<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Budidaya Lebah Madu, Alternatif Mitigasi Perubahan Iklim di Bengkulu</title><description>Daerah yang juga berbatasan dengan Kabupaten Lebong, ini memiliki potensi budidaya Lebah Madu yang dikelola kaum perempuan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/12/31/340/1998019/budidaya-lebah-madu-alternatif-mitigasi-perubahan-iklim-di-bengkulu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/12/31/340/1998019/budidaya-lebah-madu-alternatif-mitigasi-perubahan-iklim-di-bengkulu"/><item><title>Budidaya Lebah Madu, Alternatif Mitigasi Perubahan Iklim di Bengkulu</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/12/31/340/1998019/budidaya-lebah-madu-alternatif-mitigasi-perubahan-iklim-di-bengkulu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/12/31/340/1998019/budidaya-lebah-madu-alternatif-mitigasi-perubahan-iklim-di-bengkulu</guid><pubDate>Senin 31 Desember 2018 10:44 WIB</pubDate><dc:creator>Demon Fajri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/12/31/340/1998019/budidaya-lebah-madu-alternatif-mitigasi-perubahan-iklim-di-bengkulu-O3MM8xm6I5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Budidaya Lebah jadi alternatif mitigasi perubahan iklim (Foto: Demon/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/12/31/340/1998019/budidaya-lebah-madu-alternatif-mitigasi-perubahan-iklim-di-bengkulu-O3MM8xm6I5.jpg</image><title>Budidaya Lebah jadi alternatif mitigasi perubahan iklim (Foto: Demon/Okezone)</title></images><description>BENGKULU - Pal VII, salah satu desa di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Desa ini berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), di Kecamatan Bermani Ulu Raya, tepatnya. Daerah yang juga berbatasan dengan Kabupaten Lebong, ini memiliki potensi budidaya Lebah Madu yang dikelola kaum perempuan.

Budidaya Lebah itu diintegrasikan dengan agroforestri berbasis kopi, durian, kakao, serta tanaman lainnya. Desa yang ditetapkan sebagai ASEAN Heritage Park atau Warisan Alam ASEAN ini berjarak sekira 15 kilometer (KM) dari pusat pemerintah kabupaten (Pemkab) Rejang Lebong.

Budidaya lebah madu, yang biasanya dilakoni kaum pria. Namun, lain halnya dengan di wilayah ini. Budidaya lebah madu dilakoni kaum ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Maju Bersama.



Kaum ibu-ibu itu rela berburu &quot;Ratu Lebah&quot; di hutan kawasan TNKS serta areal perkebunan masyarakat setempat. Untuk dipindahkan ke kotak lebah di areal perkebunan milik anggota KPPL dan masyarakat setempat untuk dibudidayakan.

Di desa yang menjadi bagian dari Tropical Rainforest Heritage of Sumatra atau World Heritage Sites atau Warisan Dunia, ini telah melakukan budidaya lebah madu, sekira tujuh bulan. Terhitung sejak bulan Mei hingga Desember 2018. Meskipun masih berusia jagung, budidaya lebah madu yang di kelola kaum perempun tersebut mulai menghasilkan.

Di mana, budidaya lebah madu sudah menghasilkan madu murni. Tidak kurang dari setengah liter, hasil dari satu lempeng dalam kotak lebah madu yang selama ini telah diisi &quot;Ratu Lebah&quot; beserta gerombolannya.



&quot;Kami mencari 'ratu lebah' di hutan. Itu gampang-gampang susah. Kalau sudah ketemu sama ratu lebah di tangkap lalu dipindahkan ke kotak lebah madu yang sudah disiapkan di areal perkebunan,&quot; kata Ketua Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Maju Bersama, desa Pal VII Kecamatan Bermani Ulu Raya Kabupaten Rejang Lebong, Rita Wati (48) didampingi Sekretaris KPPL-MB, Liswanti, saat ditemui okezone, belum lama ini.

