<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>SMRC: Media Mainstream Masih Sumber Kebenaran, Bukan Media Sosial</title><description>Jumlah pengguna media sosial khususnya Twitter di Jakarta sebagai ibu kota negara hanya 5 persen.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/10/12/605/1963306/smrc-media-mainstream-masih-sumber-kebenaran-bukan-media-sosial</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/10/12/605/1963306/smrc-media-mainstream-masih-sumber-kebenaran-bukan-media-sosial"/><item><title>SMRC: Media Mainstream Masih Sumber Kebenaran, Bukan Media Sosial</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/10/12/605/1963306/smrc-media-mainstream-masih-sumber-kebenaran-bukan-media-sosial</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/10/12/605/1963306/smrc-media-mainstream-masih-sumber-kebenaran-bukan-media-sosial</guid><pubDate>Jum'at 12 Oktober 2018 18:26 WIB</pubDate><dc:creator>Muhamad Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/10/12/605/1963306/smrc-media-mainstream-masih-sumber-kebenaran-bukan-media-sosial-8XKoAZKMIN.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Diskusi buzzer politik di media sosial. Foto: Okezone/Muhamad Rizky</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/10/12/605/1963306/smrc-media-mainstream-masih-sumber-kebenaran-bukan-media-sosial-8XKoAZKMIN.jpg</image><title>Diskusi buzzer politik di media sosial. Foto: Okezone/Muhamad Rizky</title></images><description>

JAKARTA - Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad, mengatakan  kehadiran buzzer politik di sosial media tidak terlalu memengaruhi pemilih dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Menurutnya posisi buzzer masih kalah dengan media mainstream.

&quot;Menurutku media mainstream sangat berperan. Televisi, koran, radio, media mainstrem internet yang dipercaya, dibanding Twitter, Instagram,&quot; kata Saidiman saat diskusi bertajuk 'Buzzer politik di media sosial, efektifkah?' di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat, (12/10/2010).
&amp;nbsp;
Ia mengatakan, jumlah pengguna media sosial khususnya Twitter di Jakarta sebagai ibu kota negara hanya 5 persen. Sehingga tidak memberikan dampak yang terlalu besar kepada publik.
Baca: Kubu Jokowi-Ma'ruf: Prabowo Hanya Kritik Tanpa Memberikan Solusi
Baca: Bertemu Sultan HB X, Sandiaga Dapat Wejangan soal Ini
&quot;Alat ukurnya media mainstream, kalau ada isu yang hanya di medsos tidak ada di mainstream orang kan enggak baca. Jadi media mainstream masih jadi sumber kebenaran buat kita bukan medsos,&quot; tambahnya.
&amp;nbsp;
Saidiman menyarankan agar calon presiden maupun tim pemenangannya harus langsung mengkarifikasi apabila menemukan info megatif dari buzzer.

&quot;Caranya menurut saya sudah oke yah sekarang, bahkan pemain medsos kalau ada berita mereka cepat-cepat cari pembandingnya, apakah ini benar atau tidak. Salah satu sumbernya media mainstream. Mereka nyari apakah hoaks atau tidak, dan sekarang sudah muncul kesadaran itu. Dan saya kira lama-lama itu akan terus terjadi,&quot; terangnya.

Untuk isu yang sangat memengaruhi publik sendiri tambahnya, adalah isu yang berhubungan langsung dengan masyarakat seperti halnya ekonomi.

&quot;Misalnya kenaikan BBM itu besar pengaruhnya, kalau buzzer politik yah tentu masih perdebatan yah, apakah medsos jadi sumber kebenaran publik atau tidak itu perdebatan juga,&quot; tuturnya.
</description><content:encoded>

JAKARTA - Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad, mengatakan  kehadiran buzzer politik di sosial media tidak terlalu memengaruhi pemilih dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Menurutnya posisi buzzer masih kalah dengan media mainstream.

&quot;Menurutku media mainstream sangat berperan. Televisi, koran, radio, media mainstrem internet yang dipercaya, dibanding Twitter, Instagram,&quot; kata Saidiman saat diskusi bertajuk 'Buzzer politik di media sosial, efektifkah?' di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat, (12/10/2010).
&amp;nbsp;
Ia mengatakan, jumlah pengguna media sosial khususnya Twitter di Jakarta sebagai ibu kota negara hanya 5 persen. Sehingga tidak memberikan dampak yang terlalu besar kepada publik.
Baca: Kubu Jokowi-Ma'ruf: Prabowo Hanya Kritik Tanpa Memberikan Solusi
Baca: Bertemu Sultan HB X, Sandiaga Dapat Wejangan soal Ini
&quot;Alat ukurnya media mainstream, kalau ada isu yang hanya di medsos tidak ada di mainstream orang kan enggak baca. Jadi media mainstream masih jadi sumber kebenaran buat kita bukan medsos,&quot; tambahnya.
&amp;nbsp;
Saidiman menyarankan agar calon presiden maupun tim pemenangannya harus langsung mengkarifikasi apabila menemukan info megatif dari buzzer.

&quot;Caranya menurut saya sudah oke yah sekarang, bahkan pemain medsos kalau ada berita mereka cepat-cepat cari pembandingnya, apakah ini benar atau tidak. Salah satu sumbernya media mainstream. Mereka nyari apakah hoaks atau tidak, dan sekarang sudah muncul kesadaran itu. Dan saya kira lama-lama itu akan terus terjadi,&quot; terangnya.

Untuk isu yang sangat memengaruhi publik sendiri tambahnya, adalah isu yang berhubungan langsung dengan masyarakat seperti halnya ekonomi.

&quot;Misalnya kenaikan BBM itu besar pengaruhnya, kalau buzzer politik yah tentu masih perdebatan yah, apakah medsos jadi sumber kebenaran publik atau tidak itu perdebatan juga,&quot; tuturnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
