<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Optimasi Lahan Rawa Dinilai Percepat Realisasi Kedaulatan Pangan   </title><description>Program pertambahan cetak area sawah baru dinilai akan mempercepat kedaulatan pangan nasional.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/07/1/2014712/optimasi-lahan-rawa-dinilai-percepat-realisasi-kedaulatan-pangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/02/07/1/2014712/optimasi-lahan-rawa-dinilai-percepat-realisasi-kedaulatan-pangan"/><item><title>Optimasi Lahan Rawa Dinilai Percepat Realisasi Kedaulatan Pangan   </title><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/07/1/2014712/optimasi-lahan-rawa-dinilai-percepat-realisasi-kedaulatan-pangan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/02/07/1/2014712/optimasi-lahan-rawa-dinilai-percepat-realisasi-kedaulatan-pangan</guid><pubDate>Kamis 07 Februari 2019 10:29 WIB</pubDate><dc:creator>Abu Sahma Pane</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/07/1/2014712/optimasi-lahan-rawa-dinilai-percepat-realisasi-kedaulatan-pangan-1MmvUB6FeP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: dok.Humas Kementan</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/07/1/2014712/optimasi-lahan-rawa-dinilai-percepat-realisasi-kedaulatan-pangan-1MmvUB6FeP.jpg</image><title>Foto: dok.Humas Kementan</title></images><description>JAKARTA - Kinerja Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah Pemerintahan Jokowi Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) yang ingin mencetak pertambahan sawah baru melalui terobosan optimasi lahan rawa menuai pujian. Salah satunya dari mantan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo.

Menurut Siswono, melalui program pertambahan cetak area sawah baru, akan mempercepat terealisasinya kemandirian dan kedaulatan pangan nasional.

&quot;Saya mendukung usaha pemerintah untuk terus mencetak sawah baru dengan berbagai cara, terobosan inovasi dan pemanfaatan, termasuk mengoptimasi lahan rawa,&quot; ujarnya, Selasa 5 Februari 2019.

Siswono berharap Kementan menggandeng pemerintah daerah dalam usaha menuju pertambahan cetak sawah baru, seperti dalam melakukan terobosan pemanfaatan lahan rawa, sehingga pemerintah di daerah juga mempunyai kiat lain guna mensejahterakan masyarakatnya, tanpa tergantung terhadap pemerintah pusat.

&quot;Kan bisa didorong dengan alokasi pembiayaan dari APBD, jadi enggak mengandalkan pusat saja. Kalau tidak begitu, nanti kita bisa terus impor pangan,&quot; ujar Siswono.

Ia juga menuturkan bahwa yang juga perlu diperhatikan setelah mencetak sawah baru adalah soal jenis komoditas pangan yang akan ditanam. Dikatakannya, keseimbangan antara bertambahnya pemanfaatan lahan untuk sawah baru dan komoditas ditanam akan menghasilkan produksi pertanian yang meningkat serta tak lagi mengandalkan impor.

Sejak 2014 hingga 2018, pemerintah melalui Kementan telah menambah cetak sawah baru hingga mencapai 215.811 hektare. Namun Kementan juga mencoba mengoptimalkan lahan rawa menjadi sawah baru sejak 2016.&amp;nbsp;

Tahun 2016 lahan rawa yang dimanfaatkan sebagai sawah baru berjumlah 3.999 hektare. Lalu tahun 2017 menjadi 3.529 hektare, dan 2018 seluas 16.400 haktare. Kementan menyatakan potensi produksi pertanian dari lahan rawa bisa mencapai 7,4 ton per hektare.

Lebih lanjut, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, telah diproyeksi sebagai wilayah penambahan cetak sawah baru dengan area lahan rawa.

Sekretaris Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Mulyadi Hendiawan mengatakan, lahan rawa memiliki keunggulan soal ketersediaan air dibandingkan dengan lahan sawah lainnya. Air di sawah lahan rawa bisa tersedia sepanjang tahun.

&quot;Keunggulan utama lahan rawa adalah airnya tersedia sepanjang tahun. Jadi, di saat wilayah lain kemarau dan kekeringan, lahan rawa justru dapat berproduksi optimal dan panen raya,&quot; kata Mulyadi.

