<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>NTT Nyatakan &quot;Perang&quot; Terhadap Demam Berdarah Usai Ribuan Warganya Terjangkit</title><description>Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai mewabah di berbagai daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/02/340/2012701/ntt-nyatakan-perang-terhadap-demam-berdarah-usai-ribuan-warganya-terjangkit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/02/02/340/2012701/ntt-nyatakan-perang-terhadap-demam-berdarah-usai-ribuan-warganya-terjangkit"/><item><title>NTT Nyatakan &quot;Perang&quot; Terhadap Demam Berdarah Usai Ribuan Warganya Terjangkit</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/02/340/2012701/ntt-nyatakan-perang-terhadap-demam-berdarah-usai-ribuan-warganya-terjangkit</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/02/02/340/2012701/ntt-nyatakan-perang-terhadap-demam-berdarah-usai-ribuan-warganya-terjangkit</guid><pubDate>Sabtu 02 Februari 2019 12:29 WIB</pubDate><dc:creator>Adi Rianghepat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/01/340/2012701/ntt-nyatakan-perang-terhadap-demam-berdarah-usai-ribuan-warganya-terjangkit-keEcYCCsJn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Petugas melakukan fogging untuk mengurangi dampak demam berdarah di area wabah penyakit (Foto: Adi/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/01/340/2012701/ntt-nyatakan-perang-terhadap-demam-berdarah-usai-ribuan-warganya-terjangkit-keEcYCCsJn.jpg</image><title>Petugas melakukan fogging untuk mengurangi dampak demam berdarah di area wabah penyakit (Foto: Adi/Okezone)</title></images><description>KUPANG - Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai mewabah di berbagai daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Tak tanggung-tanggung penyakit yang disebar virus dengue dibawa nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus itu pun telah menelan korban karena gigitannya.

Data Dinas Kesehatan Provinsi NTT hingga 28 Januari 2019 sudah ada 13 warga yang meninggal karena gigitan anopheles itu. Jumlah korban meninggal itu dari sisi jumlah sudah sangat mengkhawatirkan. Mengapa, karena baru di awal bulan di 2019. Jika dibanding dengan jumlah total kematian karena DBD selama 2018 (Januari-Desember) hanya berada pada angka 12 orang. Apakah itu tak mengkhawatirkan?

Selain jumlah korban meninggal, penyakit yang hanya mewabah di musim penghujan itu juga telah menyebabkan sedikitnya 1.028 orang harus dirawat intensif (data 1 Januari hingga 28 Januari 2019). Angka ini jika dibanding dengan 2018 silam, terpaut 305 penderita dan berada di angka 1.333 orang.


 
Petugas Dinas Kesehatan Kota Kupang sedang mempersiapkan bubuk abate untuk dibagikan secara cuma-cuma kepada warga untuk selanjutnya akan ditabur di dalam tempat air agar tidak menjadi sarang biak jentik aedes agypti yang membawa virus dengue. (Foto: Adi/Okezone)

Sejumlah daerah bahkan telah menikan status wabah DBD ini dengan menetapkan kejadian luar bisa (KLB). Menurut data dari Dinas Kesehatan Provinsi NTT, ada tiga kabupaten yang sudah mengalami peningkatan status menjadi KLB, yaitu Kota Kupang, Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Sumba Timur.

&quot;Kita sudah lakukan koordinasi secara masif dengan dinas kesehatan di semua daerah untuk selanjutnya berkoordinasi dengan pimpinan daerah untuk upaya penanganan setiap kasusnya,&quot; kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur Dominggus Minggu Mere.

Aksi nyata semua pihak harus segara dilakukan. Karena penyakit ini berbasis lingkungan, maka penting untuk menggerakan seluruh komponen masyarakat dalam kaitan dengan menjaga lingkungan tempat tinggal masing-masing.


Petugas kesehatan langsung terjun ke rumah masyarakat dan membagikan bubuk abate secara cuma-cuma dan memeriksa sejumlah tempat penampungan air warga. (Foto: Adi/Okezone)

&quot;Pekerjaan harus dimulai dari hulu dengan melakukan sejumlah aksi pemberantasan sarang nyamuk dengan pola mengubur, menutup dan menguras semua tempat dan barang yang bisa menjadi sarang kembang biak jentik nyamuk anopheles,&quot; katanya.

