<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Muncul Kubah Lava Baru di Gunung Merapi, Guguran Lava Diprediksi Sering Terjadi</title><description>Hal ini sesuai dengan skenario aktivitas pascaletusan pada 2010.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/11/26/512/1983009/muncul-kubah-lava-baru-di-gunung-merapi-guguran-lava-diprediksi-sering-terjadi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/11/26/512/1983009/muncul-kubah-lava-baru-di-gunung-merapi-guguran-lava-diprediksi-sering-terjadi"/><item><title>Muncul Kubah Lava Baru di Gunung Merapi, Guguran Lava Diprediksi Sering Terjadi</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/11/26/512/1983009/muncul-kubah-lava-baru-di-gunung-merapi-guguran-lava-diprediksi-sering-terjadi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/11/26/512/1983009/muncul-kubah-lava-baru-di-gunung-merapi-guguran-lava-diprediksi-sering-terjadi</guid><pubDate>Senin 26 November 2018 16:23 WIB</pubDate><dc:creator>Bramantyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/11/26/512/1983009/muncul-kubah-lava-baru-di-gunung-merapi-guguran-lava-diprediksi-sering-terjadi-3qGAb9kcix.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gunung Merapi (Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/11/26/512/1983009/muncul-kubah-lava-baru-di-gunung-merapi-guguran-lava-diprediksi-sering-terjadi-3qGAb9kcix.jpg</image><title>Gunung Merapi (Dok Okezone)</title></images><description>KLATEN &amp;ndash; Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat munculnya kubah lava baru Gunung Merapi yang dihasilkan dari fase erupsi magmatis Gunung Merapi pada 11 Agustus 2018. Hal ini menandakan bila pergerakan Gunung yang memisahkan dua provinsi, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini mengikuti kronologi aktivitas setelah erupsi pada 2010.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kasbani, mengatakan pascaletusan 1872, kubah lava baru pun muncul. Begitu pula pada 1883 atau 11 tahun kemudian.

Gunung Merapi terakhir kali erupsi pada 2010. Jika mengikuti skenario itu, 11 tahun kemudian, yakni tahun ini, akan muncul kubah lava baru.

&quot;Merapi memasuki fase erupsi magmatis pada 11 Agustus 2018 ditandai dengan munculnya kubah lava. Hal ini menunjukkan erupsi 2018 bersifat efusif; dan sesuai dengan skenario aktivitas pascaletusan 2010 akan cenderung mengikuti kronologi aktivitas pasca-1872. Pascaletusan 1872 kubah lava baru muncul pada 1883 atau 11 tahun kemudian,&quot; papar Kasbani, Senin (26/11/2018).

Menurutnya, dengan munculnya kubah lava baru, pemantauan visual perkembangan kubah lava difokuskan pada kestabilan lereng Gunung Merapi. Pasalnya, ungkap Kasbani, kestabilan lereng menjadi aspek pemantauan yang krusial dan prioritas.



&quot;Kubah lava muncul tepat di tengah rekahan kubah lava 2010 dan tumbuh secara simetris. Volume kubah per 22 November 2018 mencapai 308.000 m3 dengan laju sekitar 3.000 m3/hari terhitung dari awal munculnya,&quot; terangnya.

Seiring dengan pertumbuhan kubah lava, kata dia, guguran lava mulai terjadi pada 22 Agustus 2018 yang dominan mengarah ke barat laut dalam area kawah.

&quot;Material kubah lava 2018 saat ini sudah mencapai batas permukaan kubah lava 2010 hampir di semua arah termasuk pada arah bukaan kawah. Ini memungkinkan guguran material kubah dapat langsung meluncur ke luar kawah seperti yang terjadi pada 23 November 2018. (Saat itu-red) teramati 4 kali guguran lava mengarah ke bukaan kawah, hulu Kali Gendol. Jarak luncur terjauh sebesar 300 meter terjadi pada pukul 19.05 WIB,&quot; jelasnya.

