<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Dusun yang Lenyap &quot;Ditelan Bumi&quot; dari Bengkulu</title><description>Bengkulu, merupakan satu dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia'' ini memiliki 10 kabupaten dan kota.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/12/19/340/1993192/cerita-dusun-yang-lenyap-ditelan-bumi-dari-bengkulu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/12/19/340/1993192/cerita-dusun-yang-lenyap-ditelan-bumi-dari-bengkulu"/><item><title>Cerita Dusun yang Lenyap &quot;Ditelan Bumi&quot; dari Bengkulu</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/12/19/340/1993192/cerita-dusun-yang-lenyap-ditelan-bumi-dari-bengkulu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/12/19/340/1993192/cerita-dusun-yang-lenyap-ditelan-bumi-dari-bengkulu</guid><pubDate>Rabu 19 Desember 2018 06:31 WIB</pubDate><dc:creator>Demon Fajri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/12/19/340/1993192/cerita-dusun-yang-lenyap-ditelan-bumi-dari-bengkulu-Rvm4BAZImc.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Desa Durian Demang merupakan salah satu desa yang didiami keturunan Suku Satu atau Paljemas (Foto: Demon/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/12/19/340/1993192/cerita-dusun-yang-lenyap-ditelan-bumi-dari-bengkulu-Rvm4BAZImc.JPG</image><title>Desa Durian Demang merupakan salah satu desa yang didiami keturunan Suku Satu atau Paljemas (Foto: Demon/Okezone)</title></images><description>BENGKULU - Bengkulu, merupakan satu dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia'' ini memiliki 10 kabupaten dan kota. Di mana di setiap daerah memiliki desa atau kelurahan serta kecamatan. Tak terkecuali di Kabupaten Bengkulu Tengah.

Di kabupaten bermotto 'Maroba Kite Maju' ini memiliki salah satu desa. Dahulunya, dusun berada di pedalaman atau terpencil di Kecamatan Karang Tinggi Kabupaten Bengkulu Tengah. Namun, dusun itu sudah hilang atau lenyap di 'telan bumi', selama 64 tahun.

Cuaca di Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu, cerah berawan. Begitu juga dengan kabupaten yang berjarak sekira 25 kilometer (km) dari Kota Bengkulu ini, Bengkulu Tengah. Termasuk di desa Sukarami Kecamatan Karang Tinggi.

Di desa ini ada salah satu keturunan dari suku paljemas, suku dari dusun Napal Ujan Emas (Napajemas). Hairum (67), namanya. Ketua Adat Desa Sukarami. Pria berkumis itu keturunan dari nenek moyang Suku Satu. Rumahnya, tak jauh dari perbatasan desa, 15 meter kira-kira. Di perbatasan desa Sukarami dan Durian Demang Kecamatan Karang Tinggi, tepatnya.



Sore itu, pria kelahiran 1951 tahun silam itu baru pulang dari kebun. Mengenakan baju lengan panjang, dengan perpaduan berbagai warna dengan mengenakan celana dasar atau 'goyang'. Di usia yang sudah uzur, pria 67 tahun ini masih teringat cerita asal muasal dusun Napal Ujan Emas. Tempat tanah kelahirannya.

Dusun itu merupakan dusun terpencil berada di pedalaman. Namanya, Napal Ujan Emas. Napajemas, masyarakat setempat menyebutnya. Dusun itu sudah hilang di 'telan bumi'. Saat ini telah menjadi hutan belantara dan areal perkebunan masyarakat. Daerah tersebut ditinggalkan penduduk sejak 64 tahun atau sekira tahun 1954.

Mereka mengungsi ketiga dusun. Saat ini sudah menjadi desa. Seperti, desa Sukarami Kecamatan Taba Penanjung, desa Durian Demang dan Penanding Kecamatan Karang Tinggi. Tiga desa tersebut merupakan bagian dari 143 desa/kelurahan yang tersebar di 10 kecamatan di Kabupaten Bengkulu Tengah.

&quot;Dusun itu sekarang sudah tidak ada. Sudah menjadi areal perkebunan dan hutan belantara,&quot; kata pria 67 tahun ini, kepada Okezone, ketikan ditemui di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Asal Muasal Nama Napajemas, Napal Mengeluarkan Percikan Air Mirip Emas

Dusun Napajemas merupakan dusun terpencil berada di pedalaman provinsi berjuluk &quot;Bumi Rafflesia&quot;. Dusun itu diketahui sudah ada sejak zaman nenek moyang masyarakat Napajemas, suku satu. Masyarakat setempat menyebut suku paljemas.

Tidak diketahui secara persis tahun berapa nenek moyang suku paljemas berada di dusun itu. Diketahui sebelum tahun 1900-an dusun tersebut sudah berpenghuni.

Sebelum lenyap di telan bumi, dusun yang berjarak sekira tujuh kilometer (KM) dari pusat desa Sukarami Kecamatan Karang Tinggi ini memiliki aliran sungai. Sungai itu terdapat di bagian bawah dusun. Namanya, sungai Penawai. Di bagian tepi aliran sungai terdapat napal. Napal itu berbentuk mirip dengan dinding.


Hairum (Foto: Demon Fajri/Okezone)
Napal itu pun mengeluarkan percikan air, air terjun. Masyarakat terdahulu menyebutnya dengan nama 'Napal Menangis'. Air percikan mirip air terjun itu ketika jatuh ke bagian bawah mirip emas. Sehingga nama dusun itu di beri nama Napal Ujan Emas.

&quot;Di bagian bawah dusun ada aliran sungai, di tepi sungai terdapat napal terbentuk mirip dinding. Napal itu mengeluarkan percikan air. Saat air percikan jatuh ke bawah mirip emas. Makanya dusun itu di sebut Napal Ujan Emas,&quot; cerita Hairum (67).

