<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Komentari Buku Biografi Bamsoet, Jokowi: Kesan Pertama Saya, Kalau Kritik Pedas Sekali</title><description>Dalam komentarnya, Jokowi mengungkapkan, bahwa kesan pertamanya terhadap Bamsoet kalau mengkritik pedas sekali.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/10/26/337/1969101/komentari-buku-biografi-bamsoet-jokowi-kesan-pertama-saya-kalau-kritik-pedas-sekali</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/10/26/337/1969101/komentari-buku-biografi-bamsoet-jokowi-kesan-pertama-saya-kalau-kritik-pedas-sekali"/><item><title>Komentari Buku Biografi Bamsoet, Jokowi: Kesan Pertama Saya, Kalau Kritik Pedas Sekali</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/10/26/337/1969101/komentari-buku-biografi-bamsoet-jokowi-kesan-pertama-saya-kalau-kritik-pedas-sekali</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/10/26/337/1969101/komentari-buku-biografi-bamsoet-jokowi-kesan-pertama-saya-kalau-kritik-pedas-sekali</guid><pubDate>Jum'at 26 Oktober 2018 00:44 WIB</pubDate><dc:creator>Harits Tryan Akhmad</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/10/26/337/1969101/komentari-buku-biografi-bamsoet-jokowi-kesan-pertama-saya-kalau-kritik-pedas-sekali-bputl2JM6r.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Jokowi dan Ketua DPR Bambang Soesatyo  (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/10/26/337/1969101/komentari-buku-biografi-bamsoet-jokowi-kesan-pertama-saya-kalau-kritik-pedas-sekali-bputl2JM6r.jpg</image><title>Presiden Jokowi dan Ketua DPR Bambang Soesatyo  (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA -  Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, meluncurkan buku biografinya &amp;lsquo;Dari Wartawan ke Senayan&amp;rsquo; di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (25/10/2018). Buku itu berisi perjalanan hidup dan karirnya. Di dalam buka tersebut, tertuang berbagai komentar tokoh, termasuk Presiden Joko Widodo (Jokowi).&amp;nbsp;
Dalam komentarnya, Jokowi mengungkapkan, bahwa kesan pertamanya terhadap Bamsoet kalau mengkritik pedas sekali. Namun, di mata Jokowi politikus Golkar itu adalah orang yang konsisten dan apa adanya.
&amp;ldquo;Kesan pertama saya terhadap Bamsoet, kalau mengkritik pedas sekali. Tapi saya tahu beliau adalah orang yang konsisten dan apa adanya. Perjalanannya yang berliku dan keras sebagai wartawan dan jiwa kewirausahaannya yang kuat saat menjadi pengusaha, telah membentuk kematangan jiwa dan pikirannya dalam berpolitik,&quot; ujar Jokowi.
Seperti halnya Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla turut mengomentari dan baginya sebagai wartawan yang menjadi Ketua DPR RI, Bamsoet memiliki informasi dan hubungan baik dengan banyak kalangan. Ia pun bisa menilai kalau Bamsoet bisa mengemban amanah ini dengan lebih baik, adil dan independen.

Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan ikut menorehkan komentarnya. Ia melihat kepiawaian Bamsoet memimpin DPR-RI yang lebih terbuka dan kondusif. Tak ada lagi kegaduhan, padahal tak mudah menyatukan pandangan 560 politisi dari 10 partai politik dengan beragam latar belakang.
(Baca Juga: Sikapi Aksi Bela Tauhid, Ketua DPR Imbau Masyarakat Menahan Diri)
Sementara Bamsoet mengaku, awalnya ia menolak untuk dibuatkan buku biografi. Namun, rekan-rekannya sesama wartawan dulu berhasil meyakinkannya.

&amp;ldquo;Mulanya saya menolak untuk dibuatkan biografi. Namun, Bang Derek Manangka almarhum akhirnya berhasil meyakinkan saya. Bahwa buku itu penting untuk adik-adik yang sedang menggeluti profesi wartawan agar mereka juga bisa melihat bahwa karir mereka bisa menjulang dan punya masa depan,&quot; ujarnya.

