<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Modifikasi Odong-Odong Sebagai Strategi Pemasaran</title><description>Keberadaan wahana odong-odong di era modernisasi saat ini, masih bisa dijumpai di berbagai daerah di tanah air.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/12/15/338/1991533/modifikasi-odong-odong-sebagai-strategi-pemasaran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/12/15/338/1991533/modifikasi-odong-odong-sebagai-strategi-pemasaran"/><item><title>Modifikasi Odong-Odong Sebagai Strategi Pemasaran</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/12/15/338/1991533/modifikasi-odong-odong-sebagai-strategi-pemasaran</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/12/15/338/1991533/modifikasi-odong-odong-sebagai-strategi-pemasaran</guid><pubDate>Sabtu 15 Desember 2018 12:34 WIB</pubDate><dc:creator>Wijayakusuma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/12/14/338/1991533/modifikasi-odong-odong-sebagai-strategi-pemasaran-3Ap9bjPjMi.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Wijayakusuma/Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/12/14/338/1991533/modifikasi-odong-odong-sebagai-strategi-pemasaran-3Ap9bjPjMi.jpg</image><title>Foto: Wijayakusuma/Okezone</title></images><description>BEKASI - Keberadaan wahana odong-odong di era modernisasi saat ini, masih bisa dijumpai di berbagai daerah di tanah air. Bahkan, pembuatan wahana favorit anak-anak ini, bisa dikatakan semakin maju mengikuti perkembangan zaman.

Sebut saja odong-odong yang awalnya diketahui hanya dikayuh sambil berkeliling, kini banyak yang sudah mengalami modifikasi sebagai bagian dari strategi pemasaran. Mulai dari odong-odong berbentuk mobil dan kereta mini yang beroperasi di jalan-jalan umum, sampai odong-odong matic yang biasa beroperasi di depan minimarket.

Jika odong-odong berbentuk mobil dan kereta mini menggunakan sepeda motor roda tiga yang telah dimodifikasi, odong-odong matic justru lebih sederhana karena hanya menggunakan dinamo sebagai tenaga penggerak untuk berputar-putar.

Karena terbilang praktis dan tidak memakan tenaga berlebih, banyak pemilik yang lebih memilih menggunakan odong-odong jenis matic untuk dioperasikan. Pun demikian, tak sedikit pula yang masih setia dengan odong-odong jenis mobil dan kereta mini.

&amp;lt;iframe src=&quot;https://www.metube.id/embed/17048787/&quot; width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;

Seperti Nurdin, warga Kampung Rawa Bambu, Medan Satria, Kota Bekasi, Jawa Barat, yang memiliki dua odong-odong jenis kereta mini. Kedua odong-odong ini sehari-harinya diserahkan Nurdin kepada orang lain untuk dikelola, dengan biaya setoran Rp80ribu per hari.

&quot;Ada dua jenis, odong-odong kereta mini atau odong-odong baktor, sama ada odong-odong yang terbuat dari fiber. Ada orang yang narik, sistemnya setoran, Rp80ribu seharinya. Jadi pendapatan bersih Rp160ribu lah sehari,&quot; kata Nurdin kepada Okezone, Kamis (13/12/2018).

Odong-odong milik Nurdin selalu beroperasi setiap hari, mulai dari pukul 09.00-18.00 WIB. Dalam sekali naik, penumpang baik anak-anak maupun orangtua dikenakan biaya Rp5ribu.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8xMi8xNC8xLzExNzc3MS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

&quot;Kalau sehari lebih dari 20 anak yang naik. Ada ibu-ibu sama anak-anak. Tarif sekali naik Rp5ribu. Beroperasi biasanya di Mawar IV, Pondok Ungu, sama Kampung Pondok Bambu,&quot; ujarnya.

Dalam hal perawatan, Nurdin mengaku selalu menyiapkan budget khusus. Terlebih dengan pemakaian odong-odong setiap hari, tentu akan lebih rentan dengan kerusakan.

&quot;Iya ada biaya perawatan khusus, biasa buat ganti ban, kerusakan mesin,&quot; akunya.

Meski beroperasi di jalan-jalan besar, Nurdin menegaskan odong-odongnya tidak pernah terkena razia petugas. Terlebih dengan adanya aturan yang melarang odong-odong beroperasi di jalan raya. Namun demikian, Nurdin menekankan akan terus melakoni usaha ini dan berharap pemerintah daerah bisa ikut memperhatikan nasibnya dan rekan-rekan seprofesinya yang lain.



&quot;Tidak mau beralih profesi, udah ini aja. Kalau bisa sih pemerintah diusahain supaya nggak dipersulit. Kaya biasa Satpol PP nggak boleh lewat, ganggu jalan katanya,&quot; imbuh Nurdin.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kota Bekasi, Zarkasih menanggapi keberadaan odong-odong yang masih terus eksis di masa  sekarang. Menurutnya, pemerintah daerah kerap menekankan kepada para pemilik wahana odong-odong agar selalu memperhatikan aspek keselamatan.

&quot;Kami mewanti-wanti kepada para pemilik usaha untuk tetap memperhatikan aspek keselamatan para pengunjung. Terutama material bahan yang dipergunakan dalam odong-odong tersebut,&quot; ujarnya.



Terkait jalur operasional odong-odong, Zarkasih mengaku Pemkot Bekasi telah memberlakukan pelarangan bagi odong-odong melintas di jalur-jalur tertentu.

