<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jembatan Suramadu Digratiskan dan Silang Pendapat di Baliknya</title><description>Silang pendapat di balik keputusan Jokowi menggratiskan tarif jembatan Suramadu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/10/29/605/1970192/jembatan-suramadu-digratiskan-dan-silang-pendapat-di-baliknya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/10/29/605/1970192/jembatan-suramadu-digratiskan-dan-silang-pendapat-di-baliknya"/><item><title>Jembatan Suramadu Digratiskan dan Silang Pendapat di Baliknya</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/10/29/605/1970192/jembatan-suramadu-digratiskan-dan-silang-pendapat-di-baliknya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/10/29/605/1970192/jembatan-suramadu-digratiskan-dan-silang-pendapat-di-baliknya</guid><pubDate>Senin 29 Oktober 2018 07:25 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/10/29/605/1970192/jembatan-suramadu-digratiskan-dan-silang-pendapat-di-baliknya-iP6FRNSwef.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jokowi. (Foto: Biro Pers Setpres)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/10/29/605/1970192/jembatan-suramadu-digratiskan-dan-silang-pendapat-di-baliknya-iP6FRNSwef.jpg</image><title>Jokowi. (Foto: Biro Pers Setpres)</title></images><description>KUBU calon presiden Joko Widodo (Jokowi) dan kubu Prabowo Subianto terlibat polemik tajam terkait keputusan pemerintah membebaskan tarif tol jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Madura dengan Pulau Jawa.
Kelompok oposisi menuduh kebijakan itu sebagai pencitraan calon presiden Jokowi demi meraup suara masyarakat Madura di pilpres tahun depan.
Namun pendukung Jokowi menyebut tuduhan itu terlalu berlebihan dan lebih didasari pertimbangan politik.
Keputusan Presiden Jokowi yang membebaskan tarif tol jembatan Suramadu, Sabtu (27/10) barangkali tidak akan bermakna politik apapun, apabila dilakukan dua atau tiga tahun lalu.
Tapi situasinya menjadi berbeda ketika itu terjadi di masa kampanye pemilu presiden. Bisa ditebak, kubu calon presiden Prabowo Subianto langsung menuduh keputusan itu sebagai pencitraan menjelang pemilu presiden tahun depan.

&quot;Kalau ada persepsi kubu Prabowo menganggap itu politis, ada benarnya, karena secara sederhana Pulau Madura bukan basisnya Pak Jokowi,&quot; kata Mardani Ali Sera kepada wartawan BBC News Indonesia, Heyder Affan, Minggu (28/10).
(Baca juga: Wasekjen TKN Jokowi Tepis Tudingan Politik Pencitraan terkait Tol Suramadu)
&quot;Kemenangan Pak Prabowo di Madura pada Pilpres 2014 sangatlah kuat,&quot; tegasnya.
Walaupun keputusan itu merupakan hak Presiden Jokowi, namun menurutnya kurang tepat, karena kondisi keuangan negara yang terbatas. &quot;Keuangan negara sedang tidak sehat, seharusnya sekecil apapun penerimaan negara mestiya itu dieman-eman,&quot; tambahnya lagi.
Karena itulah, Mardani meminta pemerintah menjelaskan &quot;alasan-alasan rasional dan pertimbangan keuangan negara&quot; di balik keputusan pembebasan tarif tol jembatan Suramadu.
&quot;Tidak semata-mata heroisme atau pencitraan ataupun insentif elektoral,&quot; tandasnya.
Apa alasan Presiden Jokowi membebaskan tarif tol jembatan Suramadu?
Sebelumnya, Jokowi menyebut pembebasan biaya Jembatan Suramadu untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi di pulau Madura yang dianggap masih tertinggal apabila dibandingkan daerah lainnya di Jawa Timur.

Menurut Jokowi, jembatan Suramadu tidak banyak memberi pemasukan kepada Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN). Jembatan Suramadu hanya berkontribusi memberi pemasukan ke negara sebesar Rp120 miliar per tahun, kata presiden.
&quot;Ini pemasukan untuk APBN juga nggak banyak kok. Kecil. Saya pikir triliunan, ternyata saya tanya ke menteri PU kira-kira Rp120 miliar,&quot; kata Jokowi di atas Jembatan Suramadu, Sabtu (27/10).
Presiden juga menegaskan negara tidak menghitung untung-rugi dengan menggratiskan Jembatan Suramadu ini. &quot;Jangan kamu bawa hitung-hitungan selalu untung dan rugi, negara tidak akan berhitung untung rugi, hitungnya makro. Keuntungan benefitnya ada di masyarakat,&quot; jelasnya.
Lebih lanjut Jokowi mengatakan pembebasan biaya Jembatan Suramadu ini juga diharapkan bisa menarik investasi, karena pembebasan biaya ini dapat menurunkan tarif logistik yang bisa menguntungkan investor.
