<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Trauma Demam Berdarah Hantui Sragen</title><description>Seiring tingginya curah hujan yang turun belakangan ini, berdampak terhadap kesehatan manusia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/02/512/2012724/trauma-demam-berdarah-hantui-sragen</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/02/02/512/2012724/trauma-demam-berdarah-hantui-sragen"/><item><title>Trauma Demam Berdarah Hantui Sragen</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/02/512/2012724/trauma-demam-berdarah-hantui-sragen</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/02/02/512/2012724/trauma-demam-berdarah-hantui-sragen</guid><pubDate>Sabtu 02 Februari 2019 13:02 WIB</pubDate><dc:creator>Bramantyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/01/512/2012724/trauma-demam-berdarah-hantui-sragen-9J1D2tEUNe.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/01/512/2012724/trauma-demam-berdarah-hantui-sragen-9J1D2tEUNe.jpg</image><title></title></images><description>SRAGEN - Seiring tingginya curah hujan yang turun belakangan ini, berdampak terhadap kesehatan manusia. Genangan air yang dihasilkan dari hujan menimbulkan berbagai macam penyakit. Mulai dari flu, diare hingga demam berdarah. Poin terakhir inilah, yang saat ini hampir terjadi di seluruh wilayah d Indonesia, salah satunya di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Di Sragen, wabah mematikan yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti inipun begitu cepat menyebar di berbagai wilayah di kabupaten yang terkenal dengan julukan Bumi Sukowati ini. Merebaknya wabah yang dibawa oleh  nyamuk Aedes Aegypti membuat Pemerintah setempat kalang kabut. Bahkan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati langsung menetapkan status Kewaspadaan Kejadian Luar Biasa (KLB) wilayah yang dipimpinya.

Dari data yang diterima Bupati, sebanyak 588 terlapor kasus DBD di Kabupaten Sragen per 28 Januari 2019, namun yang terverifikasi positif DBD hanya 265 jiwa. Hal tersebut menunjukan &quot;Hantu DBD&quot; begitu menakutkan bagi warga Sragen dan sekitarnya.


&amp;nbsp;Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati (Foto: Bram/Okezone)
&quot;Data kasus DBD yang sudah masuk sebanyak 588 kasus menjadi 265 kasus,&quot; jelas Yuni pada wartawan di ruang kerjanya baru-baru ini.

Langkah cepat langsung diambil dengan menggelar rapat yang melibatkan unsur kesehatan. Mulai dari Dinas Kesehatan, Puskesmas dan rumah sakit. Yuni menyampaikan 588 kasus tersebut karena masyarakat terlalu dini menyebut itu adalah DBD.

&quot;Flu dikatakan DBD, trombosit turun dikatakan DBD, demam panas dikatakan DBD, masyarakat terlalui terburu-buru mengatakan DBD. Untuk itu saya minta dokter di setiap rumah sakit harus berhati-hati dalam mendiagnosis pasien demam berdarah atau bukan,&quot; ujarnya.

Dari 588 kasus DBD terverifikasi 347. Sebanyak 265 terverifikasi DBD, dan 82 terverifikasi Demam Dengue (DD).



&quot;Pemerintah Sragen per 15 Januari 2019 sudah melakukan intervensi atau tindakan agar tidak semakin banyaknya kasus DBD dengan mendirikan pos kesehatan di puskesmas yang tersebar di 20 kecamatan Kabupaten Sragen,&quot; jelasnya.

Pendirian posko DBD ini selain untuk menekan agar kasus Demam Berdarah turun, juga, ungkap Yuni, untuk intervensi permohonan masyarakat untuk Fogging dan melaksanakan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Yuni mengakui, meskipun jumlah penderita DBD mengalami penurunan, namun wilayah Utara Bengawan Solo seperti Kecamatan Mondokan, Tangen, Tanon, Sumberlawang, dan Gemolong masih berada di lima deretan daerah dengan penderita DBD paling banyak.

Penurunan data kasus DBD mulai dirasakan setelah 10 hari didirikan posko-posko siaga di setiap daerah. Angka kematian per 28 Januari sendiri dalam kasus DBD sebanyak 3 orang.