Terowongan Ajaib di Bawah Dusun Napajemas

Selain memiliki napal berbentuk mirip dinding dengan mengeluarkan  percikan air yang saat jatuh ke bawah mirip emas. Di dusun Napajemas  juga memiliki terowongan ajaib. Terowongan itu terbentuk secara  sendirinya. Letaknya, di bawah dusun Napajemas.

Konon, terowongan tersebut tembus ke desa tetangga. Desa Tanjung  Raman Kecamatan Taba Penanjung, namanya. Panjangnya, tidak kurang dari  lima kilometer (KM). Terowongan itu pun di aliri aliran sungai penawai  dari dusun Napajemas hingga menembus ke aliran sungai Kemumu di desa  Tanjung Raman.

Terowongan sejauh 5 KM itu tembus, lantaran para pendahulu masyarakat  dusun Napajemas melakukan uji coba dengan cara tradisonal. Di mana dari  masyarakat dusun Napajemas menghanyutkan lesung yang terbuat dari bambu  dari aliran sungai Penawai. Al hasil, lesung tersebut muncul di aliran  sungai Kemumu, desa Tanjung Raman.

Hal serupa juga di lakukan pendahulu masyarakat dari desa Tanjung  Raman. Mereka menghanyutkan gulungan daun pisang, dari aliran sungai  Kemumu. Gulung daun pisang itu pun sampai ke aliran sungai Penawai, di  dusun Napajemas. Sehingga masyarakat setempat baru mengetahui jika  terowongan ajaib itu tembus ke desa tetangga.

&quot;Belum ada yang berani masuk ke dalam terowongan itu. Masyarakat  pendahulu hanya mencoba dengan cara menghanyutkan lesung dan gulungan  daun pisang. Apa yang dihanyutkan itu muncul, di dusun Napajemas dan  muncul juga di desa Tanjung Raman,&quot; sampai Ketua Adat desa Sukarami.

Induk Emas sebesar Kambing Dijaga Ikan Plus Berukuran Jumbo

Terowongan di bawah dusun Napajemas bukan hanya menumbus ke daerah   lainnya. Namun, di dalam terowongan sepanjang 5 KM itu diketahui   menyimpan induk emas. Ukurannya sebesar induk kambing dewasa, kira-kira.   Konon, induk emas tersebut berada di bagian tengah terowongan. Induk   emas itu pun diketahui di jaga ikan plus berukuran besar.

Sekira tahun 1940-an, keberadaan induk emas di dalam terowongan   tersebut di ketahui penjajah Belanda. Mereka pun mencoba masuk ke dusun   Napajemas. Setiba di dusun itu mereka meneropong letak induk emas di   dalam terowongan, yang selama ini sudah di ketahui masyarakat pendahulu   dusun Napajemas.

Sejak tahun itu pula secara berangsur masyarakat Napajemas mulai   meninggalkan tempat tanah kelahiran mereka. Hal tersebut lantaran   penjajah Belanda berkeinginan membelah terowongan, untuk mengambil induk   emas di dalam terowongan ajaib yang selama ini masih tersimpan.

Penduduk asli yang mulai meninggalkan dusun Napajemas, mengungsi   ketiga wilayah yang saat ini menjadi desa. Seperti, desa Sukarami   Kecamatan Taba Penanjung, Pananding Kecamatan Karang Tinggi dan desa   Durian Demang Kecamatan Karang Tinggi.

Setelah meneropong keberadaan induk emas di dalam terowongan,   penjajah Belanda kembali datang untuk kedua kalinya. Hal tersebut untuk   menyesaikan rencana pembelahan terowongan. Niat pembelahan terowongan   itu gagal. Konon, induk emas sebesar induk kambing dewasa yang di jaga   ikan plus berukuran jumbo itu sudah pindah ke Gunung Bungkuk.

&quot;Induk emas itu secara ajaib pindah ke gunung Bungkuk. Induk Emas itu   diketahui dijaga ikan plus berukuran besar,&quot; kisah Hairum, sembari   mengingat cerita dari pendahulu masyarakat Napajemas.

Masyarakat Napajemas Kosongkan Dusun

Penjajah Belanda masuk untuk kedua kalinya ke dusun Napajemas.    Sehingga masyarakat setempat menjadi ketakutan dan panik untuk bergegas    meninggalkan dusun. Penduduk asli Napajemas pun kembali mengungsi   ketiga  desa. Desa Penanding, Durian Demang Kecamatan Karang Tinggi dan   desa  Sukarami Kecamatan Taba Penanjung.

Meskipun demikian, kisah Hairum, saat itu tentara hitam melakukan    perlawanan dan pertempuran terhadap penjajah Belanda yang ada di dusun    Napajemas. Perlawanan tersebut membuat penjajah Belanda berhasil di    pukul mundur tentara hitam. Sementara rencana pengambilan induk emas di    dalam terowongan ajaib pun berhasil digagalkan.

Sejak itu, kata Hairum, induk emas yang diinginkan penjajah Belanda    tidak berhasil diambil. Di masa keberhasilan pengusiran penjajah    Belanda, tentara hitam pun secara berangsur meninggalkan dusun tersebut.    Hal tersebut juga diikuti oleh masyarakat setempat.

&quot;Induk emas tidak berhasil diambil oleh penjajah Belanda,&quot; ingat Hairum.

Sekira tahun 1954 dusun Napajemas mulai ditinggalkan secara    keseluruhan oleh penduduk asli masyarakat dusun Napajemas. Hairum    sendiri meninggalkan dusun tempat tanah kelahirannya saat duduk di    bangku kelas II sekolah dasar (SD). Sejak tahun itu pun dusun Napajemas    hilang 'di telan bumi'.

