<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Perempuan Muslim India yang Perjuangkan Haknya sebagai Seorang Pelacur</title><description>Kalangan Muslim miskin di India desak otoritas setempat turun ke jalan untuk melihat sendiri para perempuan yang dikucilkan dari lingkungan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/10/14/18/1963808/kisah-perempuan-muslim-india-yang-perjuangkan-haknya-sebagai-seorang-pelacur</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/10/14/18/1963808/kisah-perempuan-muslim-india-yang-perjuangkan-haknya-sebagai-seorang-pelacur"/><item><title>Kisah Perempuan Muslim India yang Perjuangkan Haknya sebagai Seorang Pelacur</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/10/14/18/1963808/kisah-perempuan-muslim-india-yang-perjuangkan-haknya-sebagai-seorang-pelacur</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/10/14/18/1963808/kisah-perempuan-muslim-india-yang-perjuangkan-haknya-sebagai-seorang-pelacur</guid><pubDate>Minggu 14 Oktober 2018 11:49 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/10/14/18/1963808/kisah-perempuan-muslim-india-yang-perjuangkan-haknya-sebagai-seorang-pelacur-rISxDoN5Rq.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Industri seks di India berkembang pesat. (Foto : Getty Images)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/10/14/18/1963808/kisah-perempuan-muslim-india-yang-perjuangkan-haknya-sebagai-seorang-pelacur-rISxDoN5Rq.jpg</image><title>Industri seks di India berkembang pesat. (Foto : Getty Images)</title></images><description>KALANGAN Muslim miskin di India mendesak otoritas setempat turun ke jalanan untuk melihat sendiri para perempuan yang dikucilkan dari lingkungan masyarakat.
Kala itu, tanggal 1 Mei 1958, di sebuah ruang sidang di Kota Allahabad, India utara, semua mata tertuju pada sosok perempuan muda berusia 24 tahun bernama Husna Bai.
Husna mengatakan kepada Hakim Jagdish Sahai bahwa dirinya adalah seorang pekerja seks komersial (PSK), seorang pelacur. Ia mengajukan petisi yang menggugat keabsahan undang-undang baru yang melarang perdagangan manusia.
Husna Bai berpendapat, aturan baru tersebut telah &quot;mengacaukan tujuan negara kesejahteraan yang ditetapkan oleh Konstitusi di negara ini&quot;, karena mengancam mata pencahariannya sebagai seorang PSK.
Ini tindakan pembangkangan publik yang radikal dari seorang PSK Muslim kelas bawah. Tindakan itu memaksa para hakim untuk terjun langsung ke jalanan melihat sendiri para pelacur, pada masa ketika mereka dikucilkan dari lingkungan masyarakat.
Menurut catatan resmi, pada 1951 itu jumlah pelacur di sana turun dari 54.000 orang menjadi 28.000 orang. Begitu juga dukungan masyarakat umum. Ketika para pelacur hendak memberikan sumbangan dana kepada partai Kongres, Mahatma Gandhi menolak dan justru meminta mereka untuk memintal kain.
Padahal mereka adalah satu di antara beberapa kelompok orang yang berhak memilih karena mereka memiliki penghasilan, membayar pajak dan memiliki properti.



