<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Polemik 'Indonesia Barokah', TKN: Buletin Kaffah yang Menjurus Makar Kok Didiamkan?</title><description>TKN menyentil Buletin Kaffah yang dianggap lebih parah dari Tabloid Indonesia Barokah.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/01/28/605/2010164/polemik-indonesia-barokah-tkn-buletin-kaffah-yang-menjurus-makar-kok-didiamkan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/01/28/605/2010164/polemik-indonesia-barokah-tkn-buletin-kaffah-yang-menjurus-makar-kok-didiamkan"/><item><title>Polemik 'Indonesia Barokah', TKN: Buletin Kaffah yang Menjurus Makar Kok Didiamkan?</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/01/28/605/2010164/polemik-indonesia-barokah-tkn-buletin-kaffah-yang-menjurus-makar-kok-didiamkan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/01/28/605/2010164/polemik-indonesia-barokah-tkn-buletin-kaffah-yang-menjurus-makar-kok-didiamkan</guid><pubDate>Senin 28 Januari 2019 06:01 WIB</pubDate><dc:creator>Muhamad Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/28/605/2010164/polemik-indonesia-barokah-tkn-buletin-kaffah-yang-menjurus-makar-kok-didiamkan-5LZU9nqMGa.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/28/605/2010164/polemik-indonesia-barokah-tkn-buletin-kaffah-yang-menjurus-makar-kok-didiamkan-5LZU9nqMGa.jpg</image><title></title></images><description>JAKARTA - Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Eva Kusuma Sundari menyinggung peredaran Buletin Kaffah yang ditanggapi biasa, dibanding Tabloid Indonesia Barokah. Nama terakhir dinilai telah menyudutkan pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga Uno.
Menurut Eva, Buletin Kaffah dan sejenisnya berisi konten tak berimbang yang menjatuhkan Jokowi-Ma'ruf. Bahkan konten di dalamnya bisa menjurus ke mkar.
&quot;Ada banyak tabloid alternatif yang bahkan luar biasa bisa dikategorikan makar, ya misalkan Kaffah ya, itu jelas-jelas menyerang pemerintah tapi kenapa kemudian kok didiamkan?,&quot; kata Eva saat dikonfirmasi Okezone, Senin (28/1/2019).

Foto: Nu.or.id
Politikus PDI Perjuangan (PDIP) itu menganggap Tabloid Indonesia Barokah berisi kajian yang mengupas fakta sebagaimana mestinya.
(Baca juga: Soal Tabloid Indonesia Barokah, PPP: Tidak Ada Unsur Kampanye!)
&quot;Analisis yang berbasis kepada argumen logis seperti Barokah malah disoal,&quot; kata dia.
Eva juga mengingatkan soal Tabloid Obor yang beredar luar saat Pilpres 2014. Dirinya pun mempertanyaakan soal penyebaran tabloid tersebut yang secara nyata menyerang personal Jokowi.
&quot;Ini sesuatu yang analisisnya umum dari event dan fakta (dipermasalahkan), jadi menurutkan kalau Barokah enggak boleh beredar, maka tabloid sejenis yang menyerang pemerintah itu juga harus diberangus, semata-mata isinya adalah bagaimana soal memperbaiki akhlak bukan politik,&quot; gumamnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Eva Kusuma Sundari menyinggung peredaran Buletin Kaffah yang ditanggapi biasa, dibanding Tabloid Indonesia Barokah. Nama terakhir dinilai telah menyudutkan pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga Uno.
Menurut Eva, Buletin Kaffah dan sejenisnya berisi konten tak berimbang yang menjatuhkan Jokowi-Ma'ruf. Bahkan konten di dalamnya bisa menjurus ke mkar.
&quot;Ada banyak tabloid alternatif yang bahkan luar biasa bisa dikategorikan makar, ya misalkan Kaffah ya, itu jelas-jelas menyerang pemerintah tapi kenapa kemudian kok didiamkan?,&quot; kata Eva saat dikonfirmasi Okezone, Senin (28/1/2019).

Foto: Nu.or.id
Politikus PDI Perjuangan (PDIP) itu menganggap Tabloid Indonesia Barokah berisi kajian yang mengupas fakta sebagaimana mestinya.
(Baca juga: Soal Tabloid Indonesia Barokah, PPP: Tidak Ada Unsur Kampanye!)
&quot;Analisis yang berbasis kepada argumen logis seperti Barokah malah disoal,&quot; kata dia.
Eva juga mengingatkan soal Tabloid Obor yang beredar luar saat Pilpres 2014. Dirinya pun mempertanyaakan soal penyebaran tabloid tersebut yang secara nyata menyerang personal Jokowi.
&quot;Ini sesuatu yang analisisnya umum dari event dan fakta (dipermasalahkan), jadi menurutkan kalau Barokah enggak boleh beredar, maka tabloid sejenis yang menyerang pemerintah itu juga harus diberangus, semata-mata isinya adalah bagaimana soal memperbaiki akhlak bukan politik,&quot; gumamnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