&quot;Mulai ditinggalkan pada tahun 1954. Saat ini saya sudah berusia delapan tahun, duduk di bangku kelas II SD,&quot; ulas Hairum.


&amp;nbsp;Tokoh Adat Durian Demang, Lamsir (Foto: Demon Fajri/Okezone)
Ditambahkan tokoh masyarakat desa Durian Demang Kecamatan Karang    Tinggi, Lamsir (67), dusun Napal Ujan Emas hilang karena adanya penjajah    yang menyerbu dusun. Sehingga penduduk yang mendiami dusun menjadi    ketakutan dan memilih mengungsi ke daerah yang lebih aman.

&quot;Saya mengungsi ke desa Durian Demang, ketika usia 10 tahun. Kala itu    ada penjajah Belanda masuk ke dusun,&quot; ingat keturunan suku Paljemas    ini, kepada Okezone.

Harimau Serang Dusun Napejemas, Masyarakat Pilih 'Angkat Kaki'

Pengosongan dusun Napajemas bukan hanya pengaruh masuknya penjajah     Belanda ke daerah itu. Namun, masyarakat dusun meninggalkan tanah     kelahiran mereka juga disebabkan adanya serang Hariamau Sumatera     (Panthera tigris sumatrae).

Di mana harimau masuk ke kawasan dusun hingga pemukiman penduduk.     Masyarakat dusun yang kala itu sudah mendiami dusun tidak kurang dari 50     kepala keluarga (KK) menjadi takut. Sehingga mereka memilih untuk     'angkat kaki' dari dusun, tanah kelahiran mereka.

Harimau yang turun gunung tersebut, cerita Hairum, merupakan imbas     dari serangan harimau di desa Karang Anding. Konon, harimau sempat     menerkam masyarakat di desa itu. Tak hanya itu, harimau pun diketahui     sempat mengobak-abrik pemukiman penduduk di wilayah itu.

Setelah menerkam masyarakat desa, ingat Hairum, harimau kembali     menjelajah daerah dusun Napajemas, Kota Niur dan Tanjung Raman. Di mana     desa tersebut masih dalam satu kawasan yang jaraknya tidak terlampau     jauh.



&quot;Kami pindah karena ada faktor dari harimau masuk ke dusun. Bukan     hanya dusun kami yang didatangi harimau. Desa Kota Niur dan Tanjung     Raman juga disabangi harimau. Untungnya, tidak ada masyarakat yang     diterkam harimau,&quot; cerita Hairum, sembari mengingat-ingat kembali kisah     pendahulu masyarakat Napajemas.

Dilanjutkan tokoh masyarakat desa Durian Demang Kecamatan Karang     Tinggi, Lamsir (67), kedatangan harimau ke dusun Napajemas yang masuk     hingga areal pemukiman penduduk dan areal perkebunan membuat masyarakat     menjadi tidak berani keluar.

Kedatang harimau itu di kawasan dusun, sampai Lamsir, disebut     masyarakat sebagai ''Musim Panas'' yang mengartikan harimau turun     gunung. Secara berangsur masyarakat yang menempati dusun pindah ketiga     desa. Yakni, Desa Penanding, Durian Demang Kecamatan Karang Tinggi dan     desa Sukarami Kecamatan Taba Penanjung.

&quot;Dusun kami didatangi Harimau, sehingga masyarakat ingin     menyelamatkan diri dan mengungsi. Di dusun kala itu tidak ada yang     diterkam atau di makan harimau,&quot; kisah Lamsir didampingi istrinya,     Naryati (67).

Di Dusun Napajemas Tumbuh Pohon Benuang Sakti Dijaga Siamang Putih Tangan

Cerita yang diterima secara turun-menurun oleh masyarakat suku      Paljemas, di dusun Napajemas tumbuh sebatang pohon yang berukuran sangat      besar. Pohon Benuang Sakti, namanya. Pohon itu ditunggu oleh  Siamang     Putih Tangan. Siamang Putih Tangan memiliki kesaktian.

Konon, jika Siamang Putih Tangan mengeluarkan suara ke arah barat,      maka salah satu warga yang berada di arah barat tersebut akan  meninggal     dunia. Begitu juga, ketika Siamang mengeluarkan suara ke  arah Timur,     Selatan dan Utara maka ada masyarakat di arah tersebut  akan  meninggal    dunia.

Lantaran terusik dengan ulah siamang yang selalu mengeluarkan suara,      kisah Hairum, masyarakat atau nenek moyang dusun Napajemas berusaha      memotong pohon kayu Benuang Sakti yang di tunggu Siamang Putih  Tangan.     Hal itu guna mengusir Siamang Putih Tangan dari pohon  tersebut.

Setelah bermusyawarah secara bersama, ulas Hairum, masyarakat dusun      Napajemas secara bergotong royong memotong atau menebang pohon  Benuang     Sakti yang berukuran sangat besar tersebut. Sayangnya, kala  itu     masyarakat yang memotong pohon itu belum dapat menyelesaikan  penebangan     pohon selama satu hari.

Masyarakat kembali melanjutkan penebangan pohon keesokan harinya.      Sayangnya, saat ingin kembali menebang pohon tersebut, pohon sudah      terpotong setengah kembali utuh. Sehingga membuat masyarakat kala itu      menjadi bingung atas kesaktian pohon yang di huni Siamang Putih  Tangan.

&quot;Pohon baru berhasil di potong setengah. Ukuran pohonnya sangat      besar, susah untuk dibayangkan sebesar apa. USai di potong keesokan      harinya pohon yang sudah di tebang kembali utuh,&quot; ulas Hairum.