Mitigasi Perubahan Iklim

Budidaya lebah madu diintegrasikan dengan agroforestri berbasis kopi  dan tanaman lainnya dapat meningkatkan hasil perkebunan. Khusunya, kopi.  Di mana, dengan adanya budidaya lebah madu di sekitar perkebunan kopi  dapat meningkatkan hasil biji kopi sekira 17 persen hingga 39 persen per  hektare (Ha).

Sebab, lebah dapat memberikan penyerbukan secara sempurna di tanaman  kopi, khususnya di areal perkebunan kopi milik warga yang dijadikan  lokasi budidaya lebah madu. Selain itu, lebah memiliki daya jelajah  tidak kurang dari 30 kilometer (KM) untuk mencari pakan.

Dengan luasan daya jelajah tersebut, lebah telah memberikan  penyerbukan terhadap tanaman di sekitar areal perkebunan milik warga  setempat. Seperti, kopi, durian, kakao, nangka serta tanaman lainnya.



&quot;Areal jelajah lebah itu akan dilakukan penyerbukan oleh lebah. Lebah  bisa meningkatkan produktivitas tanaman kopi durian, nangka, kakao dan  tanaman lainnya, makanya budidaya lebah ini kami lakukan,&quot; jelas Rita,  diamini Liswanti.

Selain dapat meningkatkan hasil perkebunan milik masyarakat. Lebah  juga berfungsi sebagai mitigasi perubahan iklim. Sebab, lebah dapat  menyerap karbon dari tanaman di sekitar. Seperti, halnya tanaman kopi  yang dipengaruhi cuaca. Dengan adanya lebah, dapat mengurangi kerentanan  terhadap perubahan iklim.

&quot;Lebah dapat menjaga dan menyerap karbon. Sebab, tanaman kopi yang  ada di areal perkebunan dipengaruhi cuaca, dengan adanya lebah maka bisa  mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim,&quot; sampai Rita.

Strategi Ketahanan Pangan

Budidaya lebah madu yang digiatkan kaum perempuan di Desa Pal VIII,   merupakan salah satu langkah strategi dalam ketahanan pangan. Di mana,   sarang atau kotak lebah madu yang diletakkan di areal perkebunan milik   warga dapat meningkatkan produktivitas hasil perkebunan.

Mulai dari perkebunan kopi, durian, kakao serta tanaman lainnya.   Terlebih, sarang lebah yang telah didiami ''ratu lebah'' beserta   gerombolannya untuk menghasilkan madu murni.

&quot;Satu kotak atau sarang bisa menghasilkan delapan botol madu, ukuran   1/2 liter. Kalau sudah produktif tiga bulan sekali panen,&quot; kata ketua   Kelompok Lebah Madu, Desa Pal VIII, Sumbonot, ketika ditemui Okezone,   belum lama ini.

Budidaya lebah madu di Desa Pal VIII mulai digeluti masyarakat. Di   mana di desa ini sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah provinsi   Bengkulu, sebanyak 25 kotak beserta perlengkapan lain dalam kebutuhan   budidaya lebah madu. Hal ini disampaikan, Kepala desa (Kades) Pal VII,   Prisnawati, kepada okezone, belum lama ini.

Prisnawati menyampaikan, bantuan yang diperoleh sebanyak 25 kotak.   Dari jumlah itu 3 diantaranya di kelola kaum perempuan, KPPL Maju   bersama. Sementara, lainnya di kelola kaum pria warga desa setempat.



Dalam budidaya lebah tersebut, sampai Prisnawati, kaum ibu-ibu   mencari ''Ratu Lebah'' di hutan. Di mana setiap kotak membutuhkan satu   ratu lebah. Setelah ratu lebah berhasil dipindahkan ke kotak atau sarang   di areal perkebunan, terang Prisnawati, lebah masih membutuhkan   penyesuaian terlebih dahulu dengan lingkungan sekitar atau di areal   kotak tersebut.

