<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ditemukan di Kantor Damkar, Prasasti Peninggalan Pakubuwono X Diminta Dikembalikan ke Keraton Surakarta</title><description>Prasasti berbahasa Belanda yang dipahat di atas batu marmer itu diduga berasal dari lingkungan Keraton.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/13/512/2017500/ditemukan-di-kantor-damkar-prasasti-peninggalan-pakubuwono-x-diminta-dikembalikan-ke-keraton-surakarta</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/02/13/512/2017500/ditemukan-di-kantor-damkar-prasasti-peninggalan-pakubuwono-x-diminta-dikembalikan-ke-keraton-surakarta"/><item><title>Ditemukan di Kantor Damkar, Prasasti Peninggalan Pakubuwono X Diminta Dikembalikan ke Keraton Surakarta</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/13/512/2017500/ditemukan-di-kantor-damkar-prasasti-peninggalan-pakubuwono-x-diminta-dikembalikan-ke-keraton-surakarta</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/02/13/512/2017500/ditemukan-di-kantor-damkar-prasasti-peninggalan-pakubuwono-x-diminta-dikembalikan-ke-keraton-surakarta</guid><pubDate>Rabu 13 Februari 2019 18:00 WIB</pubDate><dc:creator>Bramantyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/13/512/2017500/ditemukan-di-kantor-damkar-prasasti-peninggalan-pakubuwono-x-diminta-dikembalikan-ke-keraton-surakarta-J64pKCMW7f.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Marmer prasasti peninggalan Pakubuwono X dijadikan alas meja di Kantor Damkar Solo. (Foto : Bramantyo/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/13/512/2017500/ditemukan-di-kantor-damkar-prasasti-peninggalan-pakubuwono-x-diminta-dikembalikan-ke-keraton-surakarta-J64pKCMW7f.jpg</image><title>Marmer prasasti peninggalan Pakubuwono X dijadikan alas meja di Kantor Damkar Solo. (Foto : Bramantyo/Okezone)</title></images><description>SOLO &amp;ndash; Juru Bicara Kerabat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Eddy Wirabhumi menyebut temuan lempengan prasasti berbahasa Belanda yang dipahat di atas batu marmer berbentuk segi empat berukuran  1x1,5 meter dan ketebalan 7 sentimeter dimungkinkan berasal dari lingkungan Keraton Surakarta.
Hal itu dikuatkan juga dengan isi ukiran di atas marmer yang bertuliskan kalimat dalam bahasa Belanda yakni &quot;Deza ingang werd opgeridht in 1930 huldeblijk der Europee sche ingezetenen aan Z.H Pakoe Boewono X Soesoehoenan van Soerakarta bij Hoogstdezzelfs 64 sten verjaardag op 3 Januari 1929&quot;.
&quot;Kemungkinan benda tersebut berasal dari Keraton Solo. Kemungkinan besar berasal dari area Keraton Surakarta, karena saat itu kantor Pemadam (Kebakaran) berada di Alun-Alun Utara,&quot; kata Eddy Wirabumi, Rabu (13/2/2019).



Disampaikan juga sebelum digunakan sebagai kantor pemadam, lokasi tersebut yang berada di alun-alun utara merupakan semacam kantor PU-nya Keraton. Setelah pindah kantor, sangat mungkin lempengan prasasti peninggalan Pakubuwono X itu terbawa ke sana.
&quot;Yang bertanggung jawab terkait proses-proses perbaikan yang ada di  Keraton Surakarta. Di sana kan lagi wae (pos pemadam Pedaringan). Nek nonton tahunnya enggak mungkin dari sana, pasti dari sini (Keraton),&quot; ucapnya.



Menurut Wirabumi, memang ada baiknya barang tersebut dikembalikan ke pihak Keraton. Selain dikembalikan, perlu juga dilakukan penelusuran bersama-sama dengan berbagai pihak dengan melibatkan pemerhati dan cagar budaya. Informasinya, prasasti yang ditemukan ini biasanya digunakan sebagai penanda batas wilayah.

(Baca Juga : Heboh Prasasti Pakoe Boewono X Jadi Alas Meja Kantor Damkar)

&quot;Kita (Keraton Surakarta) sharing sama-sama untuk mencari tahu prasasti tersebut,&quot; tuturnya.
Dengan begitu, menurutnya, semuanya diharapkan bisa menjadi jelas. Tidak hanya dikembalikan lagi pada Keraton Surakarta, tapi perlu juga tidak dicari asal-muasal prasasti tersebut untuk memberikan tambahan pengetahuan kepada masyarakat di generasi mendatang.

</description><content:encoded>SOLO &amp;ndash; Juru Bicara Kerabat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Eddy Wirabhumi menyebut temuan lempengan prasasti berbahasa Belanda yang dipahat di atas batu marmer berbentuk segi empat berukuran  1x1,5 meter dan ketebalan 7 sentimeter dimungkinkan berasal dari lingkungan Keraton Surakarta.
Hal itu dikuatkan juga dengan isi ukiran di atas marmer yang bertuliskan kalimat dalam bahasa Belanda yakni &quot;Deza ingang werd opgeridht in 1930 huldeblijk der Europee sche ingezetenen aan Z.H Pakoe Boewono X Soesoehoenan van Soerakarta bij Hoogstdezzelfs 64 sten verjaardag op 3 Januari 1929&quot;.
&quot;Kemungkinan benda tersebut berasal dari Keraton Solo. Kemungkinan besar berasal dari area Keraton Surakarta, karena saat itu kantor Pemadam (Kebakaran) berada di Alun-Alun Utara,&quot; kata Eddy Wirabumi, Rabu (13/2/2019).



Disampaikan juga sebelum digunakan sebagai kantor pemadam, lokasi tersebut yang berada di alun-alun utara merupakan semacam kantor PU-nya Keraton. Setelah pindah kantor, sangat mungkin lempengan prasasti peninggalan Pakubuwono X itu terbawa ke sana.
&quot;Yang bertanggung jawab terkait proses-proses perbaikan yang ada di  Keraton Surakarta. Di sana kan lagi wae (pos pemadam Pedaringan). Nek nonton tahunnya enggak mungkin dari sana, pasti dari sini (Keraton),&quot; ucapnya.



Menurut Wirabumi, memang ada baiknya barang tersebut dikembalikan ke pihak Keraton. Selain dikembalikan, perlu juga dilakukan penelusuran bersama-sama dengan berbagai pihak dengan melibatkan pemerhati dan cagar budaya. Informasinya, prasasti yang ditemukan ini biasanya digunakan sebagai penanda batas wilayah.

(Baca Juga : Heboh Prasasti Pakoe Boewono X Jadi Alas Meja Kantor Damkar)

&quot;Kita (Keraton Surakarta) sharing sama-sama untuk mencari tahu prasasti tersebut,&quot; tuturnya.
Dengan begitu, menurutnya, semuanya diharapkan bisa menjadi jelas. Tidak hanya dikembalikan lagi pada Keraton Surakarta, tapi perlu juga tidak dicari asal-muasal prasasti tersebut untuk memberikan tambahan pengetahuan kepada masyarakat di generasi mendatang.

</content:encoded></item></channel></rss>