Saat itu, kisah Hairum, di dusun Napajemas memiliki orang sakti. Di      mana, orang sakti tersebut menyampaikan jika ingin menebang pohon      Benuang Sakti harus menyiapkan 40 orang Bujang dan 40 orang Gadis,      sebagai syarat untuk menebang pohn tersebut.

Puluhan bujang dan gadis itu di susun memanjang di dekat pohon      Benuang Sakti. Selanjutnya, 80 bujang dan gadis itu di tutupi pelupuh      baru dan pelupuh lama. Setelah syarat terpenuhi sesuai anjuran orang      pintar atau orang sakti, pohon kayu Benuang Sakti berhasil di tebang.

&quot;Syarat yang diminta itu 40 Bujang dan Gadis yang masih hidup.      Setelah di penuhi pohon kayu berukuran besar itu berhasil di tebang      secara bergotong-royong. yang ikut menebang pohon Benuang Sakti puluhan      orang,&quot; cerita Hairum.

Pohon yang berhasil di tebang itu, sampai Hairum, roboh ke arah timur      atau mengarah ke Kabupaten Kepahiang, Bengkulu dan sebagian  mengarah    ke  arah Utara atau ke arah Kabupaten Rejang Lebong. Daerah  yang   terkena   dampak jatuhnya pohon Benuang Sakti itu, kisah Hairum,  tanah   di  wilayah  itu menjadi subur.

Sebab, kata Hairum, bagian pohon Benuang yang jatuh ke dua kabupaten      itu merupakan daun dan ranting pohon Benuang Sakti. Sementara, untuk      bagian batang pohon jatuh di wilayah Kabupaten Bengkulu Tengah,    sehingga   tahan di daerah Bengkulu Tengah, menjadi gersang.

&quot;Saya tidak dapat membayangkan berapa besar ukuran pohon itu. Cerita      terdahulu jika bagian pohon jatuh ke arah Kepahiang dan Rejang    Lebong,&quot;   ujar Hairum, sembari mengingat cerita terdahulu.

Asal Muasal Suku Paljemas di Bengkulu Tengah

Dusun Napajemas merupakan salah satu kawasan penduduk yang diketahui       sudah ada sejak jaman nenek moyong Suku Paljemas atau Suku Satu, di       Kabupaten Bengkulu Tengah. Dahulunya, suku Paljemas memiliki tiga    nenek    moyang atau poyang. Yakni, Poyang Semidang, Gumay dan Poyang    Suku  Satu.

Konon, asal muasal hadirnya suku Paljemas adanya kesepakatan dari       tiga poyang yang mendiami dusun Napajemas. Kesepakatan pembagian suku       bahasa daerah oleh tiga poyang. Dalam pembangian suku bahasa daerah       tersebut, mereka bertiga menggelar sidang dengan melibat  masyarakat      setempat.

Hairum mengisahkan, dalam acara sidang pembagian suku bahasa daerah.       Poyang Semidang dan Gumay, sudah tiba di lokasi sidang dengan    dihadiri    masyarakat. Sementara, poyang Suku Satu belum kunjung tiba.    Poyang    Semidang dan Gumay pun cukup bersabar menunggu kehadiran    Poyang Suku    Satu.

Setelah sekian lama menunggu kedatangan poyang Suku Satu, kisah       Hairum, poyang Semidang dan Suku Satu memutuskan untuk membagi suku       bahasa daerah. Sementara, poyang Suku Satu belum mendapatkan suku  bahasa      daerah. Usai membagi suku bahasa daerah, Poyang Sauku Satu,  pun  tiba    di  lokasi sidang pembagian suku bahasa daerah.

&quot;Poyang Suku Satu terlambat datang karena ketiduran,&quot; ulas Hairum.

Mendengar dua poyang telah membagikan dua suku bahasa daerah, lanjut       Hairum, kedua poyang pun memutuskan jika suku bahasa daerah untuk      poyang  Suku Satu diberikan suku bahasa daerah dari berbagai daerah.

Seperti mengambil suku bahasa daerah dari Minang, Sumatera Barat,       Jawa, Lembak, Rejang, Serawai, Melayu dari suku bahasa daerah di       Bengkulu.

&quot;Kami sudah membagi suku bahasa daerah,&quot; cerita Hairum, meniru ucapan       dua poyang, Semidang dan Gumay, sembari mengingat cerita  terdahulu.

Bahasa Daerah Suku Paljemas, Gabungan Berbagai Suku Bahasa Daerah

Bahasa yang diperoleh poyang Suku Satu itu, jelas Hairum, di terima        poyang Suku Satu. Di mana dalam pengucapan bahasa daerah suku satu    itu     mengambil sedikit-sedikit bahasa daerah dari berbagai daerah.

&quot;Saat berbicara suku satu atau paljemas mengucapkan kata-kata        percampuran dari berbagai bahasa daerah. Mulai Jawa, Minang, Lembak,        Serawai, Melayu. Penyampaian ucapan saat berbicara pun ada bahasa    daerah     yang masuk,' jelas Hairum.

Hairum mencontohkan, pengucapan dalam bahasa Paljemas. Mela Kito Pai        ke Umo artinya Ayo kita pergi ke sawah, contohnya. Ucapan tersebut        gabungan dari berbagai bahasa daerah. Mulai dari Serawai, Melayu   dan      Rejang. Pengucapan bahasa Paljemas, terang Hairum, tergantung   dengan      yang ingin disampaikan.

&quot;Bahasa daerah suku satu yang menjadi bahasa daerah Paljemas,        merupakan bahasa daerah yang ada di Bengkulu. Masyarakat menyebut suku        Paljemas, nama itu berasal dari dusun Napal Ujan Emas. Oleh    masyarakat     di singkat enjadi Paljemas,&quot; terang Hairum.

