<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bagaimana Sepertiga Populasi Kelelawar di Australia Mati dalam Waktu Dua Hari</title><description>Sebelum November diperkirakan terdapat 75.000 kalong kacamata di Australia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/01/17/18/2005878/bagaimana-sepertiga-populasi-kelelawar-di-australia-mati-dalam-waktu-dua-hari</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/01/17/18/2005878/bagaimana-sepertiga-populasi-kelelawar-di-australia-mati-dalam-waktu-dua-hari"/><item><title>Bagaimana Sepertiga Populasi Kelelawar di Australia Mati dalam Waktu Dua Hari</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/01/17/18/2005878/bagaimana-sepertiga-populasi-kelelawar-di-australia-mati-dalam-waktu-dua-hari</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/01/17/18/2005878/bagaimana-sepertiga-populasi-kelelawar-di-australia-mati-dalam-waktu-dua-hari</guid><pubDate>Kamis 17 Januari 2019 18:43 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/17/18/2005878/bagaimana-sepertiga-populasi-kelelawar-di-australia-mati-dalam-waktu-dua-hari-o4V6IjnsG9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Banyak kalong kacamata yang mati di Cairns, Queensland. (Foto: David White)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/17/18/2005878/bagaimana-sepertiga-populasi-kelelawar-di-australia-mati-dalam-waktu-dua-hari-o4V6IjnsG9.jpg</image><title>Banyak kalong kacamata yang mati di Cairns, Queensland. (Foto: David White)</title></images><description>PADA November tahun lalu, suhu panas di Australia menewaskan sepertiga kelelawar jenis kalong kacamata hanya dalam jangka waktu dua hari, kata para peneliti.
Kelelawar pemakan buah itu tidak sanggup bertahan pada temperatur di atas 42 derajat Celcius.
Di Kota Cairns, penduduk menyaksikan kelelawar jatuh dari pohon-pohon ke halaman belakang rumah, kolam renang, dan ke tempat-tempat lain.
Para penolong satwa liar menemukan hewan-hewan yang selamat berkerumun pada dahan-dahan dahan.
&quot;Fenomena itu sangat menyedihkan,&quot; kata salah satu penyelamat, David White, kepada BBC.

'Dampak yang sangat besar'
Minggu lalu, peneliti dari Universitas Western Sydney mengatakan bahwa 23.000 kelelawar mati pada tanggal 26 hingga 27 November.
Jumlah itu dihitung para relawan di tujuh sarang kelelawar sesaat setelah terjadi gelombang panas.
Peneliti Dr Justin Welbergen, seorang ahli ekologi, mengatakan dampak dari gelombang panas bisa lebih besar -mungkin sekitar 30.000 ekor kelelawar sudah tewas- karena beberapa tempat kelelawar biasa bersarang belum dimonitor.
Sebelumnya, pemerintah Australia memperkirakan bahwa sebelum bulan November, terdapat sekitar 75.000 kalong kaca mata di Australia.
&quot;Hal seperti ini belum pernah terjadi di Australia bagian utara sejak manusia bermukim di sana,&quot; kata Dr Welbergen, yang juga presiden untuk Perkumpulan Kelelawar Australasian, sebuah organisasi konservasi nirlaba.

Kelelawar, yang sekeliling matanya berwarna terang, sehingga dinamai kalong kacamata- juga dapat ditemukan di Papua New Guinea, Indonesia dan Kepulauan Solomon.
Di Australia, spesies ini hanya dapat ditemukan di hutan hujan di kawasan Queensland, di mana mereka menolong proses penyerbukan pohon-pohon.
Welbergen mengatakan sekitar 10.000 kalelawar jenis lain, yaitu kelelawar hitam, juga mati karena suhu panas dalam dua hari itu.
Kelelawar sering mengalami stres akibat suhu di atas 42 derajat celcius, kata peneliti. Selama gelombang panas di bulan November, suhu terpanas di Cairn bahkan mencapai 42,6 derajat Celcius.
'Peringatan bahaya perubahan iklim'
Tidak hanya kelelawar yang sensitif terhadap suhu panas, kata para peneliti.
Namun, karena mereka sering bergerombol dalam jumlah besar di kawasan perkotaan, kematian mereka sangat mencolok.
&quot;Hal ini harus membuat kita waspada kepada nasib binatang-binatang lain yang hidup di tempat tertutup dan terpisah dari makhluk hidup lainnya,&quot; ujar Welbergen.
Dia melihat kelelawar sebagai penanda bahaya untuk perubahan iklim.
&quot;Data yang ada memperlihatkan bahwa suhu panas ini memiliki dampak yang serius pada spesies-spesies [binatang]. Proyeksi perubahan iklim memperlihatkan hal ini [suhu panas] akan meningkat di masa mendatang.&quot;

