<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kekhalifahan ISIS Runtuh Hancur Lebur: Lalu Apa?</title><description>Sekarang, mereka hanya menguasai sekitar 1% dari wilayah yang pernah mereka kuasai.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/12/01/18/1985476/kekhalifahan-isis-runtuh-hancur-lebur-lalu-apa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/12/01/18/1985476/kekhalifahan-isis-runtuh-hancur-lebur-lalu-apa"/><item><title>Kekhalifahan ISIS Runtuh Hancur Lebur: Lalu Apa?</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/12/01/18/1985476/kekhalifahan-isis-runtuh-hancur-lebur-lalu-apa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/12/01/18/1985476/kekhalifahan-isis-runtuh-hancur-lebur-lalu-apa</guid><pubDate>Sabtu 01 Desember 2018 14:14 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/12/01/18/1985476/kekhalifahan-isis-runtuh-hancur-lebur-lalu-apa-TGOSeZUocc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sebagian tentara Irak memamerkan bendera kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam setelah menguasai kembali Mosul pada Juli 2017. (AFP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/12/01/18/1985476/kekhalifahan-isis-runtuh-hancur-lebur-lalu-apa-TGOSeZUocc.jpg</image><title>Sebagian tentara Irak memamerkan bendera kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam setelah menguasai kembali Mosul pada Juli 2017. (AFP)</title></images><description>ALIANSI yang didukung AS dari para pejuang Kurdi Suriah dan Arab makin mendekati kantong terakhir wilayah di Suriah timur yang dikuasai oleh kelompok jihad yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).
Empat tahun yang lalu, kaum militan ISIS menyerbu banyak wilayah Suriah dan tetangganya Irak, memproklamirkan pembentukan 'kekhalifahan', dengan khalifah Abu Bakar al Baghdadi, dan memaksakan pemerintahan brutal mereka pada hampir 8 juta orang.
Sekarang, mereka hanya menguasai sekitar 1% dari wilayah yang pernah mereka kuasai.
Betapa pun, militer AS memperingatkan bahwa kendati para jihadis berada &quot;dalam pergolakan penghabisan ambisi jahat mereka&quot;, tetap saja &quot;mereka belum sepenuhnya dikalahkan&quot;.
Antara 1.500 hingga 2.000 militan diperkirakan masih bersembunyi di daerah di sekitar kota Hajin, di Lembah Sungai Eufrat Tengah, Suriah. Di kawasan itu, menurut AS, terjadi berbagai pertempuran paling sengit selama lebih dari satu tahun.
Bagaimana ISIS kehilangan kekhalifahannya
Kampanye militer untuk mendorong ISIS keluar dari Irak dan Suriah menelan ribuan nyawa dan jutaan orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Di Suriah, pasukan yang setia kepada Presiden Bashar al-Assad memerangi kelompok jihadis dengan bantuan serangan udara Rusia dan milisi yang didukung Iran. Sementara sebuah koalisi multinasional pimpinan AS mendukung aliansi Demokrat Suriah (SDF) yang didominasi suku Kurdi dan beberapa faksi pemberontak.



Di Irak, pasukan keamanan didukung oleh koalisi pimpinan AS dan pasukan paramiliter yang didominasi oleh Mobilisasi Rakyat, sebuah kelompok milisi dukungan Iran.
Koalisi pimpinan AS, yang mencakup pasukan Australia, Bahrain, Prancis, Yordania, Belanda, Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab, dan Inggris mulai meluncurkan serangan udara terhadap posisi-posisi ISIS di Irak pada Agustus 2014. Koalisi serangan udara terhadap ISIS di Suriah dimulai sebulan kemudian.
Sejak saat itu pesawat-pesawat yang dikerahkan sebagai bagian dari Operation Inherent Resolve telah melakukan lebih dari 13.400 serangan udara di Irak dan lebih dari 16.100 di Suriah.



Rusia bukan bagian dari koalisi, tetapi jet-jet tempur mereka mulai melancarkan serangan udara terhadap apa yang disebut 'teroris' di Suriah pada September 2015 untuk membantu pemerintahan Presiden Assad.
Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan pada Agustus 2018, pasukannya telah melancarkan 39.000 serangan udara di Suriah sejak 2015, menghancurkan 121.000 'sasaran teroris' dan menewaskan lebih dari 5.200 anggota ISIS.

