<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Survei Polmark: 46,1% Pemilih Akan Coblos Partai yang Punya Kader Capres-Cawapres</title><description>Berdasarkan survei Polmark Indonesia, pemilih akan memilih partai yang punya kader sebagai capres-cawapres jumlahnya mencapai 46,1 persen.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/03/14/605/2030107/survei-polmark-46-1-pemilih-akan-coblos-partai-yang-punya-kader-capres-cawapres</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/03/14/605/2030107/survei-polmark-46-1-pemilih-akan-coblos-partai-yang-punya-kader-capres-cawapres"/><item><title>Survei Polmark: 46,1% Pemilih Akan Coblos Partai yang Punya Kader Capres-Cawapres</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/03/14/605/2030107/survei-polmark-46-1-pemilih-akan-coblos-partai-yang-punya-kader-capres-cawapres</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/03/14/605/2030107/survei-polmark-46-1-pemilih-akan-coblos-partai-yang-punya-kader-capres-cawapres</guid><pubDate>Kamis 14 Maret 2019 19:48 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Budi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/03/14/605/2030107/survei-polmark-46-1-pemilih-akan-coblos-partai-yang-punya-kader-capres-cawapres-D2eS6Yvp8v.jpg" expression="full" type="image/jpeg">CEO Polmark Indonesia Eep Saefullah Fatah saat Merilis Hasil Survei Terbarunya di Semarang, Jawa Tengah (foto: Taufik Budi/inews)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/03/14/605/2030107/survei-polmark-46-1-pemilih-akan-coblos-partai-yang-punya-kader-capres-cawapres-D2eS6Yvp8v.jpg</image><title>CEO Polmark Indonesia Eep Saefullah Fatah saat Merilis Hasil Survei Terbarunya di Semarang, Jawa Tengah (foto: Taufik Budi/inews)</title></images><description>SEMARANG &amp;ndash; Partai politik yang memiliki kader sebagai capres-cawapres pada Pemilu 2019, akan sangat diuntungan. Berdasarkan survei yang digelar Polmark Indonesia, pemilih akan memilih partai yang punya kader sebagai capres-cawapres jumlahnya mencapai 46,1 persen.

&amp;ldquo;Sementara mereka yang mengatakan akan memilih partai yang ikut mengusung capres-cawapres itu ada 32,1 persen,&amp;rdquo; ujar CEO Polmark Indonesia Eep Saefullah Fatah usai acara Forum Pikiran Akal dan Nalar di Hotel Grand Arkenso, Semarang, Rabu 13 Maret 2019.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Apa maknanya ? Itu maknanya adalah sikap partai-partai yang kadernya jadi kandidat di Pilpres bisa memanfaatkan situasi sekarang. Keuntungan electoral yaitu keuntungan limpahan suara pemilih itu bisa mereka dapatkan. Tapi tentu saja dengan catatan jika mereka mampu memanfaatkan, kalau tidak ya tidak juga,&amp;rdquo; tambah dia.
(Baca Juga: Kiai Ma'ruf Amin Yakin Jokowi Menang di Banten: Tak Usah Banyak, Minimal 60%)&amp;nbsp;
Dia menjelaskan, pada survei tersebut memang ditekankan pada keterkaitan antara Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres). Sebab, ini menjadi peristiwa menarik karena barru pertama kali dilaksanakan di Tanah Air.

&amp;ldquo;Sebaliknya di sisi yang lain, partai-partai yang hanya ikut mengusung, memang harus berkompetisi lebih sengit karena jumlah mereka banyak. Sementara jumlah pemilih yang diperebutkan lebih sedikit dibandingkan kelompok yang pertama tadi. Tetapi tentu saja tetap dampaknya bisa dirasakan kalau mereka bekerja dengan efektif,&amp;rdquo; ucap dia.

Survei itu juga membandingkan elektabilitas partai-partai terutama yang digabungkan ke dalam kelompok pengusung dengan elektabilitas capresnya. Hasilnya terdapat selisih antara jumlah persentase partai pengusung dengan elektabilitas capres.

Agregat elektabilias Jokowi-Amin di 73 Dapil adalah 40,4 persen. Gabungan elektabilitas partai-partai pengusung Kandidat No 01 ini adalah 67,4 persen. Artinya, ada kesenjangan sebesar 27 persen di antara kedua angka elektabilitas itu.

Kesenjangan juga terjadi antara agregat elektabilitas Prabowo-Sandi dengan gabungan elektabilitas partai-partai pengusungnya. Elektabilitas Prabowo-Sandi adalah 25,8 persen. Sementara itu gabungan elektabilitas partai-partai pengusungnya adalah 32 persen. Maknanya, ada kesenjangan sebesar 6,2 persen.

&amp;ldquo;Yang menarik adalah ternyata ada defisit pada kelompok 01, ada defisit 27 persen. Jadi dua persen 27 persen pemilih partai koalisi itu yang ternyata sampai dengan saat terakhir survei belum memilih 01. Pada kelompok 02 ada defisit 6,2 persen. Jadi ada 6,2 persen pemilih dari partai-partai gabungan koalisi pendukung 02 yang ternyata sampai dengan sampai survei terakhir belum memilih 02,&amp;rdquo; cetusnya.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;27 persen dan 6,2 persen ini angka penting, karena itu menunjukkan bahwa elektabilitas partai yang digabungkan dalam jumlah besar belum tentu harus diterjemahkan serta merta menjadi elektabilitas Pilpres,&amp;rdquo; kata Eep.
(Baca Juga: Prabowo: Tugas Pemimpin Tidak Sulit, Gunakan Akal Sehat &amp;amp; Cintai Rakyat)&amp;nbsp;
Polmark Indonesia melakukan survei di 73 Daerah Pemilihan (Dapil) dari 80 dapil seluruh Indonesia untuk tingkat pemilihan DPR RI. Survei ini dilakukan dari Oktober 2018 &amp;ndash; Februari 2019 dengan jumlah responden 440 (dengan margin of error plus-minus 4,8 persen) di masing masing 72 dapil dan 880 responden (dengan margin of error plus-minus 3,4 persen) di 1 dapil.