Sebagai orang yang pernah berprofesi sebagai wartawan, Bamsoet menilai bahwa melalui profesi tersebut bisa menjadi apa saja. Peluang seorang wartawan itu lebih besar dalam akses dan jaringan.

&amp;ldquo;Wartawan punya akses kepada siapapun dan dapat bertanya tentang apapun,&amp;rdquo; kata Bamsoet.

Ia mengaku merintis karier sebagai wartawan dari kasta paling bawah, yaitu reporter baru. &amp;rdquo;Waktu itu karena masih pakai mesin tik, kalau satu dua alinea tulisan kita dianggap sudah tidak bagus, langsung disobek oleh redaktur. Apalagi kalau ketemu Bang Panda Nababan. Belum dibaca udah dirobek-robek,&amp;rdquo; katanya.

Karir kewartawanan digelutinya karena semasa kuliah senang berorganisiasi dan aktif di pers kampus. Di dalam buku ini, sambung Bamsoet, bercerita secara simpel, lugas dan mengena tentang lika-liku perjalanan karir saya sejak jadi wartawan pada 1986, lanjut berbisnis dan berpolitik lewat Partai Golkar.

&quot;Hingga masuk parlemen sejak 2009 dan akhirnya diberi kepercayaan sebagai Ketua DPR RI, sebuah amanah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya,&amp;rdquo; tutur Bamsoet.


Bisnis yang digelutinya juga tak mudah. Butuh kerja keras, mulai dari jual beli sayur, bawang, telor di Pasar Kramat Jati, Jakarta. Ia memanfaatkan situasi ketika meliput di pasar tersebut, dengan menawarkan diri sebagai pemasok, setelah ia sebelumnya mengetahui bahwa mengambil barang dari Bekasi.



Para pedagang menyetujui sepanjang harganya lebih murah atau sama dari pemasok lainnya. Ia pun harus bolak-balik Bekasi-Pasar Induk dengan mobil bak terbuka. Bekasi waktu itu masih sangat jauh, belum ada jalan tol seperti sekarang.



Bahkan, ia pernah mengadaikan jam tangan dan beberapa barang miliknya, sebab awalnya semua harus bayar kontan. Dari sana, jaringan terus dibangun dengan para pengusaha papan tengah dan papan atas melalui Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) dan Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia).



&amp;ldquo;Bagi saya prinsip bisnis atau dagang itu mudah. Kita tinggal mencari di daerah mana bisa kita beli barang lebih murah dan daerah mana kita bisa menjual barang lebih mahal. Selisihnya itulah keuntungan,&amp;rdquo; katanya.



Banyak bertanya kepada dirinya, keinginan menjadi ketua umum Golkar, namun ia selalu menegaskan bahwa belum berfikir sejauh itu. &amp;ldquo;Berfikir saja belum. Karena fokus saya saat ini adalah bagaimana menaikan rating DPR agar dipercaya rakyat,&quot; tegasnya.



Mantan Ketua Komisi III DPR itu juga mengajak para tokoh, pimpinan dan anggota DPR, MPR dan DPD serta siapapun untuk membiasakan menulis mengenai berbagai hal. Baik mengenai perjalanan hidup, pandangan, pemikiran, kiprah ataupun pengabdian, sesuai dengan profesi masing-masing.



&quot;Siapa tahu disana ada mutiara dan hikmah yang dapat dipetik untuk jadi pelajaran bagi orang lain maupun sebagai sumbangsih bagi bangsa dan negara. Seperti kata Imam Al-Ghazali, menulislah maka anda akan hidup selamanya,&quot; tuturnya.



Bamsoet dikenal produktif menulis buku. Setidaknya ada 13 bukunya yang diterbitkan selama menjadi anggota DPR. Mulai dari Skandal Gila Bank Centuri, Presiden Dalam Lingkaran Sengkuni, Perang-Perangan Melawan Korupsi, Republik Galau, Indonesia Gawat Darurat dan Ngeri-ngeri Sedang.