Direbutnya lagi kota-kota penting
Kemajuan awal dalam kampanye koalisi pimpinan AS terhadap ISIS antara  lain direbutnya kembali Kota Ramadi, ibu kota provinsi Anbar di Irak,  oleh pasukan pro-pemerintah Irak pada Desember 2015.
Direbutnya kembali Mosul, kota terbesar kedua Irak pada Juli 2017  dilihat sebagai terobosan besar bagi koalisi, tetapi pertempuran 10  bulan untuk merebut kota itu menyebabkan ribuan warga sipil tewas dan  lebih dari 800.000 lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka di kota  itu.
Pada Oktober 2017, Kota Raqqa, yang oleh ISIS disebut 'ibukota  kekhalifahan,' jatuh ke tangan SDF dengan dukungan serangan udara  koalisi, mengakhiri tiga tahun pemerintahan ISIS di kota itu.
Setelah empat bulan pertempuran, ribuan tentara ISIS diizinkan  meninggalkan kota itu di bawah kesepakatan dengan para pejabat Suriah,  tetapi dengan pengetahuan Pasukan Demokratis Suriah, sebuah aliansi  pejuang Kurdi dan Arab serta koalisi pimpinan AS.



Bulan berikutnya, tentara Suriah menguasai lagi Kota Deir al-Zour,  dan pasukan Irak merebut kembali Kota al-Qaim yang terletak di  perbatasan.
Ribuan orang terbunuh
Belum ada angka yang pasti untuk jumlah yang tepat dari korban perang menumpas ISIS.
The Syrian Observatory for Human Rights, kelompok pemantau HAM yang  berbasis di Inggris, mencatat bahwa sejak perang saudara di Suriah  dimulai pada tahun 2011, setidaknya 364.792 orang tewas, termasuk  110.687 warga sipil.



Sementara PBB mencatat setidaknya 30.839 warga sipil tewas dalam aksi terorisme, kekerasan dan konflik bersenjata sejak 2014.
Namun, Irak Body Count, sebuah organisasi yang dikelola oleh para  akademisi dan aktivis perdamaian, mencatat bahwa jumlah korban sipil  lebih dari 70.000 orang.
Bagaimana IS muncul dan menyebar
Para jihadis mengeksploitasi kekacauan dan perpecahan di dalam negeri Suriah dan Irak.
ISIS awalnya merupakan pecahan al-Qaeda di Irak, dibentuk oleh  militan Arab Sunni setelah invasi pimpinan AS pada 2003, dan menjadi  kekuatan utama dalam pemberontakan di negara itu.
Pada 2011, kelompok yang sekarang dikenal sebagai Negara Islam di   Irak (ISI) - bergabung dengan pemberontakan melawan Presiden Assad di   Suriah. Di sana mereka menemukan tempat berlindung yang aman dan akses   mudah terhadap persenjataan.
Pada saat yang sama, mereka mengambil keuntungan dari penarikan   pasukan AS dari Irak, serta kemarahan Sunni yang meluas atas kebijakan   sektarian pemerintah yang didominasi Syiah.
Pada 2013, ISI mulai merebut kekuasaan di beberapa wilayah Suriah dan   mengubah namanya menjadi Negara Islam di Irak dan Levant (ISIS atau   ISIL).



Tahun berikutnya, ISIS menyerbu sejumlah wilayah besar Irak utara dan   barat, memproklamasikan pembentukan 'kekhalifahan', dan kemudian   menyebut diri sebagai Daulah Islamiyah, atau ISIS, dan dikenal juga   dalam sebutan lain, DAESH.
Dalam perkembangan berikutnya, mereka merangsek ke wilayah yang   dikuasai oleh minoritas Kurdi Irak, dan melakukan pembunuhan dan   perbudakan terhadap ribuan warga Yazidi, mendorong koalisi pimpinan AS   untuk memulai serangan udara terhadap posisi ISIS di Irak pada Agustus   2014.
Jutaan pengungsi menyebar
Sedikitnya 6,6 juta warga Suriah telah mengungsi ke wilayah lain di   negara itu, sementara 5,6 juta lainnya melarikan diri ke luar negeri -   lebih dari 3,5 juta di antaranya mencari perlindungan di Turki, hampir   satu juta di Libanon dan hampir 700.000 di Yordania.
Banyak warga Suriah mencari suaka di Eropa, terutama Jerman.
Di Irak, jumlah orang yang terusir dari rumah mereka jumlahnya untuk   pertama kalinya sejak Desember 2013, menurun hingga di bawah 2 juta.



