<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita di Balik Makam Keramat Panjang yang Ramai Diziariahi Warga</title><description>Makam Keramat Panjang merupakan salah satu lokasi yang ramai diziarahi warga baik lokal maupun mancanegara.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/11/24/338/1981888/cerita-di-balik-makam-keramat-panjang-yang-ramai-diziariahi-warga</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/11/24/338/1981888/cerita-di-balik-makam-keramat-panjang-yang-ramai-diziariahi-warga"/><item><title>Cerita di Balik Makam Keramat Panjang yang Ramai Diziariahi Warga</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/11/24/338/1981888/cerita-di-balik-makam-keramat-panjang-yang-ramai-diziariahi-warga</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/11/24/338/1981888/cerita-di-balik-makam-keramat-panjang-yang-ramai-diziariahi-warga</guid><pubDate>Sabtu 24 November 2018 12:01 WIB</pubDate><dc:creator>Anggun Tifani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/11/23/338/1981888/cerita-di-balik-makam-keramat-panjang-yang-ramai-diziariahi-warga-nn2xOZsyp5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Warga Berziarah di Makam Keramat Panjang, di Jalan Cituis, Keramat, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang (foto: Anggun T/Okezone) </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/11/23/338/1981888/cerita-di-balik-makam-keramat-panjang-yang-ramai-diziariahi-warga-nn2xOZsyp5.jpg</image><title>Warga Berziarah di Makam Keramat Panjang, di Jalan Cituis, Keramat, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang (foto: Anggun T/Okezone) </title></images><description>TANGERANG - Ziarah ke makam menjadi adat-istiadat yang terus dipertahankan masyarakat Indonesia, khususnya bagi umat Islam di Nusantara. Tak gentar digerus arus modernisasi, kegiatan ziarah sering dilakukan pada tiap-tiap perayaan sejumlah hari-hari besar.
Hal itu nampak, seperti yang dilakukan beberapa peziarah di Makam Keramat Panjang di Jalan Cituis, Keramat, Kecamatan Pakuhaji Kabupaten Tangerang. Makam ini sering dikunjungi berbagai peziarah dari dalam maupun luar negeri.
(Baca Juga: Geliat Pasar Malam di Pinggiran Kota)
&amp;nbsp;
Jika biasanya makam berukuran 2 x 1 meter, makam di Jalan Cituis, Kramat, Kecamatan Pakuhaji ini sangat berbeda. Di lokasi ini terdapat makam seorang ulama berukuran sepanjang 9 meter. Makam itu biasa disebut oleh warga sekitar sebagai Makam Keramat Panjang.
Pada makam itu, seorang ulama kenamaan dari negari Yaman, yakni Habib Abdullah Ali bin Al Uraidhi yang menyebarkan agama Islam hingga ke Indonesia.
Juru kunci makam tersebut, Habib Muhammad bin Toha Assegaf mengatakan, Habib Abdullah bersama istrinya Aminah Khan menyebarkan Agama Islam ke Aceh, Palembang, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan berakhir di kepulauan Jawa tepatnya di wilayah Pakuhaji, Tangerang.
&quot;Umur beliau itu sampai 107 tahun. Masyarakat yang ziarah ke sini datang dari berbagai daerah, dari luar negeri juga ada kayak dari Turki, Yaman, Singapura, Malaysia banyak lah pokoknya. Selain itu kalau yang dari daerah itu ada dari Madura, Indramayu, sama sekitar Pulau Jawa,&quot; ujar Muhammad kepada Okezone.
Makam Keramat Panjang, di Jalan Cituis, Keramat, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang (foto: Anggun T/Okezone)&amp;nbsp;
Muhammad mengatakan, ketika Habib Abdullah berada di wilayah Pakuhaji, beliau mempersunting gadis  di daerah tersebut yakni Siti Sulaiha. Makam kedua istrinya tersebut berada tak jauh dari Makam Habib yang dianggap Keramat tersebut.
&quot;Bisa ke sini itu karena beliau saat itu kapalnya rusak berat, di sini beliau bersama dengan awak kapal yang beliau bawa memperbaiki kapal beliau di sekitar kampung sini. Tak jauh dari sini kan ada pantai, sambil memperbaiki kapal beliau juga menyebarkan agama Islam,&quot; ucapnya.