Pada acara peluncuran buku tersebut, hadir sejumlah tokoh dan wartawan senior seperti, Surya Paloh (Ketua Umum Nasdem), Pengusaha Senior Chaerul Tanjung, Ketua Umum Pemuda Pancasila Yapto Suryosumarno, Budayawan Radar Panca Dahana, Pelukis Senior Hardi, Tokoh Pers Senior Ishadi SK, Irjen Pol Setyo Wasisto (Kadiv Humas Polri).



Kemudian, Melchias Mekeng (Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI), Taufiqulhadi (Anggota Fraksi Nasdem DPR RI), Roemkono (Anggota Fraksi Golkar DPR RI), Robert Kardinal (Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI), Masinton Pasaribu (Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI), Ahmad Sahroni (Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI), Elman Saragih, Panda Nababan, Noorca Massardi, Wina Armada, serta Gigin Pragianto, J Osdar, Aristides Katopo dan Marcyanus Donny sebagai narasumber dalam bedah buku tersebut.</description><content:encoded>JAKARTA -  Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, meluncurkan buku biografinya &amp;lsquo;Dari Wartawan ke Senayan&amp;rsquo; di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (25/10/2018). Buku itu berisi perjalanan hidup dan karirnya. Di dalam buka tersebut, tertuang berbagai komentar tokoh, termasuk Presiden Joko Widodo (Jokowi).&amp;nbsp;
Dalam komentarnya, Jokowi mengungkapkan, bahwa kesan pertamanya terhadap Bamsoet kalau mengkritik pedas sekali. Namun, di mata Jokowi politikus Golkar itu adalah orang yang konsisten dan apa adanya.
&amp;ldquo;Kesan pertama saya terhadap Bamsoet, kalau mengkritik pedas sekali. Tapi saya tahu beliau adalah orang yang konsisten dan apa adanya. Perjalanannya yang berliku dan keras sebagai wartawan dan jiwa kewirausahaannya yang kuat saat menjadi pengusaha, telah membentuk kematangan jiwa dan pikirannya dalam berpolitik,&quot; ujar Jokowi.
Seperti halnya Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla turut mengomentari dan baginya sebagai wartawan yang menjadi Ketua DPR RI, Bamsoet memiliki informasi dan hubungan baik dengan banyak kalangan. Ia pun bisa menilai kalau Bamsoet bisa mengemban amanah ini dengan lebih baik, adil dan independen.

Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan ikut menorehkan komentarnya. Ia melihat kepiawaian Bamsoet memimpin DPR-RI yang lebih terbuka dan kondusif. Tak ada lagi kegaduhan, padahal tak mudah menyatukan pandangan 560 politisi dari 10 partai politik dengan beragam latar belakang.
(Baca Juga: Sikapi Aksi Bela Tauhid, Ketua DPR Imbau Masyarakat Menahan Diri)
Sementara Bamsoet mengaku, awalnya ia menolak untuk dibuatkan buku biografi. Namun, rekan-rekannya sesama wartawan dulu berhasil meyakinkannya.

&amp;ldquo;Mulanya saya menolak untuk dibuatkan biografi. Namun, Bang Derek Manangka almarhum akhirnya berhasil meyakinkan saya. Bahwa buku itu penting untuk adik-adik yang sedang menggeluti profesi wartawan agar mereka juga bisa melihat bahwa karir mereka bisa menjulang dan punya masa depan,&quot; ujarnya.

Sebagai orang yang pernah berprofesi sebagai wartawan, Bamsoet menilai bahwa melalui profesi tersebut bisa menjadi apa saja. Peluang seorang wartawan itu lebih besar dalam akses dan jaringan.

&amp;ldquo;Wartawan punya akses kepada siapapun dan dapat bertanya tentang apapun,&amp;rdquo; kata Bamsoet.

Ia mengaku merintis karier sebagai wartawan dari kasta paling bawah, yaitu reporter baru. &amp;rdquo;Waktu itu karena masih pakai mesin tik, kalau satu dua alinea tulisan kita dianggap sudah tidak bagus, langsung disobek oleh redaktur. Apalagi kalau ketemu Bang Panda Nababan. Belum dibaca udah dirobek-robek,&amp;rdquo; katanya.