&quot;Melihat itu, kami menyatakan Kabupaten Sragen berstatus kewaspadaan Kejadian Luar Biasa (KLB),&quot; tegas Yuni.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOS8wMS8zMC81LzExODQ0OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Yuni optimis bahwa Pemerintah bisa mengurangi bahkan mencegah DBD di Kabupaten menjadi KLB. Yuni berharap semua lapisan masyarakat bisa mencegah terjadinya DBD.

&quot;Jika tidak waspada status KLB bisa benar-benar terjadi,&quot; ujar.

Senada, Kepala Dinas Kabupaten Sragen Hargiyanto mengatakan  penanganan intensif di masa musim tak menentu ini terus dilakukan. Salah  satunya dengan mendirikan posko kewaspadaan. Saat ini, posko  kewaspadaan itu sudah berdiri di 20 Kecamatan.

&quot;Kewaspadaan di kelurahaan puskesmas, rumah sakit. Di setiap desa  posko berdiri dikoordinasi bidan desa. Di kecamatan juga dibuat posko.  Di dinas kita juga buat. Jadi kita harus waspada karena karena musimnya  ini loh. Kadang hujan terus panas dan hujan lagi. Tidak menentu,&quot;papar  Hargiyanto.

Diakui Hargiyanto, di awal bulan Januari 2019 ini saja, sudah tiga  orang warga terserang Demam Berdarah. Adannya warga yang terkena demam  berdarah membuat pihaknya bergerak cepat dengan memerintahkan pada  seluruh puskesmas hingga rumah sakit untuk terus memperbaharui data  informasi ketersediaan kamar.

Informasi ketersediaan kamar, baik di Puskesmas mapun di rumah sakit  ini sangat dibutuhkan. Pasalnya, begitu mendapatkan warga yang butuh  pertolongan cepat, pihaknya bisa mengetahui puskesmas mana atau rumah  sakit mana yang kamarnya masih tersedia.



&quot;Kalau rumah sakit yang di stand bye kan khusus penderita Demam  Berdarah, tidak ada. Tapi, kita mewajibkan puskesmas maupun rumah sakit  untuk terus memperbahurui kamar-kamar yang kosong berapa. Jadi begitu  ada kejadian, kita tahu mana puskesmas yang kamarnya ada dan mana rumah  sakit yang kamarnya tersedia,&quot;terangnya.

Namun yang terpenting, ungkap Hargiyanto, masyarakat tidak menganggap  gerakan Menguras, Menutup dan Mengubur (3M), itu angin lalu. Pasalnya,  meskipun sosialisasi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan  3M terus dilakukan, namun respon masyarakat terhadap gerakan itu sangat  minim sekali.

&quot;Yang terpenting itu bagaimana menyadarkan masyarakat pemberantasan  sarang nyamun melalui gerakan 3M. Pasalnya selama ini masyarakat kerap  menggap gerakan 3M itu angin lalu belaka,&quot; terangnya.

Pandangan berbeda justru di utarakan anggota Komisi IV DPRD Sragen  dari Fraksi PKB Faturahman. Menurut Faturahman, status kewaspadaan  Kejadian Luar Biasa seharusnya tidak perlu diterapkan bila masing-masing  pihak, mulai dari Bupati hingga lapisan terbawah sadar akan kebersihan  lingkungan.

Apalagi wabah Demam Berdarah yang belakangan ini kembali merebak itu  merupakan siklus lima tahunan. Namun yang terjadi, banyak masyarakat  yang lupa bila ada kemarau panjang terjadi, pasti dalam waktu dekat akan  terjadi musim penghujan yang juga panjang.

&quot;Masyarakat memang antisispasinya kurang. Mereka lupa begitu terjadi  kemarau panjang, kita lupa sebentar lagi pasti turun hujan. Nah, ini  yang menjadi problem. Jadi masyarakat terlena dengan kondisi itu dan  akhirnya banyakalah bintik nyamuk tumbuh dilingkungan masyarakat,&quot; ucap  Faturahman pada Okezone.