Berangkat dari cerita terdahulu, sampai Hairum, suku bahasa daerah        Paljemas masih dilestraikan oleh keturunan suku satu. Di mana     penggunaan    bahasa daerah tersebut hanya dilakukan sesama suku     Paljemas.

&quot;Susah untuk ngomong (berbicara) kalau bukan dengan sesama suku        paljemas. Intinya, bahasa Paljemas mengambil dari berbagai bahasa suku        daerah, lalu pengucapannya diambil-ambil sedikit-sedikit dari    berbagai     bahasa daerah,&quot; imbuh Hairum.


</description><content:encoded>BENGKULU - Bengkulu, merupakan satu dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia'' ini memiliki 10 kabupaten dan kota. Di mana di setiap daerah memiliki desa atau kelurahan serta kecamatan. Tak terkecuali di Kabupaten Bengkulu Tengah.

Di kabupaten bermotto 'Maroba Kite Maju' ini memiliki salah satu desa. Dahulunya, dusun berada di pedalaman atau terpencil di Kecamatan Karang Tinggi Kabupaten Bengkulu Tengah. Namun, dusun itu sudah hilang atau lenyap di 'telan bumi', selama 64 tahun.

Cuaca di Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu, cerah berawan. Begitu juga dengan kabupaten yang berjarak sekira 25 kilometer (km) dari Kota Bengkulu ini, Bengkulu Tengah. Termasuk di desa Sukarami Kecamatan Karang Tinggi.

Di desa ini ada salah satu keturunan dari suku paljemas, suku dari dusun Napal Ujan Emas (Napajemas). Hairum (67), namanya. Ketua Adat Desa Sukarami. Pria berkumis itu keturunan dari nenek moyang Suku Satu. Rumahnya, tak jauh dari perbatasan desa, 15 meter kira-kira. Di perbatasan desa Sukarami dan Durian Demang Kecamatan Karang Tinggi, tepatnya.



Sore itu, pria kelahiran 1951 tahun silam itu baru pulang dari kebun. Mengenakan baju lengan panjang, dengan perpaduan berbagai warna dengan mengenakan celana dasar atau 'goyang'. Di usia yang sudah uzur, pria 67 tahun ini masih teringat cerita asal muasal dusun Napal Ujan Emas. Tempat tanah kelahirannya.

Dusun itu merupakan dusun terpencil berada di pedalaman. Namanya, Napal Ujan Emas. Napajemas, masyarakat setempat menyebutnya. Dusun itu sudah hilang di 'telan bumi'. Saat ini telah menjadi hutan belantara dan areal perkebunan masyarakat. Daerah tersebut ditinggalkan penduduk sejak 64 tahun atau sekira tahun 1954.

Mereka mengungsi ketiga dusun. Saat ini sudah menjadi desa. Seperti, desa Sukarami Kecamatan Taba Penanjung, desa Durian Demang dan Penanding Kecamatan Karang Tinggi. Tiga desa tersebut merupakan bagian dari 143 desa/kelurahan yang tersebar di 10 kecamatan di Kabupaten Bengkulu Tengah.

&quot;Dusun itu sekarang sudah tidak ada. Sudah menjadi areal perkebunan dan hutan belantara,&quot; kata pria 67 tahun ini, kepada Okezone, ketikan ditemui di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Asal Muasal Nama Napajemas, Napal Mengeluarkan Percikan Air Mirip Emas

Dusun Napajemas merupakan dusun terpencil berada di pedalaman provinsi berjuluk &quot;Bumi Rafflesia&quot;. Dusun itu diketahui sudah ada sejak zaman nenek moyang masyarakat Napajemas, suku satu. Masyarakat setempat menyebut suku paljemas.

Tidak diketahui secara persis tahun berapa nenek moyang suku paljemas berada di dusun itu. Diketahui sebelum tahun 1900-an dusun tersebut sudah berpenghuni.

Sebelum lenyap di telan bumi, dusun yang berjarak sekira tujuh kilometer (KM) dari pusat desa Sukarami Kecamatan Karang Tinggi ini memiliki aliran sungai. Sungai itu terdapat di bagian bawah dusun. Namanya, sungai Penawai. Di bagian tepi aliran sungai terdapat napal. Napal itu berbentuk mirip dengan dinding.


Hairum (Foto: Demon Fajri/Okezone)
Napal itu pun mengeluarkan percikan air, air terjun. Masyarakat terdahulu menyebutnya dengan nama 'Napal Menangis'. Air percikan mirip air terjun itu ketika jatuh ke bagian bawah mirip emas. Sehingga nama dusun itu di beri nama Napal Ujan Emas.

&quot;Di bagian bawah dusun ada aliran sungai, di tepi sungai terdapat napal terbentuk mirip dinding. Napal itu mengeluarkan percikan air. Saat air percikan jatuh ke bawah mirip emas. Makanya dusun itu di sebut Napal Ujan Emas,&quot; cerita Hairum (67).

Terowongan Ajaib di Bawah Dusun Napajemas

Selain memiliki napal berbentuk mirip dinding dengan mengeluarkan  percikan air yang saat jatuh ke bawah mirip emas. Di dusun Napajemas  juga memiliki terowongan ajaib. Terowongan itu terbentuk secara  sendirinya. Letaknya, di bawah dusun Napajemas.

Konon, terowongan tersebut tembus ke desa tetangga. Desa Tanjung  Raman Kecamatan Taba Penanjung, namanya. Panjangnya, tidak kurang dari  lima kilometer (KM). Terowongan itu pun di aliri aliran sungai penawai  dari dusun Napajemas hingga menembus ke aliran sungai Kemumu di desa  Tanjung Raman.

