<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perindo Optimis Angka Golput di Pemilu 2019 Menurun Dibandingkan 2014</title><description>Angka golput dinilai berkurang pada Pemilu tahun ini dikarenakan masyarakat harus memilih secara serentak antara capres-cawapres dan caleg.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/23/605/2021862/perindo-optimis-angka-golput-di-pemilu-2019-menurun-dibandingkan-2014</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/02/23/605/2021862/perindo-optimis-angka-golput-di-pemilu-2019-menurun-dibandingkan-2014"/><item><title>Perindo Optimis Angka Golput di Pemilu 2019 Menurun Dibandingkan 2014</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/02/23/605/2021862/perindo-optimis-angka-golput-di-pemilu-2019-menurun-dibandingkan-2014</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/02/23/605/2021862/perindo-optimis-angka-golput-di-pemilu-2019-menurun-dibandingkan-2014</guid><pubDate>Sabtu 23 Februari 2019 13:30 WIB</pubDate><dc:creator>Arie Dwi Satrio</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/02/23/605/2021862/perindo-optimis-angka-golput-di-pemilu-2019-menurun-dibandingkan-2014-7JuknQ3tGJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ketua DPP Partai Perindo Wibowo Hadiwardoyo. (Foto : Arie Dwi Satrio/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/02/23/605/2021862/perindo-optimis-angka-golput-di-pemilu-2019-menurun-dibandingkan-2014-7JuknQ3tGJ.jpg</image><title>Ketua DPP Partai Perindo Wibowo Hadiwardoyo. (Foto : Arie Dwi Satrio/Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Ketua DPP Partai Perindo, Wibowo Hadiwardoyo, optimis angka golput atau masyarakat yang tidak memilih akan menurun pada Pemilu 2019. Hal itu karena pada Pemilu 2019, pilpres dan  pileg digelar secara serentak.

&quot;Kalau yang golput itu menurut saya 30% tidak pernah terjadi. Golput itu bisa saja terhalang memilih. Terhalang ini bukan berarti golput ya, karena terhalang masalah-masalah teknis, sakit, atau bepergian,&quot; kata Wibowo saat menghadiri diskusi MNC Trijaya Network bertajuk &amp;ldquo;Menjaga Suara Rakyat&amp;rdquo; di D'Consulate Resto, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (23/2/2019).
Menurut Wibowo&amp;lrm;, kemungkinan angka golput akan berkurang pada Pemilu tahun ini dikarenakan masyarakat harus memilih secara serentak antara capres-cawapres serta caleg di tingkat DPRD maupun DPR RI dalam satu TPS.
&quot;Karena orang yang mungkin malas dengan partai politik, tapi pengen datang ke TPS memilih calon presiden. Begitu dia sampai TPS kan dia juga harus coblos yang lainnya,&quot; tuturnya.



Wibowo menjelaskan, Perindo telah melakukan upaya untuk menekan angka golput pada Pemilu 2019. Salah satunya dengan menyosialisasikan teknis pencoblosan surat suara di TPS.
&quot;Kalau di Perindo ini kami menjelaskan lebih dalam lagi kepada masyarakat soal surat suaranya bagaimana contohnya. Meskipun di atasnya (media) tidak begitu ramai, tapi di bawah tetap ramai. Partai Perindo juga menyosialisasikan pentingnya menggunakan hak pilih di pemilu nanti,&quot; ucapnya.

(Baca Juga : Politikus PAN Khawatir Masyarakat Hanya Coblos Presiden)

Sementara itu, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA justru memprediksi bahwa angka golput pad&amp;lrm;a Pemilu 2019 akan meningkat dibanding 2014. Hal tersebut setelah melihat sejumlah permasalahan teknis dan administratif dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).
&amp;lrm;&quot;Mungkin minimal 30 persen atau lebih (orang yang golput) itu ada ya. Bahkan mungkin lebih. Tapi terutama kenaikan porsi yang golput karena teknis dan administratif. Karena permasalahan banyak dan KPU cukup repot ya menghadapi persoalan teknis,&quot; ujar peneliti LSI, Adjie Al Farabi, di lokasi yang sama.

(Baca Juga : 30% Masyarakat Diprediksi Golput di Pemilu 2019, Ini Alasannya)

</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Ketua DPP Partai Perindo, Wibowo Hadiwardoyo, optimis angka golput atau masyarakat yang tidak memilih akan menurun pada Pemilu 2019. Hal itu karena pada Pemilu 2019, pilpres dan  pileg digelar secara serentak.

&quot;Kalau yang golput itu menurut saya 30% tidak pernah terjadi. Golput itu bisa saja terhalang memilih. Terhalang ini bukan berarti golput ya, karena terhalang masalah-masalah teknis, sakit, atau bepergian,&quot; kata Wibowo saat menghadiri diskusi MNC Trijaya Network bertajuk &amp;ldquo;Menjaga Suara Rakyat&amp;rdquo; di D'Consulate Resto, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (23/2/2019).
Menurut Wibowo&amp;lrm;, kemungkinan angka golput akan berkurang pada Pemilu tahun ini dikarenakan masyarakat harus memilih secara serentak antara capres-cawapres serta caleg di tingkat DPRD maupun DPR RI dalam satu TPS.
&quot;Karena orang yang mungkin malas dengan partai politik, tapi pengen datang ke TPS memilih calon presiden. Begitu dia sampai TPS kan dia juga harus coblos yang lainnya,&quot; tuturnya.



Wibowo menjelaskan, Perindo telah melakukan upaya untuk menekan angka golput pada Pemilu 2019. Salah satunya dengan menyosialisasikan teknis pencoblosan surat suara di TPS.
&quot;Kalau di Perindo ini kami menjelaskan lebih dalam lagi kepada masyarakat soal surat suaranya bagaimana contohnya. Meskipun di atasnya (media) tidak begitu ramai, tapi di bawah tetap ramai. Partai Perindo juga menyosialisasikan pentingnya menggunakan hak pilih di pemilu nanti,&quot; ucapnya.

(Baca Juga : Politikus PAN Khawatir Masyarakat Hanya Coblos Presiden)

Sementara itu, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA justru memprediksi bahwa angka golput pad&amp;lrm;a Pemilu 2019 akan meningkat dibanding 2014. Hal tersebut setelah melihat sejumlah permasalahan teknis dan administratif dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).
&amp;lrm;&quot;Mungkin minimal 30 persen atau lebih (orang yang golput) itu ada ya. Bahkan mungkin lebih. Tapi terutama kenaikan porsi yang golput karena teknis dan administratif. Karena permasalahan banyak dan KPU cukup repot ya menghadapi persoalan teknis,&quot; ujar peneliti LSI, Adjie Al Farabi, di lokasi yang sama.

(Baca Juga : 30% Masyarakat Diprediksi Golput di Pemilu 2019, Ini Alasannya)

</content:encoded></item></channel></rss>
