<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Prabowo Omeli Wartawan, Kubu Jokowi-Ma'ruf: Gerindra Besar karena Pers</title><description>Menurut Karding, di era demokrasi saat ini apalagi pasca-jatuhnya Orde Baru, pers telah ditempatkan pada satu pilar.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/12/05/337/1987237/prabowo-omeli-wartawan-kubu-jokowi-ma-ruf-gerindra-besar-karena-pers</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/12/05/337/1987237/prabowo-omeli-wartawan-kubu-jokowi-ma-ruf-gerindra-besar-karena-pers"/><item><title>Prabowo Omeli Wartawan, Kubu Jokowi-Ma'ruf: Gerindra Besar karena Pers</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/12/05/337/1987237/prabowo-omeli-wartawan-kubu-jokowi-ma-ruf-gerindra-besar-karena-pers</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/12/05/337/1987237/prabowo-omeli-wartawan-kubu-jokowi-ma-ruf-gerindra-besar-karena-pers</guid><pubDate>Rabu 05 Desember 2018 17:15 WIB</pubDate><dc:creator>Bayu Septianto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/12/05/337/1987237/prabowo-omeli-wartawan-kubu-jokowi-ma-ruf-gerindra-besar-karena-pers-Hez06X9eXJ.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Politikus PKB, Abdul Kadir Karding (Foto: Instagram)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/12/05/337/1987237/prabowo-omeli-wartawan-kubu-jokowi-ma-ruf-gerindra-besar-karena-pers-Hez06X9eXJ.JPG</image><title>Politikus PKB, Abdul Kadir Karding (Foto: Instagram)</title></images><description>JAKARTA - Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding menilai tidak sepantasnya Prabowo Subianto sebagai calon presiden nomor urut 02 yang juga Ketua Umum Partai Gerindra menyudutkan insan pers untuk tidak diperlakukan dengan hormat.
&quot;Saya kira sebagai pemimpin, Gerindra besar karena pers, oleh karena itu tidak sepatutnya pers diperlakukan seperti itu,&quot; ujar Karding di Media Center Jokowi-Ma'ruf, Jalan Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (5/12/2018).
Menurut Karding, di era demokrasi saat ini apalagi pasca-jatuhnya Orde Baru, pers telah ditempatkan pada satu pilar tersendiri dalam demokrasi.
&quot;Zaman Soeharto itu sangat jauh berbeda dengan hari ini. Hari ini sangat demokratis, orang meliput tanpa tekanan, orang memberitakan tanpa bredel, orang diberikan independensi sepanjang kaidah-kaidah jurnalisme,&quot; jelas Karding.

&quot;Jadi menurut saya ini sesuatu yang sangat disayangkan karena seakan-akan pers ini satu lembaga yang merusak demokrasi menurut saya ini tidak betul,&quot; timpalnya lagi.
Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu lantas meminta agar semua pihak untuk tak memusuhi media massa. &quot;Tidak boleh kita anti, yang ada adalah mendialogkan apa-apa yang baik untuk membangun demokrasi Pancasila ke depan,&quot; katanya.
Sebelumnya, dalam pidatonya di acara peringatan Hari Disabilitas Internasional ke-26 di Jakarta hari ini, Prabowo Subianto mengungkapkan kegeramannya terhadap segenap media Indonesia lantaran tidak meliput Reuni 212 di Monas, Jakarta, Minggu 2 Desember 2018 lalu.
Prabowo memprotes media yang tidak menyebutkan bahwa massa yang hadir mencapai belasan juta orang. &amp;ldquo;Saya kira ini kejadian pertama ada manusia kumpul sebanyak itu tanpa dibiayai siapapun,&quot; ucap Prabowo.

Menurut Ketua Umum Partai Gerindra itu, media-media besar dan kondang tidak meliput. Ia tidak terima ada media yang menyatakan bahwa massa yang hadir hanya belasan atau puluhan ribu manusia saja. Prabowo menuding media-media itu ikut memanipulasi demokrasi.
&quot;Media-media yang mengatakan dirinya objektif, bertanggung jawab untuk membela demokrasi, padahal justru mereka ikut bertanggung jawab menjadi bagian dari usaha manipulasi demokrasi,&quot; sindir Prabowo.
Prabowo juga merasa jurnalis yang datang meliputnya hanya untuk menunggu dia salah bicara. &quot;Ada media di sini? Saya khawatir wartawan ke sini hanya nunggu saya salah bicara. Karena Prabowo kalau bicara enggak pakai teks,&quot; cetusnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding menilai tidak sepantasnya Prabowo Subianto sebagai calon presiden nomor urut 02 yang juga Ketua Umum Partai Gerindra menyudutkan insan pers untuk tidak diperlakukan dengan hormat.
&quot;Saya kira sebagai pemimpin, Gerindra besar karena pers, oleh karena itu tidak sepatutnya pers diperlakukan seperti itu,&quot; ujar Karding di Media Center Jokowi-Ma'ruf, Jalan Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (5/12/2018).
Menurut Karding, di era demokrasi saat ini apalagi pasca-jatuhnya Orde Baru, pers telah ditempatkan pada satu pilar tersendiri dalam demokrasi.
&quot;Zaman Soeharto itu sangat jauh berbeda dengan hari ini. Hari ini sangat demokratis, orang meliput tanpa tekanan, orang memberitakan tanpa bredel, orang diberikan independensi sepanjang kaidah-kaidah jurnalisme,&quot; jelas Karding.

&quot;Jadi menurut saya ini sesuatu yang sangat disayangkan karena seakan-akan pers ini satu lembaga yang merusak demokrasi menurut saya ini tidak betul,&quot; timpalnya lagi.
Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu lantas meminta agar semua pihak untuk tak memusuhi media massa. &quot;Tidak boleh kita anti, yang ada adalah mendialogkan apa-apa yang baik untuk membangun demokrasi Pancasila ke depan,&quot; katanya.
Sebelumnya, dalam pidatonya di acara peringatan Hari Disabilitas Internasional ke-26 di Jakarta hari ini, Prabowo Subianto mengungkapkan kegeramannya terhadap segenap media Indonesia lantaran tidak meliput Reuni 212 di Monas, Jakarta, Minggu 2 Desember 2018 lalu.
Prabowo memprotes media yang tidak menyebutkan bahwa massa yang hadir mencapai belasan juta orang. &amp;ldquo;Saya kira ini kejadian pertama ada manusia kumpul sebanyak itu tanpa dibiayai siapapun,&quot; ucap Prabowo.

Menurut Ketua Umum Partai Gerindra itu, media-media besar dan kondang tidak meliput. Ia tidak terima ada media yang menyatakan bahwa massa yang hadir hanya belasan atau puluhan ribu manusia saja. Prabowo menuding media-media itu ikut memanipulasi demokrasi.
&quot;Media-media yang mengatakan dirinya objektif, bertanggung jawab untuk membela demokrasi, padahal justru mereka ikut bertanggung jawab menjadi bagian dari usaha manipulasi demokrasi,&quot; sindir Prabowo.
Prabowo juga merasa jurnalis yang datang meliputnya hanya untuk menunggu dia salah bicara. &quot;Ada media di sini? Saya khawatir wartawan ke sini hanya nunggu saya salah bicara. Karena Prabowo kalau bicara enggak pakai teks,&quot; cetusnya.</content:encoded></item></channel></rss>