Makam berukuran 9 meter itu, ditutupi tudung dan dilapisi kain berwarna hijau yang membentang di seluruh badan makam, yang terletak di dalam sebuah ruangan seperti musala. Pada dua sisi makam tersebut, terdapat batu nisan dengan ukuran cukup besar ditutup dengan kain sehingga tak nampak apa tulisannya.
&quot;Kalau ditanya kenapa namanya makam Keramat Panjang itu, memang sejarahnya katanya beliau itu tinggi sekali beda jauh lah sama masyarakat sekitar sini. Kalau nama Keramat itu, karena kampung ini namanya Kampung Keramat. Dari situ akhirnya disebut Makam Keramat Panjang,&quot; terang Muhammad.
&amp;lt;iframe src=&quot;https://www.metube.id/embed/17035740/&quot; width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
Diungkapkan Muhammad, orang-orang yang berziarah ke makam tersebut rata-rata berwasilah dengan cara melakukan tahlil. Ketika mereka melakukan tahlil, mereka akan duduk menghadap ke makam, sambil membuka tudung dan berdoa ke arah batu nisan.
Saat&amp;nbsp;Okezone&amp;nbsp;mendatangi lokasi, salah seorang peziarah bernama Misna dan anak-anak dari Majelis Ta'lim Al-Muqorrobin datang. Mereka datang menggunakan kendaraan pikap terbuka ke makam keramat tersebut.
(Baca Juga:&amp;nbsp;Stadion Benteng Dulu Dicintai, Kini Terbengkalai)&amp;nbsp;
&quot;Mumpung lagi libur hari Maulid, sekalian ajak anak-anak ke sini biar belajar sejarah Islam. 'Ngalap' (ngambil) berkah kalau kata orang dulu mah,&quot; kata Misna usai melakukan tahlil.
Makam Keramat Panjang, di Jalan Cituis, Keramat, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang (foto: Anggun T/Okezone) &amp;nbsp;
Misna menambahkan, pembelajaran sejarah Islam untuk anak-anak dapat membuat mereka menghargai jasa ulama. &quot;Mereka juga kan pejuang Islam di jalan Allah yang,tanpa ada perjuangan ulama terdahulu kita enggak akan bisa begini. Makanya ini semacam ilmu juga buat generasi penerus bangsa lah,&quot; urai Misna.
Makam Keramat Panjang sebelumnya sempat direncanakan menjadi tempat wisata religi oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang. Namun, pihak juru kunci dan warga sekitar tak mengizinkan. Dikhawatirkan akan ada permasalahan yang sensitif jika sudah mengarah soal uang.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8xMS8yMy8xLzExNzQzMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</description><content:encoded>TANGERANG - Ziarah ke makam menjadi adat-istiadat yang terus dipertahankan masyarakat Indonesia, khususnya bagi umat Islam di Nusantara. Tak gentar digerus arus modernisasi, kegiatan ziarah sering dilakukan pada tiap-tiap perayaan sejumlah hari-hari besar.
Hal itu nampak, seperti yang dilakukan beberapa peziarah di Makam Keramat Panjang di Jalan Cituis, Keramat, Kecamatan Pakuhaji Kabupaten Tangerang. Makam ini sering dikunjungi berbagai peziarah dari dalam maupun luar negeri.
(Baca Juga: Geliat Pasar Malam di Pinggiran Kota)
&amp;nbsp;
Jika biasanya makam berukuran 2 x 1 meter, makam di Jalan Cituis, Kramat, Kecamatan Pakuhaji ini sangat berbeda. Di lokasi ini terdapat makam seorang ulama berukuran sepanjang 9 meter. Makam itu biasa disebut oleh warga sekitar sebagai Makam Keramat Panjang.
Pada makam itu, seorang ulama kenamaan dari negari Yaman, yakni Habib Abdullah Ali bin Al Uraidhi yang menyebarkan agama Islam hingga ke Indonesia.
