mutiara SIS Al Jufri kala itu pun turut ambruk, komunikasi terputus karena jaringan listrik yang mati total akibat dahsyatnya guncangan gempa. Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Indonesia atau Airnav Indonesia langsung menerbitkan &quot;notice to airmen&quot; (notam) bahwa Bandara Mutiara SIS Al Jufri ditutup sementara selama 24 jam.

&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/10/01/53409/269552_medium.jpg&quot; alt=&quot;Foto Bandara Mutiara Sis Al Jufri Kota Palu&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
(Baca Juga: Pengawasan Kampanye di Sulteng Pasca-Gempa, Antara Tugas dan Kemanusiaan)

Selama penutupan bandara sementara, pihak AIrnav Indonesia langsung menerbangkan radio komunikasi dari Balikpapan dan Makassar dengan helikopter untuk layanan navigasi darurat.

Direktur Airnav Indonesia Novie Riyanto menjelaskan hal terpenting dari pelayanan navigasi lalu lintas udara adalah komunikasi.

&quot;Komunikasi dulu, karena kalau tidak ada komunikasi kan bahaya kalau pesawat sampai ke situ, dia enggak dapat info bagaimana kondisi bandara, bagaimana kondisi trafik yang lain,&quot; katanya.

Setelah itu, pemulihan navigasi dan pengawasan (surveillance). Dalam waktu yang lebih cepat dari yang diperkirakan, yaitu selama 18 jam pemulihan, akhirnya sistem komunikasi Airnav bisa berfungsi, sehingga pesawat bisa melakukan pendaratan dan tinggal landas.

Meskipun saat itu penerbangan masih menggunakan visual (visual flight rules/VFR) dan landasan pacu yang bisa dipakai hanya 2.000 meter karena 500 sisanya terbelah, hal itu kemajuan berarti untuk pemulihan tersebut.

&quot;Pemulihan ini termasuk cepat, saya perintahkan membawa radio menggunakan helikopter pukul 17.00, kemudian pukul 11.00 paginya Hercules sudah bisa mendarat dan evakuasi,&quot; katanya.

Contoh Penanganan Novie mengatakan pengalaman pemulihan sistem komunikasi penerbangan di Palu pada 28-29 September lalu bisa dijadikan contoh untuk penanganan dalam kondisi darurat di bandara-bandara lain apabila terjadi bencana. &quot;Pengalaman ini akan menjadi contoh bagaimana tower-nya roboh, listrik padam, tapi dengan cepat sudah bisa recovery lagi,&quot; ujarnya.Saat ini, Airnav sudah mendatangkan menara ATC berjalan (mobile tower) setelah sepekan menggunakan menara darurat dan selagi mempersiapkan pembangunan menara baru.

Menara berjalan AirNav Indonesia tiba di Pelabuhan Pantoloan, Palu, 5 Oktober 2018 dan dijemput oleh tim teknik AirNav Indonesia. Direktur Teknik Ahmad Aulia untuk memimpin langsung tim dan memastikan menara berjalan segera beroperasi. Titik lokasi pemasangan ditentukan di dekat bangunan menara yang lama.

Tim kemudian menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan, seperti jaringan sumber daya listrik, jaringan telepon, dan kemudian menaikkan &quot;cabin tower&quot; sesuai ketinggian yang dibutuhkan karena berada di lokasi gempa, serta dilakukan juga tes kestabilan kabin.

Tahapan selanjutnya adalah melakukan pengaturan frekuensi, seperti frekuensi di menara saat ini, uji coba jangkauan peralatan VHF yang ada di kabin, serta memasang fasilitas komunikasi &quot;ground to ground&quot; untuk koordinasi.

Seluruh proses pemasangan ini dilakukan ekstra hati-hati sebab tidak boleh mengganggu operasional tower darurat yang beroperasi 24 jam.

Tahap paling akhir, uji coba operasional setelah melakukan serangkaian uji coba, pelayanan navigasi akhirnya dipindah ke menara berjalan mulai, Senin pagi.