Tidak banyak yang diketahui tentang kehidupan pribadi Husna Bai yang tinggal bersama sepupu perempuan dan dua adik laki-lakinya yang bergantung pada penghasilannya. Sayangnya, dari berbagai arsip yang bisa ditelusuri, tak satu pun foto yang ditemukan.
Namun kisah yang banyak dilupakan adalah bagaimana Husna Bai memperjuangkan hak-haknya sebagai PSK yang merupakan bagian yang paling menarik dari sebuah buku karya sejarawan Rohit De yang diterbitkan oleh Universitas Yale.
Buku berjudul A People's Constitution: Law and Everyday Life in The Indian Republic membahas bagaimana konstitusi India, terlepas dari &quot;penulisan berlatar  kaum elit dan pandangan mereka, ternyata menyerap kehidupan dan  imajinasi sehari-hari di India selama transisi dari negara kolonial ke  sebuah republik demokratis&quot;.
Kurangnya materi arsip membuat De harus mengandalkan catatan  pengadilan untuk mengumpulkan kisah Husna Bai sebagai bagian dari  gerakan yang lebih besar yang dilakukan kaum perempuan di negara itu.
Namun petisi Bai ini menuai banyak perhatian dan sekaligus memicu kecemasan.
Para birokrat dan politisi berdebat sengit soal ini meninggalkan  &quot;segunung berkas-berkas&quot;. Sekelompok pelacur di Allahabad dan  perkumpulan Dancing Girls Union tampil memberikan dukungan.
Banyak petisi serupa di pengadilan yang diluncurkan oleh para pelacur di kota Delhi, Punjab, dan Bombay.
Begum Kalawat, seorang pelacur yang tinggal di negara bagian Bombay  menggugat ketika diusir dari sebuah kota setelah ada laporan bahwa ia  menjajakan seks di dekat sebuah sekolah.
Ia membawa kasusnya ke pengadilan tinggi, dan menyatakan bahwa  pengusiran itu telah melanggar haknya terkait kesetaraan, kebebasan  bertransaksi dan gerakannya.
Undang-undang baru itu membuat para pekerja seks was-was dengan masa  depan mereka. Mereka menggalang dana dari para pelanggan dan pengusaha  setempat untuk membatalkan aturan baru di pengadilan.
Sekitar 75 perempuan yang mengaku sebagai anggota serikat penyanyi  dan penari profesional, menggelar demonstrasi di luar gedung parlemen di  ibukota, Delhi. Mereka mengatakan kepada para anggota parlemen bahwa  tindakan keras terhadap profesi mereka akan membuat pelacuran merembet  ke kawasan-kawasan yang dianggap terhormat.

&amp;nbsp;

Sekitar 450 perempuan yang terdiri dari penyanyi, penari bahkan  perempuan yang 'yang mempunyai reputasi buruk' membentuk serikat untuk  menentang aturan baru itu. Sekelompok penari di Allahabad mengumumkan  akan mengadakan demonstrasi sebagai bentuk protes terhadap UU itu karena  &quot;telah melanggar hak-hak profesi yang sudah dijamin konstitusi.&quot;
Para pekerja seks komersil di distrik lampu merah yang ramai di  Calcutta mengancam akan melakukan aksi mogok makan jika pemerintah tidak  menyediakan mata pencaharian alternatif bagi 13.000 pekerja seks di  sana.
Polisi dan pemerintah menyatakan keprihatinan mereka atas petisi  Husna Bai. Tidak mengherankan, aturan itu mendapat perlawanan sengit  dari para perempuan anggota parlemen dan pekerja sosial yang memimpin  kampanye untuk legislasi melawan perdagangan manusia.
Para penentangnya, kata De, &quot;terperanjat mendengar bagaimana para   pekerja seks itu mendasarkan upaya mereka pada prinsip-prinsip   konstitusi&quot;.
&quot;Petisi Husna Bai dan petisi-petisi serupa lainnya sesudah itu tampak   sebagai serangan terhadap agenda progresif dari republik yang baru.&quot;
Majelis konstituen India -yang di dalamnya ada sejumlah perempuan   yang berpengalaman dalam pengorganisasian- berpendapat bahwa perempuan   tidak memilih untuk menjadi pelacur dan mereka terjerumus pada profesi   itu karena berbagai keterpaksaan.
Tampaknya sangat mengguncangkan mereka bahwa para pelacur itu justru   menuntut hak mereka yang fundamental untuk melanjutkan usaha mereka dan   meneruskan 'kehidupan tanpa martabat&quot; itu.



&quot;Mengkajinya lebih dekat, jelas ini bukan sebuah tindakan perlawanan   heroik individu, melainkan bagian dari langkah dari kelompok dalam   ikatan longgar yang terlibat dalam perdagangan seks di seluruh India,&quot;   kata De.
&quot;Jelas bahwa undang-undang baru ini memperberat tekanan pada mereka   yang terlibat dalam perdagangan seks yang sebelumnya sudah mereka   derita, dan mengancam praktik-praktik yang sudah lama berlangsung.&quot;

(Baca Juga : Diduga Pisahkan Siswa Muslim dari Hindu dalam Kelas, Sekolah di India Banjir Kecaman)

Petisi Bai ditolak dalam tempo dua minggu karena alasan teknis bahwa   haknya tidak dihambat oleh undang-undang baru itu - ia tidak tergusur   dari rumah bordil, juga tidak ada yang mengadukannya secara pidana.   Hakim Sahai mengatakan alasan Bai tentang penggusuran itu benar, tetapi   sang hakim tidak berbicara lebih jauh.
Dan akhirnya, Mahkamah Agung menyatakan undang-undang itu secara   konstitusional masuk akal, dan mengatakan para PSK tidak dapat menikmati   hak-hak mereka tanpa batas.

