<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kebijakan Lampion Menyala Sebulan Penuh di Solo Diprotes </title><description>Pemasangan lampion selama sebulan penuh dinilai berlebihan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/02/512/2012799/kebijakan-lampion-menyala-sebulan-penuh-di-solo-diprotes</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/02/02/512/2012799/kebijakan-lampion-menyala-sebulan-penuh-di-solo-diprotes"/><item><title>Kebijakan Lampion Menyala Sebulan Penuh di Solo Diprotes </title><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/02/512/2012799/kebijakan-lampion-menyala-sebulan-penuh-di-solo-diprotes</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/02/02/512/2012799/kebijakan-lampion-menyala-sebulan-penuh-di-solo-diprotes</guid><pubDate>Sabtu 02 Februari 2019 08:47 WIB</pubDate><dc:creator>Bramantyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/02/512/2012799/kebijakan-lampion-menyala-sebulan-penuh-di-solo-diprotes-ai9SlgLIWG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Lampion di Pasar Gedhe Surakarta. (Foto : Bramantyo/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/02/512/2012799/kebijakan-lampion-menyala-sebulan-penuh-di-solo-diprotes-ai9SlgLIWG.jpg</image><title>Lampion di Pasar Gedhe Surakarta. (Foto : Bramantyo/Okezone)</title></images><description>SOLO -  Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) sempat melayangkan protes terhadap pemasangan lampion sebagai salah satu ciri khas perayaan Imlek  di sekitar Pasar Gedhe Surakarta yang dinilai terlalu berlebihan.
Hal tersebut disampaikan Humas LUIS, Endro Sudarsono. Ia menyatakan dirinya sudah menggelar audiensi dan bertemu pemangku kebijakan Kota Solo. Kehadirannya bersama rombongan bertemu dengan Wakil Wali Kota Solo, Achmad Purnomo.
&quot;Kami meminta agat Pemkot Solo  menertibkannya. Kita sampaikan pada pak wakil yang intinya pasangan lampion yang akan menyala selama 30 hari ke depan itu berlebihan,&quot; ucap Endro kepada Okezone, Jumat (1/2/2019).



Hal itu, menurutnya, mengingat perayaan tahun baru Hijrah, Masehi dan tahun baru Saka itu hanya berkisar 1-3 hari.
&quot;Kami keberatan janganlah terlalu berlebihan. Bahkan sempat jalan tersebut ditutup. Kan merepotkan masyarakat juga,&quot; tuturnya.

Terlebih lagi imbasnya  terjadi kemacetan di mana-mana karena ada rekayasa lalu lintas. Tentunya itu dapat mengganggu ruang publik lantaran masyarakat harus memutar jauh.



&quot;Kami prihatin waktu azan magrib, isya' remaja-remaja kita ada di sana, padahal itu waktunya salat,&quot; ujarnya.
Menurutnya, silakan saja merayakan Imlek, tapi waktunya disesuaikan. Jika itu dilakukan di tempat ibadah (Klenteng) pihaknya tidak pernah mempersoalkannya.  Endro juga menambahkan dibandingkan  dengan Tahun Baru Masehi kan hanya  hari, namun untuk Imlek sampai sebulan penuh.
&quot;Tapi kalau ini digelar di ruang publik dari Tugu (Tugu Titik Nol kilometer) hingga Gladag maka kita menyatakan protes,&quot; katanya.

(Baca Juga : Mengintip Tahun Baru Imlek di Negeri Syariat Islam)

Ia menyampaikan, ini adalah protes yang kedua kalinya. Sebelumnya pada 2018, pihaknya juga sudah melakukan aksi protes. Kali ini pihaknya sudah sampaikan pada wakil walikota Solo dan nanti puncaknya disampaikan pada Wali Kota FX Hadi Rudyatmo.
&quot;Pak Wawali sebut akan  sampaikan (wali kota dan pihak lain) demi kebaikan bersama,&quot; tuturnya.




</description><content:encoded>SOLO -  Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) sempat melayangkan protes terhadap pemasangan lampion sebagai salah satu ciri khas perayaan Imlek  di sekitar Pasar Gedhe Surakarta yang dinilai terlalu berlebihan.
Hal tersebut disampaikan Humas LUIS, Endro Sudarsono. Ia menyatakan dirinya sudah menggelar audiensi dan bertemu pemangku kebijakan Kota Solo. Kehadirannya bersama rombongan bertemu dengan Wakil Wali Kota Solo, Achmad Purnomo.
&quot;Kami meminta agat Pemkot Solo  menertibkannya. Kita sampaikan pada pak wakil yang intinya pasangan lampion yang akan menyala selama 30 hari ke depan itu berlebihan,&quot; ucap Endro kepada Okezone, Jumat (1/2/2019).



Hal itu, menurutnya, mengingat perayaan tahun baru Hijrah, Masehi dan tahun baru Saka itu hanya berkisar 1-3 hari.
&quot;Kami keberatan janganlah terlalu berlebihan. Bahkan sempat jalan tersebut ditutup. Kan merepotkan masyarakat juga,&quot; tuturnya.

Terlebih lagi imbasnya  terjadi kemacetan di mana-mana karena ada rekayasa lalu lintas. Tentunya itu dapat mengganggu ruang publik lantaran masyarakat harus memutar jauh.



&quot;Kami prihatin waktu azan magrib, isya' remaja-remaja kita ada di sana, padahal itu waktunya salat,&quot; ujarnya.
Menurutnya, silakan saja merayakan Imlek, tapi waktunya disesuaikan. Jika itu dilakukan di tempat ibadah (Klenteng) pihaknya tidak pernah mempersoalkannya.  Endro juga menambahkan dibandingkan  dengan Tahun Baru Masehi kan hanya  hari, namun untuk Imlek sampai sebulan penuh.
&quot;Tapi kalau ini digelar di ruang publik dari Tugu (Tugu Titik Nol kilometer) hingga Gladag maka kita menyatakan protes,&quot; katanya.

(Baca Juga : Mengintip Tahun Baru Imlek di Negeri Syariat Islam)

Ia menyampaikan, ini adalah protes yang kedua kalinya. Sebelumnya pada 2018, pihaknya juga sudah melakukan aksi protes. Kali ini pihaknya sudah sampaikan pada wakil walikota Solo dan nanti puncaknya disampaikan pada Wali Kota FX Hadi Rudyatmo.
&quot;Pak Wawali sebut akan  sampaikan (wali kota dan pihak lain) demi kebaikan bersama,&quot; tuturnya.




</content:encoded></item></channel></rss>
