<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harapan Warga Betawi agar Tradisi Palang Pintu Tetap Lestari</title><description>Tradisi palang pintu merupakan sebuah kesenian Betawi yang berisi perpaduan antara seni bela diri (pencak silat) dan seni sastra (pantun).</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/16/338/2018694/harapan-warga-betawi-agar-tradisi-palang-pintu-tetap-lestari</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/02/16/338/2018694/harapan-warga-betawi-agar-tradisi-palang-pintu-tetap-lestari"/><item><title>Harapan Warga Betawi agar Tradisi Palang Pintu Tetap Lestari</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/16/338/2018694/harapan-warga-betawi-agar-tradisi-palang-pintu-tetap-lestari</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/02/16/338/2018694/harapan-warga-betawi-agar-tradisi-palang-pintu-tetap-lestari</guid><pubDate>Sabtu 16 Februari 2019 10:02 WIB</pubDate><dc:creator>Muhamad Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/16/338/2018694/harapan-warga-betawi-agar-tradisi-palang-pintu-tetap-lestari-wY3Bh6wJhn.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Kedua jawara sedang terlibat adu silat dalam prosesi palang pintu adat Betawi (Foto: M Rizky/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/16/338/2018694/harapan-warga-betawi-agar-tradisi-palang-pintu-tetap-lestari-wY3Bh6wJhn.JPG</image><title>Kedua jawara sedang terlibat adu silat dalam prosesi palang pintu adat Betawi (Foto: M Rizky/Okezone)</title></images><description>DI ERA modern saat ini, tak banyak tradisi budaya mampu bertahan di tengah masyarakat. Tradisi adat yang hingga kini masih dipertahankan salah satunya palang pintu yang menjadi salah satu ciri khas kebudayaan Betawi.
Tradisi palang pintu merupakan sebuah kesenian Betawi yang berisi perpaduan antara seni bela diri (pencak silat) dan seni sastra (pantun). Palang pintu hadir menjadi salah satu rangkaian dalam pernikahan suku Betawi.
Biasanya, tradisi ini melibatkan dua kelompok silat yang diawali saling beradu pantun hingga unjuk kebolehan dalam beberapa jurus silat.
Di sini, setiap pengantin pria akan mendapat tantangan dari pihak mempelai wanita yang hendak dinikahi, untuk menguji kepiawaian bela diri dan kemampuannya dalam membaca ayat suci Alquran. Meski sudah mulai langka, namun masih ada generasi muda yang melibatkan palang pintu dalam prosesi pernikahan.
Seperti yang dilakukan salah seorang warga asli Betawi, Imam Kharmain dan istrinya Putri Oktaviani. Baginya, tradisi palang pintu tak hanya sekadar prosesi adat pernikahan, melainkan lebih daripada itu.
&quot;Filosofi palang pintu menurut saya adalah sebuah simbol pegangan dasar suatu rumah tangga dalam tradisi Betawi yakni silat yang berarti simbol proteksi terhadap keluarga, pantun yang menggambarkan keceriaan dan suasana harmonis, juga shalawat yang mewakili sisi religius,&quot; kata Imam kepada Okezone di rumah kediamannya di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan.

Sebab kata Imam, dalam menjalani sebuah pernikahan, tentu memiliki perjuangan yang tidak mudah. Untuk itu, kehadiran palang pintu menjadi salah satu bentuk kesakralan dari perjuangan tersebut.
Meski begitu, dirinya menyadari kini kebudayaan Betawi yang dikenal sejak puluhan tahun itu perlahan mulai 'tergusur' oleh kemajuan zaman. Padahal sebagai warisan budaya, tradisi ini harusnya bisa terus dijaga sehingga dapat dikenali para generasi penerus.
&quot;Sebaiknya tradisi palang pintu ini terus dijaga oleh para budayawan-budayawan Betawi lewat sanggar-sanggar dan pemerintah khususnya Pemprov DKI Jakarta serta selalu memberi dukungan kepada para pelestari ini dalam hal edukasi kepada masyarakat dan bantuan yang lain,&quot; tuturnya.
Dengan begitu, Imam meyakini masyarakat akan lebih peduli akan keberadaan tradisi leluhur Betawi ini dan tidak meninggalkan tradisi ini pada setiap prosesi pernikahan ataupun kegiatan budaya lain.
Tak jauh berbeda seorang warga Betawi lainnya, Ifkar Fadhlillah menilai tradisi palang pintu perlu terus dipertahankan. Meski dirinya mengaku, tidak menggunakan palang pintu saat melangsungkan pernikahannya dengan sang istri.