Pada September 2018, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM)   memperkirakan hampir empat juta orang telah kembali ke kampung halaman   mereka.
Tapi PBB melaporkan bahwa kurangnya lapangan kerja dan hancurnya   properti dan terbatasnya akses ke berbagai layanan, membuat banyak orang   masih belum kembali ke rumah masing-masing.
Bagaimana ISIS setelah ini?
Sebuah laporan AS baru-baru ini mengatakan masih ada 14.000 militan    ISIS di Suriah dan 17.100 militan ISIS di Irak, di kawasan-kawasan yang    sudah tidak lagi mereka kuasai sepenuhnya.
Selain itu, para ahli PBB memperkirakan bahwa masih ada pula kantung    besar militan ISIS di berbagai negara lain, seperti di Libya (antara    3.000 hingga 4.000 orang) dan Afghanistan (sekitar 4.000 orang).
Kelompok ini juga memiliki militan dalam jumlah yang tidak sedikit di    Asia Tenggara, termasuk sejumlah pendukung di Indonesia, Afrika  Barat,   Semenanjung Sinai Mesir, Yaman, Somalia, dan Sahel.



Di Irak dan Suriah banyak militan mengubah taktik dengan kembali ke    akar pemberontakan mereka, yakni melakukan pemboman, pembunuhan dan    penculikan, sembari mencoba untuk membangun kembali jaringan mereka.
Ada pula individu-individu yang terinspirasi oleh ideologi kelompok    itu, lalu melakukan berbagai serangan di Eropa dan di tempat lain.

(Baca Juga : Abu Bakar al Baghdadi Perintahkan Eksekusi 320 Anggota yang Dituduh Berkhianat)

Hasil penelitian pada bulan Oktober 2017 oleh kelompok intelijen    strategis yang berbasis di New York, Soufan Center, memperkirakan bahwa    sekitar 5.600 petempur ISIS telah kembali ke kampung halaman mereka di    33 negara di seluruh dunia.
Yang terbesar, sekitar 900 orang, telah kembali ke Turki. Sementara    sekitar 1.200 orang telah kembali ke Uni Eropa - antara lain 425 orang    ke Inggris, dan sekitar 300 pulang ke Jerman dan 300 lainnya kembali  ke   Prancis.

(Baca Juga : Seorang WNI Dihukum Penjara Terkait ISIS oleh Pengadilan Malaysia)

Ratusan petempur asing lainnya sudah ditangkap dan masih ditahan oleh    SDF di kawasan Suriah timur laut yang dikuasai Kurdi. Amerika Serikat    menyerukan negara-negara lainnya untuk membawa pulang warga negara    mereka yang bergabung dengan ISIS, untuk diadili.
</description><content:encoded>ALIANSI yang didukung AS dari para pejuang Kurdi Suriah dan Arab makin mendekati kantong terakhir wilayah di Suriah timur yang dikuasai oleh kelompok jihad yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).
Empat tahun yang lalu, kaum militan ISIS menyerbu banyak wilayah Suriah dan tetangganya Irak, memproklamirkan pembentukan 'kekhalifahan', dengan khalifah Abu Bakar al Baghdadi, dan memaksakan pemerintahan brutal mereka pada hampir 8 juta orang.
Sekarang, mereka hanya menguasai sekitar 1% dari wilayah yang pernah mereka kuasai.
Betapa pun, militer AS memperingatkan bahwa kendati para jihadis berada &quot;dalam pergolakan penghabisan ambisi jahat mereka&quot;, tetap saja &quot;mereka belum sepenuhnya dikalahkan&quot;.
Antara 1.500 hingga 2.000 militan diperkirakan masih bersembunyi di daerah di sekitar kota Hajin, di Lembah Sungai Eufrat Tengah, Suriah. Di kawasan itu, menurut AS, terjadi berbagai pertempuran paling sengit selama lebih dari satu tahun.
Bagaimana ISIS kehilangan kekhalifahannya
Kampanye militer untuk mendorong ISIS keluar dari Irak dan Suriah menelan ribuan nyawa dan jutaan orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Di Suriah, pasukan yang setia kepada Presiden Bashar al-Assad memerangi kelompok jihadis dengan bantuan serangan udara Rusia dan milisi yang didukung Iran. Sementara sebuah koalisi multinasional pimpinan AS mendukung aliansi Demokrat Suriah (SDF) yang didominasi suku Kurdi dan beberapa faksi pemberontak.