Apakah betul Presiden Jokowi melakukan pencitraan?
Ketua Tim kampanye nasional calon presiden Jokowi-Ma'ruf Amin, Erick Thohir, mempertanyakan tuduhan pencitraan yang dilontarkan kubu pendukung calon presiden Prabowo Subianto.
Menurut Erick, keputusan membebaskan tarif tol jembatan Suramadu dilakukan dalam kapasitas Joko Widodo sebagai presiden yang harus memenuhi kebutuhan rakyatnya.
(Baca juga: PDIP: Apa Pak Jokowi Tak Boleh Gratiskan Tol Suramadu?)
&quot;Enggak juga (pencitraan). Berarti kalau presiden melakukan sesuatu kebaikan buat rakyat, semua pencitraan dong? Ingatlah, beliau presiden,&quot; kata Erick kepada wartawan di Jakarta, Minggu (28/10).
Erick lantas meminta semua pihak agar tidak melontarkan kritik yang tidak memiliki dasar yang jelas.
&quot;Dan kita jangan terjebak, yaitu, yang politik selalu, ini salah, itu salah. Ini bohong, ini benar. Enggak bisa, kita harus tetap kerja,&quot; tegasnya.
Senada dengan Erick, politikus PDI Perjuangan Eva Sundari mengatakan posisi sebagai petahana memiliki risiko dicurigai apalagi itu dilakukan menjelang pilpres.
&quot;Posisi sebagai inkumben itu punya plus minus, (kebijakannya) dicurigai terus. Tapi jika gol memang berdampak elektoral. Itu hukum besi yang memang keuntungan dari inkumben,&quot; kata politikus PDIP Eva Sundari kepada wartawan, Minggu (28/10).
&quot;Jokowi kan karakternya begitu, bukan mendadak baik ke rakyat. Sama sekali bukan pencitraan, tapi memang karakter politik pembangunan Jokowi adalah pro rakyat,&quot; ujarnya.
Apa yang dituntut kubu Prabowo?
Bagaimanapun, kubu Prabowo Subianto meminta agar Presiden Joko Widodo menjelaskan kenapa jalan tol lainnya tidak digratiskan.
Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta agar Presiden Jokowi menjelaskannya secara terbuka kepada masyarakat.&quot;Karena saya tahu sekarang timbul polemik, pro dan kontra dari  kalangan masyarakat, Pak Jokowi bisa menjelaskan alasan Beliau mengapa  khusus biaya tol jembatan Suramadu itu digratiskan,&quot; kata SBY kepada  wartawan di Yogyakarta, Minggu (28/10).
&quot;Silakan dijelaskan, apakah pertimbangan ekonomi, apa pertimbangan sosial atau pertimbangan yang lain-lain,&quot; ujarnya.
Secara terpisah, politikus Partai Gerindra Fadli Zon meminta agar  Presiden Jokowi membebaskan tarif jalan tol Jagorawi-jalan tol tertua  di Indonesia-yang dianggap sudah meraup keuntungan.
&quot;Saya usul Pak Jokowi segera gratiskan tol Jagorawi yang sudah 40  tahun beroperasi. Sudah balik modal dan sudah banyak untungkan negara  dan pengelola,&quot; kata Fadli melalui akun Twitternya, Minggu (28/10).

Lebih lanjut Fadli menulis: &quot;Jadikan jalan sebagai sarana  pelayanan, bukan bisnis, termasuk jalan tol baru yang tarifnya  mahal-mahal. Itu baru prestasi, bukan pencitraan murahan.&quot;
Pengamat: Apakah jalan tol Jagorawi layak digratiskan? 
Tetapi pengamat ekonomi dari Universitas Katolik Atmajaya,  Agustinus Prasetyantoko mengganggap tidak ada alasan yang kuat untuk  membebaskan tarif tol Jagorawi jika dibandingkan tol jembatan Suramadu.
&quot;Kalau motifnya hanya untuk popularitas, saya kira tidak perlu.  Tapi kalau motifnya, misalnya, memberikan kepada masyarakat untuk  memberi akses jalan, supaya bisa menikmati itu bisa (dibebaskan  tarifnya),&quot; jelas Agustinus kepada BBC News Indonesia, Minggu (28/10)  sore.
&quot;Cuma persoalannya, tol Jagorawi itu, fasilitas (pembebasan  tarif) itu enggak perlu, karena yang mengakses jalan itu orang yang  mempunyai kemampuan untuk membayar. Jadi untuk apa motif pembebasan  biayanya?&quot; tandasnya.