Ia beralasan, tradisi itu sudah tidak terlalu dipakai di kalangan keluarganya. Sebab, banyak para pendahulunya seperti kakek dan nenek sudah meninggal dan tidak mengharuskan melakukan tradisi itu.
Namun bagi Ifkar, kebudayaan tetaplah harus tetap dilestarikan demi menjaga eksistensi sebuah kebudayaan, terlebih kini palang pintu sudah jarang terlihat.
&quot;Seharusnya, prosesi palang pintu tetap dilaksanakan, khususnya untuk orang Betawi itu penting dan harus, karena setiap budaya mempunyai nilai ciri khas tersendiri, terutama palang pintu ini,&quot; kata Ifkar.
Di samping itu, keberadaan sanggar sebagai media untuk latihan bagi generasi penerus juga harus diperhatikan oleh pemerintah. Sehingga, diharapkan semakin banyak orang khususnya warga Betawi yang peduli akan kebudayannya sendiri.
</description><content:encoded>DI ERA modern saat ini, tak banyak tradisi budaya mampu bertahan di tengah masyarakat. Tradisi adat yang hingga kini masih dipertahankan salah satunya palang pintu yang menjadi salah satu ciri khas kebudayaan Betawi.
Tradisi palang pintu merupakan sebuah kesenian Betawi yang berisi perpaduan antara seni bela diri (pencak silat) dan seni sastra (pantun). Palang pintu hadir menjadi salah satu rangkaian dalam pernikahan suku Betawi.
Biasanya, tradisi ini melibatkan dua kelompok silat yang diawali saling beradu pantun hingga unjuk kebolehan dalam beberapa jurus silat.
Di sini, setiap pengantin pria akan mendapat tantangan dari pihak mempelai wanita yang hendak dinikahi, untuk menguji kepiawaian bela diri dan kemampuannya dalam membaca ayat suci Alquran. Meski sudah mulai langka, namun masih ada generasi muda yang melibatkan palang pintu dalam prosesi pernikahan.
Seperti yang dilakukan salah seorang warga asli Betawi, Imam Kharmain dan istrinya Putri Oktaviani. Baginya, tradisi palang pintu tak hanya sekadar prosesi adat pernikahan, melainkan lebih daripada itu.
&quot;Filosofi palang pintu menurut saya adalah sebuah simbol pegangan dasar suatu rumah tangga dalam tradisi Betawi yakni silat yang berarti simbol proteksi terhadap keluarga, pantun yang menggambarkan keceriaan dan suasana harmonis, juga shalawat yang mewakili sisi religius,&quot; kata Imam kepada Okezone di rumah kediamannya di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan.

Sebab kata Imam, dalam menjalani sebuah pernikahan, tentu memiliki perjuangan yang tidak mudah. Untuk itu, kehadiran palang pintu menjadi salah satu bentuk kesakralan dari perjuangan tersebut.
Meski begitu, dirinya menyadari kini kebudayaan Betawi yang dikenal sejak puluhan tahun itu perlahan mulai 'tergusur' oleh kemajuan zaman. Padahal sebagai warisan budaya, tradisi ini harusnya bisa terus dijaga sehingga dapat dikenali para generasi penerus.
&quot;Sebaiknya tradisi palang pintu ini terus dijaga oleh para budayawan-budayawan Betawi lewat sanggar-sanggar dan pemerintah khususnya Pemprov DKI Jakarta serta selalu memberi dukungan kepada para pelestari ini dalam hal edukasi kepada masyarakat dan bantuan yang lain,&quot; tuturnya.
Dengan begitu, Imam meyakini masyarakat akan lebih peduli akan keberadaan tradisi leluhur Betawi ini dan tidak meninggalkan tradisi ini pada setiap prosesi pernikahan ataupun kegiatan budaya lain.
Tak jauh berbeda seorang warga Betawi lainnya, Ifkar Fadhlillah menilai tradisi palang pintu perlu terus dipertahankan. Meski dirinya mengaku, tidak menggunakan palang pintu saat melangsungkan pernikahannya dengan sang istri.

Ia beralasan, tradisi itu sudah tidak terlalu dipakai di kalangan keluarganya. Sebab, banyak para pendahulunya seperti kakek dan nenek sudah meninggal dan tidak mengharuskan melakukan tradisi itu.
Namun bagi Ifkar, kebudayaan tetaplah harus tetap dilestarikan demi menjaga eksistensi sebuah kebudayaan, terlebih kini palang pintu sudah jarang terlihat.
&quot;Seharusnya, prosesi palang pintu tetap dilaksanakan, khususnya untuk orang Betawi itu penting dan harus, karena setiap budaya mempunyai nilai ciri khas tersendiri, terutama palang pintu ini,&quot; kata Ifkar.
Di samping itu, keberadaan sanggar sebagai media untuk latihan bagi generasi penerus juga harus diperhatikan oleh pemerintah. Sehingga, diharapkan semakin banyak orang khususnya warga Betawi yang peduli akan kebudayannya sendiri.
</content:encoded></item></channel></rss>