Terowongan sejauh 5 KM itu tembus, lantaran para pendahulu masyarakat  dusun Napajemas melakukan uji coba dengan cara tradisonal. Di mana dari  masyarakat dusun Napajemas menghanyutkan lesung yang terbuat dari bambu  dari aliran sungai Penawai. Al hasil, lesung tersebut muncul di aliran  sungai Kemumu, desa Tanjung Raman.

Hal serupa juga di lakukan pendahulu masyarakat dari desa Tanjung  Raman. Mereka menghanyutkan gulungan daun pisang, dari aliran sungai  Kemumu. Gulung daun pisang itu pun sampai ke aliran sungai Penawai, di  dusun Napajemas. Sehingga masyarakat setempat baru mengetahui jika  terowongan ajaib itu tembus ke desa tetangga.

&quot;Belum ada yang berani masuk ke dalam terowongan itu. Masyarakat  pendahulu hanya mencoba dengan cara menghanyutkan lesung dan gulungan  daun pisang. Apa yang dihanyutkan itu muncul, di dusun Napajemas dan  muncul juga di desa Tanjung Raman,&quot; sampai Ketua Adat desa Sukarami.

Induk Emas sebesar Kambing Dijaga Ikan Plus Berukuran Jumbo

Terowongan di bawah dusun Napajemas bukan hanya menumbus ke daerah   lainnya. Namun, di dalam terowongan sepanjang 5 KM itu diketahui   menyimpan induk emas. Ukurannya sebesar induk kambing dewasa, kira-kira.   Konon, induk emas tersebut berada di bagian tengah terowongan. Induk   emas itu pun diketahui di jaga ikan plus berukuran besar.

Sekira tahun 1940-an, keberadaan induk emas di dalam terowongan   tersebut di ketahui penjajah Belanda. Mereka pun mencoba masuk ke dusun   Napajemas. Setiba di dusun itu mereka meneropong letak induk emas di   dalam terowongan, yang selama ini sudah di ketahui masyarakat pendahulu   dusun Napajemas.

Sejak tahun itu pula secara berangsur masyarakat Napajemas mulai   meninggalkan tempat tanah kelahiran mereka. Hal tersebut lantaran   penjajah Belanda berkeinginan membelah terowongan, untuk mengambil induk   emas di dalam terowongan ajaib yang selama ini masih tersimpan.

Penduduk asli yang mulai meninggalkan dusun Napajemas, mengungsi   ketiga wilayah yang saat ini menjadi desa. Seperti, desa Sukarami   Kecamatan Taba Penanjung, Pananding Kecamatan Karang Tinggi dan desa   Durian Demang Kecamatan Karang Tinggi.

Setelah meneropong keberadaan induk emas di dalam terowongan,   penjajah Belanda kembali datang untuk kedua kalinya. Hal tersebut untuk   menyesaikan rencana pembelahan terowongan. Niat pembelahan terowongan   itu gagal. Konon, induk emas sebesar induk kambing dewasa yang di jaga   ikan plus berukuran jumbo itu sudah pindah ke Gunung Bungkuk.

&quot;Induk emas itu secara ajaib pindah ke gunung Bungkuk. Induk Emas itu   diketahui dijaga ikan plus berukuran besar,&quot; kisah Hairum, sembari   mengingat cerita dari pendahulu masyarakat Napajemas.

Masyarakat Napajemas Kosongkan Dusun

Penjajah Belanda masuk untuk kedua kalinya ke dusun Napajemas.    Sehingga masyarakat setempat menjadi ketakutan dan panik untuk bergegas    meninggalkan dusun. Penduduk asli Napajemas pun kembali mengungsi   ketiga  desa. Desa Penanding, Durian Demang Kecamatan Karang Tinggi dan   desa  Sukarami Kecamatan Taba Penanjung.

Meskipun demikian, kisah Hairum, saat itu tentara hitam melakukan    perlawanan dan pertempuran terhadap penjajah Belanda yang ada di dusun    Napajemas. Perlawanan tersebut membuat penjajah Belanda berhasil di    pukul mundur tentara hitam. Sementara rencana pengambilan induk emas di    dalam terowongan ajaib pun berhasil digagalkan.

Sejak itu, kata Hairum, induk emas yang diinginkan penjajah Belanda    tidak berhasil diambil. Di masa keberhasilan pengusiran penjajah    Belanda, tentara hitam pun secara berangsur meninggalkan dusun tersebut.    Hal tersebut juga diikuti oleh masyarakat setempat.

&quot;Induk emas tidak berhasil diambil oleh penjajah Belanda,&quot; ingat Hairum.

Sekira tahun 1954 dusun Napajemas mulai ditinggalkan secara    keseluruhan oleh penduduk asli masyarakat dusun Napajemas. Hairum    sendiri meninggalkan dusun tempat tanah kelahirannya saat duduk di    bangku kelas II sekolah dasar (SD). Sejak tahun itu pun dusun Napajemas    hilang 'di telan bumi'.

&quot;Mulai ditinggalkan pada tahun 1954. Saat ini saya sudah berusia delapan tahun, duduk di bangku kelas II SD,&quot; ulas Hairum.


&amp;nbsp;Tokoh Adat Durian Demang, Lamsir (Foto: Demon Fajri/Okezone)
Ditambahkan tokoh masyarakat desa Durian Demang Kecamatan Karang    Tinggi, Lamsir (67), dusun Napal Ujan Emas hilang karena adanya penjajah    yang menyerbu dusun. Sehingga penduduk yang mendiami dusun menjadi    ketakutan dan memilih mengungsi ke daerah yang lebih aman.

