<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pengamat: Media Mitra Capres Bukan Musuh </title><description>Pengamat politik dari IPI Jerry Massie mengutarakan tak bisa dipungkiri media adalah bagian penting dalam demokrasi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/01/28/605/2010580/pengamat-media-mitra-capres-bukan-musuh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/01/28/605/2010580/pengamat-media-mitra-capres-bukan-musuh"/><item><title>Pengamat: Media Mitra Capres Bukan Musuh </title><link>https://news.okezone.com/read/2019/01/28/605/2010580/pengamat-media-mitra-capres-bukan-musuh</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/01/28/605/2010580/pengamat-media-mitra-capres-bukan-musuh</guid><pubDate>Senin 28 Januari 2019 20:28 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/28/605/2010580/pengamat-media-mitra-capres-bukan-musuh-Rcgzj7RZDA.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Diskusi Kaukus Muda Indonesia bertajuk &quot;Siapa yang Memanipulasi Demokrasi?&quot; di Salemba, Jakarta (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/28/605/2010580/pengamat-media-mitra-capres-bukan-musuh-Rcgzj7RZDA.jpg</image><title>Diskusi Kaukus Muda Indonesia bertajuk &quot;Siapa yang Memanipulasi Demokrasi?&quot; di Salemba, Jakarta (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Pengamat politik dari Indonesia Public Institute (IPI) Jerry Massie mengutarakan  tak bisa dipungkiri media adalah bagian penting dalam demokrasi. Bahkan, media merupakan salah satu pilar demokrasi. Begitu pun dalam ajang pemilu seperti sekarang ini.
&amp;ldquo;Di ajang pilpres, media menjadi salah satu faktor penting, bahkan menang dan kalah itu bisa ditentukan oleh media,&amp;rdquo; kata Jerry dalam diskusi Kaukus Muda Indonesia (KMI) bertajuk &amp;lsquo;Siapa yang Memanipulasi Demokrasi?&amp;rsquo; di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019).
Namun, dalam perjalanannya, kata dia, terkadang media menjadi sasaran empuk untuk diserang. Dia mencontohkan, saat salah satu calon presiden menuduh media tidak berimbang, bahkan sudah berpihak ke calon tertentu.
&amp;ldquo;Terkadang media menjadi sasaran empuk, dalam hal ini media dilecehkan. Padahal media berdiri pada posisi ABC, Accuracy (keakuratan), Balance (seimbang) dan Credible (dipercaya),&amp;rdquo; katanya.&amp;nbsp;
(Baca Juga:&amp;nbsp;2.008 Tabloid Indonesia Barokah Tertahan di Gudang Kantor Pos Cabang Malang)
Menurut dia, seharusnya media dijadikan sebagai partner, mitra. Sebab, media akan mempublikasi gagasan dari para calon tersebut.
&amp;ldquo;Ketika Anda mulai menyerang media, di sanalah keruntuhan demokrasi. Ketika dia menyepelekan media, maka sama saja menyepelekan demokrasi,&amp;rdquo; tuturnya.

Kepada seluruh pasangan calon presiden dan wakil presiden, baik itu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno maupun Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin, ia mengimbau untuk menjadikan ajang kontestasi Pilpres kali ini sebagai ajang adu gagasan, adu program dan adu ide, bukan adu domba.
Jerry menjelaskan, media pun sangat berperan atas menangnya Presiden Prancis dari Partai La R&amp;eacute;publique En Marche! yakni, Emmanuel Macron atas Marine Le Pen salah satu capres terkuat Prancis yang anti imigran itu. Begitu pula, saat Angela Merkel dari Partai Kristen Demokratik Jerman menang dalam Pemilu di Jerman semboyannya kala itu &quot;Wir Schafen Das&quot; kita bisa melakukan. Sama seperti Donald Trump, &quot;Make America Great Again&quot;.
Jangan menyalahkan media, biarlah media jadi partner news dalam pemberitaan. Jangan sampai sampai terjadi pembredelan di era orde baru ada 17 media yang dibredel di Jakarta 14 (media Sinar Harapan, Detik, Tempo, Monitor) Bandung 1 media dan Surabaya 2 media.