(Baca Juga : Badai Titli Terjang Timur India, 300 Ribu Warga Dievakuasi)


</description><content:encoded>KALANGAN Muslim miskin di India mendesak otoritas setempat turun ke jalanan untuk melihat sendiri para perempuan yang dikucilkan dari lingkungan masyarakat.
Kala itu, tanggal 1 Mei 1958, di sebuah ruang sidang di Kota Allahabad, India utara, semua mata tertuju pada sosok perempuan muda berusia 24 tahun bernama Husna Bai.
Husna mengatakan kepada Hakim Jagdish Sahai bahwa dirinya adalah seorang pekerja seks komersial (PSK), seorang pelacur. Ia mengajukan petisi yang menggugat keabsahan undang-undang baru yang melarang perdagangan manusia.
Husna Bai berpendapat, aturan baru tersebut telah &quot;mengacaukan tujuan negara kesejahteraan yang ditetapkan oleh Konstitusi di negara ini&quot;, karena mengancam mata pencahariannya sebagai seorang PSK.
Ini tindakan pembangkangan publik yang radikal dari seorang PSK Muslim kelas bawah. Tindakan itu memaksa para hakim untuk terjun langsung ke jalanan melihat sendiri para pelacur, pada masa ketika mereka dikucilkan dari lingkungan masyarakat.
Menurut catatan resmi, pada 1951 itu jumlah pelacur di sana turun dari 54.000 orang menjadi 28.000 orang. Begitu juga dukungan masyarakat umum. Ketika para pelacur hendak memberikan sumbangan dana kepada partai Kongres, Mahatma Gandhi menolak dan justru meminta mereka untuk memintal kain.
Padahal mereka adalah satu di antara beberapa kelompok orang yang berhak memilih karena mereka memiliki penghasilan, membayar pajak dan memiliki properti.



Tidak banyak yang diketahui tentang kehidupan pribadi Husna Bai yang tinggal bersama sepupu perempuan dan dua adik laki-lakinya yang bergantung pada penghasilannya. Sayangnya, dari berbagai arsip yang bisa ditelusuri, tak satu pun foto yang ditemukan.
Namun kisah yang banyak dilupakan adalah bagaimana Husna Bai memperjuangkan hak-haknya sebagai PSK yang merupakan bagian yang paling menarik dari sebuah buku karya sejarawan Rohit De yang diterbitkan oleh Universitas Yale.
Buku berjudul A People's Constitution: Law and Everyday Life in The Indian Republic membahas bagaimana konstitusi India, terlepas dari &quot;penulisan berlatar  kaum elit dan pandangan mereka, ternyata menyerap kehidupan dan  imajinasi sehari-hari di India selama transisi dari negara kolonial ke  sebuah republik demokratis&quot;.
Kurangnya materi arsip membuat De harus mengandalkan catatan  pengadilan untuk mengumpulkan kisah Husna Bai sebagai bagian dari  gerakan yang lebih besar yang dilakukan kaum perempuan di negara itu.
Namun petisi Bai ini menuai banyak perhatian dan sekaligus memicu kecemasan.
Para birokrat dan politisi berdebat sengit soal ini meninggalkan  &quot;segunung berkas-berkas&quot;. Sekelompok pelacur di Allahabad dan  perkumpulan Dancing Girls Union tampil memberikan dukungan.
Banyak petisi serupa di pengadilan yang diluncurkan oleh para pelacur di kota Delhi, Punjab, dan Bombay.
Begum Kalawat, seorang pelacur yang tinggal di negara bagian Bombay  menggugat ketika diusir dari sebuah kota setelah ada laporan bahwa ia  menjajakan seks di dekat sebuah sekolah.
Ia membawa kasusnya ke pengadilan tinggi, dan menyatakan bahwa  pengusiran itu telah melanggar haknya terkait kesetaraan, kebebasan  bertransaksi dan gerakannya.
Undang-undang baru itu membuat para pekerja seks was-was dengan masa  depan mereka. Mereka menggalang dana dari para pelanggan dan pengusaha  setempat untuk membatalkan aturan baru di pengadilan.
Sekitar 75 perempuan yang mengaku sebagai anggota serikat penyanyi  dan penari profesional, menggelar demonstrasi di luar gedung parlemen di  ibukota, Delhi. Mereka mengatakan kepada para anggota parlemen bahwa  tindakan keras terhadap profesi mereka akan membuat pelacuran merembet  ke kawasan-kawasan yang dianggap terhormat.