Dari 25 kotak lebah madu yang tersebar di areal perkebunan warga, 15   kotak lebah madu sudah terisi lebah. Di mana, 12 di kelola kaum pria  dan  3 kotak di kelola kaum perempuan.

&quot;Butuh penyesuaian dalam beberapa bulan. Bahkan ada yang tidak betah   sehingga ratu dan gelobolannya minggat,&quot; sampai Prisnawati, kepada   Okezone.

Saat ini, terang Prisnawati, masyarakat setempat sudah melihat adanya   potensi ekonomis atas budidaya lebah madu. Sebab, dengan budidaya  lebah  madu setidaknya dapat meningkatkan perekonomian warga. Terlebih  dalam  peningkatan produktivitas hasil perkebunan.

&quot;Madu itu setengah liter bisa di jual Rp100 ribu,&quot; pungkas Prisnawati.

</description><content:encoded>BENGKULU - Pal VII, salah satu desa di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Desa ini berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), di Kecamatan Bermani Ulu Raya, tepatnya. Daerah yang juga berbatasan dengan Kabupaten Lebong, ini memiliki potensi budidaya Lebah Madu yang dikelola kaum perempuan.

Budidaya Lebah itu diintegrasikan dengan agroforestri berbasis kopi, durian, kakao, serta tanaman lainnya. Desa yang ditetapkan sebagai ASEAN Heritage Park atau Warisan Alam ASEAN ini berjarak sekira 15 kilometer (KM) dari pusat pemerintah kabupaten (Pemkab) Rejang Lebong.

Budidaya lebah madu, yang biasanya dilakoni kaum pria. Namun, lain halnya dengan di wilayah ini. Budidaya lebah madu dilakoni kaum ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Maju Bersama.



Kaum ibu-ibu itu rela berburu &quot;Ratu Lebah&quot; di hutan kawasan TNKS serta areal perkebunan masyarakat setempat. Untuk dipindahkan ke kotak lebah di areal perkebunan milik anggota KPPL dan masyarakat setempat untuk dibudidayakan.

Di desa yang menjadi bagian dari Tropical Rainforest Heritage of Sumatra atau World Heritage Sites atau Warisan Dunia, ini telah melakukan budidaya lebah madu, sekira tujuh bulan. Terhitung sejak bulan Mei hingga Desember 2018. Meskipun masih berusia jagung, budidaya lebah madu yang di kelola kaum perempun tersebut mulai menghasilkan.

Di mana, budidaya lebah madu sudah menghasilkan madu murni. Tidak kurang dari setengah liter, hasil dari satu lempeng dalam kotak lebah madu yang selama ini telah diisi &quot;Ratu Lebah&quot; beserta gerombolannya.



&quot;Kami mencari 'ratu lebah' di hutan. Itu gampang-gampang susah. Kalau sudah ketemu sama ratu lebah di tangkap lalu dipindahkan ke kotak lebah madu yang sudah disiapkan di areal perkebunan,&quot; kata Ketua Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Maju Bersama, desa Pal VII Kecamatan Bermani Ulu Raya Kabupaten Rejang Lebong, Rita Wati (48) didampingi Sekretaris KPPL-MB, Liswanti, saat ditemui okezone, belum lama ini.

Mitigasi Perubahan Iklim

Budidaya lebah madu diintegrasikan dengan agroforestri berbasis kopi  dan tanaman lainnya dapat meningkatkan hasil perkebunan. Khusunya, kopi.  Di mana, dengan adanya budidaya lebah madu di sekitar perkebunan kopi  dapat meningkatkan hasil biji kopi sekira 17 persen hingga 39 persen per  hektare (Ha).

Sebab, lebah dapat memberikan penyerbukan secara sempurna di tanaman  kopi, khususnya di areal perkebunan kopi milik warga yang dijadikan  lokasi budidaya lebah madu. Selain itu, lebah memiliki daya jelajah  tidak kurang dari 30 kilometer (KM) untuk mencari pakan.

