<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Berusia Tua, Gajah Koleksi TSTJ Solo Ditemukan Mati di Kandang</title><description>Seekor gajah berusia 55 tahun di TSTJ Solo ditemukan tidak bernyawa di kandangnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/17/512/2018999/berusia-tua-gajah-koleksi-tstj-solo-ditemukan-mati-di-kandang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/02/17/512/2018999/berusia-tua-gajah-koleksi-tstj-solo-ditemukan-mati-di-kandang"/><item><title>Berusia Tua, Gajah Koleksi TSTJ Solo Ditemukan Mati di Kandang</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/17/512/2018999/berusia-tua-gajah-koleksi-tstj-solo-ditemukan-mati-di-kandang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/02/17/512/2018999/berusia-tua-gajah-koleksi-tstj-solo-ditemukan-mati-di-kandang</guid><pubDate>Minggu 17 Februari 2019 01:36 WIB</pubDate><dc:creator>Bramantyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/17/512/2018999/berusia-tua-gajah-koleksi-tstj-solo-ditemukan-mati-di-kandang-cXnu0phlnv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: TSTJ Solo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/17/512/2018999/berusia-tua-gajah-koleksi-tstj-solo-ditemukan-mati-di-kandang-cXnu0phlnv.jpg</image><title>(Foto: TSTJ Solo)</title></images><description>SOLO &amp;ndash; Salah satu hewan gajah yang menjadi koleksi Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo, ditemukan mati di kandangnya. Matinya gajah yang diberi nama Jati itu dikarenakan sudah berusia sangat tua, yaitu 55 tahun.
Direktur Utama Perumda TSTJ Solo Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso saat dikonfirmasi membenarkan gajah Jati ditemukan mati.
&quot;Jati matinya itu pada 5 Februari 2019, bukan baru saja. Jati mati karena faktor sudah tua, sudah berusia 55 tahun,&quot; ucap Bimo, Sabtu 16 Februari 2019.
Ia mengatakan, praktis dengan matinya Jati, koleksi hewan gajah yang dimiliki TSTJ tinggal dua ekor.
&quot;Tinggal dua ekor yaitu Dian yang juga sudah berusia 50 tahun dan satunya lagi Manohara anak dari Jati dan Dian yang baru berusia 10 tahun,&quot; kata Bimo.
Jati, ujar dia, mulai menghuni TSTJ  pada Juni 1984. Saat didatangkan dari Taman Nasional Way Kambas, Lampung, Jati baru berusia 20 tahun.
Selama menghuni TSJT, Jati yang  merupakan gajah liar saat ditangkap di Way Kambas ini merupakan hewan andalan  kebun binatang kebanggan warga Solo. Bahkan saat memperingati hari gajah sedunia pada 13 Agustus, ketiganya juga dilibatkan.
Praktis dengan matinya Jati, pihak TSTJ membutuhkan gajah jantan. Sebab kini di TSTJ tersisa dua gajah berjenis perempuan, sehingga diperlukan gajah pejantan untuk membuahi betina.

Bimo mengatakan, hanya saja untuk mendatangkan gajah jantan tak semudah yang dibayangkan. Pasalnya, meskipun menggunakan prosedur pertukaran satwa, izin dari BKSDA harus ada.
&quot;Kami sudah menghubungi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan beberapa lembaga konservasi lain untuk upaya ini,&quot; ujar dia.
Proses selanjutnya, lanjut Bimo, dari BKSDA mengirim surat ke Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
&quot;Kalau kementerian menyetujuinya, baru pertukaran bisa dilakukan. Tapi bila kementerian tidak menyetujuinya, pertukaran tidak bisa dilakukan. Apabila dapat koleksi baru, kami bisa memasangkan dengan Dian maupun Monahara,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>SOLO &amp;ndash; Salah satu hewan gajah yang menjadi koleksi Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo, ditemukan mati di kandangnya. Matinya gajah yang diberi nama Jati itu dikarenakan sudah berusia sangat tua, yaitu 55 tahun.
Direktur Utama Perumda TSTJ Solo Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso saat dikonfirmasi membenarkan gajah Jati ditemukan mati.
&quot;Jati matinya itu pada 5 Februari 2019, bukan baru saja. Jati mati karena faktor sudah tua, sudah berusia 55 tahun,&quot; ucap Bimo, Sabtu 16 Februari 2019.
Ia mengatakan, praktis dengan matinya Jati, koleksi hewan gajah yang dimiliki TSTJ tinggal dua ekor.
&quot;Tinggal dua ekor yaitu Dian yang juga sudah berusia 50 tahun dan satunya lagi Manohara anak dari Jati dan Dian yang baru berusia 10 tahun,&quot; kata Bimo.
Jati, ujar dia, mulai menghuni TSTJ  pada Juni 1984. Saat didatangkan dari Taman Nasional Way Kambas, Lampung, Jati baru berusia 20 tahun.
Selama menghuni TSJT, Jati yang  merupakan gajah liar saat ditangkap di Way Kambas ini merupakan hewan andalan  kebun binatang kebanggan warga Solo. Bahkan saat memperingati hari gajah sedunia pada 13 Agustus, ketiganya juga dilibatkan.
Praktis dengan matinya Jati, pihak TSTJ membutuhkan gajah jantan. Sebab kini di TSTJ tersisa dua gajah berjenis perempuan, sehingga diperlukan gajah pejantan untuk membuahi betina.

Bimo mengatakan, hanya saja untuk mendatangkan gajah jantan tak semudah yang dibayangkan. Pasalnya, meskipun menggunakan prosedur pertukaran satwa, izin dari BKSDA harus ada.
&quot;Kami sudah menghubungi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan beberapa lembaga konservasi lain untuk upaya ini,&quot; ujar dia.
Proses selanjutnya, lanjut Bimo, dari BKSDA mengirim surat ke Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
&quot;Kalau kementerian menyetujuinya, baru pertukaran bisa dilakukan. Tapi bila kementerian tidak menyetujuinya, pertukaran tidak bisa dilakukan. Apabila dapat koleksi baru, kami bisa memasangkan dengan Dian maupun Monahara,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