Survei di 73 dapil ini mencakup 92.9 persen dari pemilih Pemilu 2019. Di 73 Dapil ini diperebutkan 534 kursi dari 575 keseluruhan Kursi DPR RI 2019. Pengambilan sampel survei ini dilakukan dengan metode Multistage Random Sampling dengan selang kepercayaan 95 persen.</description><content:encoded>SEMARANG &amp;ndash; Partai politik yang memiliki kader sebagai capres-cawapres pada Pemilu 2019, akan sangat diuntungan. Berdasarkan survei yang digelar Polmark Indonesia, pemilih akan memilih partai yang punya kader sebagai capres-cawapres jumlahnya mencapai 46,1 persen.

&amp;ldquo;Sementara mereka yang mengatakan akan memilih partai yang ikut mengusung capres-cawapres itu ada 32,1 persen,&amp;rdquo; ujar CEO Polmark Indonesia Eep Saefullah Fatah usai acara Forum Pikiran Akal dan Nalar di Hotel Grand Arkenso, Semarang, Rabu 13 Maret 2019.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Apa maknanya ? Itu maknanya adalah sikap partai-partai yang kadernya jadi kandidat di Pilpres bisa memanfaatkan situasi sekarang. Keuntungan electoral yaitu keuntungan limpahan suara pemilih itu bisa mereka dapatkan. Tapi tentu saja dengan catatan jika mereka mampu memanfaatkan, kalau tidak ya tidak juga,&amp;rdquo; tambah dia.
(Baca Juga: Kiai Ma'ruf Amin Yakin Jokowi Menang di Banten: Tak Usah Banyak, Minimal 60%)&amp;nbsp;
Dia menjelaskan, pada survei tersebut memang ditekankan pada keterkaitan antara Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres). Sebab, ini menjadi peristiwa menarik karena barru pertama kali dilaksanakan di Tanah Air.

&amp;ldquo;Sebaliknya di sisi yang lain, partai-partai yang hanya ikut mengusung, memang harus berkompetisi lebih sengit karena jumlah mereka banyak. Sementara jumlah pemilih yang diperebutkan lebih sedikit dibandingkan kelompok yang pertama tadi. Tetapi tentu saja tetap dampaknya bisa dirasakan kalau mereka bekerja dengan efektif,&amp;rdquo; ucap dia.

Survei itu juga membandingkan elektabilitas partai-partai terutama yang digabungkan ke dalam kelompok pengusung dengan elektabilitas capresnya. Hasilnya terdapat selisih antara jumlah persentase partai pengusung dengan elektabilitas capres.

Agregat elektabilias Jokowi-Amin di 73 Dapil adalah 40,4 persen. Gabungan elektabilitas partai-partai pengusung Kandidat No 01 ini adalah 67,4 persen. Artinya, ada kesenjangan sebesar 27 persen di antara kedua angka elektabilitas itu.

Kesenjangan juga terjadi antara agregat elektabilitas Prabowo-Sandi dengan gabungan elektabilitas partai-partai pengusungnya. Elektabilitas Prabowo-Sandi adalah 25,8 persen. Sementara itu gabungan elektabilitas partai-partai pengusungnya adalah 32 persen. Maknanya, ada kesenjangan sebesar 6,2 persen.

&amp;ldquo;Yang menarik adalah ternyata ada defisit pada kelompok 01, ada defisit 27 persen. Jadi dua persen 27 persen pemilih partai koalisi itu yang ternyata sampai dengan saat terakhir survei belum memilih 01. Pada kelompok 02 ada defisit 6,2 persen. Jadi ada 6,2 persen pemilih dari partai-partai gabungan koalisi pendukung 02 yang ternyata sampai dengan sampai survei terakhir belum memilih 02,&amp;rdquo; cetusnya.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;27 persen dan 6,2 persen ini angka penting, karena itu menunjukkan bahwa elektabilitas partai yang digabungkan dalam jumlah besar belum tentu harus diterjemahkan serta merta menjadi elektabilitas Pilpres,&amp;rdquo; kata Eep.
(Baca Juga: Prabowo: Tugas Pemimpin Tidak Sulit, Gunakan Akal Sehat &amp;amp; Cintai Rakyat)&amp;nbsp;
Polmark Indonesia melakukan survei di 73 Daerah Pemilihan (Dapil) dari 80 dapil seluruh Indonesia untuk tingkat pemilihan DPR RI. Survei ini dilakukan dari Oktober 2018 &amp;ndash; Februari 2019 dengan jumlah responden 440 (dengan margin of error plus-minus 4,8 persen) di masing masing 72 dapil dan 880 responden (dengan margin of error plus-minus 3,4 persen) di 1 dapil.

Survei di 73 dapil ini mencakup 92.9 persen dari pemilih Pemilu 2019. Di 73 Dapil ini diperebutkan 534 kursi dari 575 keseluruhan Kursi DPR RI 2019. Pengambilan sampel survei ini dilakukan dengan metode Multistage Random Sampling dengan selang kepercayaan 95 persen.</content:encoded></item></channel></rss>