&amp;nbsp;

Sekitar 450 perempuan yang terdiri dari penyanyi, penari bahkan  perempuan yang 'yang mempunyai reputasi buruk' membentuk serikat untuk  menentang aturan baru itu. Sekelompok penari di Allahabad mengumumkan  akan mengadakan demonstrasi sebagai bentuk protes terhadap UU itu karena  &quot;telah melanggar hak-hak profesi yang sudah dijamin konstitusi.&quot;
Para pekerja seks komersil di distrik lampu merah yang ramai di  Calcutta mengancam akan melakukan aksi mogok makan jika pemerintah tidak  menyediakan mata pencaharian alternatif bagi 13.000 pekerja seks di  sana.
Polisi dan pemerintah menyatakan keprihatinan mereka atas petisi  Husna Bai. Tidak mengherankan, aturan itu mendapat perlawanan sengit  dari para perempuan anggota parlemen dan pekerja sosial yang memimpin  kampanye untuk legislasi melawan perdagangan manusia.
Para penentangnya, kata De, &quot;terperanjat mendengar bagaimana para   pekerja seks itu mendasarkan upaya mereka pada prinsip-prinsip   konstitusi&quot;.
&quot;Petisi Husna Bai dan petisi-petisi serupa lainnya sesudah itu tampak   sebagai serangan terhadap agenda progresif dari republik yang baru.&quot;
Majelis konstituen India -yang di dalamnya ada sejumlah perempuan   yang berpengalaman dalam pengorganisasian- berpendapat bahwa perempuan   tidak memilih untuk menjadi pelacur dan mereka terjerumus pada profesi   itu karena berbagai keterpaksaan.
Tampaknya sangat mengguncangkan mereka bahwa para pelacur itu justru   menuntut hak mereka yang fundamental untuk melanjutkan usaha mereka dan   meneruskan 'kehidupan tanpa martabat&quot; itu.



&quot;Mengkajinya lebih dekat, jelas ini bukan sebuah tindakan perlawanan   heroik individu, melainkan bagian dari langkah dari kelompok dalam   ikatan longgar yang terlibat dalam perdagangan seks di seluruh India,&quot;   kata De.
&quot;Jelas bahwa undang-undang baru ini memperberat tekanan pada mereka   yang terlibat dalam perdagangan seks yang sebelumnya sudah mereka   derita, dan mengancam praktik-praktik yang sudah lama berlangsung.&quot;

(Baca Juga : Diduga Pisahkan Siswa Muslim dari Hindu dalam Kelas, Sekolah di India Banjir Kecaman)

Petisi Bai ditolak dalam tempo dua minggu karena alasan teknis bahwa   haknya tidak dihambat oleh undang-undang baru itu - ia tidak tergusur   dari rumah bordil, juga tidak ada yang mengadukannya secara pidana.   Hakim Sahai mengatakan alasan Bai tentang penggusuran itu benar, tetapi   sang hakim tidak berbicara lebih jauh.
Dan akhirnya, Mahkamah Agung menyatakan undang-undang itu secara   konstitusional masuk akal, dan mengatakan para PSK tidak dapat menikmati   hak-hak mereka tanpa batas.

(Baca Juga : Badai Titli Terjang Timur India, 300 Ribu Warga Dievakuasi)


</content:encoded></item></channel></rss>