Karir kewartawanan digelutinya karena semasa kuliah senang berorganisiasi dan aktif di pers kampus. Di dalam buku ini, sambung Bamsoet, bercerita secara simpel, lugas dan mengena tentang lika-liku perjalanan karir saya sejak jadi wartawan pada 1986, lanjut berbisnis dan berpolitik lewat Partai Golkar.

&quot;Hingga masuk parlemen sejak 2009 dan akhirnya diberi kepercayaan sebagai Ketua DPR RI, sebuah amanah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya,&amp;rdquo; tutur Bamsoet.


Bisnis yang digelutinya juga tak mudah. Butuh kerja keras, mulai dari jual beli sayur, bawang, telor di Pasar Kramat Jati, Jakarta. Ia memanfaatkan situasi ketika meliput di pasar tersebut, dengan menawarkan diri sebagai pemasok, setelah ia sebelumnya mengetahui bahwa mengambil barang dari Bekasi.



Para pedagang menyetujui sepanjang harganya lebih murah atau sama dari pemasok lainnya. Ia pun harus bolak-balik Bekasi-Pasar Induk dengan mobil bak terbuka. Bekasi waktu itu masih sangat jauh, belum ada jalan tol seperti sekarang.



Bahkan, ia pernah mengadaikan jam tangan dan beberapa barang miliknya, sebab awalnya semua harus bayar kontan. Dari sana, jaringan terus dibangun dengan para pengusaha papan tengah dan papan atas melalui Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) dan Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia).



&amp;ldquo;Bagi saya prinsip bisnis atau dagang itu mudah. Kita tinggal mencari di daerah mana bisa kita beli barang lebih murah dan daerah mana kita bisa menjual barang lebih mahal. Selisihnya itulah keuntungan,&amp;rdquo; katanya.



Banyak bertanya kepada dirinya, keinginan menjadi ketua umum Golkar, namun ia selalu menegaskan bahwa belum berfikir sejauh itu. &amp;ldquo;Berfikir saja belum. Karena fokus saya saat ini adalah bagaimana menaikan rating DPR agar dipercaya rakyat,&quot; tegasnya.



Mantan Ketua Komisi III DPR itu juga mengajak para tokoh, pimpinan dan anggota DPR, MPR dan DPD serta siapapun untuk membiasakan menulis mengenai berbagai hal. Baik mengenai perjalanan hidup, pandangan, pemikiran, kiprah ataupun pengabdian, sesuai dengan profesi masing-masing.



&quot;Siapa tahu disana ada mutiara dan hikmah yang dapat dipetik untuk jadi pelajaran bagi orang lain maupun sebagai sumbangsih bagi bangsa dan negara. Seperti kata Imam Al-Ghazali, menulislah maka anda akan hidup selamanya,&quot; tuturnya.



Bamsoet dikenal produktif menulis buku. Setidaknya ada 13 bukunya yang diterbitkan selama menjadi anggota DPR. Mulai dari Skandal Gila Bank Centuri, Presiden Dalam Lingkaran Sengkuni, Perang-Perangan Melawan Korupsi, Republik Galau, Indonesia Gawat Darurat dan Ngeri-ngeri Sedang.



Pada acara peluncuran buku tersebut, hadir sejumlah tokoh dan wartawan senior seperti, Surya Paloh (Ketua Umum Nasdem), Pengusaha Senior Chaerul Tanjung, Ketua Umum Pemuda Pancasila Yapto Suryosumarno, Budayawan Radar Panca Dahana, Pelukis Senior Hardi, Tokoh Pers Senior Ishadi SK, Irjen Pol Setyo Wasisto (Kadiv Humas Polri).



Kemudian, Melchias Mekeng (Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI), Taufiqulhadi (Anggota Fraksi Nasdem DPR RI), Roemkono (Anggota Fraksi Golkar DPR RI), Robert Kardinal (Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI), Masinton Pasaribu (Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI), Ahmad Sahroni (Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI), Elman Saragih, Panda Nababan, Noorca Massardi, Wina Armada, serta Gigin Pragianto, J Osdar, Aristides Katopo dan Marcyanus Donny sebagai narasumber dalam bedah buku tersebut.</content:encoded></item></channel></rss>