Juru kunci makam tersebut, Habib Muhammad bin Toha Assegaf mengatakan, Habib Abdullah bersama istrinya Aminah Khan menyebarkan Agama Islam ke Aceh, Palembang, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan berakhir di kepulauan Jawa tepatnya di wilayah Pakuhaji, Tangerang.
&quot;Umur beliau itu sampai 107 tahun. Masyarakat yang ziarah ke sini datang dari berbagai daerah, dari luar negeri juga ada kayak dari Turki, Yaman, Singapura, Malaysia banyak lah pokoknya. Selain itu kalau yang dari daerah itu ada dari Madura, Indramayu, sama sekitar Pulau Jawa,&quot; ujar Muhammad kepada Okezone.
Makam Keramat Panjang, di Jalan Cituis, Keramat, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang (foto: Anggun T/Okezone)&amp;nbsp;
Muhammad mengatakan, ketika Habib Abdullah berada di wilayah Pakuhaji, beliau mempersunting gadis  di daerah tersebut yakni Siti Sulaiha. Makam kedua istrinya tersebut berada tak jauh dari Makam Habib yang dianggap Keramat tersebut.
&quot;Bisa ke sini itu karena beliau saat itu kapalnya rusak berat, di sini beliau bersama dengan awak kapal yang beliau bawa memperbaiki kapal beliau di sekitar kampung sini. Tak jauh dari sini kan ada pantai, sambil memperbaiki kapal beliau juga menyebarkan agama Islam,&quot; ucapnya.
Makam berukuran 9 meter itu, ditutupi tudung dan dilapisi kain berwarna hijau yang membentang di seluruh badan makam, yang terletak di dalam sebuah ruangan seperti musala. Pada dua sisi makam tersebut, terdapat batu nisan dengan ukuran cukup besar ditutup dengan kain sehingga tak nampak apa tulisannya.
&quot;Kalau ditanya kenapa namanya makam Keramat Panjang itu, memang sejarahnya katanya beliau itu tinggi sekali beda jauh lah sama masyarakat sekitar sini. Kalau nama Keramat itu, karena kampung ini namanya Kampung Keramat. Dari situ akhirnya disebut Makam Keramat Panjang,&quot; terang Muhammad.
&amp;lt;iframe src=&quot;https://www.metube.id/embed/17035740/&quot; width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
Diungkapkan Muhammad, orang-orang yang berziarah ke makam tersebut rata-rata berwasilah dengan cara melakukan tahlil. Ketika mereka melakukan tahlil, mereka akan duduk menghadap ke makam, sambil membuka tudung dan berdoa ke arah batu nisan.
Saat&amp;nbsp;Okezone&amp;nbsp;mendatangi lokasi, salah seorang peziarah bernama Misna dan anak-anak dari Majelis Ta'lim Al-Muqorrobin datang. Mereka datang menggunakan kendaraan pikap terbuka ke makam keramat tersebut.
(Baca Juga:&amp;nbsp;Stadion Benteng Dulu Dicintai, Kini Terbengkalai)&amp;nbsp;
&quot;Mumpung lagi libur hari Maulid, sekalian ajak anak-anak ke sini biar belajar sejarah Islam. 'Ngalap' (ngambil) berkah kalau kata orang dulu mah,&quot; kata Misna usai melakukan tahlil.
Makam Keramat Panjang, di Jalan Cituis, Keramat, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang (foto: Anggun T/Okezone) &amp;nbsp;
Misna menambahkan, pembelajaran sejarah Islam untuk anak-anak dapat membuat mereka menghargai jasa ulama. &quot;Mereka juga kan pejuang Islam di jalan Allah yang,tanpa ada perjuangan ulama terdahulu kita enggak akan bisa begini. Makanya ini semacam ilmu juga buat generasi penerus bangsa lah,&quot; urai Misna.
Makam Keramat Panjang sebelumnya sempat direncanakan menjadi tempat wisata religi oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang. Namun, pihak juru kunci dan warga sekitar tak mengizinkan. Dikhawatirkan akan ada permasalahan yang sensitif jika sudah mengarah soal uang.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8xMS8yMy8xLzExNzQzMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