Upaya perlindungan
Para peneliti sudah sejak lama khawatir dengan keberlangsungan hidup kalong kacamata.
Populasinya telah berkurang lebih dari setengahnya dalam satu dekade  terakhir, kata Dr David Westcott, yang mengetuai Program Pemantauan  Kelelawar Nasional.
Di masa lalu, kematian massal suatu populasi sering dikaitkan dengan  siklon. Namun, beberapa tahun belakangan ini, gelombang panas telah  menjadi ancaman yang besar, kata Westcott.
&quot;Kami sangat khawatir. Telah terjadi penurunan populasi untuk spesies  yang tidak mengalami ancaman apapun di luar masalah cuaca,&quot; katanya  kepada BBC.
Sebelum gelombang panas di bulan November, para ahli konservasi  melobi pemerintah Australia untuk mengubah klasifikasi spesies kelelawar  itu dari status &quot;rentan&quot; ke &quot;dalam bahaya&quot;- sebuah upaya yang diyakini  dapat memperkuat usaha untuk menyelamatkan hewan tersebut.

Secara global, spesies kalong kacamata masuk dalam kategori hewan  yang diberi kategori &quot;berisiko rendah&quot; (least concern) oleh Kelompok  konservasi terkemuka dunia, International Union for the Conservation of  Nature ( IUCN). Status itu diberikan kepada hewan yang tidak termasuk ke  dalam spesies terancam atau mendekati terancam punah.
Para peneliti khawatir bahwa antipati ini akan menghalangi upaya  konservasi. Keengganan ini mungkin muncul karena banyak orang yang takut  akan terjangkit penyakit dari kelelawar. Beberapa pihak juga merasa  suara kelelawar terlalu berisik.
Minggu ini, saat terjadi gelombang panas di New South Wales,  pemerintah mengingatkan orang-orang untuk tidak mendekati kelelawar  karena agresivitas binatang itu.
&quot;Kelelawar dianggap sebagai tikus yang terbang di langit, jadi upaya untuk pelestariannya sangat sulit,&quot; kata Westcott.
&quot;Kamu dapat melihat orang-orang yang malah senang saat melihat kalelawar bergeletakan di tanah saat gelombang panas.&quot;
</description><content:encoded>PADA November tahun lalu, suhu panas di Australia menewaskan sepertiga kelelawar jenis kalong kacamata hanya dalam jangka waktu dua hari, kata para peneliti.
Kelelawar pemakan buah itu tidak sanggup bertahan pada temperatur di atas 42 derajat Celcius.
Di Kota Cairns, penduduk menyaksikan kelelawar jatuh dari pohon-pohon ke halaman belakang rumah, kolam renang, dan ke tempat-tempat lain.
Para penolong satwa liar menemukan hewan-hewan yang selamat berkerumun pada dahan-dahan dahan.
&quot;Fenomena itu sangat menyedihkan,&quot; kata salah satu penyelamat, David White, kepada BBC.

'Dampak yang sangat besar'
Minggu lalu, peneliti dari Universitas Western Sydney mengatakan bahwa 23.000 kelelawar mati pada tanggal 26 hingga 27 November.
Jumlah itu dihitung para relawan di tujuh sarang kelelawar sesaat setelah terjadi gelombang panas.
Peneliti Dr Justin Welbergen, seorang ahli ekologi, mengatakan dampak dari gelombang panas bisa lebih besar -mungkin sekitar 30.000 ekor kelelawar sudah tewas- karena beberapa tempat kelelawar biasa bersarang belum dimonitor.
Sebelumnya, pemerintah Australia memperkirakan bahwa sebelum bulan November, terdapat sekitar 75.000 kalong kaca mata di Australia.
&quot;Hal seperti ini belum pernah terjadi di Australia bagian utara sejak manusia bermukim di sana,&quot; kata Dr Welbergen, yang juga presiden untuk Perkumpulan Kelelawar Australasian, sebuah organisasi konservasi nirlaba.