Dengan luasan daya jelajah tersebut, lebah telah memberikan  penyerbukan terhadap tanaman di sekitar areal perkebunan milik warga  setempat. Seperti, kopi, durian, kakao, nangka serta tanaman lainnya.



&quot;Areal jelajah lebah itu akan dilakukan penyerbukan oleh lebah. Lebah  bisa meningkatkan produktivitas tanaman kopi durian, nangka, kakao dan  tanaman lainnya, makanya budidaya lebah ini kami lakukan,&quot; jelas Rita,  diamini Liswanti.

Selain dapat meningkatkan hasil perkebunan milik masyarakat. Lebah  juga berfungsi sebagai mitigasi perubahan iklim. Sebab, lebah dapat  menyerap karbon dari tanaman di sekitar. Seperti, halnya tanaman kopi  yang dipengaruhi cuaca. Dengan adanya lebah, dapat mengurangi kerentanan  terhadap perubahan iklim.

&quot;Lebah dapat menjaga dan menyerap karbon. Sebab, tanaman kopi yang  ada di areal perkebunan dipengaruhi cuaca, dengan adanya lebah maka bisa  mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim,&quot; sampai Rita.

Strategi Ketahanan Pangan

Budidaya lebah madu yang digiatkan kaum perempuan di Desa Pal VIII,   merupakan salah satu langkah strategi dalam ketahanan pangan. Di mana,   sarang atau kotak lebah madu yang diletakkan di areal perkebunan milik   warga dapat meningkatkan produktivitas hasil perkebunan.

Mulai dari perkebunan kopi, durian, kakao serta tanaman lainnya.   Terlebih, sarang lebah yang telah didiami ''ratu lebah'' beserta   gerombolannya untuk menghasilkan madu murni.

&quot;Satu kotak atau sarang bisa menghasilkan delapan botol madu, ukuran   1/2 liter. Kalau sudah produktif tiga bulan sekali panen,&quot; kata ketua   Kelompok Lebah Madu, Desa Pal VIII, Sumbonot, ketika ditemui Okezone,   belum lama ini.

Budidaya lebah madu di Desa Pal VIII mulai digeluti masyarakat. Di   mana di desa ini sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah provinsi   Bengkulu, sebanyak 25 kotak beserta perlengkapan lain dalam kebutuhan   budidaya lebah madu. Hal ini disampaikan, Kepala desa (Kades) Pal VII,   Prisnawati, kepada okezone, belum lama ini.

Prisnawati menyampaikan, bantuan yang diperoleh sebanyak 25 kotak.   Dari jumlah itu 3 diantaranya di kelola kaum perempuan, KPPL Maju   bersama. Sementara, lainnya di kelola kaum pria warga desa setempat.



Dalam budidaya lebah tersebut, sampai Prisnawati, kaum ibu-ibu   mencari ''Ratu Lebah'' di hutan. Di mana setiap kotak membutuhkan satu   ratu lebah. Setelah ratu lebah berhasil dipindahkan ke kotak atau sarang   di areal perkebunan, terang Prisnawati, lebah masih membutuhkan   penyesuaian terlebih dahulu dengan lingkungan sekitar atau di areal   kotak tersebut.

Dari 25 kotak lebah madu yang tersebar di areal perkebunan warga, 15   kotak lebah madu sudah terisi lebah. Di mana, 12 di kelola kaum pria  dan  3 kotak di kelola kaum perempuan.

&quot;Butuh penyesuaian dalam beberapa bulan. Bahkan ada yang tidak betah   sehingga ratu dan gelobolannya minggat,&quot; sampai Prisnawati, kepada   Okezone.

Saat ini, terang Prisnawati, masyarakat setempat sudah melihat adanya   potensi ekonomis atas budidaya lebah madu. Sebab, dengan budidaya  lebah  madu setidaknya dapat meningkatkan perekonomian warga. Terlebih  dalam  peningkatan produktivitas hasil perkebunan.

&quot;Madu itu setengah liter bisa di jual Rp100 ribu,&quot; pungkas Prisnawati.

</content:encoded></item></channel></rss>