&quot;Pelayanan melalui 'mobile tower' ini memiliki keunggulan dari tower darurat sebelumnya. Dilengkapi sejumlah peralatan canggih, jangkauan radio VHF di atas 100NM yang membuat jangkauan komunikasi lebih luas sehingga mempercepat komunikasi tower dengan pesawat,&quot; jelas Novie.

&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/09/29/53373/269367_medium.jpg&quot; alt=&quot;Akibat Gempa 7,7 SR, Runway Bandara Palu Mengalami Retak-Retak&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
(Baca Juga: Pasca-Gempa, 8.550 Personel TNI-Polri Normalisasi Sulawesi Tengah)

Untuk petugas pemandu navigasi, menara berjalan ini juga lebih bersahabat karena dimensi kabin dengan panjang 6,058 meter, lebar 2,438 meter, dan tinggi 2,438 meter membuat ruang gerak petugas lebih leluasa.

Selain itu, kabin juga dilengkapi dengan fasilitas lampu penerangan, meja pengendali, &quot;head set/hand microphone&quot;, perekam, lampu tembak sinyal, lampu darurat, serta pendingin ruangan.

Hal ini dibutuhkan agar ATC dapat konsentrasi sepenuhnya dalam melayani penerbangan, mengingat kepadatan penerbangan di Bandara Palu yang meningkat sangat signifikan.

ATC Antigempa Ke depannya Airnav akan membangun menara ATC antigempa di sejumlah bandara yang berada di wilayah cincin api untuk mengatisipasi bencana.

Airnav akan bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait dengan informasi kondisi geologi serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk konstruksi bangunan.

Terkait dengan biaya pembangunan menara ATC antigempa di Bandara Mutiara SIS Al Jufri Palu, Novie menyebutkan senilai Rp20 miliar-Rp30 miliar, termasuk untuk perkantoran dan peralatan.Pengamat navigasi penerbangan Heru Legowo menilai menara harus dilengkapi pintu darurat, berupa kantung peluncur yang bisa menembus langsung ke lantai dasar untuk mengantisipasi kondisi darurat semacam gempa.

&quot;'Emergency' yang saya sebutkan itu ada semacam lubang atau kantung seperti guling panjang sampai bawah meluncur seperti kayak kaos kaki, itu perlu dipertimbangkan,&quot; katanya.

Dia mengatakan ATC Anthonius Gunawan Agung yang meninggal dalam tugasnya ketika gempa mengguncang Palu, yaitu tidak menemukan jalan keluar menuju ke lantai dasar. Namun, ia mengapresiasi pemulihan sistem komunikasi yang cepat.

&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/09/29/53373/269369_medium.jpg&quot; alt=&quot;Akibat Gempa 7,7 SR, Runway Bandara Palu Mengalami Retak-Retak&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

&quot;Saya kira sudah cukup bagus, gempa adalah sesuatu yang 'unpredictable' yang tidak bisa ditebak ke mana dengan peralatan darurat dan 'runway' terbatas,&quot; ujarnya.

Kendati pun saat ini masih belum ada peraturan yang memuat standar pemulihan, baik itu sistem komunikasi ATC maupun bandara, saat kondisi kontigensi.</description><content:encoded>JAKARTA - Gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter yang mengguncang Kota Palu dan sekitarnya lebih dari sepekan lalu masih menyisakan pilu. Namun, kepingan-kepingan harapan yang turut terguncang gempa disusul sapuan tsunami itu mulai dikumpulkan kembali karena kehidupan harus berlanjut dan tidak boleh terhenti.