Agar kasus ini tak terulang kembali setiap tahunnya, maka perlu  dilakukan penangan khusus. Dimana, mulai dari Dinas Kesehatan hingga  pemerintahan di tingkat desa, perlu adannya kerjasama. Apalagi pimpinan  di Kabupaten Sragen adalah seorang dokter yang sangat paham apa yang  seharusnya dilakukan.

Salah satunya, ada gerakan secara keseluruhan melibatkan mayarakat  untuk serentak se kabupaten yang dikoordinator lurah masing-masing  ditiap desa untuk menetapkan satu hari atau dua hari guna melakukan  bersih-bersih lingkungan.

&quot;Bupati harus terjun langsung untuk membuka gerakan itu. Tanpa itu  sulit dan akan terus terulang dan terulang lagi. Termasuk salah satunya  kita tidak mengantisipasi alokasi di APBD untuk menangani masalah Demam  Berdarah. Tapi meski tidak menganggarkan, bisa kita ambil di pos  lain-lain,&quot;terangnya.

Merebaknya Wabah demam berdarah di semua desa di wilayah Kabupaten  Sragen membuat permohonan untuk dilakukan fogging atau pengasapan yang  masuk ke Rescue Partai Perindo pun melonjak. Ketua DPD Rescue Partai  Perindo Kabupaten Sragen Abdullah mengakui banyak permohonan dari warga  yang masuk kepihaknya untuk dilakukan fogging.



&quot;Permohonan untuk dilakukan fogging yang masuk pada kami, mengalami  peningkatan. Permohonan fogging itu dilakukan karena warga banyak yang  takut bila wabah Demam Berdara merebah,&quot;terang Abdullah pada Okezone.

Diakui oleh Abdullah, permohonan paling banyak wilayahnya di-fogging,  datang dari daerah-daerah di Kabupaten Sragen yang letaknya berdekatan  dengan aliran sungai Bengawan Solo. Guna mengantispasi penyebaran nyamuk  DBD saat musim pancaroba ini,  secara bertahap, rescue Perindo pun  mulai melakukan fogging sesuai permintaan warga.Menurutnya, atas  kesigapan dari rescue perindo, warga setempat sangat antusias mendapat  fogging

&amp;ldquo;Kebetulan ada permintaan warga, kita langsung merespons cepat. Kemarin minta, hari ini langsung kita tindak,&amp;rdquo; ujarnya.

</description><content:encoded>SRAGEN - Seiring tingginya curah hujan yang turun belakangan ini, berdampak terhadap kesehatan manusia. Genangan air yang dihasilkan dari hujan menimbulkan berbagai macam penyakit. Mulai dari flu, diare hingga demam berdarah. Poin terakhir inilah, yang saat ini hampir terjadi di seluruh wilayah d Indonesia, salah satunya di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Di Sragen, wabah mematikan yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti inipun begitu cepat menyebar di berbagai wilayah di kabupaten yang terkenal dengan julukan Bumi Sukowati ini. Merebaknya wabah yang dibawa oleh  nyamuk Aedes Aegypti membuat Pemerintah setempat kalang kabut. Bahkan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati langsung menetapkan status Kewaspadaan Kejadian Luar Biasa (KLB) wilayah yang dipimpinya.

Dari data yang diterima Bupati, sebanyak 588 terlapor kasus DBD di Kabupaten Sragen per 28 Januari 2019, namun yang terverifikasi positif DBD hanya 265 jiwa. Hal tersebut menunjukan &quot;Hantu DBD&quot; begitu menakutkan bagi warga Sragen dan sekitarnya.


&amp;nbsp;Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati (Foto: Bram/Okezone)
&quot;Data kasus DBD yang sudah masuk sebanyak 588 kasus menjadi 265 kasus,&quot; jelas Yuni pada wartawan di ruang kerjanya baru-baru ini.