Kelelawar, yang sekeliling matanya berwarna terang, sehingga dinamai kalong kacamata- juga dapat ditemukan di Papua New Guinea, Indonesia dan Kepulauan Solomon.
Di Australia, spesies ini hanya dapat ditemukan di hutan hujan di kawasan Queensland, di mana mereka menolong proses penyerbukan pohon-pohon.
Welbergen mengatakan sekitar 10.000 kalelawar jenis lain, yaitu kelelawar hitam, juga mati karena suhu panas dalam dua hari itu.
Kelelawar sering mengalami stres akibat suhu di atas 42 derajat celcius, kata peneliti. Selama gelombang panas di bulan November, suhu terpanas di Cairn bahkan mencapai 42,6 derajat Celcius.
'Peringatan bahaya perubahan iklim'
Tidak hanya kelelawar yang sensitif terhadap suhu panas, kata para peneliti.
Namun, karena mereka sering bergerombol dalam jumlah besar di kawasan perkotaan, kematian mereka sangat mencolok.
&quot;Hal ini harus membuat kita waspada kepada nasib binatang-binatang lain yang hidup di tempat tertutup dan terpisah dari makhluk hidup lainnya,&quot; ujar Welbergen.
Dia melihat kelelawar sebagai penanda bahaya untuk perubahan iklim.
&quot;Data yang ada memperlihatkan bahwa suhu panas ini memiliki dampak yang serius pada spesies-spesies [binatang]. Proyeksi perubahan iklim memperlihatkan hal ini [suhu panas] akan meningkat di masa mendatang.&quot;

Upaya perlindungan
Para peneliti sudah sejak lama khawatir dengan keberlangsungan hidup kalong kacamata.
Populasinya telah berkurang lebih dari setengahnya dalam satu dekade  terakhir, kata Dr David Westcott, yang mengetuai Program Pemantauan  Kelelawar Nasional.
Di masa lalu, kematian massal suatu populasi sering dikaitkan dengan  siklon. Namun, beberapa tahun belakangan ini, gelombang panas telah  menjadi ancaman yang besar, kata Westcott.
&quot;Kami sangat khawatir. Telah terjadi penurunan populasi untuk spesies  yang tidak mengalami ancaman apapun di luar masalah cuaca,&quot; katanya  kepada BBC.
Sebelum gelombang panas di bulan November, para ahli konservasi  melobi pemerintah Australia untuk mengubah klasifikasi spesies kelelawar  itu dari status &quot;rentan&quot; ke &quot;dalam bahaya&quot;- sebuah upaya yang diyakini  dapat memperkuat usaha untuk menyelamatkan hewan tersebut.

Secara global, spesies kalong kacamata masuk dalam kategori hewan  yang diberi kategori &quot;berisiko rendah&quot; (least concern) oleh Kelompok  konservasi terkemuka dunia, International Union for the Conservation of  Nature ( IUCN). Status itu diberikan kepada hewan yang tidak termasuk ke  dalam spesies terancam atau mendekati terancam punah.
Para peneliti khawatir bahwa antipati ini akan menghalangi upaya  konservasi. Keengganan ini mungkin muncul karena banyak orang yang takut  akan terjangkit penyakit dari kelelawar. Beberapa pihak juga merasa  suara kelelawar terlalu berisik.
Minggu ini, saat terjadi gelombang panas di New South Wales,  pemerintah mengingatkan orang-orang untuk tidak mendekati kelelawar  karena agresivitas binatang itu.
&quot;Kelelawar dianggap sebagai tikus yang terbang di langit, jadi upaya untuk pelestariannya sangat sulit,&quot; kata Westcott.
&quot;Kamu dapat melihat orang-orang yang malah senang saat melihat kalelawar bergeletakan di tanah saat gelombang panas.&quot;
</content:encoded></item></channel></rss>