Di Irak, pasukan keamanan didukung oleh koalisi pimpinan AS dan pasukan paramiliter yang didominasi oleh Mobilisasi Rakyat, sebuah kelompok milisi dukungan Iran.
Koalisi pimpinan AS, yang mencakup pasukan Australia, Bahrain, Prancis, Yordania, Belanda, Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab, dan Inggris mulai meluncurkan serangan udara terhadap posisi-posisi ISIS di Irak pada Agustus 2014. Koalisi serangan udara terhadap ISIS di Suriah dimulai sebulan kemudian.
Sejak saat itu pesawat-pesawat yang dikerahkan sebagai bagian dari Operation Inherent Resolve telah melakukan lebih dari 13.400 serangan udara di Irak dan lebih dari 16.100 di Suriah.



Rusia bukan bagian dari koalisi, tetapi jet-jet tempur mereka mulai melancarkan serangan udara terhadap apa yang disebut 'teroris' di Suriah pada September 2015 untuk membantu pemerintahan Presiden Assad.
Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan pada Agustus 2018, pasukannya telah melancarkan 39.000 serangan udara di Suriah sejak 2015, menghancurkan 121.000 'sasaran teroris' dan menewaskan lebih dari 5.200 anggota ISIS.

Direbutnya lagi kota-kota penting
Kemajuan awal dalam kampanye koalisi pimpinan AS terhadap ISIS antara  lain direbutnya kembali Kota Ramadi, ibu kota provinsi Anbar di Irak,  oleh pasukan pro-pemerintah Irak pada Desember 2015.
Direbutnya kembali Mosul, kota terbesar kedua Irak pada Juli 2017  dilihat sebagai terobosan besar bagi koalisi, tetapi pertempuran 10  bulan untuk merebut kota itu menyebabkan ribuan warga sipil tewas dan  lebih dari 800.000 lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka di kota  itu.
Pada Oktober 2017, Kota Raqqa, yang oleh ISIS disebut 'ibukota  kekhalifahan,' jatuh ke tangan SDF dengan dukungan serangan udara  koalisi, mengakhiri tiga tahun pemerintahan ISIS di kota itu.
Setelah empat bulan pertempuran, ribuan tentara ISIS diizinkan  meninggalkan kota itu di bawah kesepakatan dengan para pejabat Suriah,  tetapi dengan pengetahuan Pasukan Demokratis Suriah, sebuah aliansi  pejuang Kurdi dan Arab serta koalisi pimpinan AS.



Bulan berikutnya, tentara Suriah menguasai lagi Kota Deir al-Zour,  dan pasukan Irak merebut kembali Kota al-Qaim yang terletak di  perbatasan.
Ribuan orang terbunuh
Belum ada angka yang pasti untuk jumlah yang tepat dari korban perang menumpas ISIS.
The Syrian Observatory for Human Rights, kelompok pemantau HAM yang  berbasis di Inggris, mencatat bahwa sejak perang saudara di Suriah  dimulai pada tahun 2011, setidaknya 364.792 orang tewas, termasuk  110.687 warga sipil.



Sementara PBB mencatat setidaknya 30.839 warga sipil tewas dalam aksi terorisme, kekerasan dan konflik bersenjata sejak 2014.
Namun, Irak Body Count, sebuah organisasi yang dikelola oleh para  akademisi dan aktivis perdamaian, mencatat bahwa jumlah korban sipil  lebih dari 70.000 orang.
Bagaimana IS muncul dan menyebar
Para jihadis mengeksploitasi kekacauan dan perpecahan di dalam negeri Suriah dan Irak.
ISIS awalnya merupakan pecahan al-Qaeda di Irak, dibentuk oleh  militan Arab Sunni setelah invasi pimpinan AS pada 2003, dan menjadi  kekuatan utama dalam pemberontakan di negara itu.
Pada 2011, kelompok yang sekarang dikenal sebagai Negara Islam di   Irak (ISI) - bergabung dengan pemberontakan melawan Presiden Assad di   Suriah. Di sana mereka menemukan tempat berlindung yang aman dan akses   mudah terhadap persenjataan.
Pada saat yang sama, mereka mengambil keuntungan dari penarikan   pasukan AS dari Irak, serta kemarahan Sunni yang meluas atas kebijakan   sektarian pemerintah yang didominasi Syiah.
Pada 2013, ISI mulai merebut kekuasaan di beberapa wilayah Suriah dan   mengubah namanya menjadi Negara Islam di Irak dan Levant (ISIS atau   ISIL).