&quot;Tidak digratiskan, (jalan tol Jagorawi) sudah macet. Jadi untuk  apa?&quot; kata Agustinus. &quot;Kalau Suramadu bisa digratiskan, supaya orang  bergerak untuk menggunakannya.&quot;
Agustinus tidak memungkiri ada latar atau motif politik di balik polemik tol jembatan Suramadu dan tol Jagorawi.
&quot;Mungkin ada motif politik, motif popularitas, tapi untuk  jembatan Suramadu tetap ada relevansinya, sementara untuk kasus  Jagorawi, saya kira tidak ada relevansinya sama sekali, jadi ya enggak  perlu (dibebaskan tarifnya),&quot; paparnya.</description><content:encoded>KUBU calon presiden Joko Widodo (Jokowi) dan kubu Prabowo Subianto terlibat polemik tajam terkait keputusan pemerintah membebaskan tarif tol jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Madura dengan Pulau Jawa.
Kelompok oposisi menuduh kebijakan itu sebagai pencitraan calon presiden Jokowi demi meraup suara masyarakat Madura di pilpres tahun depan.
Namun pendukung Jokowi menyebut tuduhan itu terlalu berlebihan dan lebih didasari pertimbangan politik.
Keputusan Presiden Jokowi yang membebaskan tarif tol jembatan Suramadu, Sabtu (27/10) barangkali tidak akan bermakna politik apapun, apabila dilakukan dua atau tiga tahun lalu.
Tapi situasinya menjadi berbeda ketika itu terjadi di masa kampanye pemilu presiden. Bisa ditebak, kubu calon presiden Prabowo Subianto langsung menuduh keputusan itu sebagai pencitraan menjelang pemilu presiden tahun depan.

&quot;Kalau ada persepsi kubu Prabowo menganggap itu politis, ada benarnya, karena secara sederhana Pulau Madura bukan basisnya Pak Jokowi,&quot; kata Mardani Ali Sera kepada wartawan BBC News Indonesia, Heyder Affan, Minggu (28/10).
(Baca juga: Wasekjen TKN Jokowi Tepis Tudingan Politik Pencitraan terkait Tol Suramadu)
&quot;Kemenangan Pak Prabowo di Madura pada Pilpres 2014 sangatlah kuat,&quot; tegasnya.
Walaupun keputusan itu merupakan hak Presiden Jokowi, namun menurutnya kurang tepat, karena kondisi keuangan negara yang terbatas. &quot;Keuangan negara sedang tidak sehat, seharusnya sekecil apapun penerimaan negara mestiya itu dieman-eman,&quot; tambahnya lagi.
Karena itulah, Mardani meminta pemerintah menjelaskan &quot;alasan-alasan rasional dan pertimbangan keuangan negara&quot; di balik keputusan pembebasan tarif tol jembatan Suramadu.
&quot;Tidak semata-mata heroisme atau pencitraan ataupun insentif elektoral,&quot; tandasnya.
Apa alasan Presiden Jokowi membebaskan tarif tol jembatan Suramadu?
Sebelumnya, Jokowi menyebut pembebasan biaya Jembatan Suramadu untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi di pulau Madura yang dianggap masih tertinggal apabila dibandingkan daerah lainnya di Jawa Timur.

Menurut Jokowi, jembatan Suramadu tidak banyak memberi pemasukan kepada Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN). Jembatan Suramadu hanya berkontribusi memberi pemasukan ke negara sebesar Rp120 miliar per tahun, kata presiden.
&quot;Ini pemasukan untuk APBN juga nggak banyak kok. Kecil. Saya pikir triliunan, ternyata saya tanya ke menteri PU kira-kira Rp120 miliar,&quot; kata Jokowi di atas Jembatan Suramadu, Sabtu (27/10).
Presiden juga menegaskan negara tidak menghitung untung-rugi dengan menggratiskan Jembatan Suramadu ini. &quot;Jangan kamu bawa hitung-hitungan selalu untung dan rugi, negara tidak akan berhitung untung rugi, hitungnya makro. Keuntungan benefitnya ada di masyarakat,&quot; jelasnya.
Lebih lanjut Jokowi mengatakan pembebasan biaya Jembatan Suramadu ini juga diharapkan bisa menarik investasi, karena pembebasan biaya ini dapat menurunkan tarif logistik yang bisa menguntungkan investor.
Apakah betul Presiden Jokowi melakukan pencitraan?
Ketua Tim kampanye nasional calon presiden Jokowi-Ma'ruf Amin, Erick Thohir, mempertanyakan tuduhan pencitraan yang dilontarkan kubu pendukung calon presiden Prabowo Subianto.
Menurut Erick, keputusan membebaskan tarif tol jembatan Suramadu dilakukan dalam kapasitas Joko Widodo sebagai presiden yang harus memenuhi kebutuhan rakyatnya.