Secara kelembagaan dinas kesehatan provinsi telah memberi sejumlah bantuan untuk bisa menekan dampak lain dari mewabahnya DBD di sejumlah daerah. Bahkan Kementerian Kesehatan juga telah merespon untuk segera menyalurkan sejumlah bantuan berupa cairan larvasida.

&quot;Semuanya itu akan digunakan untuk penanganan penyebab penyakit DBD ini,&quot; katanya.



Dia juga mengatakan, koordinasi dengan paramedis di rumah sakit dan puskesmas serta sejumlah fasilitas layanan kesehatan lain terus dilakukan, dalam kaitan dengan percepatan penanganan penderita. Hal ini dimaksud untuk memungkinkan menekan jatuhnya korban meninggal.

&quot;DBD ini jika ditangani dengan cepat probabilitas untuk kematian itu bisa diperkecil,&quot; katanya.

Pasien Rumah Sakit Terus Meningkat

RSUD SK Lerik Kota Kupang menjadi salah satu tempat yang dipilih masyarakat untuk mendapatkan perawatan medis. Setidaknya data hingga 30 Januari 2019 tercatat ada 108 orang warga yang mendapatkan perawatan akibat DBD. Dari jumlah itu, jumlah pasien perempuan lebih banyak dari pasien laki-laki.

&quot;Untuk pasien perempuan berjumlah 62 orang dan pasien laki-laki 46 orang. Sementara yang sudah lebih dahulu mendapatkan perawatan di rumah sakit itu berjumlah 16 orang,&quot; kata Direktur RSUD SK Lerik Kupang dr Marciana Lili Halek.

Dari jumlah itu, menurut dia, pasien anak-anak berusia 0 sampai 16 tahun masih mendominasi. Untuk kelompok anak-anak ini, ada sebanyak 72 orang yang dirawat. Jumlah ini lalu dikategorikan untuk usia 0-4 tahun berjumlah 28 orang, usia 5-16 tahun berjumlah 44 orang. Sementara untuk usia 17 tahun ke atas ada sebanyak 36 orang pasien.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOS8wMS8zMC81LzExODQ0OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

&quot;Kami terus melakukan pelayanan terbaik bagi semua pasien, agar bisa segera sehat,&quot; kata dr Marciana.

Sementara itu Kepala Bidang Penanggulangan dan Pengamatan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Kupang Sri Wahyuningsih mengemukakan secara kelembagaan Pemerintah Kota Kupang telah menetapkan DBD sebagai KLB pada 23 Januari lalu. Hal itu setelah dilakukan sejumlah analisis dampak penyakit tersebut.

Dia mengatakan, berbagai upaya sudah dilakukan seiring penetapan status DBD menjadi KLB itu, antara lain, penyelidikan epidemiologi kasus, pembagian bubuk abate untuk ditabur di tempat penampungan air yang berjentik serta melakukan foging fokus.

Selain itu, Dinas Kesehatan Kota Kupang juga membuka posko 24 jam di 11 Puskesmas yang tersebar di 6 kecamatan dan 51 kelurahan daerah itu.

&quot;Posko 24 jam itu akan siap melayani dan menolong warga yang diduga terkena DBD untuk segera mendapatkan perawatan medis agar tidak menjadi parah,&quot; katanya.

Koordinasi dengan semua rumah sakit yang ada di daerah ini juga dilakukan dalam kaitan dengan pelayanan sekaligus pencatatan jumlah pasien DBD.

&quot;Jadi ada 12 rumah sakit di kota ini yang menjadi pintu masuk layanan dan juga sumber data kami untuk selanjutnya akan dilakukan penyelidikan epidemiologi,&quot; katanya.

Terkait ketersediaan obat-obatan, Sri Wahyuningsih mengaku masih sangat tersedia dan siap disuplai ke setiap puskesmas dan puskesmas pembantu yang ada di daerah ini.

Kepada masyarakat, diimbau untuk tetap menjaga lingkungan tempat tinggal agar tetap bersih dan tidak menjadi sarang pengembang biakan jentik nyamuk, serta terus melakukan aksi 3M plus.