Tahun berikutnya, ISIS menyerbu sejumlah wilayah besar Irak utara dan   barat, memproklamasikan pembentukan 'kekhalifahan', dan kemudian   menyebut diri sebagai Daulah Islamiyah, atau ISIS, dan dikenal juga   dalam sebutan lain, DAESH.
Dalam perkembangan berikutnya, mereka merangsek ke wilayah yang   dikuasai oleh minoritas Kurdi Irak, dan melakukan pembunuhan dan   perbudakan terhadap ribuan warga Yazidi, mendorong koalisi pimpinan AS   untuk memulai serangan udara terhadap posisi ISIS di Irak pada Agustus   2014.
Jutaan pengungsi menyebar
Sedikitnya 6,6 juta warga Suriah telah mengungsi ke wilayah lain di   negara itu, sementara 5,6 juta lainnya melarikan diri ke luar negeri -   lebih dari 3,5 juta di antaranya mencari perlindungan di Turki, hampir   satu juta di Libanon dan hampir 700.000 di Yordania.
Banyak warga Suriah mencari suaka di Eropa, terutama Jerman.
Di Irak, jumlah orang yang terusir dari rumah mereka jumlahnya untuk   pertama kalinya sejak Desember 2013, menurun hingga di bawah 2 juta.



Pada September 2018, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM)   memperkirakan hampir empat juta orang telah kembali ke kampung halaman   mereka.
Tapi PBB melaporkan bahwa kurangnya lapangan kerja dan hancurnya   properti dan terbatasnya akses ke berbagai layanan, membuat banyak orang   masih belum kembali ke rumah masing-masing.
Bagaimana ISIS setelah ini?
Sebuah laporan AS baru-baru ini mengatakan masih ada 14.000 militan    ISIS di Suriah dan 17.100 militan ISIS di Irak, di kawasan-kawasan yang    sudah tidak lagi mereka kuasai sepenuhnya.
Selain itu, para ahli PBB memperkirakan bahwa masih ada pula kantung    besar militan ISIS di berbagai negara lain, seperti di Libya (antara    3.000 hingga 4.000 orang) dan Afghanistan (sekitar 4.000 orang).
Kelompok ini juga memiliki militan dalam jumlah yang tidak sedikit di    Asia Tenggara, termasuk sejumlah pendukung di Indonesia, Afrika  Barat,   Semenanjung Sinai Mesir, Yaman, Somalia, dan Sahel.



Di Irak dan Suriah banyak militan mengubah taktik dengan kembali ke    akar pemberontakan mereka, yakni melakukan pemboman, pembunuhan dan    penculikan, sembari mencoba untuk membangun kembali jaringan mereka.
Ada pula individu-individu yang terinspirasi oleh ideologi kelompok    itu, lalu melakukan berbagai serangan di Eropa dan di tempat lain.

(Baca Juga : Abu Bakar al Baghdadi Perintahkan Eksekusi 320 Anggota yang Dituduh Berkhianat)

Hasil penelitian pada bulan Oktober 2017 oleh kelompok intelijen    strategis yang berbasis di New York, Soufan Center, memperkirakan bahwa    sekitar 5.600 petempur ISIS telah kembali ke kampung halaman mereka di    33 negara di seluruh dunia.
Yang terbesar, sekitar 900 orang, telah kembali ke Turki. Sementara    sekitar 1.200 orang telah kembali ke Uni Eropa - antara lain 425 orang    ke Inggris, dan sekitar 300 pulang ke Jerman dan 300 lainnya kembali  ke   Prancis.

(Baca Juga : Seorang WNI Dihukum Penjara Terkait ISIS oleh Pengadilan Malaysia)

Ratusan petempur asing lainnya sudah ditangkap dan masih ditahan oleh    SDF di kawasan Suriah timur laut yang dikuasai Kurdi. Amerika Serikat    menyerukan negara-negara lainnya untuk membawa pulang warga negara    mereka yang bergabung dengan ISIS, untuk diadili.
</content:encoded></item></channel></rss>
