<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penderita DBD Terus Bertambah, Pemkot Tangsel Anggarkan Rp2,5 Miliar untuk Penanganan</title><description>Alokasinya bermacam-macam. Termasuk untuk fogging dan operasional Jumantik.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/02/338/2012947/penderita-dbd-terus-bertambah-pemkot-tangsel-anggarkan-rp2-5-miliar-untuk-penanganan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/02/02/338/2012947/penderita-dbd-terus-bertambah-pemkot-tangsel-anggarkan-rp2-5-miliar-untuk-penanganan"/><item><title>Penderita DBD Terus Bertambah, Pemkot Tangsel Anggarkan Rp2,5 Miliar untuk Penanganan</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/02/338/2012947/penderita-dbd-terus-bertambah-pemkot-tangsel-anggarkan-rp2-5-miliar-untuk-penanganan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/02/02/338/2012947/penderita-dbd-terus-bertambah-pemkot-tangsel-anggarkan-rp2-5-miliar-untuk-penanganan</guid><pubDate>Sabtu 02 Februari 2019 17:06 WIB</pubDate><dc:creator>Hambali</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/02/338/2012947/penderita-dbd-terus-bertambah-pemkot-tangsel-anggarkan-rp2-5-miliar-untuk-penanganan-5wKoUMzXuu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: Hambali/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/02/338/2012947/penderita-dbd-terus-bertambah-pemkot-tangsel-anggarkan-rp2-5-miliar-untuk-penanganan-5wKoUMzXuu.jpg</image><title>(Foto: Hambali/Okezone)</title></images><description>TANGERANG SELATAN - Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menggelontorkan dana cukup besar bagi penanganan nyamuk Aedes Aegypti penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayahnya.

&quot;Totalnya Rp2,5 miliar,&quot; ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Deden Deni, Sabtu (2/2/2019).

Deden mengatakan, jumlah itu terbilang cukup besar. Alokasinya dibagi untuk biaya operasional juru pemantau jentik (Jumantik), serta pengadaan serbuk pembunuh jentik nyamuk lafasida.

&quot;Alokasinya bermacam-macam. Termasuk untuk fogging dan operasional Jumantik,&quot; sambungnya.



Pihak Dinkes Tangsel sendiri telah menerima laporan bahwa dari 29 Puskesmas yang ada, semuanya merawat pasien DBD. Rata-rata tiap Puskesmas merawat 3 pasien, meskipun hanya 25 Puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap.

Jika harus mendapat penanganan berlanjut, maka pasien akan dipindahkan ke rumah sakit. &quot;Tiap dua hari sekali, ada warga Tangsel yang kena DBD,&quot; jelasnya.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOS8wMS8zMC81LzExODQ0OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Kata Deden, pihaknya sudah mengimbau agar warga, Jumantik, dan Puskesmas agar bersiap menghadapi siklus tahunan ini. Dia menilai, tindakan pencegahan melalui program Jumantik sudah optimal. Meskipun harus ada yang dievaluasi.

&quot;Yang lebih penting pencegahannya. Program jumantik sebenarnya sudah bisa optimal. Kalaupun harus ada yang dievaluasi. Tahun ini dengan anggaran itu, seluruh Kecamatan bisa melaksanakan program Jumantik,&quot; ujarnya.
</description><content:encoded>TANGERANG SELATAN - Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menggelontorkan dana cukup besar bagi penanganan nyamuk Aedes Aegypti penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayahnya.

&quot;Totalnya Rp2,5 miliar,&quot; ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Deden Deni, Sabtu (2/2/2019).

Deden mengatakan, jumlah itu terbilang cukup besar. Alokasinya dibagi untuk biaya operasional juru pemantau jentik (Jumantik), serta pengadaan serbuk pembunuh jentik nyamuk lafasida.

&quot;Alokasinya bermacam-macam. Termasuk untuk fogging dan operasional Jumantik,&quot; sambungnya.



Pihak Dinkes Tangsel sendiri telah menerima laporan bahwa dari 29 Puskesmas yang ada, semuanya merawat pasien DBD. Rata-rata tiap Puskesmas merawat 3 pasien, meskipun hanya 25 Puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap.

Jika harus mendapat penanganan berlanjut, maka pasien akan dipindahkan ke rumah sakit. &quot;Tiap dua hari sekali, ada warga Tangsel yang kena DBD,&quot; jelasnya.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOS8wMS8zMC81LzExODQ0OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Kata Deden, pihaknya sudah mengimbau agar warga, Jumantik, dan Puskesmas agar bersiap menghadapi siklus tahunan ini. Dia menilai, tindakan pencegahan melalui program Jumantik sudah optimal. Meskipun harus ada yang dievaluasi.

&quot;Yang lebih penting pencegahannya. Program jumantik sebenarnya sudah bisa optimal. Kalaupun harus ada yang dievaluasi. Tahun ini dengan anggaran itu, seluruh Kecamatan bisa melaksanakan program Jumantik,&quot; ujarnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