Langkah cepat langsung diambil dengan menggelar rapat yang melibatkan unsur kesehatan. Mulai dari Dinas Kesehatan, Puskesmas dan rumah sakit. Yuni menyampaikan 588 kasus tersebut karena masyarakat terlalu dini menyebut itu adalah DBD.

&quot;Flu dikatakan DBD, trombosit turun dikatakan DBD, demam panas dikatakan DBD, masyarakat terlalui terburu-buru mengatakan DBD. Untuk itu saya minta dokter di setiap rumah sakit harus berhati-hati dalam mendiagnosis pasien demam berdarah atau bukan,&quot; ujarnya.

Dari 588 kasus DBD terverifikasi 347. Sebanyak 265 terverifikasi DBD, dan 82 terverifikasi Demam Dengue (DD).



&quot;Pemerintah Sragen per 15 Januari 2019 sudah melakukan intervensi atau tindakan agar tidak semakin banyaknya kasus DBD dengan mendirikan pos kesehatan di puskesmas yang tersebar di 20 kecamatan Kabupaten Sragen,&quot; jelasnya.

Pendirian posko DBD ini selain untuk menekan agar kasus Demam Berdarah turun, juga, ungkap Yuni, untuk intervensi permohonan masyarakat untuk Fogging dan melaksanakan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Yuni mengakui, meskipun jumlah penderita DBD mengalami penurunan, namun wilayah Utara Bengawan Solo seperti Kecamatan Mondokan, Tangen, Tanon, Sumberlawang, dan Gemolong masih berada di lima deretan daerah dengan penderita DBD paling banyak.

Penurunan data kasus DBD mulai dirasakan setelah 10 hari didirikan posko-posko siaga di setiap daerah. Angka kematian per 28 Januari sendiri dalam kasus DBD sebanyak 3 orang.

&quot;Melihat itu, kami menyatakan Kabupaten Sragen berstatus kewaspadaan Kejadian Luar Biasa (KLB),&quot; tegas Yuni.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOS8wMS8zMC81LzExODQ0OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Yuni optimis bahwa Pemerintah bisa mengurangi bahkan mencegah DBD di Kabupaten menjadi KLB. Yuni berharap semua lapisan masyarakat bisa mencegah terjadinya DBD.

&quot;Jika tidak waspada status KLB bisa benar-benar terjadi,&quot; ujar.

Senada, Kepala Dinas Kabupaten Sragen Hargiyanto mengatakan  penanganan intensif di masa musim tak menentu ini terus dilakukan. Salah  satunya dengan mendirikan posko kewaspadaan. Saat ini, posko  kewaspadaan itu sudah berdiri di 20 Kecamatan.

&quot;Kewaspadaan di kelurahaan puskesmas, rumah sakit. Di setiap desa  posko berdiri dikoordinasi bidan desa. Di kecamatan juga dibuat posko.  Di dinas kita juga buat. Jadi kita harus waspada karena karena musimnya  ini loh. Kadang hujan terus panas dan hujan lagi. Tidak menentu,&quot;papar  Hargiyanto.

Diakui Hargiyanto, di awal bulan Januari 2019 ini saja, sudah tiga  orang warga terserang Demam Berdarah. Adannya warga yang terkena demam  berdarah membuat pihaknya bergerak cepat dengan memerintahkan pada  seluruh puskesmas hingga rumah sakit untuk terus memperbaharui data  informasi ketersediaan kamar.

Informasi ketersediaan kamar, baik di Puskesmas mapun di rumah sakit  ini sangat dibutuhkan. Pasalnya, begitu mendapatkan warga yang butuh  pertolongan cepat, pihaknya bisa mengetahui puskesmas mana atau rumah  sakit mana yang kamarnya masih tersedia.



&quot;Kalau rumah sakit yang di stand bye kan khusus penderita Demam  Berdarah, tidak ada. Tapi, kita mewajibkan puskesmas maupun rumah sakit  untuk terus memperbahurui kamar-kamar yang kosong berapa. Jadi begitu  ada kejadian, kita tahu mana puskesmas yang kamarnya ada dan mana rumah  sakit yang kamarnya tersedia,&quot;terangnya.