&quot;Kalau Jokowi pers masih merdeka kalau Prabowo saya duga freedom for speech lewat media bisa terancam. Buktinya saat Reuni 212 capres 02 ini sempat melecehkan media. Saua nilai Prabowo kurang bersahabat dengan pers,&quot; kata Jerry yang juga mantan pimred di sejumlah media nasional ini.
(Baca Juga:&amp;nbsp;Gerindra Tak Heran PBB Mendukung Jokowi-Ma'ruf)
Pertarungan pilpres ini adalah salah satu ajang di mana para kontestan harusnya tidak  hanya lakukan adu domba, tapi adu persepsi, adu gagasan dan adu ide. &quot;Kalau hanya adu domba, maka negara kita ini akan hancur, negara ini kacau balau,&amp;rdquo; ujarnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pengamat politik dari Indonesia Public Institute (IPI) Jerry Massie mengutarakan  tak bisa dipungkiri media adalah bagian penting dalam demokrasi. Bahkan, media merupakan salah satu pilar demokrasi. Begitu pun dalam ajang pemilu seperti sekarang ini.
&amp;ldquo;Di ajang pilpres, media menjadi salah satu faktor penting, bahkan menang dan kalah itu bisa ditentukan oleh media,&amp;rdquo; kata Jerry dalam diskusi Kaukus Muda Indonesia (KMI) bertajuk &amp;lsquo;Siapa yang Memanipulasi Demokrasi?&amp;rsquo; di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019).
Namun, dalam perjalanannya, kata dia, terkadang media menjadi sasaran empuk untuk diserang. Dia mencontohkan, saat salah satu calon presiden menuduh media tidak berimbang, bahkan sudah berpihak ke calon tertentu.
&amp;ldquo;Terkadang media menjadi sasaran empuk, dalam hal ini media dilecehkan. Padahal media berdiri pada posisi ABC, Accuracy (keakuratan), Balance (seimbang) dan Credible (dipercaya),&amp;rdquo; katanya.&amp;nbsp;
(Baca Juga:&amp;nbsp;2.008 Tabloid Indonesia Barokah Tertahan di Gudang Kantor Pos Cabang Malang)
Menurut dia, seharusnya media dijadikan sebagai partner, mitra. Sebab, media akan mempublikasi gagasan dari para calon tersebut.
&amp;ldquo;Ketika Anda mulai menyerang media, di sanalah keruntuhan demokrasi. Ketika dia menyepelekan media, maka sama saja menyepelekan demokrasi,&amp;rdquo; tuturnya.

Kepada seluruh pasangan calon presiden dan wakil presiden, baik itu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno maupun Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin, ia mengimbau untuk menjadikan ajang kontestasi Pilpres kali ini sebagai ajang adu gagasan, adu program dan adu ide, bukan adu domba.
Jerry menjelaskan, media pun sangat berperan atas menangnya Presiden Prancis dari Partai La R&amp;eacute;publique En Marche! yakni, Emmanuel Macron atas Marine Le Pen salah satu capres terkuat Prancis yang anti imigran itu. Begitu pula, saat Angela Merkel dari Partai Kristen Demokratik Jerman menang dalam Pemilu di Jerman semboyannya kala itu &quot;Wir Schafen Das&quot; kita bisa melakukan. Sama seperti Donald Trump, &quot;Make America Great Again&quot;.
Jangan menyalahkan media, biarlah media jadi partner news dalam pemberitaan. Jangan sampai sampai terjadi pembredelan di era orde baru ada 17 media yang dibredel di Jakarta 14 (media Sinar Harapan, Detik, Tempo, Monitor) Bandung 1 media dan Surabaya 2 media.
&quot;Kalau Jokowi pers masih merdeka kalau Prabowo saya duga freedom for speech lewat media bisa terancam. Buktinya saat Reuni 212 capres 02 ini sempat melecehkan media. Saua nilai Prabowo kurang bersahabat dengan pers,&quot; kata Jerry yang juga mantan pimred di sejumlah media nasional ini.
(Baca Juga:&amp;nbsp;Gerindra Tak Heran PBB Mendukung Jokowi-Ma'ruf)
Pertarungan pilpres ini adalah salah satu ajang di mana para kontestan harusnya tidak  hanya lakukan adu domba, tapi adu persepsi, adu gagasan dan adu ide. &quot;Kalau hanya adu domba, maka negara kita ini akan hancur, negara ini kacau balau,&amp;rdquo; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