&quot;Saya mengungsi ke desa Durian Demang, ketika usia 10 tahun. Kala itu    ada penjajah Belanda masuk ke dusun,&quot; ingat keturunan suku Paljemas    ini, kepada Okezone.

Harimau Serang Dusun Napejemas, Masyarakat Pilih 'Angkat Kaki'

Pengosongan dusun Napajemas bukan hanya pengaruh masuknya penjajah     Belanda ke daerah itu. Namun, masyarakat dusun meninggalkan tanah     kelahiran mereka juga disebabkan adanya serang Hariamau Sumatera     (Panthera tigris sumatrae).

Di mana harimau masuk ke kawasan dusun hingga pemukiman penduduk.     Masyarakat dusun yang kala itu sudah mendiami dusun tidak kurang dari 50     kepala keluarga (KK) menjadi takut. Sehingga mereka memilih untuk     'angkat kaki' dari dusun, tanah kelahiran mereka.

Harimau yang turun gunung tersebut, cerita Hairum, merupakan imbas     dari serangan harimau di desa Karang Anding. Konon, harimau sempat     menerkam masyarakat di desa itu. Tak hanya itu, harimau pun diketahui     sempat mengobak-abrik pemukiman penduduk di wilayah itu.

Setelah menerkam masyarakat desa, ingat Hairum, harimau kembali     menjelajah daerah dusun Napajemas, Kota Niur dan Tanjung Raman. Di mana     desa tersebut masih dalam satu kawasan yang jaraknya tidak terlampau     jauh.



&quot;Kami pindah karena ada faktor dari harimau masuk ke dusun. Bukan     hanya dusun kami yang didatangi harimau. Desa Kota Niur dan Tanjung     Raman juga disabangi harimau. Untungnya, tidak ada masyarakat yang     diterkam harimau,&quot; cerita Hairum, sembari mengingat-ingat kembali kisah     pendahulu masyarakat Napajemas.

Dilanjutkan tokoh masyarakat desa Durian Demang Kecamatan Karang     Tinggi, Lamsir (67), kedatangan harimau ke dusun Napajemas yang masuk     hingga areal pemukiman penduduk dan areal perkebunan membuat masyarakat     menjadi tidak berani keluar.

Kedatang harimau itu di kawasan dusun, sampai Lamsir, disebut     masyarakat sebagai ''Musim Panas'' yang mengartikan harimau turun     gunung. Secara berangsur masyarakat yang menempati dusun pindah ketiga     desa. Yakni, Desa Penanding, Durian Demang Kecamatan Karang Tinggi dan     desa Sukarami Kecamatan Taba Penanjung.

&quot;Dusun kami didatangi Harimau, sehingga masyarakat ingin     menyelamatkan diri dan mengungsi. Di dusun kala itu tidak ada yang     diterkam atau di makan harimau,&quot; kisah Lamsir didampingi istrinya,     Naryati (67).

Di Dusun Napajemas Tumbuh Pohon Benuang Sakti Dijaga Siamang Putih Tangan

Cerita yang diterima secara turun-menurun oleh masyarakat suku      Paljemas, di dusun Napajemas tumbuh sebatang pohon yang berukuran sangat      besar. Pohon Benuang Sakti, namanya. Pohon itu ditunggu oleh  Siamang     Putih Tangan. Siamang Putih Tangan memiliki kesaktian.

Konon, jika Siamang Putih Tangan mengeluarkan suara ke arah barat,      maka salah satu warga yang berada di arah barat tersebut akan  meninggal     dunia. Begitu juga, ketika Siamang mengeluarkan suara ke  arah Timur,     Selatan dan Utara maka ada masyarakat di arah tersebut  akan  meninggal    dunia.

Lantaran terusik dengan ulah siamang yang selalu mengeluarkan suara,      kisah Hairum, masyarakat atau nenek moyang dusun Napajemas berusaha      memotong pohon kayu Benuang Sakti yang di tunggu Siamang Putih  Tangan.     Hal itu guna mengusir Siamang Putih Tangan dari pohon  tersebut.

Setelah bermusyawarah secara bersama, ulas Hairum, masyarakat dusun      Napajemas secara bergotong royong memotong atau menebang pohon  Benuang     Sakti yang berukuran sangat besar tersebut. Sayangnya, kala  itu     masyarakat yang memotong pohon itu belum dapat menyelesaikan  penebangan     pohon selama satu hari.

Masyarakat kembali melanjutkan penebangan pohon keesokan harinya.      Sayangnya, saat ingin kembali menebang pohon tersebut, pohon sudah      terpotong setengah kembali utuh. Sehingga membuat masyarakat kala itu      menjadi bingung atas kesaktian pohon yang di huni Siamang Putih  Tangan.

&quot;Pohon baru berhasil di potong setengah. Ukuran pohonnya sangat      besar, susah untuk dibayangkan sebesar apa. USai di potong keesokan      harinya pohon yang sudah di tebang kembali utuh,&quot; ulas Hairum.

Saat itu, kisah Hairum, di dusun Napajemas memiliki orang sakti. Di      mana, orang sakti tersebut menyampaikan jika ingin menebang pohon      Benuang Sakti harus menyiapkan 40 orang Bujang dan 40 orang Gadis,      sebagai syarat untuk menebang pohn tersebut.

Puluhan bujang dan gadis itu di susun memanjang di dekat pohon      Benuang Sakti. Selanjutnya, 80 bujang dan gadis itu di tutupi pelupuh      baru dan pelupuh lama. Setelah syarat terpenuhi sesuai anjuran orang      pintar atau orang sakti, pohon kayu Benuang Sakti berhasil di tebang.