Ia mengatakan, Kementan terus melakukan pengembangan lahan pertanian dengan memanfaatkan rawa sebagai lahan produktif. Setidaknya ada 34,1 juta hektar yang saat ini masuk tahap proses garapan, dengan 9,2 juta hektare di antaranya dimanfaatkan untuk pertanian sawah dan hortikultura. Lahan tersebut saat ini tersebar di tiga pulau besar, yakni Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

&quot;Untuk padi atau sawah sudah mencapai 14,2 juta hektar, hortikultura mencapai 3,1 juta hektar, dan tanaman tahunan mencapai 1,9 juta hektar,&quot; pungkas Mulyadi.


</description><content:encoded>JAKARTA - Kinerja Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah Pemerintahan Jokowi Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) yang ingin mencetak pertambahan sawah baru melalui terobosan optimasi lahan rawa menuai pujian. Salah satunya dari mantan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo.

Menurut Siswono, melalui program pertambahan cetak area sawah baru, akan mempercepat terealisasinya kemandirian dan kedaulatan pangan nasional.

&quot;Saya mendukung usaha pemerintah untuk terus mencetak sawah baru dengan berbagai cara, terobosan inovasi dan pemanfaatan, termasuk mengoptimasi lahan rawa,&quot; ujarnya, Selasa 5 Februari 2019.

Siswono berharap Kementan menggandeng pemerintah daerah dalam usaha menuju pertambahan cetak sawah baru, seperti dalam melakukan terobosan pemanfaatan lahan rawa, sehingga pemerintah di daerah juga mempunyai kiat lain guna mensejahterakan masyarakatnya, tanpa tergantung terhadap pemerintah pusat.

&quot;Kan bisa didorong dengan alokasi pembiayaan dari APBD, jadi enggak mengandalkan pusat saja. Kalau tidak begitu, nanti kita bisa terus impor pangan,&quot; ujar Siswono.

Ia juga menuturkan bahwa yang juga perlu diperhatikan setelah mencetak sawah baru adalah soal jenis komoditas pangan yang akan ditanam. Dikatakannya, keseimbangan antara bertambahnya pemanfaatan lahan untuk sawah baru dan komoditas ditanam akan menghasilkan produksi pertanian yang meningkat serta tak lagi mengandalkan impor.

Sejak 2014 hingga 2018, pemerintah melalui Kementan telah menambah cetak sawah baru hingga mencapai 215.811 hektare. Namun Kementan juga mencoba mengoptimalkan lahan rawa menjadi sawah baru sejak 2016.&amp;nbsp;

Tahun 2016 lahan rawa yang dimanfaatkan sebagai sawah baru berjumlah 3.999 hektare. Lalu tahun 2017 menjadi 3.529 hektare, dan 2018 seluas 16.400 haktare. Kementan menyatakan potensi produksi pertanian dari lahan rawa bisa mencapai 7,4 ton per hektare.

Lebih lanjut, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, telah diproyeksi sebagai wilayah penambahan cetak sawah baru dengan area lahan rawa.

Sekretaris Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Mulyadi Hendiawan mengatakan, lahan rawa memiliki keunggulan soal ketersediaan air dibandingkan dengan lahan sawah lainnya. Air di sawah lahan rawa bisa tersedia sepanjang tahun.

&quot;Keunggulan utama lahan rawa adalah airnya tersedia sepanjang tahun. Jadi, di saat wilayah lain kemarau dan kekeringan, lahan rawa justru dapat berproduksi optimal dan panen raya,&quot; kata Mulyadi.

Ia mengatakan, Kementan terus melakukan pengembangan lahan pertanian dengan memanfaatkan rawa sebagai lahan produktif. Setidaknya ada 34,1 juta hektar yang saat ini masuk tahap proses garapan, dengan 9,2 juta hektare di antaranya dimanfaatkan untuk pertanian sawah dan hortikultura. Lahan tersebut saat ini tersebar di tiga pulau besar, yakni Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

&quot;Untuk padi atau sawah sudah mencapai 14,2 juta hektar, hortikultura mencapai 3,1 juta hektar, dan tanaman tahunan mencapai 1,9 juta hektar,&quot; pungkas Mulyadi.


</content:encoded></item></channel></rss>