Namun yang terpenting, ungkap Hargiyanto, masyarakat tidak menganggap  gerakan Menguras, Menutup dan Mengubur (3M), itu angin lalu. Pasalnya,  meskipun sosialisasi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan  3M terus dilakukan, namun respon masyarakat terhadap gerakan itu sangat  minim sekali.

&quot;Yang terpenting itu bagaimana menyadarkan masyarakat pemberantasan  sarang nyamun melalui gerakan 3M. Pasalnya selama ini masyarakat kerap  menggap gerakan 3M itu angin lalu belaka,&quot; terangnya.

Pandangan berbeda justru di utarakan anggota Komisi IV DPRD Sragen  dari Fraksi PKB Faturahman. Menurut Faturahman, status kewaspadaan  Kejadian Luar Biasa seharusnya tidak perlu diterapkan bila masing-masing  pihak, mulai dari Bupati hingga lapisan terbawah sadar akan kebersihan  lingkungan.

Apalagi wabah Demam Berdarah yang belakangan ini kembali merebak itu  merupakan siklus lima tahunan. Namun yang terjadi, banyak masyarakat  yang lupa bila ada kemarau panjang terjadi, pasti dalam waktu dekat akan  terjadi musim penghujan yang juga panjang.

&quot;Masyarakat memang antisispasinya kurang. Mereka lupa begitu terjadi  kemarau panjang, kita lupa sebentar lagi pasti turun hujan. Nah, ini  yang menjadi problem. Jadi masyarakat terlena dengan kondisi itu dan  akhirnya banyakalah bintik nyamuk tumbuh dilingkungan masyarakat,&quot; ucap  Faturahman pada Okezone.

Agar kasus ini tak terulang kembali setiap tahunnya, maka perlu  dilakukan penangan khusus. Dimana, mulai dari Dinas Kesehatan hingga  pemerintahan di tingkat desa, perlu adannya kerjasama. Apalagi pimpinan  di Kabupaten Sragen adalah seorang dokter yang sangat paham apa yang  seharusnya dilakukan.

Salah satunya, ada gerakan secara keseluruhan melibatkan mayarakat  untuk serentak se kabupaten yang dikoordinator lurah masing-masing  ditiap desa untuk menetapkan satu hari atau dua hari guna melakukan  bersih-bersih lingkungan.

&quot;Bupati harus terjun langsung untuk membuka gerakan itu. Tanpa itu  sulit dan akan terus terulang dan terulang lagi. Termasuk salah satunya  kita tidak mengantisipasi alokasi di APBD untuk menangani masalah Demam  Berdarah. Tapi meski tidak menganggarkan, bisa kita ambil di pos  lain-lain,&quot;terangnya.

Merebaknya Wabah demam berdarah di semua desa di wilayah Kabupaten  Sragen membuat permohonan untuk dilakukan fogging atau pengasapan yang  masuk ke Rescue Partai Perindo pun melonjak. Ketua DPD Rescue Partai  Perindo Kabupaten Sragen Abdullah mengakui banyak permohonan dari warga  yang masuk kepihaknya untuk dilakukan fogging.



&quot;Permohonan untuk dilakukan fogging yang masuk pada kami, mengalami  peningkatan. Permohonan fogging itu dilakukan karena warga banyak yang  takut bila wabah Demam Berdara merebah,&quot;terang Abdullah pada Okezone.

Diakui oleh Abdullah, permohonan paling banyak wilayahnya di-fogging,  datang dari daerah-daerah di Kabupaten Sragen yang letaknya berdekatan  dengan aliran sungai Bengawan Solo. Guna mengantispasi penyebaran nyamuk  DBD saat musim pancaroba ini,  secara bertahap, rescue Perindo pun  mulai melakukan fogging sesuai permintaan warga.Menurutnya, atas  kesigapan dari rescue perindo, warga setempat sangat antusias mendapat  fogging

&amp;ldquo;Kebetulan ada permintaan warga, kita langsung merespons cepat. Kemarin minta, hari ini langsung kita tindak,&amp;rdquo; ujarnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