&quot;Penyakit ini berbasis lingkungan dan karena itu kita berharap masyarakat untuk bisa menjaga lingkungan tempat tinggal agar selalu bersih,&quot; kata Sri Wahyuningsih.

Seiring masih berlangsungnya curah hujan di provinsi ini, maka bukan tidak mungkin masih akan terjadi korban baik terpapar DBD maupun yang meninggal. Karena itu, setiap masyarakat diharap untuk bisa mawas diri dengan selalu membersihkan lingkungannya agar terhindar dari genangan yang menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk anopoheles.

Setidaknya langkah ini akan bisa mengurangi gigitan nyamuk itu yang membawa virus demam berdarah dengue.

</description><content:encoded>KUPANG - Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai mewabah di berbagai daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Tak tanggung-tanggung penyakit yang disebar virus dengue dibawa nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus itu pun telah menelan korban karena gigitannya.

Data Dinas Kesehatan Provinsi NTT hingga 28 Januari 2019 sudah ada 13 warga yang meninggal karena gigitan anopheles itu. Jumlah korban meninggal itu dari sisi jumlah sudah sangat mengkhawatirkan. Mengapa, karena baru di awal bulan di 2019. Jika dibanding dengan jumlah total kematian karena DBD selama 2018 (Januari-Desember) hanya berada pada angka 12 orang. Apakah itu tak mengkhawatirkan?

Selain jumlah korban meninggal, penyakit yang hanya mewabah di musim penghujan itu juga telah menyebabkan sedikitnya 1.028 orang harus dirawat intensif (data 1 Januari hingga 28 Januari 2019). Angka ini jika dibanding dengan 2018 silam, terpaut 305 penderita dan berada di angka 1.333 orang.


 
Petugas Dinas Kesehatan Kota Kupang sedang mempersiapkan bubuk abate untuk dibagikan secara cuma-cuma kepada warga untuk selanjutnya akan ditabur di dalam tempat air agar tidak menjadi sarang biak jentik aedes agypti yang membawa virus dengue. (Foto: Adi/Okezone)

Sejumlah daerah bahkan telah menikan status wabah DBD ini dengan menetapkan kejadian luar bisa (KLB). Menurut data dari Dinas Kesehatan Provinsi NTT, ada tiga kabupaten yang sudah mengalami peningkatan status menjadi KLB, yaitu Kota Kupang, Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Sumba Timur.

&quot;Kita sudah lakukan koordinasi secara masif dengan dinas kesehatan di semua daerah untuk selanjutnya berkoordinasi dengan pimpinan daerah untuk upaya penanganan setiap kasusnya,&quot; kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur Dominggus Minggu Mere.

Aksi nyata semua pihak harus segara dilakukan. Karena penyakit ini berbasis lingkungan, maka penting untuk menggerakan seluruh komponen masyarakat dalam kaitan dengan menjaga lingkungan tempat tinggal masing-masing.


Petugas kesehatan langsung terjun ke rumah masyarakat dan membagikan bubuk abate secara cuma-cuma dan memeriksa sejumlah tempat penampungan air warga. (Foto: Adi/Okezone)

&quot;Pekerjaan harus dimulai dari hulu dengan melakukan sejumlah aksi pemberantasan sarang nyamuk dengan pola mengubur, menutup dan menguras semua tempat dan barang yang bisa menjadi sarang kembang biak jentik nyamuk anopheles,&quot; katanya.

Secara kelembagaan dinas kesehatan provinsi telah memberi sejumlah bantuan untuk bisa menekan dampak lain dari mewabahnya DBD di sejumlah daerah. Bahkan Kementerian Kesehatan juga telah merespon untuk segera menyalurkan sejumlah bantuan berupa cairan larvasida.

&quot;Semuanya itu akan digunakan untuk penanganan penyebab penyakit DBD ini,&quot; katanya.



Dia juga mengatakan, koordinasi dengan paramedis di rumah sakit dan puskesmas serta sejumlah fasilitas layanan kesehatan lain terus dilakukan, dalam kaitan dengan percepatan penanganan penderita. Hal ini dimaksud untuk memungkinkan menekan jatuhnya korban meninggal.