&quot;Pemkot Bekasi melalui Dinas Perhubungan dan Satpol PP serta Polres Metro Bekasi Kota sudah melarang odong-odong untuk melalui jalur-jalur padat lalu lintas,&quot; tegasnya.



Selain karena mengganggu ketertiban lalu lintas, kata dia, odong-odong juga dianggap dapat membahayakan keselamatan penumpang apabila melewati jalur-jalur yang sudah ditentukan.

&quot;Peran aktif warga juga diperlukan untuk tidak menaiki odong-odong yang melalui jalur berbahaya,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>BEKASI - Keberadaan wahana odong-odong di era modernisasi saat ini, masih bisa dijumpai di berbagai daerah di tanah air. Bahkan, pembuatan wahana favorit anak-anak ini, bisa dikatakan semakin maju mengikuti perkembangan zaman.

Sebut saja odong-odong yang awalnya diketahui hanya dikayuh sambil berkeliling, kini banyak yang sudah mengalami modifikasi sebagai bagian dari strategi pemasaran. Mulai dari odong-odong berbentuk mobil dan kereta mini yang beroperasi di jalan-jalan umum, sampai odong-odong matic yang biasa beroperasi di depan minimarket.

Jika odong-odong berbentuk mobil dan kereta mini menggunakan sepeda motor roda tiga yang telah dimodifikasi, odong-odong matic justru lebih sederhana karena hanya menggunakan dinamo sebagai tenaga penggerak untuk berputar-putar.

Karena terbilang praktis dan tidak memakan tenaga berlebih, banyak pemilik yang lebih memilih menggunakan odong-odong jenis matic untuk dioperasikan. Pun demikian, tak sedikit pula yang masih setia dengan odong-odong jenis mobil dan kereta mini.

&amp;lt;iframe src=&quot;https://www.metube.id/embed/17048787/&quot; width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;

Seperti Nurdin, warga Kampung Rawa Bambu, Medan Satria, Kota Bekasi, Jawa Barat, yang memiliki dua odong-odong jenis kereta mini. Kedua odong-odong ini sehari-harinya diserahkan Nurdin kepada orang lain untuk dikelola, dengan biaya setoran Rp80ribu per hari.

&quot;Ada dua jenis, odong-odong kereta mini atau odong-odong baktor, sama ada odong-odong yang terbuat dari fiber. Ada orang yang narik, sistemnya setoran, Rp80ribu seharinya. Jadi pendapatan bersih Rp160ribu lah sehari,&quot; kata Nurdin kepada Okezone, Kamis (13/12/2018).

Odong-odong milik Nurdin selalu beroperasi setiap hari, mulai dari pukul 09.00-18.00 WIB. Dalam sekali naik, penumpang baik anak-anak maupun orangtua dikenakan biaya Rp5ribu.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8xMi8xNC8xLzExNzc3MS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

&quot;Kalau sehari lebih dari 20 anak yang naik. Ada ibu-ibu sama anak-anak. Tarif sekali naik Rp5ribu. Beroperasi biasanya di Mawar IV, Pondok Ungu, sama Kampung Pondok Bambu,&quot; ujarnya.

Dalam hal perawatan, Nurdin mengaku selalu menyiapkan budget khusus. Terlebih dengan pemakaian odong-odong setiap hari, tentu akan lebih rentan dengan kerusakan.

&quot;Iya ada biaya perawatan khusus, biasa buat ganti ban, kerusakan mesin,&quot; akunya.

Meski beroperasi di jalan-jalan besar, Nurdin menegaskan odong-odongnya tidak pernah terkena razia petugas. Terlebih dengan adanya aturan yang melarang odong-odong beroperasi di jalan raya. Namun demikian, Nurdin menekankan akan terus melakoni usaha ini dan berharap pemerintah daerah bisa ikut memperhatikan nasibnya dan rekan-rekan seprofesinya yang lain.



&quot;Tidak mau beralih profesi, udah ini aja. Kalau bisa sih pemerintah diusahain supaya nggak dipersulit. Kaya biasa Satpol PP nggak boleh lewat, ganggu jalan katanya,&quot; imbuh Nurdin.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kota Bekasi, Zarkasih menanggapi keberadaan odong-odong yang masih terus eksis di masa  sekarang. Menurutnya, pemerintah daerah kerap menekankan kepada para pemilik wahana odong-odong agar selalu memperhatikan aspek keselamatan.

&quot;Kami mewanti-wanti kepada para pemilik usaha untuk tetap memperhatikan aspek keselamatan para pengunjung. Terutama material bahan yang dipergunakan dalam odong-odong tersebut,&quot; ujarnya.



Terkait jalur operasional odong-odong, Zarkasih mengaku Pemkot Bekasi telah memberlakukan pelarangan bagi odong-odong melintas di jalur-jalur tertentu.

&quot;Pemkot Bekasi melalui Dinas Perhubungan dan Satpol PP serta Polres Metro Bekasi Kota sudah melarang odong-odong untuk melalui jalur-jalur padat lalu lintas,&quot; tegasnya.



Selain karena mengganggu ketertiban lalu lintas, kata dia, odong-odong juga dianggap dapat membahayakan keselamatan penumpang apabila melewati jalur-jalur yang sudah ditentukan.

&quot;Peran aktif warga juga diperlukan untuk tidak menaiki odong-odong yang melalui jalur berbahaya,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