Data pemantauan menunjukkan aktivitas vulkanis yang cukup tinggi yang menandakan masih berlangsungnya suplai magma.

Berdasarkan laporan mingguan pada 16-22 November, tercatat kegempaan Gunung Merapi terjadi sebanyak 28 kali gempa embusan (DG), 2 kali gempa vulkanis dangkal (VTB), dua kali gempa fase banyak (MP), 261 kali gempa guguran (RF), dan 21 kali gempa low frekuensi (LF).

&quot;Jika kubah lava terus mengalami pertumbuhan maka kejadian guguran lava ini akan terus terjadi dan meningkat intensitasnya seiring dengan meningkatnya aktivitas kubah lava,&quot; paparnya


Munculnya kubah lava baru Gunung Merapi, PVMBG memprediksi guguran lava gunung teraktif di Indonesia itu akan sering terjadi.

Meski begitu, untuk saat ini, ungkap Kasbani, intensitas guguran masih rendah  dengan potensi material yang juga masih kecil, sehingga belum  membahayakan penduduk.

Berdasarkan pemodelan, jika sebagian besar volume material kubah lava  saat ini runtuh, awan panas dapat meluncur ke arah Kali Gendol sejauh  2,2 km (&amp;lt; 3 km). Perhitungan ini berdasarkan asumsi kondisi kubah  lava tidak stabil. Adapun saat ini kondisi kubah lava masih  stabil,berada tepat di tengah kawah.



Aktivitas guguran lava pada erupsi-erupsi efusif sebelumnya menjadi  daya tarik tersendiri bagi masyarakat di sekitar Gunung Merapi, terutama  pada malam hari.

&quot;Diharapkan aktivitas guguran lava pijar 2018 ini selain dapat menjadi sarana hiburan bagi masyarakat,&quot; tuturnya.

(Baca Juga : Lava Pijar Terus Terjadi, Sebesar Ini Volume Kubah Lava Merapi Sekarang)

PVMBG mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tenang bila melihat guguran lava Gunung Merapi.

(Baca Juga : BPPTKG: Kubah Lava Gunung Merapi Masih Tumbuh)

Selain itu, untuk masyarakat yang masuk kawasan rawan bencana III  diimbau untuk terus mengikuti informasi pertumbuhan kubah dan guguran  lava yang akan sering terlihat di Gunung Merapi.

&quot;Masyarakat diperbolehkan menyaksikan aktivitas guguran lava di luar  jarak bahaya yang telah ditetapkan yaitu &amp;gt; 3 km dari puncak,&quot;  pungkasnya.

(Baca Juga : Foto-Foto Terbaru Kondisi Rekahan Gunung Merapi Terpantau Jelas)
</description><content:encoded>KLATEN &amp;ndash; Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat munculnya kubah lava baru Gunung Merapi yang dihasilkan dari fase erupsi magmatis Gunung Merapi pada 11 Agustus 2018. Hal ini menandakan bila pergerakan Gunung yang memisahkan dua provinsi, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini mengikuti kronologi aktivitas setelah erupsi pada 2010.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kasbani, mengatakan pascaletusan 1872, kubah lava baru pun muncul. Begitu pula pada 1883 atau 11 tahun kemudian.

Gunung Merapi terakhir kali erupsi pada 2010. Jika mengikuti skenario itu, 11 tahun kemudian, yakni tahun ini, akan muncul kubah lava baru.

&quot;Merapi memasuki fase erupsi magmatis pada 11 Agustus 2018 ditandai dengan munculnya kubah lava. Hal ini menunjukkan erupsi 2018 bersifat efusif; dan sesuai dengan skenario aktivitas pascaletusan 2010 akan cenderung mengikuti kronologi aktivitas pasca-1872. Pascaletusan 1872 kubah lava baru muncul pada 1883 atau 11 tahun kemudian,&quot; papar Kasbani, Senin (26/11/2018).