&quot;DBD ini jika ditangani dengan cepat probabilitas untuk kematian itu bisa diperkecil,&quot; katanya.

Pasien Rumah Sakit Terus Meningkat

RSUD SK Lerik Kota Kupang menjadi salah satu tempat yang dipilih masyarakat untuk mendapatkan perawatan medis. Setidaknya data hingga 30 Januari 2019 tercatat ada 108 orang warga yang mendapatkan perawatan akibat DBD. Dari jumlah itu, jumlah pasien perempuan lebih banyak dari pasien laki-laki.

&quot;Untuk pasien perempuan berjumlah 62 orang dan pasien laki-laki 46 orang. Sementara yang sudah lebih dahulu mendapatkan perawatan di rumah sakit itu berjumlah 16 orang,&quot; kata Direktur RSUD SK Lerik Kupang dr Marciana Lili Halek.

Dari jumlah itu, menurut dia, pasien anak-anak berusia 0 sampai 16 tahun masih mendominasi. Untuk kelompok anak-anak ini, ada sebanyak 72 orang yang dirawat. Jumlah ini lalu dikategorikan untuk usia 0-4 tahun berjumlah 28 orang, usia 5-16 tahun berjumlah 44 orang. Sementara untuk usia 17 tahun ke atas ada sebanyak 36 orang pasien.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOS8wMS8zMC81LzExODQ0OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

&quot;Kami terus melakukan pelayanan terbaik bagi semua pasien, agar bisa segera sehat,&quot; kata dr Marciana.

Sementara itu Kepala Bidang Penanggulangan dan Pengamatan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Kupang Sri Wahyuningsih mengemukakan secara kelembagaan Pemerintah Kota Kupang telah menetapkan DBD sebagai KLB pada 23 Januari lalu. Hal itu setelah dilakukan sejumlah analisis dampak penyakit tersebut.

Dia mengatakan, berbagai upaya sudah dilakukan seiring penetapan status DBD menjadi KLB itu, antara lain, penyelidikan epidemiologi kasus, pembagian bubuk abate untuk ditabur di tempat penampungan air yang berjentik serta melakukan foging fokus.

Selain itu, Dinas Kesehatan Kota Kupang juga membuka posko 24 jam di 11 Puskesmas yang tersebar di 6 kecamatan dan 51 kelurahan daerah itu.

&quot;Posko 24 jam itu akan siap melayani dan menolong warga yang diduga terkena DBD untuk segera mendapatkan perawatan medis agar tidak menjadi parah,&quot; katanya.

Koordinasi dengan semua rumah sakit yang ada di daerah ini juga dilakukan dalam kaitan dengan pelayanan sekaligus pencatatan jumlah pasien DBD.

&quot;Jadi ada 12 rumah sakit di kota ini yang menjadi pintu masuk layanan dan juga sumber data kami untuk selanjutnya akan dilakukan penyelidikan epidemiologi,&quot; katanya.

Terkait ketersediaan obat-obatan, Sri Wahyuningsih mengaku masih sangat tersedia dan siap disuplai ke setiap puskesmas dan puskesmas pembantu yang ada di daerah ini.

Kepada masyarakat, diimbau untuk tetap menjaga lingkungan tempat tinggal agar tetap bersih dan tidak menjadi sarang pengembang biakan jentik nyamuk, serta terus melakukan aksi 3M plus.

&quot;Penyakit ini berbasis lingkungan dan karena itu kita berharap masyarakat untuk bisa menjaga lingkungan tempat tinggal agar selalu bersih,&quot; kata Sri Wahyuningsih.

Seiring masih berlangsungnya curah hujan di provinsi ini, maka bukan tidak mungkin masih akan terjadi korban baik terpapar DBD maupun yang meninggal. Karena itu, setiap masyarakat diharap untuk bisa mawas diri dengan selalu membersihkan lingkungannya agar terhindar dari genangan yang menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk anopoheles.

Setidaknya langkah ini akan bisa mengurangi gigitan nyamuk itu yang membawa virus demam berdarah dengue.

</content:encoded></item></channel></rss>