Kini kegiatan penerbangan sudah mendekati normal, meski masih menggunakan terminal sementara dan landasan pacu yang terbatas.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, terhitung 11.215 pergerakan penumpang di Bandara Mutiara SIS Al Jufri sejak 30 September hingga 8 Oktober 2018. Di balik itu semua, terdapat upaya keras yang terus dilakukan untuk mempercepat pemulihan seperti kondisi sedia kala, baik oleh regulator maupun operator penerbangan. Pasalnya, peran moda transportasi udara sangat vital karena dinilai yang paling cepat dalam mendistribusikan bantuan kemanusiaan, baik orang maupun barang.

Salah satu hal krusial yang harus dipulihkan dengan cepat saat itu adalah sistem navigasi penerbangan, karena pesawat tidak bisa beroperasi tanpa adanya instruksi dari pengatur lalu lintas (ATC).

Sementara, menara ATC Bandara Mutiara SIS Al Jufri kala itu pun turut ambruk, komunikasi terputus karena jaringan listrik yang mati total akibat dahsyatnya guncangan gempa. Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Indonesia atau Airnav Indonesia langsung menerbitkan &quot;notice to airmen&quot; (notam) bahwa Bandara Mutiara SIS Al Jufri ditutup sementara selama 24 jam.

&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/10/01/53409/269552_medium.jpg&quot; alt=&quot;Foto Bandara Mutiara Sis Al Jufri Kota Palu&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
(Baca Juga: Pengawasan Kampanye di Sulteng Pasca-Gempa, Antara Tugas dan Kemanusiaan)

Selama penutupan bandara sementara, pihak AIrnav Indonesia langsung menerbangkan radio komunikasi dari Balikpapan dan Makassar dengan helikopter untuk layanan navigasi darurat.

Direktur Airnav Indonesia Novie Riyanto menjelaskan hal terpenting dari pelayanan navigasi lalu lintas udara adalah komunikasi.

&quot;Komunikasi dulu, karena kalau tidak ada komunikasi kan bahaya kalau pesawat sampai ke situ, dia enggak dapat info bagaimana kondisi bandara, bagaimana kondisi trafik yang lain,&quot; katanya.

Setelah itu, pemulihan navigasi dan pengawasan (surveillance). Dalam waktu yang lebih cepat dari yang diperkirakan, yaitu selama 18 jam pemulihan, akhirnya sistem komunikasi Airnav bisa berfungsi, sehingga pesawat bisa melakukan pendaratan dan tinggal landas.

Meskipun saat itu penerbangan masih menggunakan visual (visual flight rules/VFR) dan landasan pacu yang bisa dipakai hanya 2.000 meter karena 500 sisanya terbelah, hal itu kemajuan berarti untuk pemulihan tersebut.

&quot;Pemulihan ini termasuk cepat, saya perintahkan membawa radio menggunakan helikopter pukul 17.00, kemudian pukul 11.00 paginya Hercules sudah bisa mendarat dan evakuasi,&quot; katanya.

Contoh Penanganan Novie mengatakan pengalaman pemulihan sistem komunikasi penerbangan di Palu pada 28-29 September lalu bisa dijadikan contoh untuk penanganan dalam kondisi darurat di bandara-bandara lain apabila terjadi bencana. &quot;Pengalaman ini akan menjadi contoh bagaimana tower-nya roboh, listrik padam, tapi dengan cepat sudah bisa recovery lagi,&quot; ujarnya.Saat ini, Airnav sudah mendatangkan menara ATC berjalan (mobile tower) setelah sepekan menggunakan menara darurat dan selagi mempersiapkan pembangunan menara baru.

Menara berjalan AirNav Indonesia tiba di Pelabuhan Pantoloan, Palu, 5 Oktober 2018 dan dijemput oleh tim teknik AirNav Indonesia. Direktur Teknik Ahmad Aulia untuk memimpin langsung tim dan memastikan menara berjalan segera beroperasi. Titik lokasi pemasangan ditentukan di dekat bangunan menara yang lama.

Tim kemudian menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan, seperti jaringan sumber daya listrik, jaringan telepon, dan kemudian menaikkan &quot;cabin tower&quot; sesuai ketinggian yang dibutuhkan karena berada di lokasi gempa, serta dilakukan juga tes kestabilan kabin.