&quot;Syarat yang diminta itu 40 Bujang dan Gadis yang masih hidup.      Setelah di penuhi pohon kayu berukuran besar itu berhasil di tebang      secara bergotong-royong. yang ikut menebang pohon Benuang Sakti puluhan      orang,&quot; cerita Hairum.

Pohon yang berhasil di tebang itu, sampai Hairum, roboh ke arah timur      atau mengarah ke Kabupaten Kepahiang, Bengkulu dan sebagian  mengarah    ke  arah Utara atau ke arah Kabupaten Rejang Lebong. Daerah  yang   terkena   dampak jatuhnya pohon Benuang Sakti itu, kisah Hairum,  tanah   di  wilayah  itu menjadi subur.

Sebab, kata Hairum, bagian pohon Benuang yang jatuh ke dua kabupaten      itu merupakan daun dan ranting pohon Benuang Sakti. Sementara, untuk      bagian batang pohon jatuh di wilayah Kabupaten Bengkulu Tengah,    sehingga   tahan di daerah Bengkulu Tengah, menjadi gersang.

&quot;Saya tidak dapat membayangkan berapa besar ukuran pohon itu. Cerita      terdahulu jika bagian pohon jatuh ke arah Kepahiang dan Rejang    Lebong,&quot;   ujar Hairum, sembari mengingat cerita terdahulu.

Asal Muasal Suku Paljemas di Bengkulu Tengah

Dusun Napajemas merupakan salah satu kawasan penduduk yang diketahui       sudah ada sejak jaman nenek moyong Suku Paljemas atau Suku Satu, di       Kabupaten Bengkulu Tengah. Dahulunya, suku Paljemas memiliki tiga    nenek    moyang atau poyang. Yakni, Poyang Semidang, Gumay dan Poyang    Suku  Satu.

Konon, asal muasal hadirnya suku Paljemas adanya kesepakatan dari       tiga poyang yang mendiami dusun Napajemas. Kesepakatan pembagian suku       bahasa daerah oleh tiga poyang. Dalam pembangian suku bahasa daerah       tersebut, mereka bertiga menggelar sidang dengan melibat  masyarakat      setempat.

Hairum mengisahkan, dalam acara sidang pembagian suku bahasa daerah.       Poyang Semidang dan Gumay, sudah tiba di lokasi sidang dengan    dihadiri    masyarakat. Sementara, poyang Suku Satu belum kunjung tiba.    Poyang    Semidang dan Gumay pun cukup bersabar menunggu kehadiran    Poyang Suku    Satu.

Setelah sekian lama menunggu kedatangan poyang Suku Satu, kisah       Hairum, poyang Semidang dan Suku Satu memutuskan untuk membagi suku       bahasa daerah. Sementara, poyang Suku Satu belum mendapatkan suku  bahasa      daerah. Usai membagi suku bahasa daerah, Poyang Sauku Satu,  pun  tiba    di  lokasi sidang pembagian suku bahasa daerah.

&quot;Poyang Suku Satu terlambat datang karena ketiduran,&quot; ulas Hairum.

Mendengar dua poyang telah membagikan dua suku bahasa daerah, lanjut       Hairum, kedua poyang pun memutuskan jika suku bahasa daerah untuk      poyang  Suku Satu diberikan suku bahasa daerah dari berbagai daerah.

Seperti mengambil suku bahasa daerah dari Minang, Sumatera Barat,       Jawa, Lembak, Rejang, Serawai, Melayu dari suku bahasa daerah di       Bengkulu.

&quot;Kami sudah membagi suku bahasa daerah,&quot; cerita Hairum, meniru ucapan       dua poyang, Semidang dan Gumay, sembari mengingat cerita  terdahulu.

Bahasa Daerah Suku Paljemas, Gabungan Berbagai Suku Bahasa Daerah

Bahasa yang diperoleh poyang Suku Satu itu, jelas Hairum, di terima        poyang Suku Satu. Di mana dalam pengucapan bahasa daerah suku satu    itu     mengambil sedikit-sedikit bahasa daerah dari berbagai daerah.

&quot;Saat berbicara suku satu atau paljemas mengucapkan kata-kata        percampuran dari berbagai bahasa daerah. Mulai Jawa, Minang, Lembak,        Serawai, Melayu. Penyampaian ucapan saat berbicara pun ada bahasa    daerah     yang masuk,' jelas Hairum.

Hairum mencontohkan, pengucapan dalam bahasa Paljemas. Mela Kito Pai        ke Umo artinya Ayo kita pergi ke sawah, contohnya. Ucapan tersebut        gabungan dari berbagai bahasa daerah. Mulai dari Serawai, Melayu   dan      Rejang. Pengucapan bahasa Paljemas, terang Hairum, tergantung   dengan      yang ingin disampaikan.

&quot;Bahasa daerah suku satu yang menjadi bahasa daerah Paljemas,        merupakan bahasa daerah yang ada di Bengkulu. Masyarakat menyebut suku        Paljemas, nama itu berasal dari dusun Napal Ujan Emas. Oleh    masyarakat     di singkat enjadi Paljemas,&quot; terang Hairum.

Berangkat dari cerita terdahulu, sampai Hairum, suku bahasa daerah        Paljemas masih dilestraikan oleh keturunan suku satu. Di mana     penggunaan    bahasa daerah tersebut hanya dilakukan sesama suku     Paljemas.

&quot;Susah untuk ngomong (berbicara) kalau bukan dengan sesama suku        paljemas. Intinya, bahasa Paljemas mengambil dari berbagai bahasa suku        daerah, lalu pengucapannya diambil-ambil sedikit-sedikit dari    berbagai     bahasa daerah,&quot; imbuh Hairum.


</content:encoded></item></channel></rss>