(Baca juga: PDIP: Apa Pak Jokowi Tak Boleh Gratiskan Tol Suramadu?)
&quot;Enggak juga (pencitraan). Berarti kalau presiden melakukan sesuatu kebaikan buat rakyat, semua pencitraan dong? Ingatlah, beliau presiden,&quot; kata Erick kepada wartawan di Jakarta, Minggu (28/10).
Erick lantas meminta semua pihak agar tidak melontarkan kritik yang tidak memiliki dasar yang jelas.
&quot;Dan kita jangan terjebak, yaitu, yang politik selalu, ini salah, itu salah. Ini bohong, ini benar. Enggak bisa, kita harus tetap kerja,&quot; tegasnya.
Senada dengan Erick, politikus PDI Perjuangan Eva Sundari mengatakan posisi sebagai petahana memiliki risiko dicurigai apalagi itu dilakukan menjelang pilpres.
&quot;Posisi sebagai inkumben itu punya plus minus, (kebijakannya) dicurigai terus. Tapi jika gol memang berdampak elektoral. Itu hukum besi yang memang keuntungan dari inkumben,&quot; kata politikus PDIP Eva Sundari kepada wartawan, Minggu (28/10).
&quot;Jokowi kan karakternya begitu, bukan mendadak baik ke rakyat. Sama sekali bukan pencitraan, tapi memang karakter politik pembangunan Jokowi adalah pro rakyat,&quot; ujarnya.
Apa yang dituntut kubu Prabowo?
Bagaimanapun, kubu Prabowo Subianto meminta agar Presiden Joko Widodo menjelaskan kenapa jalan tol lainnya tidak digratiskan.
Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta agar Presiden Jokowi menjelaskannya secara terbuka kepada masyarakat.&quot;Karena saya tahu sekarang timbul polemik, pro dan kontra dari  kalangan masyarakat, Pak Jokowi bisa menjelaskan alasan Beliau mengapa  khusus biaya tol jembatan Suramadu itu digratiskan,&quot; kata SBY kepada  wartawan di Yogyakarta, Minggu (28/10).
&quot;Silakan dijelaskan, apakah pertimbangan ekonomi, apa pertimbangan sosial atau pertimbangan yang lain-lain,&quot; ujarnya.
Secara terpisah, politikus Partai Gerindra Fadli Zon meminta agar  Presiden Jokowi membebaskan tarif jalan tol Jagorawi-jalan tol tertua  di Indonesia-yang dianggap sudah meraup keuntungan.
&quot;Saya usul Pak Jokowi segera gratiskan tol Jagorawi yang sudah 40  tahun beroperasi. Sudah balik modal dan sudah banyak untungkan negara  dan pengelola,&quot; kata Fadli melalui akun Twitternya, Minggu (28/10).

Lebih lanjut Fadli menulis: &quot;Jadikan jalan sebagai sarana  pelayanan, bukan bisnis, termasuk jalan tol baru yang tarifnya  mahal-mahal. Itu baru prestasi, bukan pencitraan murahan.&quot;
Pengamat: Apakah jalan tol Jagorawi layak digratiskan? 
Tetapi pengamat ekonomi dari Universitas Katolik Atmajaya,  Agustinus Prasetyantoko mengganggap tidak ada alasan yang kuat untuk  membebaskan tarif tol Jagorawi jika dibandingkan tol jembatan Suramadu.
&quot;Kalau motifnya hanya untuk popularitas, saya kira tidak perlu.  Tapi kalau motifnya, misalnya, memberikan kepada masyarakat untuk  memberi akses jalan, supaya bisa menikmati itu bisa (dibebaskan  tarifnya),&quot; jelas Agustinus kepada BBC News Indonesia, Minggu (28/10)  sore.
&quot;Cuma persoalannya, tol Jagorawi itu, fasilitas (pembebasan  tarif) itu enggak perlu, karena yang mengakses jalan itu orang yang  mempunyai kemampuan untuk membayar. Jadi untuk apa motif pembebasan  biayanya?&quot; tandasnya.
&quot;Tidak digratiskan, (jalan tol Jagorawi) sudah macet. Jadi untuk  apa?&quot; kata Agustinus. &quot;Kalau Suramadu bisa digratiskan, supaya orang  bergerak untuk menggunakannya.&quot;
Agustinus tidak memungkiri ada latar atau motif politik di balik polemik tol jembatan Suramadu dan tol Jagorawi.
&quot;Mungkin ada motif politik, motif popularitas, tapi untuk  jembatan Suramadu tetap ada relevansinya, sementara untuk kasus  Jagorawi, saya kira tidak ada relevansinya sama sekali, jadi ya enggak  perlu (dibebaskan tarifnya),&quot; paparnya.</content:encoded></item></channel></rss>