Tahapan selanjutnya adalah melakukan pengaturan frekuensi, seperti frekuensi di menara saat ini, uji coba jangkauan peralatan VHF yang ada di kabin, serta memasang fasilitas komunikasi &quot;ground to ground&quot; untuk koordinasi.

Seluruh proses pemasangan ini dilakukan ekstra hati-hati sebab tidak boleh mengganggu operasional tower darurat yang beroperasi 24 jam.

Tahap paling akhir, uji coba operasional setelah melakukan serangkaian uji coba, pelayanan navigasi akhirnya dipindah ke menara berjalan mulai, Senin pagi.

&quot;Pelayanan melalui 'mobile tower' ini memiliki keunggulan dari tower darurat sebelumnya. Dilengkapi sejumlah peralatan canggih, jangkauan radio VHF di atas 100NM yang membuat jangkauan komunikasi lebih luas sehingga mempercepat komunikasi tower dengan pesawat,&quot; jelas Novie.

&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/09/29/53373/269367_medium.jpg&quot; alt=&quot;Akibat Gempa 7,7 SR, Runway Bandara Palu Mengalami Retak-Retak&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
(Baca Juga: Pasca-Gempa, 8.550 Personel TNI-Polri Normalisasi Sulawesi Tengah)

Untuk petugas pemandu navigasi, menara berjalan ini juga lebih bersahabat karena dimensi kabin dengan panjang 6,058 meter, lebar 2,438 meter, dan tinggi 2,438 meter membuat ruang gerak petugas lebih leluasa.

Selain itu, kabin juga dilengkapi dengan fasilitas lampu penerangan, meja pengendali, &quot;head set/hand microphone&quot;, perekam, lampu tembak sinyal, lampu darurat, serta pendingin ruangan.

Hal ini dibutuhkan agar ATC dapat konsentrasi sepenuhnya dalam melayani penerbangan, mengingat kepadatan penerbangan di Bandara Palu yang meningkat sangat signifikan.

ATC Antigempa Ke depannya Airnav akan membangun menara ATC antigempa di sejumlah bandara yang berada di wilayah cincin api untuk mengatisipasi bencana.

Airnav akan bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait dengan informasi kondisi geologi serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk konstruksi bangunan.

Terkait dengan biaya pembangunan menara ATC antigempa di Bandara Mutiara SIS Al Jufri Palu, Novie menyebutkan senilai Rp20 miliar-Rp30 miliar, termasuk untuk perkantoran dan peralatan.Pengamat navigasi penerbangan Heru Legowo menilai menara harus dilengkapi pintu darurat, berupa kantung peluncur yang bisa menembus langsung ke lantai dasar untuk mengantisipasi kondisi darurat semacam gempa.

&quot;'Emergency' yang saya sebutkan itu ada semacam lubang atau kantung seperti guling panjang sampai bawah meluncur seperti kayak kaos kaki, itu perlu dipertimbangkan,&quot; katanya.

Dia mengatakan ATC Anthonius Gunawan Agung yang meninggal dalam tugasnya ketika gempa mengguncang Palu, yaitu tidak menemukan jalan keluar menuju ke lantai dasar. Namun, ia mengapresiasi pemulihan sistem komunikasi yang cepat.

&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/09/29/53373/269369_medium.jpg&quot; alt=&quot;Akibat Gempa 7,7 SR, Runway Bandara Palu Mengalami Retak-Retak&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

&quot;Saya kira sudah cukup bagus, gempa adalah sesuatu yang 'unpredictable' yang tidak bisa ditebak ke mana dengan peralatan darurat dan 'runway' terbatas,&quot; ujarnya.

Kendati pun saat ini masih belum ada peraturan yang memuat standar pemulihan, baik itu sistem komunikasi ATC maupun bandara, saat kondisi kontigensi.</content:encoded></item></channel></rss>