Menurutnya, dengan munculnya kubah lava baru, pemantauan visual perkembangan kubah lava difokuskan pada kestabilan lereng Gunung Merapi. Pasalnya, ungkap Kasbani, kestabilan lereng menjadi aspek pemantauan yang krusial dan prioritas.



&quot;Kubah lava muncul tepat di tengah rekahan kubah lava 2010 dan tumbuh secara simetris. Volume kubah per 22 November 2018 mencapai 308.000 m3 dengan laju sekitar 3.000 m3/hari terhitung dari awal munculnya,&quot; terangnya.

Seiring dengan pertumbuhan kubah lava, kata dia, guguran lava mulai terjadi pada 22 Agustus 2018 yang dominan mengarah ke barat laut dalam area kawah.

&quot;Material kubah lava 2018 saat ini sudah mencapai batas permukaan kubah lava 2010 hampir di semua arah termasuk pada arah bukaan kawah. Ini memungkinkan guguran material kubah dapat langsung meluncur ke luar kawah seperti yang terjadi pada 23 November 2018. (Saat itu-red) teramati 4 kali guguran lava mengarah ke bukaan kawah, hulu Kali Gendol. Jarak luncur terjauh sebesar 300 meter terjadi pada pukul 19.05 WIB,&quot; jelasnya.

Data pemantauan menunjukkan aktivitas vulkanis yang cukup tinggi yang menandakan masih berlangsungnya suplai magma.

Berdasarkan laporan mingguan pada 16-22 November, tercatat kegempaan Gunung Merapi terjadi sebanyak 28 kali gempa embusan (DG), 2 kali gempa vulkanis dangkal (VTB), dua kali gempa fase banyak (MP), 261 kali gempa guguran (RF), dan 21 kali gempa low frekuensi (LF).

&quot;Jika kubah lava terus mengalami pertumbuhan maka kejadian guguran lava ini akan terus terjadi dan meningkat intensitasnya seiring dengan meningkatnya aktivitas kubah lava,&quot; paparnya


Munculnya kubah lava baru Gunung Merapi, PVMBG memprediksi guguran lava gunung teraktif di Indonesia itu akan sering terjadi.

Meski begitu, untuk saat ini, ungkap Kasbani, intensitas guguran masih rendah  dengan potensi material yang juga masih kecil, sehingga belum  membahayakan penduduk.

Berdasarkan pemodelan, jika sebagian besar volume material kubah lava  saat ini runtuh, awan panas dapat meluncur ke arah Kali Gendol sejauh  2,2 km (&amp;lt; 3 km). Perhitungan ini berdasarkan asumsi kondisi kubah  lava tidak stabil. Adapun saat ini kondisi kubah lava masih  stabil,berada tepat di tengah kawah.



Aktivitas guguran lava pada erupsi-erupsi efusif sebelumnya menjadi  daya tarik tersendiri bagi masyarakat di sekitar Gunung Merapi, terutama  pada malam hari.

&quot;Diharapkan aktivitas guguran lava pijar 2018 ini selain dapat menjadi sarana hiburan bagi masyarakat,&quot; tuturnya.

(Baca Juga : Lava Pijar Terus Terjadi, Sebesar Ini Volume Kubah Lava Merapi Sekarang)

PVMBG mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tenang bila melihat guguran lava Gunung Merapi.

(Baca Juga : BPPTKG: Kubah Lava Gunung Merapi Masih Tumbuh)

Selain itu, untuk masyarakat yang masuk kawasan rawan bencana III  diimbau untuk terus mengikuti informasi pertumbuhan kubah dan guguran  lava yang akan sering terlihat di Gunung Merapi.

&quot;Masyarakat diperbolehkan menyaksikan aktivitas guguran lava di luar  jarak bahaya yang telah ditetapkan yaitu &amp;gt; 3 km dari puncak,&quot;  pungkasnya.

(Baca Juga : Foto-Foto Terbaru Kondisi Rekahan Gunung Merapi Terpantau Jelas)
</content:encoded></item></channel></rss>
